Belajar Investasi Aman di Reksadana Terproteksi


Nandini 29 Nov 2021 29Dibaca Normal 14 Menit

Anda seorang pemula yang sedang mencari investasi aman berpotensi return cukup tinggi? Reksadana terproteksi bisa jadi pilihan. Berikut panduannya untuk pemula.

"Bagaimana sih investasi yang aman itu?"
"Aku ingin investasi, tetapi takut. Bagaimana cara memulainya, ya?"
"Bagaimana caranya dapat cuan lewat investasi, ya?"
"Reksadana cocok untuk pemula sepertiku. Bagaimana belajar investasi aman di reksadana?"

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering dilontarkan para pemula yang masih diliputi kebingungan akan dunia investasi. Atau jangan-jangan, Anda salah satunya?

Tidak dapat dipungkiri bahwa investasi sudah menjadi bagian dari diri masyarakat. Saat ini, tidak hanya dilakukan orang berduit saja, siapapun yang melek finansial bisa investasi juga, lho. Banyak orang mulai mencoba investasi dari modal receh sampai jutaan Rupiah.

Bagi pemula, memulai investasi memang dianggap susah-susah gampang. Hal pertama yang terlintas adalah kebingungan menentukan jenis investasi yang akan diambil. Seperti yang sudah kita ketahui, jenis produk investasi ada bermacam-macam, seperti emas, deposito, saham, reksadana pasar uang, hingga properti.

Akhir-akhir ini, reksadana makin menyita perhatian, terlebih di kalangan milenial karena minimal depositnya sangat murah dan risikonya rendah. Bahkan, tidak sedikit orang yang menahan hidup konsumtif dan memilih mengalokasikan dananya ke reksadana.

Dari sekian banyak jenis investasi, tidak sedikit orang menekuni investasi reksadana karena ramah terhadap pemula. Terbukti, menurut data OJK, reksadana mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Di akhir tahun 2020, reksadana berhasil pecah rekor. Total himpunan dana mencapai Rp573.54 triliun atau meningkat 5.78% dari tahun sebelumnya.

investasi reksadana terproteksi(Baca Juga: Tips Investasi Reksadana Bagi Investor Pemula)

 

Apa Itu Reksadana?

Reksadana bisa diartikan sebagai sejumlah dana yang dihimpun di dalam suatu wadah untuk kemudian diinvestasikan dalam bentuk portofolio. Kumpulan dana ini nantinya akan dikelola oleh badan hukum yang disebut dengan Manajer Investasi.



Maka tak salah bila reksadana dikenal sebagai produk buat investor yang masih minim pengetahuan dan pengalaman, karena keputusan investasinya sudah diatur oleh MI, sehingga investor hanya tinggal menyetor dana ke jenis reksadana yang dipilih.

Selain untuk investor pemula yang belum terlalu mengenal pasar investasi, reksadana juga cocok bagi mereka yang super sibuk. Dengan menanamkan modal ke investasi ini, Anda tak perlu repot-repot menyisihkan banyak waktu untuk menganalisa pasar, mengambil keputusan investasi, hingga menghitung untung rugi dari investasi.

Selain sisi praktisnya, reksadana memiliki sejumlah keunggulan menarik lain sehingga membuat masyarakat tertarik menanamkan modalnya di sana:

  • Modal investasinya kecil. Dengan nominal Rp100,000 saja, Anda bisa menikmati investasi di reksadana.
  • Salah satu investasi fleksibel. Reksadana dikatakan fleksibel karena Anda bebas memilih investasi dari jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Transparan. Segala informasi menyangkut reksadana dapat diketahui setiap harinya, termasuk naik dan turunnya harga secara daring.
  • Dikelola profesional. Seperti disebutkan di atas, Anda tidak perlu kesusahan menghitung untung dan rugi karena sudah dikelola Manajer Investasi yang ahli di bidangnya.
  • Keamanan terjamin. Salah satu pertimbangan memilih investasi pastinya keamanan dana, bukan? Reksadana sendiri merupakan produk investasi aman karena disediakan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah terverifikasi dan mendapatkan izin dari OJK.

Meskipun reksadana banyak sisi positifnya, tetap saja ada kekurangan yang perlu diwaspadai. Ada profit pasti ada risiko kerugian, bukan? Dalam hal ini, beberapa kekurangan reksadana meliputi: likuiditas, perubahan kondisi pasar yang tidak menentu, risiko default, dan perubahan kebijakan atau peraturan seperti pajak.

Baca Juga: Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya

Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, reksadana tetap menjadi pilihan karena risikonya yang rendah. Dalam praktiknya, ada beberapa jenis reksadana yang bisa dipilih investor, diantaranya: reksadana saham, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap (RDPT), dan reksadana campuran.

Beberapa produk reksadana di atas mungkin sudah tidak asing di telinga, namun apakah Anda pernah mendengar reksadana terproteksi? Mengapa jenis reksadana ini lebih cocok untuk pemula?

 

Mengenal Reksadana Terproteksi

Reksadana terproteksi memang masih jarang terdengar. Nama lain reksadana terproteksi ialah Capital Protected Funds (CPF) atau singkatnya RDT, yakni jenis reksadana yang menjamin investasi atau memberikan proteksi terhadap investasi awal secara penuh 100% jika investor memegang reksadana hingga tanggal jatuh tempo.



Reksadana terproteksi juga memberikan sistem bagi hasil dalam bentuk dividen melalui pengelolaan portofolio investasi. Bentuk investasinya bisa berbentuk surat utang atau obligasi dari pemerintah maupun perusahaan.

RDT bisa dibilang cukup aman karena pengelola atau Manajer Investasi akan bertanggung jawab penuh atas modal dan imbal hasil jika terjadi suatu masalah. Itulah kenapa reksadana ini disebut reksadana terproteksi.

Karena sistemnya keamanannya, reksadana jenis ini cocok dicoba oleh mereka yang baru berkecimpung di dunia investasi.

Lantas, bagaimana cara kerja dari reksadana ini?

Sebagai contoh, Anda akan menginvestasikan uang sebesar Rp10 juta dalam reksadana terproteksi dengan tenor 5 tahun. Imbal hasilnya sebesar 7% per tahun dan dibayarkan tiap 3 bulan sampai dengan akhir periode.

Setelah akhir periode selesai, nilai modal awal akan kembali sepenuhnya 100% dan ditambah dengan imbal hasil diterima setiap periodenya 7% per tahun. Begitulah pengelolaan reksadana terproteksi jika Anda tidak mencairkan dana sebelum jatuh tempo.

Reksadana terproteksi biasanya diatur oleh Manajer Investasi kredibel yang melakukan kerjasama dengan perusahaan asuransi. Akan tetapi, Manajer Investasi juga harus membayarkan premi ke perusahaan asuransi itu.

Konsep dari reksadana terproteksi berbeda dengan asuransi kendaraan bermotor, di mana ketika terjadi kecelakaan atau dicuri bisa diklaim risikonya. Nah, untuk reksadana, jika kesalahan ini di luar wewenang Manajer Investasi, seperti terjadinya wan prestasi dari perusahaan obligasi, maka investor tidak bisa menuntutnya.

Berarti, reksadana terproteksi tidak benar-benar aman 100%, dong? Sama seperti semua jenis investasi, reksadana terproteksi juga memiliki risiko. Hanya saja, level risikonya lebih rendah dari instrumen investasi lainnya.

 

Reksadana Vs Reksadana Terproteksi

Asal tahu saja, reksadana dan reksadana terproteksi memiliki perbedaan atau ciri khas tersendiri meski sama-sama dikelola oleh Manajer Investasi.

Di atas, kita sudah mengetahui salah satu perbedaan reksadana biasa dengan terproteksi ada di dana investasi awal yang terjamin 100% pokok investasi setelah jatuh tempo.

Perbedaan kedua terletak pada pembelian investasi. Reksadana terproteksi tidak bisa dibeli kapan saja semau investor, lantaran ada penawaran khusus di mana investor bisa menanamkan modalnya. Di luar waktu penawaran, Anda tidak akan bisa membelinya.

Mekanismenya pun sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Secara kebijakan, mekanisme dasarnya sama seperti reksadana pendapatan tetap yang menempatkan sebagian besar portofolio pada obligasi. Namun, pengelolaannya berbeda karena reksadana terproteksi lebih cenderung hold hingga jatuh tempo, sedang reksadana pendapatan tetap melaksanakan aktivitas jual-beli layaknya bertrading.

Perbedaan selanjutnya ada pada biaya-biaya yang dibebankan ke investor. Biasanya, saat menjual (redeem) dan membeli (subscribe) instrumen dalam jangka waktu kurang dari setahun atau sebelum jatuh tempo, investor akan dibebani biaya. Di reksadana terproteksi, investor tidak akan dikenai biaya kecuali biaya redemption.

 

Karakteristik Reksadana Terproteksi

Reksadana terproteksi mempunyai karakteristik cukup unik, sehingga investor yang ingin menanamkan modal di sana harus mengetahui seluk-beluknya terlebih dahulu agar tidak merugi. Meskipun terjamin relatif aman dicoba, pemahaman risiko dan karakteristik juga perlu diperhatikan, lho. Nah, berikut ini beberapa karakterisik reksadana terproteksi yang perlu Anda tahu:

 

1. Masa Dan Unit Terbatas

Telah disinggung di atas bahwa pembelian reksadana terproteksi tergantung waktu penawarannya. Apabila penawaran sudah selesai, investor tidak akan bisa membeli reksadana terproteksi lagi.

Selain adanya jadwal khusus, unit yang ditawarkan pun terbatas. Unit dan masa ini batasnya ditentukan oleh Manajer Investasi. Biasanya, penawaran dibuka dengan durasi sekitar 120 hari kerja. Sedangkan jumlah unitnya akan mengikuti ketersediaan obligasi yang menjadi tujuan investasi. Perlu Anda ingat juga, apabila masa penawaran telah berakhir, jangankan untuk membeli, melakukan top up atau menambah saldo pun tidak diperbolehkan.

 

2. Adanya Jatuh Tempo

Berbeda dengan reksadana konvensional lainnya yang memiliki waktu pembubaran sesuai dengan kesepakatan Manajer Investasi dan bank kustodian, reksadana terproteksi dibubarkan setelah jatuh tempo.

Tanggal pembubaran tidak langsung tepat pada saat jatuh tempo yang tertera di surat utang/obligasi, tetapi beberapa hari sebelum tanggal jatuh tempo surat utang.

Sistem ini mirip dengan deposito bank di mana akan ada jangka waktu atau tempo untuk pencairan maupun selesainya investasi. Seperti kita ketahui, jangka waktu deposito beragam, bisa 1 bulan, 6 bulan, setahun, dan seterusnya. Di sisi lain, penentuan jatuh tempo reksadana terproteksi mengikuti aturan dan kebijakan Manajer Investasi.

 

3. Adanya Indikasi Return

Sama seperti investasi konvensional lainnya, reksadana terproteksi juga memberikan indikasi imbal hasil (return), umumnya melebihi return dari produk bank (seperti tabungan dan deposito).

Baca Juga: Deposito Bank VS Reksadana Pendapatan Tetap, Mana yang Lebih Cuan?

Perhitungan return ini dihasilkan dari penawaran bunga atau kupon obligasi setelah dikurangi faktor biaya dan pajak yang dibebankan. Rata-rata hasil return dari investasi semacam ini mampu mengungguli inflasi, lho.

Tahukah Anda bahwa dibandingkan beberapa tahun silam, likuiditas di pasar Tanah Aair membuat BI harus mengeluarkan kebijakan moneter yang lebih longgar? Namun di tahun 2021 ini, inflasi menjadi lebih terkendali di bawah target maksimal pemerintah.

Dikarenakan angka inflasinya masih terbilang rendah, reksadana terproteksi jadi menarik untuk dimainkan dibandingkan dengan instrumen investasi lain, contohnya pasar uang yang return-nya tergolong lebih rendah.

cara hitung reksadana(Baca Juga: Cara Mudah Menghitung Return Reksadana)

Berdasarkan data Infovesta di awal tahun 2021, imbal hasil atau yield SUN besarnya sekitar 7.75%, sementara SBSN Seri PBS018 dan Eurobonds Indonesia 2035 sekitar 8.50%. Bahkan, yield obligasi korporasi rating AAA ada yang mencapai 16.55%. Yield rating AA sekitar 10%, dan yield tertinggi rating A adalah 12%. Sementara untuk rating BBB, bisa memperoleh yield hingga 17.63%.

 

4. Imbal Hasil Diberikan Secara Periodik

Layaknya reksadana jenis lain, imbal hasil reksadana terproteksi juga dilakukan secara periodik, yakni bisa 3 bulan, 6 bulan, atau setahun tergantung fitur yang ditawarkan reksadana tersebut. Untuk besarnya sendiri, investor biasanya sudah diberitahu sebelum melakukan investasi awal.

 

5. Dikelola Secara Pasif

Manajer Investasi di reksadana terproteksi mengelola portofolio secara pasif. Oleh karenanya, investor tidak akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan beli di pasar modal.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan reksadana saham yang Manajer Investasinya akan mengelola investasi secara aktif dan mengikuti pergerakan ekonomi dengan mencari informasi dan melakukan jual beli di pasar modal setiap waktu guna mencari celah profit.

 

6. Risiko Nilai Pokok Turun

Reksadana terproteksi menanamkan 70% portofolionya di surat utang, sehingga kemungkinan risiko nilai pokoknya bisa turun jadi lebih besar. Akibatnya, banyak contoh kasus gagal bayar reksadana terproteksi. Pada posisi ini, nilai investasi awal dan imbal hasil akan berkurang, sehingga skenario terburuk adalah perusahaan gagal membayar aset dasar obligasi korporasi. Di tambah lagi, jika Anda menjual portofolio sebelum jatuh tempo, risiko ruginya jelas makin besar.

 

7. Tidak Cocok Untuk Investor Konservatif

Meskipun dana pokok investasi kita terproteksi, sebenarnya reksadana ini tidak begitu cocok untuk investor konservatif. Sebab, risiko yang mengiringi investasi ini berkisar sedang hingga tinggi. Oleh karena itu, bisa dikatakan jika reksadana terproteksi lebih cocok untuk investor dengan profil risiko moderat-agresif.

Baca juga: Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya?

 

Risiko Investasi di Reksadana Terproteksi

Sebelum memulai investasi, ada baiknya Anda cari tahu dulu apa saja risiko yang akan dihadapi saat menanamkan modal di reksadana terproteksi ini. Mengetahui risiko akan membuat Anda lebih siap dalam menghadapi permasalahan yang muncul di kemudian hari. Lantas, apa saja sih risiko reksadana terproteksi?

 

1. Penerbit Obligasi Gagal Bayar

Jika penerbit gagal bayar, bisa dipastikan investasi Anda pun amblas karena nilai keuntungan yang harusnya didapat malah berkurang, bahkan tidak terbayarkan sama sekali. Hal ini juga mengakibatkan turunnya harga obligasi.

 

2. Pencairan Dana Sebelum Jatuh Tempo

Sama halnya dengan deposito, jika nasabah menjual obligasi atau mencairkannya sebelum jatuh tempo, bisa dipastikan mustahil memperoleh keuntungan. Alih-alih cuan, simpanan pokoknya saja kemungkinan kembali tidak utuh. Jadi, meskipun terproteksi, uang Anda tidaklah benar-benar terlindungi.

Oleh karena itu, jika Anda mengambil masa tenor, katakanalah 2 tahun, maka jangan sampai menarik dana selama dua tahun itu. Lantaran uang Anda harus mengendap lama di reksadana, jangan sampai menanamkan modal menggunakan uang darurat atau tabungan, melainkan kelebihan uang yang memang di-poskan untuk investasi jangka panjang.

Baca juga: Tips Cerdas Mengatur Gaji Bulanan

 

3. Pergerakan Aset Lain Yang Kurang Menguntungkan

Anda pastinya paham bahwa cara kerja reksadana ialah membagi dana kita ke beberapa produk investasi, bukan? Nah, reksadana terproteksi juga bekerja sama persis, hanya saja sebagian besar ditempatkan di obligasi, sisanya di produk lain.

Untung tidaknya investasi tidak hanya bergantung pada obligasi, melainkan investasi lain, katakanlah saham. Meskipun obligasi memberikan imbal hasil tinggi, jika pada investasi sahamnya merugi besar, maka hal ini tetap bisa mempengaruhi performa reksadana. Unsur satu dengan unsur lain tetap saling memengaruhi. Bila Anda ingin profit banyak, maka kedua unsur tersebut haruslah seimbang (sama-sama untung).

 

4. Kondisi Pasar Dan Peringkat Aset

Kondisi pasar pastinya akan selalu berubah-ubah karena banyak faktor yang memengaruhinya. Bila nilai reksadana sering berubah mengikuti kondisi pasar, reksadana terproteksi juga ikut terpengaruh sehingga nilai obligasinya tetap bisa naik-turun. Sehingga, peringkat aset investasi pun turut berubah.

Baca Juga: Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor

Kita tahu bahwa peringkat kelayakan aset investasi umumnya memiliki urutan AAA, AA, A, dan BBB. Sementara itu, aset yang tidak layak berperingkat BB, B, CCC, CC, C, dan default.

Jika suatu hari aset investasi kita mengalami kenaikan peringkat, tentu saja nilainya akan naik dan hal ini berdampak pada tingkat keuntungan kita. Namun apabila peringkatnya menurun, sentimen pasar terhadapnya juga akan ikut anjlok sehingga mempengaruhi harganya.

Jadi, penurunan rating kinerja ini secara langsung berdampak pada besarnya imbal hasil yang Anda dapatkan dari investasi di akhir periode reksadana terproteksi.

kesimpulan(Baca Juga: Jenis-Jenis Risiko yang Dihadapi Investor Reksadana)

Selain beberapa risiko di atas, ada satu risiko yang tidak kalah penting untuk diantisipasi, yakni mengenai Manajer Investasi. Meskipun para MI sudah dinilai profesional, mereka tetap bisa membuat error yang merugikan investasi kita. Intinya, saat hendak berinvestasi di reksadana terproteksi, jangan sampai Anda hanya tergiur pada imbal hasil tinggi tanpa memikirkan risiko yang mengikutinya.

 

Kesimpulan

Demikianlah serba-serbi mengenai reksadana terproteksi yang siapa tahu bisa menjadi pertimbangan Anda saat memilih produk investasi. Perlu diingat bahwa investasi reksadana satu ini termasuk investasi jangka panjang, jadi, jangan berharap cepat mendapatkan return seperti halnya dalam trading forex atau saham, ya.

Biasanya, pemula ingin buru-buru mendapatkan cuan melimpah dalam waktu singkat. Jika menginginkan investasi instan, maka sudah pasti reksadana terproteksi harus dicoret dari daftar Anda.

Meskipun reksadana terproteksi terkesan tidak cocok untuk investor konservatif dan lebih diperuntukkan bagi mereka yang memiliki profil risiko moderat agresif, setidaknya, investasi satu ini masih aman kok dimasukkan ke dalam daftar investasi khusus pemula.

Terlepas dari apakah Anda seorang pemula atau profesional, pemilihan jenis investasi jangka pendek maupun panjang tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan Anda.

 

Tak hanya reksadana terproteksi, tapi ada juga reksadana pasar uang, reksadana saham, dan lain sebagainya. Dari berbagai jenis reksadana, manakah yang paling aman dan menguntungkan? Temukan jawabannya di artikel Investasi Reksa Dana Paling Menguntungkan dan Aman berikut ini.

BANK1 Bulan
BANK SHINHAN INDONESIA3.85
BANK QNB INDONESIA4.22
JP MORGAN CHASE BANK2.85
BANK MAYBANK INDONESIA3.50
BANK CTBC INDONESIA3.25
DEUTSCHE BANK AG2.55
BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL3.50
BANK OF INDIA INDONESIA4.50
BANK RAKYAT INDONESIA2.25
MUFG BANK, LTD1.55

Untuk pemula disarankan lebih baik trading saham dahulu, kalau sudah profit konsisten baru mencoba forex, emas, atau lainnya. Kalau dari awal sudah nekat trading forex, emas, apalagi indeks tanpa bekal ilmu yang cukup, boleh jadi sebentar saja uangnya langsung amblas,

Desmond Wira

Trader yang benar-benar (ingin) sukses haruslah berkomitmen untuk mendalami dunia trading, dan menganggap uang sebagai bonus sampingan.

Bill Lipschutz

Saya tak banyak melihat korelasi antara trading yang bagus dan kecerdasan. Beberapa trader terkemuka cukup cerdas, tetapi beberapa diantaranya tidak.

William Eckhardt

Saya akan selalu mengurangi posisi ketika loss. Dengan begitu, saya hanya akan memiliki posisi kecil saat trading berakhir buruk.

Paul Tudor Jones

Yang penting bukan masalah benar atau salah, tapi seberapa besar profit Anda ketika benar, dan seberapa banyak loss Anda ketika salah.

George Soros

Saya tahu kemana saya akan keluar bahkan sebelum saya masuk (pasar).

Bruce Kovner

Trading bukanlah hanya soal melindungi modal dari kerugian, melainkan juga melindungi diri dari diri sendiri.

Kim Krompass

Untuk menjadi sukses, trading-lah seperti Anda memulai usaha, jangan perlakukan trading sebagai hobi atau pekerjaan rutin. Kalau cuma hobi, tak ada komitmen belajar, dan akhirnya Anda cuma buang-buang uang. Sedangkan kalau diperlakukan sebagai pekerjaan, trading bisa membuat Anda frustasi karena di sini tidak ada gaji bulanan.

Jean Folger

Anda bisa memperkirakan apa yang terjadi. Tapi bila Anda tidak punya parameter trading, maka sebaiknya jangan masuk hanya karena peluangnya terlihat oke, atau karena seseorang mengatakannya.

Carolyn Boroden

Orang yang tradingnya maksa seringkali berujung pada kegagalan. Disyukuri saja profit yang sudah didapat hari itu. Jangan kemaruk.

Desmond Wira

Ketika Anda benar-benar percaya bahwa trading hanyalah sebuah permainan probabilitas yang sederhana, konsep seperti benar dan salah atau menang dan kalah tidak lagi memiliki makna yang sama.

Michael Covel

Masuklah pasar hanya saat pasar trending; jika bullish Anda harus buy, jika bearish masuk posisi sell. Cuma cara itu yang bisa menghasilkan keuntungan sebenarnya.

Jesse Livermore

Saat Anda mengalami kerugian beruntun, segala keraguan dan ketidakpastian akan menyeruak dan membuat Anda sangat ragu untuk menarik pelatuk (entry). Rasanya tak ada satupun yang berjalan dengan benar. Itu adalah sesuatu yang harus Anda kontrol.

Bill Lipschutz

Saya selalu percaya bahwa passion yang diikuti kerja keras dan doa akan membuahkan hasil yang baik di segala bidang, termasuk forex.

Buge Satrio

Saya hanya kaya karena saya tahu kapan saya salah. Pada dasarnya saya bisa bertahan dengan mengakui kesalahan-kesalahan saya.

George Soros

Pada dasarnya, forex dan saham tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah risikonya.

Ellen May

Ketika mendapat profit, kita jadi lebih berhati-hati. Sedangkan ketika mengalami kerugian, kita justru mulai mengambil risiko lebih banyak dan rugi lebih banyak lagi.... Jadi, trader perlu memutuskan apakah mereka bisa menanggung risiko dan apakah mereka bisa mengambil keputusan dengan cepat sebelum trading.

Paul Rotter

Cara membangun return jangka panjang adalah dengan melindungi modal dan memaksimalkan profit.

Stanley Druckenmiller

Trader cerdas akan selalu paham dan mengikuti latar fundamental dari instrumen tradingnya, namun untuk mengenali level entry dan exit, ia akan menggunakan analisa teknikal

Kathy Lien

Tekunilah proses dari setiap proses, kerjakan, rencanakan, investasikan waktu Anda dengan bijak, jadilah produktif, dan jangan buang-buang waktu.

Chris Lori

Dalam berinvestasi Anda harus tahu betul apa-apa yang tidak Anda ketahui, dan berpeganglah hanya pada apa yang Anda ketahui.

Warren Buffett

Tak ada satupun aturan trading yang bisa 100% profit sepanjang waktu.

Jesse Livermore

Charting itu agak mirip dengan berselancar. Anda tak perlu banyak tahu tentang fisik gelombang untuk menangkap sebuah ombak yang bagus. Anda hanya perlu mampu merasakannya ketika (ombak) itu terjadi dan memiliki keberanian untuk beraksi di saat yang tepat.

Ed Seykota

Kehancuran emosional hampir sama buruknya dengan kehancuran finansial.

Kim Krompass

Memilih time frame rendah untuk kemudian mengolah cara trading jangka pendek bukanlah tindakan memalukan apalagi sebuah dosa.

Barbara Rockefeller
Kirim Komentar/Reply Baru
Daftar Reksa Dana yang Memberikan Dividen
Daftar Reksa Dana yang Memberikan Dividen
Anna   29 Nov 2021   20  
Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Nandini   22 Jan 2021   484  
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Jujun Kurniawan   20 Jul 2020   710  
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Febrian Surya   24 May 2020   3144  
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Febrian Surya   20 May 2020   1128  
Cara Menghitung NAB Reksadana
Cara Menghitung NAB Reksadana
Wahyudi   12 May 2020   2571  
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Febrian Surya   29 Apr 2020   711  
Sebelum Investasi Reksadana, Kenali Biayanya!
Sebelum Investasi Reksadana, Kenali Biayanya!
Wahyudi   29 Feb 2020   545