3 Alasan Untuk Investasi Perak Dibandingkan Emas

SAM 12 Aug 2014 12154

Banyak orang cenderung memilih emas sebagai aset investasi dibandingkan perak. Padahal, beberapa alasan berikut membuktikan bahwa investasi perak tak kalah menguntungkan.

Sejak booming-nya trading on-line, banyak yang mempertanyakan apakah emas (XAU) memang sudah pada harga yang sebenarnya, masih overvalued, atau sudah undervalued. Seorang fund manager perusahaan investasi besar memperkirakan harga emas per awal Maret 2014 yang sekitar USD 1,340 per troy ounce masih overvalued 75%, dan trend pergerakan XAU/USD masih akan cenderung bearish kecuali laju inflasi naik dengan cepat.

Seorang analis dari investing.com lebih merekomendasikan untuk investasi dalam perak (XAG) dibandingkan emas. Perak mempunyai karakteristik yang serupa dengan emas, selain sebagai pelindung inflasi dan dianggap sebagai salah satu asset safe haven. Menurut analis ini, perak memiliki 3 karakteristik tersendiri yang menjanjikan kenaikan harga logam tersebut di masa depan.

 

1. Perak Banyak Digunakan dalam Industri

Berbeda dengan emas yang secara luas digunakan sebagai alat investasi, sebagian besar perak digunakan untuk keperluan industri. Pada tahun 2013, sebesar 54% dari total permintaan perak datang dari sektor industri. Sebagian besar diantaranya merupakan permintaan dari industri elektronik dan fabrikasi.

Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi global, terutama di sektor manufaktur; maka permintaan perak untuk industri elektronika, elektrik dan kimia diperkirakan akan terus naik. Belum lagi cepatnya pertumbuhan produksi photovoltaic solar panel yang menggunakan perak sebagai komponen utamanya. Di China, produksi photovoltaic solar panel naik 2 kali lipat setiap tahunnya sejak 2003. Penggunaan untuk produk ini saja bisa membuat permintaan sekitar 15 juta ounce perak setiap tahun.

Permintaan Perak Dunia 2013

 

2. Ketersediaan Perak Lebih Sedikit 

Meskipun di bumi kandungan perak 17.5 kali lebih banyak daripada emas, tetapi ketersediaan perak jauh lebih sedikit dibandingkan emas. Hal ini disebabkan karena lebih dari 90% produksi perak ditujukan untuk konsumsi sektor industri. Di samping itu, produksi tambang perak saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan yang terus membumbung.

Pada tahun 2013, meskipun produksi tambang perak naik 3.5% dibandingkan tahun 2012, tetapi hanya mampu memenuhi 76% permintaan perak secara fisik pada tahun tersebut. Pertumbuhan perusahaan tambang perak memang tidak secepat naiknya permintaan, sehingga diperkirakan harga perak akan cenderung naik. Hal ini telah menyebabkan volatilitas pergerakan harga perak lebih tinggi daripada emas.

4 Alasan Untuk Investasi Perak Dibandingkan

 

3. Gold-to-Silver Ratio yang Makin Tinggi

Sejak harga emas berhenti rally dan mulai merosot pada awal tahun 2013, harga perak juga merosot. Ketika harga emas telah turun 31% dari harga tertingginya USD 1,873.70 per troy ounce, harga perak turun 58% dari harga tertingginya USD 48.58 per troy ounce. Gold-to-Silver Ratio yang mengukur perbandingan berapa ounce perak yang dibutuhkan untuk 1 ounce emas terus mengalami kenaikan dari sebelumnya yang rata-rata 47 ounce saat ini 63 ounce. Dengan demikian, angka korelasi antara harga emas dan harga perak telah turun, dengan hasil: harga perak saat ini lebih murah.

Kirim Komentar/Reply Baru
bagaimana memastikan kekuatan trend guna pasang PO
met week end para maste

memang tidak mudah memastikan gerakan pasar terutama mprediksi jarak pjalanan sebuah trend.

saya sering alami kejadian begitu pasang order limit justru harga bgerak makin jauh, bukannya rebound
bgtpun sebaliknya pasang order stop harga malah berbalik

pertanyaan saya;
  1. bagaimana memastikan perjalanan harga akan rebound sehingga ketika pasang order limit tdk bgerak melesat jauh tkena SL baik menggunakan indikator teknikal, sup res atau candle atau pola formasi candle atau kombinasi dari beberapa atau semuanya?

  2. bagaimana pula dengan stop order agar kita bisa memastikan pgerakan harga terus berlanjut baik menggunakan indikator teknikal, sup res atau candle atau pola formasi candle atau kombinasi dari beberapa atau semuanya?

  3. pada time frame H1 - H4 berapa sebaiknya kita menetapkan SL TP baik ketika pasang limit order dan stop order agar relatif lebih safe dan apakah mendasarkan pada besaran range pgerakan harga hari-hari sebelumnya atau bgmana...
makasih

Keser 2 Dec 2017

Reply:

M Singgih (05 Dec 2017 09:00)

@ Keser:

Jawaban:

1. Kemungkinan harga akan bouncing atau koreksi (bukan rebound) jika trend-nya melemah, atau kekuatan trend berkurang. Kekuatan trend bisa diamati dari indikator ADX (jika dibawah level 25), Bollinger Bands (jika kedua kurvanya menyempit) atau moving average (jika pergerakan kurvanya datar).
Baca juga: Mengukur Kekuatan Trend Dengan Indikator ADX

Sebelum entry amati price action yang terjadi pada time frame yang lebih rendah untuk mencari momentum entry yang pas. Konfirmasikan juga dengan indikator. Amati pergerakan harga ketika berada dekat dengan level support atau resistance yang signifikan.

2. Kebalikan dari point (1), kemungkinan harga akan break atau menembus level resistance atau support jika trend-nya masih kuat, atau ADX masih diatas level 25, kedua kurva Bollinger Bands melebar dan pergerakan kurva moving average naik (untuk uptrend) atau turun (untuk downtrend).

3. Pada umumnya SL dan TP ditentukan dari level-level resistance atau support yang terdekat dengan time frame trading Anda. Kalau tidak tampak level-level resistance atau support-nya maka bisa menggunakan bantuan Fibonacci retracement atau expansion.

Yang paling penting adalah gunakan money management
, yaitu dengan:
- Menentukan SL berdasarkan besarnya resiko yang Anda sepakati. Baca: Belajar Memahami Money Management
- Menentukan TP minimal sama dengan SL sehingga risk/reward ratio Anda minimal adalah 1:1. Kalau mungkin usahakan lebih besar dari 1:1.
Kalau dari analisa tidak memungkinkan untuk menentukan risk/reward ratio minimal = 1:1 maka sebaiknya tidak entry.

Keser (07 Dec 2017 10:42)

- intinya harus hati-hati dan rajin mengamati chart karena baik adx, bb dan ma akan sewaktu-waktu bisa berubah arah(secara teknikal), jika tidak rajin memantau sangat mungkin arah pergerakan harga akan berubah haluan. Hal ini berarti jika kita menggunakan set N forget sangat tidak efektif untuk trading harian(begitukah).
- Bagaimana pula dengan pemasangan SL, candle akan lebih respect  pada Sup Res mdasarkan pola candle(horizoneline), fibonacci level, BB, MA atau ATR?
- aksi open posisi(instan execusi pada candle engulfing) tkadang harga justru bgerak bkebalikan(retrace) meski akhirnya ke trend utamanya. Nah sebaiknya(idealnya) berapa besaran   untuk SL agar tidak mudah tsentuh dan  TP yang paling efektif agar tidak alami floating terlalu lama pada trading harian(H1-H4). Karena saya sering pasang SL TP - 50 : 50 tidak kesampaian, akhirnya saya clossing meski profit tidak optimal.
makasih

M Singgih (11 Dec 2017 00:05)

@ Keser:

- Kalau Anda telah memasang SL dan TP, maka bisa set n forget. Baca juga: Masuk Pasar Dan Lupakan Trading, Lanjutkan Aktivitas Sehari-hari

- Biasanya SL diset disekitar level support dan resistance horisontal, atau disekitar garis trend. Kalau level support / resistance horisontal tidak kelihatan atau meragukan, gunakan Fibonacci retracement atau expansion. BB, MA dan ATR adalah pilihan alternatif.

- Kalau tidak salah pertanyaan tsb sudah pernah Anda tanyakan dan pernah saya jawab. SL diset pada level support dan resistance terdekat, dan volume tradingnya disesuaikan dengan resiko yang Anda tetapkan. Risk/reward ratio minimal 1:1. Baca juga: Belajar Memahami Money Management
Usahakan jangan mengintervensi SL / TP yang sudah ditentukan. Kalau trend sedang kuat gunakan fasilitas trailing stop.

Sistem 89
Artikel  
Jujun Kurniawan 165
Bisnis