Apa Itu Trading Dengan Three Line Strike?

Linlindua 8 Feb 2021 813
Dibaca Normal 8 Menit

Salah satu momen yang kerap dimanfaatkan trader untuk meraup profit maksimal adalah saat reversal. Untuk itu, pola candle penunjuk reversal berikut ini layak untuk Anda pertimbangkan.



Dalam trading forex, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh trader, terutama sebelum entry. Salah satunya adalah teknik analisa yang ia gunakan; apakah menggunakan analisa fundamental, atau teknikal. Analisa fundamental biasanya lebih berfokus pada update berita terbaru yang mungkin mempengaruhi pergerakan harga, misalnya berita-berita ekonomi dan politik. Sementara analisa teknikal dilakukan dengan beberapa perhitungan matematis melalui bantuan chart harga. Nah, salah satu chart yang sering digunakan trader untuk analisa adalah chart candlestick.

Pengertian Analisa Teknikal

Chart candlestick banyak memberikan kemudahan bagi trader dalam melakukan analisa, sehingga diperoleh perhitungan yang tepat. Misalnya, dalam trading terdapat satu buah candle utuh dengan level OHLC yang jelas. Biasanya, pergerakan harga akan ditunjukkan dalam bentuk candle tersebut. Begitu pula beberapa candle yang bentuknya variatif; tentu akan menunjukkan indikasi masing-masing. Itulah alasan mengapa trader harus mengetahui secara detail setiap bentuk candle dan pergerakan harga yang akan terjadi.

Bicara soal pola candlestick, ada salah satu jenis pola yang bisa Anda gunakan sebagai tanda terjadinya reversal. Pola ini hampir menyerupai Three Black Crows, tetapi perbedaannya terletak pada formasi candle penyusunnya. Pola tersebut yaitu Three Line Strike.

Kali ini, kita akan mengulas lebih detail terkait pola candle Three Line Strike untuk meningkatkan keterampilan trading Anda menjadi lebih baik.

 

Apa Itu Three Line Strike?

Memutuskan bertrading berarti Anda harus mengetahui setiap aturan yang ada di dalamnya, termasuk pola-pola penanda reversal. Sebab, kondisi itulah yang ditunggu-tunggu oleh trader untuk mengambil keputusan buy atau sell. Nah, salah satu pola yang perlu Anda ketahui adalah Three Line Strike. Apa itu Three Line Strike?

Three Line Strike merupakan salah satu pola candle yang kemunculannya terbilang rare atau jarang. Akan tetapi, sekalinya pola ini muncul, maka indikasi reversal yang ditunjukkan akan sangat akurat. Dalam situs thepatternsite[dot]com, Bulkowski menyatakan bahwa akurasi pola Three Line Strike mencapai 65%.

Seperti halnya pola candle lain, Three Line Strike juga terdiri dari dua jenis yaitu Bullish Three Line Strike dan Bearish Three Line Strike.



 

1. Bullish Three Line Strike

Pola Bullish Three Line Strike ini menunjukkan adanya pembalikan arah ke bawah atau disebut Bearish Reversal. Namun, apabila Anda menemukan formasi tiga candle dalam rangkaian Uptrend, belum tentu formasi tersebut adalah Bullish Three Line Strike. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain:

  • Biasanya terbentuk dalam rangkaian tren naik atau Uptrend.
  • Ketiga candle penyusunnya berupa candle bullish.
  • Setiap candle bullish harus memiliki level harga OHLC yang nilainya lebih tinggi daripada candle sebelumnya.
  • Setelah 3 candle bullish dalam rangkaian Uptrend, terbentuk candle bearish dengan level harga Close di bawah level harga Open candle pertama. Artinya, besar candle keempat harus menutup body 3 candle Three Line Strike.

Berikut ini adalah contoh pola Bullish Three Line Strike:

Bullish Three Line Strike

Apabila kondisi di atas telah memenuhi kriteria pola candlestick triple dalam chart, maka kemungkinan besar pola tersebut adalah Bullish Three Line Strike.

 

2. Bearish Three Line Strike

Jika Bullish Three Line Strike digunakan untuk mengidentifikasi adanya Bearish Reversal, maka pola lain yang bisa Anda gunakan untuk menandai Bullish Reversal yaitu pola Bearish Three Line Strike. Seperti halnya Bullish Three Line Strike, ada beberapa syarat suatu formasi candle dapat digolongkan sebagai Bearish Three Line Strike, antara lain:

  • Pola Bearish Three Line Strike ini terbentuk dalam rangkaian Downtrend atau tren menurun.
  • Ketiga candle penyusun harus berupa candle bearish.
  • Setiap candle bearish harus memiliki level harga OHLC lebih rendah dari candle sebelumnya.
  • Terbentuk pola candle bullish apabila telah ada 3 candle bearish dalam rangkaian Downtrend dengan harga Close di atas harga Open candle pertama.

Berikut ini adalah contoh terbentuknya pola Bearish Three Line Strike:

Bearish Three Line Strike

Apabila pola candle di atas memenuhi syarat pola candlestick triple dalam chart, maka besar kemungkinan terbentuk pola Bearish Three Line Strike.



 

Tips Trading Dengan Pola Three Line Strike

Jika Anda telah menemui pola Three Line Strike, maka langkah selanjutnya adalah menyusun strategi trading yang tepat. Bagaimana caranya?

  1. Tentukan pola Three Line Strike yang terbentuk, apakah pola tersebut termasuk dalam Bullish Three Line Strike atau Bearish Three Line Strike. Perhatikan kembali syarat terbentuknya pola Three Line Strike.
  2. Apabila Anda telah mengkonfirmasi pola Three Line Strike, maka langkah selanjutnya yaitu menentukan posisi entry yang tepat. Mungkin, reversal sudah mulai terdeteksi, tetapi sebaiknya Anda tetap menunggu kemunculan candle konfirmator setelah terbentuk pola Three Line Strike. Candle konfirmator adalah candle keempat yang menutup body 3 candle Three Line Strike.
  3. Apabila candle keempat sudah muncul, maka pastikan posisi entry sudah sesuai dengan rencana dan manajemen trading Anda (Risk Management dan Money Management).

Dasar Money Management(Baca Juga: 5 Dasar Money Management Forex Yang Perlu Anda Tahu)

 

Indikator Pendukung Pola Candle Three Line Strike

Mungkin, Anda belum terbiasa dengan pola candle Three Line Strike dan ingin mengetahui posisi buy yang tepat dengan bantuan indikator. Nah, untuk mengkonfirmasi hal tersebut, Anda bisa gunakan bantuan indikator teknikal berupa indikator untuk tren, seperti Simple Moving Average (SMA) dan Moving Average Convergence Divergence (MACD).

Indikator SMA digunakan apabila Anda ingin mengetahui arah pergerakan tren yang akan terbentuk. Sementara jika ingin mengkonfirmasi arah tren dengan lebih tepat, sebaiknya gunakan Oscillator seperti MACD. Berikut ini penjelasan masing-masing indikator pelengkap pola candle Three Line Strike.

 

1. Simple Moving Average (SMA)

Indikator SMA digunakan untuk mengukur harga rata-rata dalam suatu periode waktu dengan lebih sederhana. Harga yang dijadikan acuan pengukuran tergantung kebutuhan analisa, bisa dipengaruhi oleh harga pembukaan (Open), harga penutupan (Close), harga tertinggi (H), harga terendah (L), atau bisa juga oleh harga median (H+L)/2. Namun, untuk lebih praktisnya, bisa gunakan acuan dari harga penutupan (Close).



Biasanya, indikator SMA terdiri atas dua garis Moving Average dengan periode yang bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing trader. Misalnya, terdapat chart dengan SMA berperiode 6 (SMA-6) dan periode 20 (SMA-20). Jika dibandingkan, maka SMA dengan periode lebih kecil cenderung lebih sensitif terhadap pola pergerakan harga. Akan tetapi, periode tersebut sulit digunakan untuk membaca tren secara menyeluruh.

Moving Average(Baca Juga: Ingin Berteman Baik Dengan Tren? Kenalan Dulu Dengan Moving Average)

Lalu, apa kaitan antara indikator SMA dengan pola Three Line Strike?

Indikator SMA dapat digunakan untuk mengetahui terjadinya reversal dari crossing antara dua garis SMA. Misalnya SMA-6 memotong SMA-20 dari bawah ke atas bersamaan dengan munculnya pola Three Line Strike, sehingga SMA-6 kemudian berada di atas SMA-20. Dengan demikian, diperoleh informasi bahwa harga akan cenderung bergerak Uptrend.

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Bearish Reversal bisa dikonfirmasi ketika SMA periode kecil berada di bawah SMA berperiode lebih besar. Sebaliknya, apabila terjadi crossing dua garis SMA dari bawah ke atas sehingga menyebabkan SMA periode kecil berada di atas SMA periode lebih besar, hal ini menunjukkan Bullish Reversal.

 

2. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

Selain SMA, indikator lain yang bisa Anda gunakan untuk pelengkap Three Line Strike adalah MACD (Moving Average Convergence Divergence). Bisa dikatakan pula, MACD adalah pelengkap SMA. Mengapa? Hal ini karena arah tren dari indikator SMA akan lebih terkonfirmasi jika diperoleh sinyal serupa dari indikator momentum tren.

Indikator MACD terdiri atas dua garis EMA (Exponential Moving Average) dengan periode 12 (EMA-12) dan periode 26 (EMA-26). Tujuan indikator ini sebagai pelengkap konfirmator reversal terhadap kemunculan pola Three Line Strike. Apabila Anda menemukan pola Three Line Strike dalam suatu chart, maka indikator MACD ini akan mengkonfirmasi adanya reversal yang ditunjukkan oleh crossing kedua garis EMA.



Apabila EMA-12 memotong EMA-26 dari atas ke bawah, maka crossing tersebut menandakan terjadinya Bearish Reversal. Untuk itu, keputusan yang sebaiknya diambil trader adalah entry Sell.

Sementara itu, jika EMA-12 memotong EMA-26 dari bawah ke atas, maka crossing tersebut mengkonfirmasi terjadinya Bullish Reversal. Oleh karena itu, trader sebaiknya mengambil posisi entry Buy.

Tidak hanya dari crossing EMA-12 dengan EMA-26, terjadinya reversal juga bisa dikonfirmasi berdasarkan perpindahan bar MACD dari posisi positif ke negatif atau sebaliknya. Jika kedua indikator ini bisa Anda maksimalkan dengan baik, maka pengambilan keputusan entry tidak akan salah.

Indikator MACD(Baca Juga: Cara Membaca Indikator MACD Berdasarkan 4 Macam Fungsinya)

 

Kesimpulan

Ada berbagai pola candle yang bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk entry, salah satunya adalah pola Three Line Strike berakurasi tinggi. Pola ini memiliki kecenderungan berupa indikasi reversal yang bisa Anda manfaatkan untuk memperoleh profit maksimal.

Sayangnya, banyak trader tergiur iming-iming profit tanpa memperhatikan konfirmasi sinyal dan indikator teknikal. Alhasil, trading yang mengedepankan emosi sudah pasti tidak akan berhasil.

Mulai trading

Maka dari itu, tetaplah profesional dalam bertrading, terutama saat menemukan pola Three Line Strike. Gunakan pula indikator tambahan sebagai konfirmator, seperti SMA dan MACD. Apabila indikator benar-benar memperkuat analisa Anda, segera buat keputusan entry apakah Sell atau Buy.

Sebisa mungkin, cobalah menyusun sistem trading yang simple tapi profitable. Pun, pahami setiap pola dengan baik sehingga keputusan yang Anda ambil benar-benar akurat. Selamat mencoba!



Forum

Michael Owen (21 May 2018)

berapakah 2,5 juta dolar amerika di indonesia?

Selengkapnya...


Kirim Komentar/Reply Baru
Pola Candlestick Real-time
Pola Candlestick Real-time
Sistem   7 May 2021   116  
Rahasia Trading Ranging Ala Pak Rachmat
Selamat malam SF, saya ingin bertanya pada pak rachmat perihal analisanya. Bagaimana kita menentukan ranging-nya dalam menempatkan pending order pak? saya ingin belajar lebih dalam dengan bapak. Terima kasih

Mas Sinar 15 Mar 2018

Reply:

Basir (16 Mar 2018 09:18)

Untuk Mas Sinar.

Untuk menganalisa harga dengan range trading, setidaknya harus mengetahui terlebih dahulu berapa range mata uang yang akan anda perdagangkan dalam bergerak dalam satu hari.  Dalam satu hari, mata uang yang dimaksud bisa saja.

Saya ambil contoh pada GBP/USD. Anda bisa membuka Chart dalam TF D1. Untuk Hasil pada tgl 13/03/2018.

1.3997 -  1.3873 =  124 pips.

Dan anda bisa lakukan penelitian pada candle sebelumnya.
Anda bisa saja menentukan bahwa mata uang tersebut bergerak  100, 120, 125 atau 150 pips dalam satu hari. Setelah anda melakukan penelitian 1, 2, 5 hari kebelakang. Contoh :

Candle 1 = 120
Candle 2 = 110
candle 3 = 100
Candle 4 = 95
Candle 5 = 109

Total  534 pips : 5  hari = 106 pips

Jika 10 hari kebelakang, berarti di bagi 10 dan seterus.  Jika anda sudah membuat patokan bahwa dalam satu hari adalah 120 pips.
Maka anda tinggal membuat range area tersebut. ( atau menggunakan indikator range trading )

Anda buka pada jam jam masuk sesi Eropa. Perhatikan High Low nya.

Jika High nya 1.3940,  -  120 = 1.3820
Jika low  nya 1.3910,   +  120 =  1.3770

Maka akan didapat range area GBP/USD seperti diatas . Dia area inilah perkiraan harga akan bergerak. Pola ini tidak jauh beda dengan Strategi range trading yang pernah di tulis oleh kawan saya, Saudara parmadita.

Bersambung.



Basir (16 Mar 2018 10:31)

Selanjutnya.

Dari penjelasan sebelumnya anda bisa mengetahui gambaran, range mata uang tersebut bergerak. Anda bisa mencobanya dengan cara diatas  pada mata uang apa saja, dengan aturan tersebut.

Bagaimana menempatkan Order Pending ?

Anda bisa menempatkannya pada Swing Low dan Swing High  tersebut, atau menjadikannya sebagai batas target dari open posisi.

Silahkan perhatikan, masih dengan contoh GBP/USD.

Cara Pertama  

Anda bisa menempat kan Buy Limit di, dengan harapan harga bisa menguat kembali, setelah  melamh. Dan menempatkan Sell Limit, dengan harapan harga bisa melemah kembali setelah menguat.

Bagaimana menentukan batas profitnya ?, anda bisa mengacu pada High Low yang pernah terjadi.

Sementara resiko nya adalah harga terus melambung  keatas menembus Sell Limit. Dan terus kebawah menembus Buy Limit. Inilah yang disebut dengan istilah Break Out. Maka tempatkanlah SL diatas Sell Limit, dan di bawah Buy Limit.

Cara Kedua

Anda bisa membuat order Buy Stop dengan batas TP di  dan Sell Stop dengan batas TP di

Dimana menempatkan Buy Stop dan Sell Stopnya ?

Anda bisa menempatkannya pada Swing Low dan Swing High  yang pernah  tejadi, atau yang anda lihat di TF yang anda gunakan.  Di High Low, tersebutlah sebagai acuannya.

Namun resikonya, harga tidak kuat menembus batas atas dan batas bawah. Inilah yang biasa disebut Reversal. Tempatkanlah SL di bawah Buy Stop. Dan SL diatas Sell Stop.

Dari cara tersebut, perhatikan pula data yang akan dirilis. Karena hal ini bisa menunjang tereksekusi tidaknya order tersebut. Pilih pula broker yang menawarkan spread yang kecil.

Bersambung.

Basir (19 Mar 2018 08:03)

Anda bisa pula menggunakan Trik High Low kemarin. Dengan cara membuka TF D1.



Atau anda bisa membuka, TF5/15 Mencari high Low terdekat.

Anda bisa memasang Order pending 15 menit sebelum masuk sesi Eropa/ London. teknik ini bisa bergerak 10 - 30 pips. Strategi ini disebut London Breakout.

Terima kasih.

Dio Nurdin (19 Mar 2018 13:15)

wahh, bagus ni pak basir, bisa dibuatkan artikelnya mungkin biar lebih jelas dan kita pembaca jadi lebih enak membacanya.

Pak basir emang jos!

Basir (21 Mar 2018 08:53)

Untuk Dio Nurdin,

Terima kasim, semoga bisa dibuat artikel.

Sempat Terkoreksi, EUR/GBP Kini Berpeluang Menguat
Sempat Terkoreksi, EUR/GBP Kini Berpeluang Menguat
Jujun Kurniawan   6 May 2021   88  
Berbias Bearish, GBP/USD Tunggu Aksi Di R1
Berbias Bearish, GBP/USD Tunggu Aksi Di R1
Kazuki   6 May 2021   91  
Pulih Menuju R1, Pound Sinyalkan Buy
Pulih Menuju R1, Pound Sinyalkan Buy
Jujun Kurniawan   4 May 2021   100  
Live Trading NFP Bareng Finex
Live Trading NFP Bareng Finex
Melati   4 May 2021   200  
Berpotensi Rebound, GBP/CHF Sinyalkan Buy
Berpotensi Rebound, GBP/CHF Sinyalkan Buy
Jujun Kurniawan   3 May 2021   100  
Dolar Australia Sinyalkan Sell Setelah Tertahan Di R2
Dolar Australia Sinyalkan Sell Setelah Tertahan Di R2
Jujun Kurniawan   28 Apr 2021   140  
Harga Emas Masih Berisiko Melemah Hingga S2
Harga Emas Masih Berisiko Melemah Hingga S2
Kazuki   28 Apr 2021   110  
Terjun Dari S2, Dolar AS Kini Berpeluang Pulih
Terjun Dari S2, Dolar AS Kini Berpeluang Pulih
Jujun Kurniawan   27 Apr 2021   113  
GBP/JPY Berpotensi Menuju S2 Dan Sinyalkan Buy
GBP/JPY Berpotensi Menuju S2 Dan Sinyalkan Buy
Jujun Kurniawan   26 Apr 2021   99