Belajar Diversifikasi Bisnis P2P Lending Untuk Meminimalisir Risiko

Nandini 30 Apr 2021 116
Dibaca Normal 19 Menit

Tahukah Anda? Mencoba melakukan diversifikasi bisnis P2P Lending bisa meminimalisir risiko investasi yang mungkin timbul. Asal Anda tahu caranya, tentu investasi P2P Lending ini bisa menawarkan keuntungan yang menjanjikan.



Investasi kini seolah menjadi hal wajib yang harus dilakukan oleh seseorang. Bahkan, banyak orang  berpikir bahwa investasi merupakan syarat mutlak agar keuangan bisa sehat. Oleh karena itu, mereka mulai memikirkan cara investasi yang baik, serta produk-produk apa yang kiranya cocok untuk dijadikan instrumen.

Dari banyaknya produk investasi yang ada, diversifikasi bisnis P2P lending nampaknya juga menggiurkan di mata investor. Lantas, seperti apa sih bisnis P2P Lending itu? Apakah aman untuk dilakukan? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

 

Amankah Berinvestasi di P2P Lending?

Sebagian besar masyarakat sudah mulai mengenal investasi sebagai sarana untuk menyimpan dana yang memberikan keuntungan lebih di masa depan. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan tabungan bank untuk menyimpan dana. Padahal, keuntungan dari tabungan bank tidaklah seberapa, belum lagi adanya potongan administrasi tiap bulan.

Melihat celah kekurangan itu, muncullah produk-produk baru sebagai solusi keuangan yang cukup menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan, yakni produk investasi. Beberapa jenis produk investasi tersebut antara lain deposito, saham, reksadana, P2P Lending, dan lainnya.

Deposito VS Reksadana Pasar Utang(Baca Juga: Deposito Bank VS Reksadana Pendapatan Tetap, Mana yang Lebih Cuan?)

Saat ini,  P2P Lending menjadi investasi yang paling digandrungi masyarakat, terutama kaum milenial. Meski tergolong baru, P2P Lending memiliki penawaran menarik berupa kemudahan lebih dari produk investasi lainnya.

Untuk lebih jelasnya, diversifikasi bisnis P2P Lending ini adalah sebuah platform investasi di mana pemilik modal (investor) dan peminjam dana dipertemukan secara online. Sebuah transaksi akan terjadi ketika seorang investor memberikan pinjaman dana kepada peminjam, baik individual maupun perusahaan, dan seorang peminjam mengajukan pinjaman untuk keperluan individual maupun bisnis.

Kita semua tahu bahwa mengajukan pinjaman ke lembaga resmi (seperti bank, koperasi, jasa kredit, dan pemerintah) memiliki proses yang jauh lebih kompleks, sehingga dianggap njlimet. Namun, P2P Lending ini menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan dana cepat untuk keperluan mendesak. Itu karena prosesnya mudah tanpa memerlukan perantara.



Proses pendaftaran hingga pencairan dananya pun bisa selesai secara online. Bagi investor, investasi P2P Lending bisa menjadi alternatif lain untuk menanamkan modal lantaran investasi awal yang dibutuhkan bisa dimulai dengan nilai kecil. Apalagi, kini mulai marak bisnis P2P Lending berbasis syariah yang cocok bagi para muslim, terutama di Indonesia.

P2P Syariah terbaik Indonesia

Selain itu, platform ini sangat mungkin bagi investor (lender) untuk memilih sendiri siapa peminjam (borrower) yang cocok diberi pinjaman dana. Hal ini dikarenakan adanya kemudahan akses untuk mengetahui informasi peminjam yang sudah dianalisa kelayakan debiturnya, serta telah ditetapkan tingkat risikonya. Keuntungan yang diberikan pun cukup tinggi, yakni sekitar 14% - 20% per tahun, jauh di atas keuntungan yang diberikan oleh bentuk investasi lainnya.

Dengan adanya berbagai penawaran keuntungan tersebut, banyak orang mulai tertarik untuk menginvestasikan dananya dan mencari pinjaman dana melalui platform P2P Lending. Kendati demikian, nyatanya masih banyak yang ragu akan keamanan platform ini. Pasalnya, banyak sekali oknum tak bertanggungjawab yang menyalahgunakan keberadaan platform investasi untuk melakukan aksi penipuan.

Kini kabar baiknya, platform P2P Lending ini aman digunakan untuk melakukan transaksi dan pinjam-meminjam, sebab sudah resmi diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini diperkuat dengan keluarnya Peraturan OJK No.77/POJK.01/2016 yang secara khusus meregulasi platform P2P Lending.

Dalam Peraturan OJK tersebut, dinyatakan bahwa P2P Lending adalah layanan pinjam-meminjam uang dalam mata uang rupiah, dilakukan secara langsung antara pemberi pinjaman (lender) dan penerima pinjaman (borrower) berbasis teknologi informasi.

P2P Lending juga disebut sebagai Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI). Platform yang terdaftar di OJK harus mengikuti beberapa ketentuan yang telah ditetapkan seperti menyangkut kesiapan sistem, penyelesaian keluhan konsumen, minimum permodalan dan sebagainya. Hal ini ditujukan untuk memastikan perlindungan konsumen sehingga investor dan peminjam bisa melakukan transaksi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi, untuk mengetahui apakah platform P2P Lending yang digunakan aman atau tidak, Anda harus memastikan bahwa platform tersebut sudah terdaftar di OJK. Jika belum terdaftar, berarti platform tersebut tidak berada di bawah pengawasan OJK. Kemungkinan besar platform tersebut juga tidak mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh OJK.



Selain regulasi dari OJK, Anda bisa mengetahui aman tidaknya suatu platform dari track record-nya selama beberapa waktu tertentu; apakah pasarnya masih ramai, atau adakah penawaran prospek yang potensial. Dengan begitu, kita tidak perlu ragu lagi untuk memulai diversifikasi bisnis P2P Lending ini.

Diversifikasi Bisnis P2P Lending

 

Faktor Risiko Investasi P2P Lending

Meskipun bisnis ini terbilang cukup aman, tetap saja yang namanya investasi tidak akan luput dari loss/kerugian. Berikut beberapa risiko investasi P2P Lending yang bisa Anda pertimbangkan sebelum memulai investasi tersebut:

 

1. Risiko di Tingkat Pinjaman

Risiko ini terjadi jika ada gagal bayar dari peminjam. Jadi, ini terjadi ketika dana investasi yang ditanamkan oleh investor kepada peminjam tidak dilunasi cicilannya alias nunggak pembayaran.

Hal tersebut bisa mengakibatkan dana investor tidak kembali sebagian, atau yang paling parah semuanya, sehingga investor akan pailit atau merugi.

Sebagai contoh ada seorang investor yang menanamkan modalnya kepada peminjam sebesar 40 juta dengan jangka waktu cicilan yang sudah disepakati bersama. Pada pelaksanaannya, ternyata si peminjam ini belum bisa membayar cicilan tepat waktu. Dia terus menunggak pembayaran selama sebulan. Secara otomatis, dana yang dipinjamkan beserta bunganya tidak bisa kembali kepada investor. Kesempatan untuk bisa mendapatkan kembali dana modal beserta keuntungannya akan hilang.

Dalam hal ini, risiko gagal bayar sepenuhnya ditanggung sendiri oleh investor. Pihak penyelenggara P2P Lending tidak bertanggung jawab memberi jaminan pembayaran dari peminjam karena mereka hanya bertanggung jawab atas evaluasi calon peminjam dan profil risikonya.

Melihat kekurangan ini, para investor harus paham benar akan siapa calon peminjam yang akan dipinjami dana. Apakah peminjam tersebut tipe orang yang bisa membayar cicilan tepat waktu dan sanggup melunasinya, atau justru dikenal "penunggak"? Sesuaikan betul dengan profil risiko Anda.



Tak hanya investor, peminjam pun bisa mengalami gagal pinjam. Dalam platform, seorang peminjam diberi kemudahan untuk mengkampanyekan kebutuhannya melalui sistem crowdfund. Sistem ini akan mengumpulkan dana dari para investor hingga memenuhi kebutuhan jumlah dana yang akan dipinjam oleh peminjam. Akan tetapi, apabila dana belum mencapai target dalam durasi yang sudah ditentukan, dana yang tadinya sudah terkumpul akan dianggap gagal dan dikembalikan ke investor.

Contohnya Bapak X membutuhkan dana sebesar 100 juta untuk memulai bisnisnya di bidang otomotif. Beliau kemudian mengajukan pinjaman melalui platform P2P Lending ke para investor. Selama masa pengumpulan dana setelah kampanye, dana yang diperoleh hanya sebesar 60 juta.

Apabila dalam masa tunggu tersebut dana  tidak kunjung terpenuhi, maka dana yang sudah masuk sebesar 60 juta tadi akan menjadi dana menganggur dan dianggap sebagai gagal pinjam. Dana tersebut kemudian dikembalikan lagi kepada investor.

Bisnis P2P Lending VS Crowdfunding(Baca Juga: Bisnis Peer To Peer Vs Crowdfunding, Mana Yang Menguntungkan?)

 

2. Risiko di Tingkat Penyelenggara (Website)

Salah satu kriteria pemilihan platform P2P Lending adalah memiliki pengalaman dan keahlian mumpuni dalam mengelola kinerja layanan investasi pinjam-meminjam. Penyelenggara diharapkan mampu menyediakan informasi peminjam secara lengkap dan transparan karena penilaiannya adalah poin yang paling ditunggu-tunggu oleh investor.

Sebelum calon peminjam mendapatkan dana dari investor, pihak penyelenggara akan mengevaluasi terlebih dahulu seperti apa karakteristik dari tiap calon peminjam. Mereka menyediakan sejumlah data tentang calon peminjam mulai dari latar belakang peminjam itu sendiri, kebutuhan pengajuan pinjaman, tingkat risiko, dan lain sebagainya.

Namun, data yang diberikan oleh pihak penyelenggara tersebut sebenarnya memiliki keterbatasan, seperti kurangnya akses bagi investor untuk memeriksa kembali dan memastikan validitas data dari calon peminjam. Pasalnya, pihak platform tidak mengungkapkan siapa nama calon peminjam, atau akses pemeriksaan validitas data peminjam ada/tidak ada.



Dari sini dapat disimpulkan bahwa pihak penyelenggara tidak bersikap transparan kepada para investor. Risiko inilah yang sering membuat investor kesulitan menemukan calon peminjam yang tepat. Apalagi jika platform yang digunakan masih tergolong baru, kinerja penyelenggara dalam mengelola data calon peminjam jelas masih diragukan.

Lain halnya jika platform P2P Lending sudah berpengalaman hingga puluhan tahun dan terjamin kualitasnya. Dapat dipastikan bahwa para investor dan peminjam akan selalu mengandalkan platform tersebut jika kualitas kinerjanya tidak diragukan lagi. Risiko platform tutup pun tidak akan terjadi.

P2P Indonesia Terbaik Terdaftar OJK(Baca Juga: Daftar P2P Syariah Terbaik Dan Terdaftar Di OJK)

 

3. Risiko di Tingkat Regulasi

Hal yang paling sering dipertanyakan sebelum memulai investasi P2P Lending adalah ada tidaknya regulasi dari OJK. Investasi ini termasuk investasi jenis baru, sehingga regulasinya pun masih mencakup sedikit perusahaan.

Untuk saat ini, total jumlah penyelenggara P2P Lending yang sudah terdaftar di OJK mencapai 161 perusahaan. Regulasi dari OJK sangatlah penting untuk mengetahui mana perusahaan penyelenggara yang aman untuk dijajal.

Dengan terdaftarnya suatu penyelenggara di OJK, itu berarti penyelenggara tersebut memenuhi kriteria aman dan akan mentaati serta menjalankan peraturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, baik calon investor maupun calon peminjam tidak perlu ragu untuk menggunakannya karena keamanan sudah dijamin oleh OJK.

OJK, Regulator P2P Lending

Akan tetapi, masih banyak juga masyarakat yang terjebak masalah regulasi. Penyelenggara yang mereka gunakan ternyata tidak terdaftar di OJK, sehingga pihak investor dan peminjam tidak mendapat perlindungan dari OJK. Dikhawatirkan jika terjadi masalah antara pihak penyelenggara dengan pihak investor maupun pihak peminjam, kedua belah pihak tersebut menyelesaikan masalahnya tanpa ada campur tangan dari regulator. Mereka juga kesulitan untuk mengajukan pengaduan kepada OJK karena pihak penyelenggara yang mereka gunakan tidak berada di bawah pengawasan OJK.

Hal ini menyebabkan kedua belah pihak merugi lantaran sama saja mereka ditipu oleh penyelenggara yang tidak bertanggung jawab. Anda yang mau mulai menjajal diversifikasi bisnis P2P ini harus lebih cermat dan hati-hati dalam memilih platform penyelenggara.

 

4. Risiko di Tingkat Ekonomi

Sama seperti jenis investasi lainnya, risiko investasi P2P Lending tidaklah jauh berbeda. Risiko investasi P2P ini mirip seperti reksadana, yaitu terjadinya wanprestasi atau gagal bayar.

Di P2P Lending, investor akan khawatir jika modal yang ditanamnya akan mengalami gagal bayar dan likuiditas. Apabila kedua hal tersebut terjadi, hal ini bisa mempengaruhi perekonomian negara. Negara bisa mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan terhambatnya sistem perekonomian berjalan. Hal ini menjadi risiko besar bagi investor lantaran tidak bisa mendapatkan kembali dana, baik dana pokok maupun bunganya.

 

Prinsip High Risk, High Gain Pada Bisnis P2P Lending

Dalam dunia bisnis, prinsip high risk, high gain bukanlah sebuah hal baru. Prinsip ini adalah prinsip yang sangat melekat erat dan tak bisa dipisahkan. Bisnis apa pun itu dan siapa pun pelakunya pasti menggunakan prinsip ini.

High Risk, High Gain adalah prinsip di mana para pelaku bisnis yang menginginkan keuntungan besar pasti akan menghadapi risiko yang besar pula. Semua pelaku bisnis yang ingin sukses pasti akan melewati berbagai macam rintangan untuk bisa mencapainya. Tidak ada suatu keinginan yang bisa dicapai tanpa adanya risiko.

Risiko dianggap sebagai pemicu terjadinya kerugian, menyebabkan berkurangnya dana, hingga terjadinya kegagalan pencapaian. Risiko memang menjadi penghambat suatu bisnis untuk mencapai tujuan, tetapi risiko jugalah yang membantu bisnis bisa berkembang.

Mengenali Profil Risiko Investasi(Baca Juga: Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya?)

Prinsip ini kemudian menjadi sebuah penentu pengambilan keputusan dalam perencanaan investasi. Para investor menerapkan prinsip ini untuk merencanakan pencapaian tujuan dari sebuah bisnis. Tentu saja risiko bisnis tidak dapat dihindari. Bagaimanapun juga, risiko adalah bagian dari penentu kesuksesan sebuah bisnis. Sematang apapun perencanaan sebuah bisnis, risiko akan tetap ada.

Investasi P2P Lending ini juga tidak luput dari risiko. Malah di antara semua produk investasi, P2P Lending-lah yang memiliki risiko paling tinggi. Semua tingkatan risiko dimiliki oleh investasi ini. Namun jangan salah, keuntungan yang ditawarkan pun cukup besar, sehingga banyak orang yang mudah tergiur untuk mencoba investasi ini tanpa memperhatikan risiko yang ada.

Setelah dilakukan, biasanya banyak yang menyerah jika mendapat loss. Padahal, untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan, perlu untuk mempelajari risiko tersebut. Anda butuh strategi yang matang mulai dari perencanaan awal hingga solusi akhirnya. Anda bisa memulainya dari merencanakan modal awal yang tepat untuk diinvestasikan, memahami betul kriteria dan profil risiko seorang calon peminjam, hingga solusi apa yang bisa diterapkan untuk mengatasi terjadinya keterlambatan pembayaran.

Namun kembali lagi, sebaik apapun perencanaan yang Anda lakukan, risiko akan tetap terjadi dan tidak akan pernah hilang. Anda boleh memprediksi berbagai kemungkinan untuk meminimalisir risiko, tetapi prediksi tetap saja bisa meleset kapan pun. Walaupun risiko dan keuntungan bertentangan, tetapi korelasi di antara keduanya bersifat searah.

Semakin tinggi risiko, semakin tinggi pula keuntungannya.

 

Cara Diverifikasi Bisnis P2P Lending

Sampai di sini, apakah Anda makin tertarik mencoba peruntungan dengan investasi P2P Lending? Nah, jika Anda masih tertarik, berikut cara memulai investasinya:

 

1. Pilih Platform yang Tepat

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, salah satu kriteria platform yang aman adalah harus sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK. Oleh karena itu, Anda sangat dianjurkan untuk mencari informasi mengenai platform yang Anda ingin gunakan itu selengkap-lengkapnya.

Platform P2P Lending

Jangan sampai Anda salah memilih dan pada akhirnya menjadi rugi, yang akhirnya Anda kapok untuk investasi lagi. Padahal, kesalahan pemilihan platform itu di diri Anda sendiri. Setiap website P2P pastinya memiliki fasilitas layanan dan risiko yang berbeda-beda, jadi jangan lupa untuk mempertimbangkannya juga. Jika Anda sudah menemukan platform yang tepat, jangan ragu untuk mulai masuk ke langkah berikutnya.

Kunjungi juga: Daftar P2P Lending Resmi Dan Bunganya

 

2. Durasi Pinjaman

Setelah memastikan platform investasi yang aman dan nyaman, Anda juga perlu memperhatikan pentingnya memilih durasi pinjaman sebelum memutuskan untuk menginvestasikan dana. Lamanya masa pinjaman ini bervariasi, ada yang setahun hingga beberapa tahun. Pentingnya menyusun durasi ini adalah agar Anda bisa meminimalisir risiko, sehingga sebagai investor, Anda akan tetap mendapatkan keuntungan sesuai dengan tujuan awal.

Untuk peminjam, durasi pinjaman ini sebaiknya diatur sebaik mungkin untuk menghindari terjadinya gagal bayar. Jika Anda meminjam ke beberapa investor, usahakan untuk mengatur durasi pinjaman yang berbeda dengan memperhatikan juga risiko-risikonya.

Contohnya peminjam A bisa memberikan bunga lebih tinggi daripada peminjam B. Anda bisa mengambil durasi pinjaman jangka panjang untuk peminjam A, serta jangka pendek untuk peminjam B. Ketika durasi pinjaman B sudah habis, Anda masih memiliki pinjaman A yang akan memberikan keuntungan lebih dalam durasi yang panjang.

Perlu diketahui bahwa durasi pinjaman ini berkaitan erat dengan likuiditas, di mana uang yang Anda investasikan bisa diinvestasikan kembali. Biasanya, likuiditas akan lebih mudah apabila menggunakan durasi jangka pendek. Ketika memasuki jatuh tempo, Anda bisa menariknya dan menginvestasikan kembali dengan jangka waktu yang bisa disesuaikan, sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih optimal.

Namun, lain halnya jika semua dana Anda masukkan ke dalam jangka pendek. Pada saat semua memasuki jatuh tempo, dana tersebut bisa menjadi dana mati dan belum bisa diinvestasikan kembali karena tidak adanya pinjaman yang ditawarkan. Untuk itu, akan lebih baik jika menanamkan dana ke dalam beberapa jangka waktu pinjaman berbeda, baik pendek maupun panjang, sehingga risiko menjadi lebih rendah.

 

3. Kelas Pinjaman

Dalam investasi, setiap platform membuat peringkat atas produk pinjaman yang ditawarkan menggunakan alfabet dari A sampai E. Peringkat ini berlaku ke semua platform sebagai standard untuk membedakan satu dengan yang lain. Ada juga yang menambahkan alfabet lain di belakang alfabet utama sebagai klasifikasi detail pembeda.

Klasifikasi ini yang kemudian disebut sebagai kelas pinjaman, yang memudahkan Anda memilih pinjaman sesuai dengan profil risiko. Penerapan klasifikasi menggunakan alfabet ini membantu Anda mengetahui manakah pinjaman berisiko tinggi atau rendah, serta bunga kecil atau besar. Hal ini akan membantu Anda memaksimalkan opsi peminjam yang layak dipinjami.

Kelas Pinjaman P2P Lending

Berdasarkan urutan alfabet, pinjaman A adalah pinjaman terbaik dengan risiko paling kecil. Namun, risiko kecil menunjukkan bahwa bunga yang ditawarkan pun paling kecil di antara kelas pinjaman lainnya; makin besar urutan kelas pinjaman, maka makin besar pula risiko serta bunga yang ditawarkan. Biasanya, para investor yang tidak ingin mengambil risiko tinggi akan memilih kelas pinjaman A walaupun bunga yang diberikan rendah.

Mereka beranggapan bahwa lebih baik mendapatkan bunga rendah tapi konsisten. Hal ini memang bisa menghindarkan investor dari risiko, tetapi keuntungan yang didapat menjadi tidak maksimal. Alhasil, investor pun akan cenderung berada di "zona aman" saja dan tidak memiliki kemajuan dalam berbisnis.

Sementara kelas rendah seperti C, D, dan E merupakan kelas pinjaman dengan risiko tinggi dan lebih mudah terjadi gagal bayar. Akan tetapi, bunga yang ditawarkan cukup tinggi sesuai dengan tingkat risikonya, sehingga bisa membantu pertumbuhan bisnis investasi menjadi lebih cepat. Mereka yang menaruh dananya ke dalam pinjaman kelas ini memiliki kemungkinan mendapatkan keuntungan maksimal.

Namun, jika sekalinya mereka gagal, mereka tidak bisa mendapatkan dana mereka kembali. Maka dari itu, akan lebih baik jika menginvestasikan dana yang dimiliki ke beberapa kelas pinjaman yang berbeda-beda agar risiko dapat diminimalisir.

 

4. Jumlah Uang yang Diinvestasikan

Langkah terakhir yang paling penting dari tiga hal tersebut adalah bagaimana menentukan jumlah dana yang akan diinvestasikan. Secara umum, minimal dana yang bisa diinvestasikan adalah Rp100,000. Jika memiliki dana lebih, Anda bisa mengalokasikannya ke beberapa kelas pinjaman dengan durasi yang telah ditentukan. Perhatikan juga profil peminjam apakah layak atau tidak untuk diberi pinjaman.

Bila diperhatikan, memang untuk memperhitungkan ketepatan diversifikasi dengan menggunakan 4 faktor penentu ini terlihat sangat rumit dan memakan banyak waktu. Anda diharuskan untuk menganalisis dan mencocokkan satu dengan yang lainnya agar proporsional dan tepat sasaran. Padahal dalam berinvestasi, seharusnya diperlukan fleksibilitas agar usaha yang dilakukan berjalan maksimal.

Tips Diversifikasi Investasi(Baca Juga: 5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi)

Cara mudahnya, Anda bisa mengalokasikan dana berdasarkan peluang yang ada. Carilah peluang dimana Anda bisa menanamkan dana tanpa ribet memikirkan strategi terbaik. Apabila Anda memiliki dana 5 juta, Anda bisa mengalokasikan dana tersebut ke dalam 5 kelas pinjaman. Anda bisa memilih kelas mana saja yang berpotensi memiliki keuntungan lebih, tetapi usahakan untuk menyertakan kelas yang potensi keuntungannya rendah.

 

Ilustrasi Diversifikasi Pendanaan P2P Lending

Setelah memahami bagaimana cara menerapkan strategi diversifikasi dengan memperhatikan 4 faktor penting penentu keberhasilan diversifikasi bisnis P2P di atas, Anda bisa mulai menerapkannya dengan mencoba tiga contoh skenario diversifikasi berikut ini.

 

1. Skenario 1 - Hanya Berorientasi pada Hasil Akhir Tinggi

Sebagai contoh, Anda memiliki dana 100 juta yang akan diinvestasikan ke dalam instrumen investasi P2P Lending dengan durasi pinjaman 6 bulan. Katakanlah Anda mengamati hasil dari pengecekan 10 profil peminjam melalui credit scoring, kemudian mendapati ada sekitar 4 profil peminjam yang masuk kelas pinjaman C (potensi hasil lebih tinggi).

Maka dari itu, Anda akan cenderung mengalokasikan dana tersebut ke 4 profil peminjam kelas C, dengan jumlah dana berbeda sesuai tingkatan bunga yang menguntungkan dalam 6 bulan. Akan tetapi, bunga tinggi memiliki risiko tinggi pula, misalnya salah satu dari 4 profil peminjam kelas C tersebut terjadi gagal bayar. Bisa juga ada kemungkinan uang yang dipinjamkan tidak akan kembali.

Namun, Anda tidak perlu khawatir karena masih ada investasi lainnya yang aman -meski belum tentu bisa meng-cover kerugian dari gagal bayar salah satu peminjam tersebut.

 

2. Skenario 2 - Menyebar Dana Secara Merata

Anda bisa melakukan alokasi dana secara merata. Misalnya dana investasi 100 juta tadi dialokasikan ke 10 peminjam dengan tingkatan kelas pinjaman dan tingkat bunga berbeda, masing-masing sebesar 10 juta. Dengan penyebaran merata ini, Anda bisa meminimalisir terjadinya gagal bayar.

Meski hal tersebut tetap bisa terjadi, kerugian yang dialami tidaklah terlalu besar karena masih ada 9 pinjaman dengan potensi keuntungan berbeda-beda, bahkan bisa lebih besar ntuk menutupi dana yang hilang tersebut.

 

3. Skenario 3 – Menyebar Dana Sesuai Risiko Peluang Peminjam

Lender akan menyebarkan dananya ke beberapa kelas sesuai tingkat risikonya. Untuk kelas berisiko tinggi, investor akan menaruh dana lebih kecil, sementara untuk kelas yang risikonya rendah, dia akan menaruh dananya lebih besar.

Dengan kata lain, ini adalah skenario teraman untuk berbisnis P2P karena risikonya tidak terlalu memusingkan. Jika dipertimbangkan, investor yang memilih skenario ini adalah para pemula yang baru coba-coba peruntungan dengan risiko seminimal mungkin.

 

Kesimpulan

Nah, itulah sedikit informasi mengenai diversifikasi bisnis P2P Lending yang bisa Anda jadikan wawasan. Apabila Anda berminat untuk menambah portofolio investasi dengan produk ini, jangan lupa untuk menerapkan beberapa cara di atas agar risiko yang Anda hadapi bisa di-maintain dengan baik dan bijak. Untuk mempermudah perhitungan diversifikasi, Anda juga bisa memanfaatkan kalkulator P2P Lending. Selamat mencoba!

Forum

Edgar (09 Sep 2015)

saya pemula di forex, apa bedanya ECN dan tidak ECN, apakah benar ada pergerakan yang diatur jika dalam trading yang tidak ECN? saya kurang pede dengan long time trading atau swing, lebih pede dengan scalper , untuk scalper yang biasa dipakai indikator apa ya? dengan modal...

Selengkapnya...

BANKKPRRitel
Bank Amar Indonesia 13.00% 11.00%
Bank Artha Graha Internasional 10.90% 10.40%
Bank Artos Indonesia 30.23% 30.23%
Bank Bisnis Internasional 8.78% 12.35%
Bank Bukopin 9.31% 9.20%
Bank Bumi Arta 9.98% 10.55%
Bank Capital Indonesia 13.30% 13.30%
Bank China Construction Bank Indonesia 9.89% 9.89%
Bank Cimb Niaga 9.55% 10.10%
Bank Commonwealth 10.75% 10.75%

Kirim Komentar/Reply Baru


7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
Linlindua   29 Apr 2021   141  
Minta Bantuan Kenapa SL/TP selalu invalid
salam hangat,

saya belajar akun demo di FBS, yang mau saya tanyakan, kenapa setiap saya pasang SL/TP, selalu INVALID SL/TP, cara saya memasukan SL/TP adalah dengan perbandingan SL = 30 TP = 50, contohnya, saya Open BUY GBP/USD di harga 1.56116, maka saya Pasang SL = 1.56086 dan TP = 1.56166,, mohon dibantu teman2,,

Thalia 4 Aug 2015

Reply:

Basir (05 Aug 2015 09:42)

Untuk Thalia

Jika broker yang anda gunakan adalah broker dengan spread fixed (4 digit) maka tidak keliru, hanya saja broker yang anda gunakan adalah broker dengan spread 5 digit ( 5 angka dibelakang titik/koma). Maka seharusnya, TP 300 dan TP 500  (kalau di broker 4 digit maka 30 : 50 /pips).  Ada kemukinan juga, anda memasangnya saaat harga running jadi order tidak masuk. Di FBS Jarak order pending, stop loss atau take profit adalah 30 pips ini sama dengan 3 pips spread 4 digit.

Thanks.

Kalkulator P2P Lending
Kalkulator P2P Lending
Sistem   9 Apr 2021   173  
Perbandingan Bunga P2P Lending
Perbandingan Bunga P2P Lending
Sistem   9 Apr 2021   294  
Tips Mengelola Dompet Digital Anti Boros
Tips Mengelola Dompet Digital Anti Boros
Wahyudi   30 Jan 2021   229  
Cara Memanfaatkan Tiktok Untuk Bisnis
Cara Memanfaatkan Tiktok Untuk Bisnis
Febrian Surya   31 Oct 2020   517  
Kiat Bisnis Online Saat New Normal
Kiat Bisnis Online Saat New Normal
Wahyudi   22 Oct 2020   425  
Ingin Dapat Pinjaman Tanpa Takut Riba? Ini Caranya
Ingin Dapat Pinjaman Tanpa Takut Riba? Ini Caranya
Jujun Kurniawan   15 Sep 2020   686  
Aplikasi Transfer Uang Paling Mudah Digunakan
Aplikasi Transfer Uang Paling Mudah Digunakan
Jujun Kurniawan   21 Jul 2020   517