Bagaimana Cara Scalping Dengan Parabolic SAR?

Cahyaning 30 Sep 2021Dibaca Normal 6 Menit
forex>indikator>   #scalping   #parabolic   #sar
Indikator Parabolic SAR bisa membantu scalper memperoleh sinyal trading akurat. Lalu bagaimana cara menggunakan Parabolic SAR untuk scalping?

Scalping merupakan salah satu gaya trading yang disukai trader jangka pendek. Akan tetapi, karena metode ini dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, maka diperlukan indikator bantuan untuk mempermudah analisis. Ada banyak indikator teknikal yang bisa digunakan, salahnya adalah Parabolic SAR. Apakah ada strategi khusus yang perlu diperhatikan saat scalping dengan Parabolic SAR?

 

Sekilas Tentang Parabolic SAR

SAR merupakan akronim dari Stop and Reverse, yang berarti harga akan berenti dari tren utama dan berbalik arah. Parabolic SAR diciptakan oleh Welles Wilder untuk digunakan pada pasar trending. Ia pertama kali memperkenalkan indikator ini dalam bukunya yang berjudul "New Concept In Technical Trading Systems" di tahun 1978. Sejak itu, indikator Parabolic SAR dikenal karena kegunaannya untuk mengenali arah tren.

Scalping dengan Parabolic SAR

Parabolic SAR menggunakan titik-titik yang terletak di bagian atas atau bawah grafik candle untuk memudahkan trader mengenali tren. Tampilan yang sederhana dan mudah dibaca ini membuat Parabolic SAR populer di kalangan trader. Apalagi, indikator ini sudah terpasang secara default di platform MetaTrader, sehingga trader bisa memasangnya dengan mudah.

 

Mengapa Parabolic SAR Cocok Untuk Scalping?

Metode scalping mengacu pada strategi trading yang dilakukan pada time frame rendah. Umumnya, scalper menggunakan time frame M1, M5, M15, atau M30. Tujuan utama dari metode scalping adalah memperoleh keuntungan dalam waktu sesingkat mungkin. Keuntungan yang didapat dari periode waktu yang singkat tentu tak akan sebesar keuntungan di time frame tinggi. Oleh sebab itu, para scalper umumnya memiliki prinsip membuka posisi sesering mungkin untuk mengakumulasi profit.

Baca juga: Mengenal Strategi Scalping Dalam Trading Forex

Para scalper biasanya memanfaatkan kemunculan reversal dalam jangka pendek. Parabolic SAR bisa membantu scalper menemukan titik-titik pembalikan harga pada pergerakan terkecil, dan menggunakannya sebagai acuan entry ataupun exit.

Untuk scalping dengan Parabolic SAR, trader diasarankan menggunakan time frame M1-M30. Tampilan Parabolic SAR dapat dilihat pada contoh grafik M5 ini. Jika titik-titik Parabolic SAR berada di bawah candle, artinya pasar sedang Uptrend. Sebaliknya, pasar dikatakan sedang Downtrend jika titik-titik ada di atas candle.

Scalping dengan Parabolic SAR

 

Kendala Parabolic SAR

Meski penggunaannya sederhana dan mudah dimengerti, namun scalping dengan Parabolic SAR juga memiliki beberapa kekurangan. Indikator ini bersifat lagging, yang berarti sinyal terkirim setelah kondisi pasar sudah berubah. Sehingga, indikator ini kurang cocok dipakai jika trader yang ingin memprediksi pergerakan pasar ke depan.

Kelemahan lainnya adalah ketika pasar sedang sideways. Saat kondisi ini, biasanya Parabolic SAR akan berpindah-pindah ke atas, ke bawah, dan sebalilknya. Hal ini menyebabkan munculnya False Signal yang bisa menjebak trader yang kurang berhati-hati.

 

Scalping dengan Parabolic SAR dan MACD

Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan Parabolic SAR dan memperkuat konfirmasi sinyal, trader bisa menggunakan MACD sebagai indikator tambahan. Ada beberapa alasan mengapa scalping dengan Parabolic SAR lebih cocok jika digabungkan dengan MACD.

Baca juga: Cara Membaca Indikator MACD Berdasarkan 4 Macam Fungsinya

Yang pertama, MACD dapat menunjukkan arah trend serta momentum pasar, sehingga indikator ini bisa digunakan untuk mengukur kekuatan trend yang sedang terjadi. MACD juga bisa menjadi penanda overbought dan oversold, sehingga melengkapi sinyal reversal yang ditampilkan Parabolic SAR.

Contoh posisi entry untuk scalping dengan Parabolic SAR dan MACD dapat dilihat pada chart di bawah ini.

Scalping dengan Parabolic SAR

Posisi sell sebaiknya dibuka setelah trader berhasil mengidentifikasi Downtrend yang kuat, ditunjukkan oleh posisi Parabolic SAR di atas harga. Sinyal sell ditunjukkan ketika garis MACD menunjukkan bearish crossing, dan histogramnya bergeser dari zona positif ke negatif. Sebaliknya, jika terjadi bullish crossing dan histogram MACD baru saja naik ke zona positif, maka sinyal Parabolic SAR di bawah harga bisa menjadi peluang buy yang menjanjikan.

Untuk konfirmasi lebih lanjut, trader bisa menunggu entry hingga kemunculan candle bullish kedua setelah sinyal buy, atau candle bearish kedua setelah terdapat sinyal sell. Agar terhindar dari risiko pasar, jangan lupa pasang Stop Loss (SL) dan Take Profit (TP) sesuai dengan rencana trading yang sudah dibuat. Trader bisa menggunakan Risk Reward Ratio atau titik Swing High dan Swing Low untuk menentukan level SL dan TP. Selain itu, bisa juga exit manual dengan memanfaatkan kemunculan candlestick reversal seperti Pin Bar, Shooting Star, Engulfing, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Pola 3 Candle Terbaik Penanda Reversal

 

Apakah Bisa Menggunakan Indikator Selain MACD?

Disamping MACD, Stochastic Oscillator juga bisa digunakan untuk scalping dengan Parabolic SAR. Indikator ini juga dapat menunjukkan kondisi oversold dan overbought pada pasar sehingga dapat memprediksi kapan terjadinya reversal.

Ketika titik-titik Parabolic SAR berada di bawah candle dan terjadi perpotongan %K dan %D dari bawah ke atas pada indikator Stochastic, maka trader bisa memasang posisi buy. Sebaliknya, jika candle berada di bawah titik Parabolic SAR dan Stochastic menunjukkan perpotongan %K ke %D dari atas ke bawah, trader bisa membuka posisi sell. Berikut ini contoh penggunaannya.

Scalping dengan Parabolic SAR

Dapat diperhatikan bahwa crossing garis-garis Stochastic selalu terjadi di luar batas bawah dan batas atas indikator. Hal ini bukan kebetulan semata, karena batas bawah pada level 20 dan batas atas di level 80 sering dijadikan sebagai acuan oversold dan overbought dalam pembacaan sinyal Stochastic. Untuk itu, crossing yang terjadi di bawah level 20 atau di atas level 80 merupakan sinyal reversal yang lebih kuat dan bisa diandalkan.

Baca juga: Cara Membaca Indikator Stochastic Menurut 3 Macam Fungsinya

 

Akhir Kata

Scalping sangat menjanjikan untuk trader yang ingin meraup keuntungan dalam waktu singkat. Umumnya, para Scalper memanfaatkan kemunculan reversal dalam time frame rendah untuk meraup keuntungan kecil sesering mungkin. Parabolic SAR dalam hal ini bisa menjadi salah satu indikator andalan untuk mengenali sinyal scalping dari pembalikan-pembalikan di time frame rendah. Namun karena sifatnya lagging, diperlukan indikator teknikal lain seperti MACD atau Stochastic untuk menyempurnakan sinyal Parabolic SAR.

Sekalipun begitu, trader tak sepenuhnya lepas dari risiko kerugian. Perlu diperhatikan bahwa scalping merupakan strategi berisiko tinggi. Untuk bisa menjadi scalper sukses, dibutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi dan kemampuan analisa pasar yang cepat dan akurat. Selain itu, trader juga harus piawai mengatur emosi trading agar tidak gegabah dalam membuat keputusan. Hal ini hanya bisa diperoleh jika trader sudah kenyang makan asam garam trading.

Jika Anda masih pemula dan ingin belajar menjadi scalper handal, maka jangan terlalu berambisi meningkatkan profit dengan mempertaruhkan keseluruhan modal. Gunakan manajemen risiko yang baik dan selalu pahami kondisi pasar agar tidak terjebak oleh noise di time frame rendah.

Terkait Lainnya
 

Forum Terkait

 Joko |  31 Jan 2012

master mau tanya,broker mana yang memperbolehkan untuk trader scalpingan dengan poin sedikit(3,4poin)diperbolehkan tanpa batasan transaksi,terimakasih

Lihat Reply [14]

 Mujahidin |  9 Feb 2012

pak saya mau tanya tentang perhitungan average market apakah dari harga high dan low hari kemarin? apakah average market tsb berlaku untuk semua sesi asia eropa maupun amerika?.trimakasih

Lihat Reply [9]

 Husain |  1 Mar 2012

Salam Master, saya menyukai teknik scalping, indikator apa bagus di gunakan untuk teknik tsb dan apa yg di maksug dgn bearish divergence? Makasi atas jawabannya Master

Lihat Reply [41]

 Ayub |  20 Mar 2012

Apa sih teknik trading scalping yg bagus dan simpel

Lihat Reply [50]

 Nur Salam |  21 Nov 2014

Penghitungan pada average market apa bisa digunakan sebagai pivot point juga?

Lihat Reply [1]

 

Komentar @inbizia

Knapa indikator penentu tren sama entria beda? Bukana indikator tren juga punya poin2 untuk dijadikan penentu entri posisi? Klau sendiri2 seperti itu berarti harus pasang 2 indikator tren dong Parabolic SAR sama EMA?
 Parma 17 |  5 Oct 2014
Halaman: Indikator Yang Sering Digunakan Trader
@Budi:

Secara teknikal, saya pribadi menggunakan analisa trend dan momentum, biasanya antara tf H1, H4 dan daily. Tf yang lebih rendah untuk cari momentum entry.
Kalau di tf tinggi sedang uptrend, antisipasinya buy, kalau sedang downtrend sell. Kapan saat untuk entry (buy atau sell) disesuaikan dengan momentum yang tepat.

Analisa trend menggunakan indikator trend, seperti moving average (sma, ema), MACD, ADX, Bollinger Bands, parabolic SAR. Analisa momentum menggunakan indikator oscillator seperti RSI atau stochastic.
Momentum entry bisa salah kalau misalnya saat harga bergerak uptrend, tetapi indikator oscillator menunjukkan divergensi bearish. Yang seperti ini harus dihindari.

Meski demikian, analisa teknikal hanya sebagai konfirmator dari kondisi pasar yang sedang terjadi, karena hampir semua indikator teknikal bersifat lagging atau terlambat dalam merespon pergerakan harga. Yang bersifat leading atau mendahului pergerakan harga adalah analisa sentimen pasar berdasarkan price action.

Intinya sbb:
1. Tentukan terlebih dahulu level-level resistance dan support. Kalau tidak jelas gunakan Fibonacci, baik retracement atau expansion.
2. Amati price action yang terbentuk, baik single candle maupun beberapa candle (chart pattern).
3. Amati indikator trend, apakah mengkonfirmasi price action yang terjadi.
4. Amati indikator oscillator, terjadi divergensi atat tidak. Kalau tidak, tentukan momentum entry yang tepat.
5. Kalau indikator trend tidak menunjukkan sedang trending, berarti harga sedang bergerak sideways. Ketika sideways, amati area overbought / oversold indikator oscillator, kalau overbought maka sell, dan kalau oversold buy.

 M Singgih |  14 Feb 2019
Halaman: Strategi Trading Dengan Indikator Ema Untuk Trader Harian
Terima Kasih ilmunya master.. Saya Newbie.. Kira-kira ada artikel tentang penggunaan indikator MACD,ADX, Parabolic SAR dll gak master..? Terima Kasih.. penjelasannya sangat membantu..
 Nyadpadarita |  4 Nov 2019
Halaman: Cara Sederhana Untuk Menentukan Support Dan Resistance
Mengenai penggunaan indikator MACD, ADX, PSAR, serta beberapa indikator teknikal lain, bisa Anda baca di artikel kami berikut: Trading Dengan Indikator MACD Mengukur Kekuatan Trend Dengan Indikator ADX Indikator Parabolic SAR Belajar Indikator Teknikal Semoga membantu.
 Admin |  4 Nov 2019
Halaman: Cara Sederhana Untuk Menentukan Support Dan Resistance
@ Surodjo:

Berakhirnya trend bisa diketahui setelah koreksi atau retracement mencapai lebih dari 100%. Perkiraan kemungkinan akan terjadi trend reversal jika Fibo Retracement telah melewati 61.8%.

Keadaan reversal tidak menunjukkan berakhirnya trend, tetapi menunjukkan terjadinya koreksi. Keadaan koreksi sendiri bisa berakhir ketika telah mencapai level tertentu misalnya 38.2% Fibo atau 50% Fibo, dan kemudian berbalik meneruskan arah trend. Jika koreksi melebihi Fibo retracement 100%, baru bisa diasumsikan terjadi trend reversal.

Keadaan reversal bisa diamati dari bar candlestick yang membentuk formasi price action tertentu, seperti pin bar, doji, engulfing, morning star atau evening star. Baca juga: Dasar-Dasar Strategi Trading Dengan Price Action
Meski demikian, untuk validitasnya price action tsb harus dikonfirmasi oleh indikator trend misalnya ADX, parabolic SAR, MACD, atau Bollinger Bands.

Konfirmasi dengan Bollinger Bands untuk keadaan reversal adalah jika penutupan bar candlestick berada di bawah middle band (untuk yang sebelumnya uptrend), atau di atas middle band (untuk yang sebelumnya downtrend). Untuk akurasi, sebaiknya dikonfirmasi lagi dengan indikator trend yang lain.

Mengenai tanda bahwa trend masih akan berlanjut adalah jika koreksi atau retracement telah berakhir, dan harga mulai bergerak searah dengan trend semula. Dalam hal penunjukan indikator Bollinger Bands, bar candlestick tidak menembus middle band.

Sebagai masukan, untuk analisa trend jangka menengah panjang biasanya trader menggunakan analisa dengan gelombang Elliot (Elliot wave). Baca juga: 3 Hal Pokok Dalam Trading Dengan Gelombang Elliot
 M Singgih ... |  29 May 2020
Halaman: Cara Sederhana Untuk Menentukan Support Dan Resistance
Pada dasarnya, setiap pola candlestick memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sehingga tidak ada jaminan mana yang lebih akurat dibanding yang lainnya. Untuk mendapatkan sinyal yang lebih akurat, disarankan trader juga menggunakan indikator teknikal untuk mengkonfirmasi sinyal tersebut. Dan gunakan Money Managemet serta stop loss untuk meminimalisir kerugian.
 Damar Putra |  26 Apr 2022
Halaman: Pola Candlestick Shooting Star Cara Ampuh Penanda Reversal

Kamus Forex

Parabolic SAR

Indikator teknikal yang diciptakan oleh J Welles Wilder dan tampil sebagai titik-titik yang berlokasi di atas atau di bawah harga. Parabolic SAR termasuk dalam keluarga indikator tren harga, dan perpindahan sinyal titiknya dianggap sebagai penunjuk reversal.

Scalping

Metode trading yang menargetkan profit kecil dengan frekuensi tinggi, melalui cara buka tutup posisi beberapa kali dalam sehari. Untuk memperoleh hasil yang diinginkan, trader umumnya berpatokan time frame rendah (M15-H1) sehingga Scalping dianggap sebagai strategi trading jangka pendek dalam forex.

Sentimen Pasar

Sikap para pelaku pasar yang merupakan kesepakatan bersama (konsensus) untuk mengantisipasi pergerakan harga dalam suatu kondisi tertentu. Sentimen pasar bisa bersifat bullish, bearish, atau netral.

Kirim Komentar Baru
Info Karir
Kontak Kami
Tentang Kami
Peraturan
Terms Of Use
Privacy Policy
Arsip