Alasan Dompet Digital Tumbuh Pesat Di Indonesia

Febrian Surya 14 Jan 2020 273

Layanan Fintech (Financial Technology) di Indonesia terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini bisa kamu lihat dengan semakin banyaknya startup-startup Fintech yang bermunculan. Selain itu, kamu sebagai pengguna pun bisa merasakan dampak dari hadirnya layanan Fintech di Indonesia, seperti pinjaman online, dompet digital, investasi online, dan sebagainya.

dompet digital

Salah satu layanan Fintech yang menjadi teman nongkrong anak muda saat ini adalah dompet digital. Benar nggak nih guys? Dompet digital itu sendiri paling banyak digunakan oleh kaum milenial zaman now untuk berbagai kebutuhan. Umumnya digunakan untuk melakukan pembayaran di merchant-merchant yang telah menjadi mitra dari dompet digital tersebut.

Selain itu, fenomena cashback yang diberikan oleh dompet digital juga menjadi salah satu alasan mengapa layanan Fintech ini begitu tumbuh subur di kalangan kaum milenial di Indonesia pada era digitalisasi seperti sekarang, sebut saja OVO dan GoPay. Berikut penjelasan selengkapnya, kenapa dompet digital tumbuh subur di Indonesia?

 

Masih Banyak Orang Yang Belum Tersentuh Layanan Perbankan

Dikutip dari Katadata, salah satu faktor pendorong dompet digital bisa tumbuh subur di Indonesia adalah hanya 48.9% penduduk dewasa Indonesia yang sudah memiliki rekening di bank. Hal ini berbanding lurus dengan penetrasi keuangan kartu kredit dan kartu debit di Indonesia, di mana masing-masing berada di angka 0.7 per kapita dan 0.59 per kapita.

Apalagi, jika kita berkaca pada fakta bahwa pembuatan rekening di bank memiliki syarat dan dokumen pendukung yang seringkali menjadi hambatan, yaitu wajib memiliki NPWP.

Berbeda halnya dengan aplikasi dompet digital, yang mana bisa dengan mudah kamu unduh di Google Play Store atau App Store di ponsel pintar milikmu. Setiap orang bisa melakukan pendaftaran dengan bermodalkan KTP saja. Ini menjadi syarat yang sudah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator Fintech di tanah air.

 

Jumlah Pengguna Ponsel Pintar Semakin Banyak

Menurut data yang dikeluarkan oleh Statista, setidaknya ada 62.69 juta pengguna ponsel pintar di Indonesia. Sedangkan berdasarkan Jakarta Post, tingkat kepemilikan ponsel di Indonesia mencapai angka 64.8%. Tentu saja, data ini bisa dijadikan tolak ukur mengapa dompet digital tumbuh subur di Indonesia. Karena memang harus diakui saat ini penggunaan ponsel pintar sudah menjadi barang wajib yang selalu menemani aktivitas kamu sehari-hari. Jadi, nggak usah heran ya, jika aplikasi dompet digital kini banyak menghiasi layar ponsel pintarmu.

 

Pesatnya e-Commerce Dan On-Demand Apps

Sektor e-Commerce tumbuh pesar di Indonesia dan aplikasi on-demand menjadikan transaksi digital tidak bisa dihindarkan lagi. Contohnya Tokopedia menggandeng OVO sebagai mitra pembayaran, Grab bermitra dengan OVO, dan Gojek dengan layanan GoPay-nya.

Coba kamu bayangkan berapa banyak pengguna Grab, Gojek, dan Tokopedia. Tentu saja, jumlah penggunanya mencapai hingga jutaan orang. Bahkan di 2017 saja, GoPay tercatat paling banyak digunakan dengan menyumbang 31.34 juta transaksi dengan uang elektronik.

dompet digital

Padahal, Gopay tidak berdiri sendiri kala itu, melainkan ada 32 penerbit uang elektronik lainnya yang beroperasi di Indonesia.

 

Cashback Menjadi Andalan

Cashback seperti menjadi pelengkap dari layanan dompet digital yang saat ini beredar di masyarakat Indonesia secara luas. Promo cashback menjadi pendorong cepatnya akuisisi pengguna aplikasi dompet digital sebagai cara pemasaran terbaik bagi startup dompet digital.

dompet digital

 

Cermat Menggunakan Dompet Digital

Gaya hidup anak-anak zaman now, memang tidak lepas dengan budaya konsumtif yang begitu tinggi. Jika kamu tidak bijak dalam menggunakan dompet digital tersebut, kamu seperti layaknya sedang dikendalikan oleh dompet digital. Banyaknya penawaran promo atau diskon menarik yang bisa kamu dapatkan setiap harinya membuat kamu jadi lupa dengan tujuan finansialmu yang perlu menjadi prioritas terlebih dahulu.

Kirim Komentar/Reply Baru
Cara Menerapkan Strategi Martingale

Master, saya deposit 500USD pada akun micro di broker HF dengan leverage 1:1000. Jika saya menggunakan strategi martingale dengan step awal 0.01 lot dengan TP 100 poin dan jarak tiap stepnya 150 poin, maka berapa step katahanan balance saya? 


Tks. 

Teguh Indra 26 Mar 2019

Reply:

M Singgih (28 Mar 2019 04:13)

@ Teguh Indra:

Stop loss = 150 pip.
Diasumsikan Anda trading pada pair XXX/USD (EUR/USD, GBP/USD, AUD/USD atau NZD/USD), yang mana untuk 0.01 lot nilai per pip-nya = USD 0.1

Leverage 1: 1000 berarti margin 0.1% dari nilai kontrak.

Untuk mempermudah, anggap saja margin yang diperlukan untuk setiap 0.01 lot =  (USD 100,000)  x 0.01 x 0.1% = USD 1.


1. Open 0.01 lot, loss 150 pip, maka loss = 150 x (USD 0.1) = USD 15. Dana tersisa = USD 500 - USD 15 = USD 485.
2. Open 0.02 lot, loss 150 pip, maka loss = 150 x (USD 0.2) = USD 30. Dana tersisa = USD 485 - USD 30 = USD 455.
3. Open 0.04 lot, loss 150 pip, maka loss = 150 x (USD 0.4) = USD 60. Dana tersisa = USD 455 - USD 60 = USD 395.
4. Open 0.08 lot, loss 150 pip, maka loss = 150 x (USD 0.8) = USD 120. Dana tersisa = USD 395 - USD 120 = USD 275.
5. Open 0.16 lot, loss 150 pip, maka loss = 150 x (USD 1.6) = USD 240. Dana tersisa = USD 275 - USD 240 = USD 35.

Jika Anda ingin buka posisi lagi sebesar 2 x 0.16 lot = 0.32 lot, maka margin yang diperlukan = (USD 100,000)  x 0.32 x 0.1% = USD 32.
Sedangkan sisa dana Anda = USD 35, dan untuk 0.32 lot, nilai per pip = USD 3.2. Ketahanan Anda = (USD 35 - USD 32) / USD 3.2 = 0.9 pip. Jadi sampai disini tidak mungkin lagi Anda buka posisi.

Dengan demikian ketahanan dana Anda = 5 step.

Febrian Surya 113
Fintech  
Wahyudi 409
Jujun Kurniawan 267
Kredit