5 Hal Yang Wajib Diketahui Tentang Level Support-Resistance

SAM 7 Dec 2011 14005
Dibaca Normal 5 Menit

Semua trader pasti menggunakan level support-resistance sebagai referensi trading utama. Tapi, sudahkah Anda mengetahui lima hal berikut ini?

Menurut saya, pengetahuan dan pemahaman mengenai level support-resistance merupakan salah satu pemahaman mendasar yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang trader. Mengapa? Yah, level-level support dan resistance ini akan menjadi panduan teknikal agar kita bisa menyusun dan merencanakan apa yang harus dilakukan dalam menanggapi pergerakan market. Untuk itu, ada lima hal pokok yang wajib diketahui trader tentang level support-resistance.

 

1. Apa yang Terjadi Setelah Harga Mencapai Support-Resistance?

Secara umum, ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi apabila harga sebuah pasangan mata uang (pair) menyentuh level support-resistance. Ketiga skenario tersebut adalah:

  • Kemungkinan pertama: Harga akan berbalik arah (bounce) atau biasa kita sebut harga terpental di level harga tersebut.
  • Kemungkinan kedua: Harga akan bergerak menembus level support/resistance tersebut (breakout). Pergerakan ini biasanya ditandai dengan fluktuasi ekstrem.
  • Kemungkinan ketiga: Pergerakan harga akan mentok dan hanya mondar-mandir untuk beberapa saat dalam area sempit di sekitar level tersebut.

 

2. Bagaimana Support-Resistance Terbentuk?

Level support-resistance bisa terbentuk karena berbagai macam sebab. Bisa jadi terbentuk karena aspek psikologis dari para pelaku di market. Misalnya:

  • Saat mayoritas buyer merasa bahwa harga sudah cukup tinggi, mereka akan memutuskan untuk menutup posisi buy yang sudah dibuka. Maka terbentuklah level resistance.
  • Sebaliknya saat mayoritas seller merasa harga sudah cukup rendah, mereka akan memutuskan untuk menutup posisi sell. Maka terbentuklah level support.

Apakah kita harus selau mengetahui "mengapa" suatu level SR terbentuk? Mm… kalAU saya sih sebenernya cenderung tidak peduli dengan mengapa hal tersebut terjadi. Maksud saya, toh sebenarnya kita tidak harus tahu kenapa market bertindak seperti demikian. Yang perlu kita tahu adalah bagaimana mengantisipasi pergerakan yang terjadi di masa depan dan mengambil keuntungan dari pergerakan tersebut.

Ada pula trader yang merasa perlu mengetahui latar belakang dari terbentuknya suatu level acuan penting pada grafik pergerakan harga. Menurut mereka, pengetahuan itu akan menjadi bekal untuk memperkirakan apakah pergerakan harga selanjutnya akan bounce, breakout, atau sideways. Para trader itu umumnya melakukan analisis berbasis fundamental.

 

3. Bagaimana Cara Mengetahui Letak Level Support-Resistance?

Nah, bicara tentang level support-resistance ini, ada banyak pendapat tentang cara mengetahui di mana level-level support-resistance tersebut bisa terbentuk. Beberapa teman trader menggunakan perhitungan Pivot Point untuk menentukan level support-resistance. Sedangkan teman trader yang lain memilih menggunakan Fibonacci Retracement.

Bicara masalah cara menarik Fibonacci Retracement pun bisa terdapat banyak perbedaan antara satu trader dengan trader yang lain. Ada yang menentukan berdasarkan titik terendah dan tertinggi pada candlestick. Ada pula yang menggunakan nilai closing pada candlestick. Yah… sebenarnya sih semua tergantung preferensi alias pilihan dari masing-masing trader.

Tidak usahlah kita meributkan masalah teknis tetek-bengek seperti ini, mana yang benar dan mana yang salah. Ribet sendiri nantinya. Toh pada prinsipnya, level support-resistance bukanlah satu "titik" nilai tertentu, tapi lebih kepada satu "area" tertentu.

 

4. Bagaimana Cara Mengukur Kekuatan Level Support-Resistance?

Satu hal yang ingin saya perlihatkan di sini, level support-resistance yang baik itu seharusnya sudah "teruji" setidaknya dua (2) kali. Jadi, harga bukannya hanya sekali terpental dari suatu kisaran harga tersebut, tetapi setidaknya sudah 2 kali terpental. Mari kita perhatikan gambar berikut:

Cara Mengukur Kekuatan Level Support-Resistance

Semakin sering kisaran tersebut tersentuh dan teruji, semakin kuatlah level tersebut sebagai level support-resistance. Contoh misalnya dari gambar di atas, level resistance di garis biru terlihat cukup kuat karena sudah teruji dengan tiga (3) kali tersentuh dan pergerakan harga berikutnya masih tetap terpental di area tersebut. Hmm… jadi kalau misalnya saya punya posisi buy, saya akan lekas menutup posisi kalau harga sudah sampai di area tersebut.

Yah… sambil pantau-pantau lah, siapa tahu harga break high (menembus level tinggi) pada resistance yang kuat itu. Nah, kalau harga break high, kecenderungan berikutnya akan terjadi gerakan naik yang ekstrem.

Begitu juga pada level-level support di garis hijau. Kita semestinya menaruh perhatian di area tersebut. Apakah harga akan terpental, atau apakah akan menembus level tersebut. Yah, kalau mau aman sih, close dulu posisi sell Anda di area tersebut. Setelah itu wait and see lah. Kalau kata mentor saya sih, kesabaran adalah kunci utama dalam trading. 

 

5. Level SR pada Timeframe Berapa yang Paling Bagus?

Tahukah Anda, level support-resistance pada setiap timeframe itu berbeda-beda. Trader yang memanfaatkan timeframe Hourly (H1) tentu akan menemukan level SR yang berbeda dengan trader pengguna timeframe Daily (D1). Inilah sebabnya mengapa setiap trader kemungkinan memiliki pendapat berbeda tentang level SR bagi suatu pair forex yang sama.

Jadi, bagaimana trader menentukan level support-resistance pada teknik trading multi-timeframe? Pilihannya terserah Anda. Level support-resistance pada timeframe lebih tinggi akan memberikan rasio risk/reward yang lebih baik. Namun, trader juga dapat memilih level SR sesuai gaya trading masing-masing. Umpamanya seorang scalper tentu lebih memilih level SR pada timeframe kecil.

Kirim Komentar/Reply Baru


Forum

Azka (05 Jul 2012)

Bos, dari sekian system trading yang anda ulas di seputar forex ini, manakah yang mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi dan tingkat loss yang rendah,banyaknya system trading yang anda ulas bikin saya bingung untuk memilihnya. thanx.

Selengkapnya

Pola Candlestick
Bullish Hammer
Indikasi : Bullish Reversal
Akurasi :

Terdiri dari 1 candlestick yang ditutup di dekat atau pada harga tertingginya (High), sehingga menandakan pelemahan momentum downtrend. Semakin panjang sumbu bawah dan semakin kecil body candlestick, maka semakin signifikan pula sinyal bullish-nya.
MACD sering salah mendeteksi signal?

Apakah MACD sering memberikan sinyal palsu ketika dijalankan ti time frame rendah? Kebetulan saya sering menggunakan 15m namun hasil entry saya terus berbeda dengan pergerakan berikutnya. Mohon bantuannya

Nekoboy 19 Jan 2021

Reply:

M Singgih (19 Jan 2021 21:16)

@ Nekoboy:

Maaf, yang Anda maksud dengan sinyal yang palsu tsb yang bagaimana? Apakah ketika kurva MACD telah memotong kurva sinyal? Atau mungkin penunjukan divergensi dari MACD tsb?

 

Tomy Zulfikar 161
Forex 
Linlindua 235
Forex 
Nandini 631
Forex