Cara Deteksi Reversal Dengan Pola Hammer Dan Hanging Man

Febrian Surya 20 Jul 2020 436

Sebagai trader mungkin saat ini kamu sudah familiar dengan pola candlestick dasar seperti Spinning Top, Marubozu, dan doji. Pada artikel ini, sedikit banyaknya kamu akan diajari bagaimana cara deteksi reversal dengan pola Hammer dan Hanging Man.

Ketika pola-pola tersebut muncul di chart, harga berpotensi mengalami pembalikan (reversal). Hammer menandakan reversal dari penurunan menuju kenaikan, sedangkan Hanging Man mengindikasikan pembalikan dari trend naik menjadi trend turun. Bagaimana cara mengenali kedua pola tersebut? Dan seperti apa aplikasinya dalam trading?

 

Formasi Hammer Dan Hanging Man

Pola Hammer dan Hanging Man terlihat persis sama tetapi memiliki arti yang berbeda saat pergerakan harga sedang downtrend maupun uptrend. Keduanya sama-sama mempunyai bentuk layaknya palu, dengan body kecil dan sumbu panjang di bawah melebihi ukuran body.

Bedanya, pola Hammer muncul selama harga sedang downtrend dengan bentuk palu (body) berwarna putih, sementara Hanging Man muncul selama harga sedang uptrend dengan bentuk palu (body) berwarna hitam.

Hammer dan Hanging Man(Baca juga: Tips Membaca Candlestick Simpel Dan Akurat, Tak Perlu Hafalan)

Walaupun sering dinilai berakurasi rendah karena merupakan pola 1 candle, Hammer dan Hanging Man tetap memiliki arti penting yang menyiratkan perubahan kekuatan pasar sebelum terjadi perubahan arah trend.

Ketika harga jatuh, palu memberi sinyal bahwa harga terbuka dan tertutup di level yang berdekatan. Sumbu panjang di bawah menandakan tekanan seller yang kuat, tapi buyer pada akhirnya menguasai pertarungan karena harga tertutup di atas level pembukaan (body berwarna putih). Inilah yang kemudian menyebabkan terbentuknya pola Hammer.

Di sisi lain, ketika palu terbentuk saat harga sedang naik, sumbu panjang di bawah mengindikasikan dorongan seller yang kuat. Buyer berusaha mempertahankan posisi, tapi akhirnya menyerah dan membiarkan seller memenangkan pertarungan; ini terlihat dari body palu yang kemudian berwarna hitam, mengisyaratkan harga ditutup di level lebih rendah daripada harga pembukaan. Inilah yang menyebabkan terbentuknya pola Hanging Man.

 

Cara Trading Dengan Pola Candlestick Hammer Dan Hanging Man

Ketika menemukan pola Hammer ataupun Hanging Man, bukan berarti kamu secara otomatis disarankan membuka order buy atau sell sesuai indikasi reversal. Bagaimanapun juga, keduanya merupakan pola satu candlestick sehingga akurasinya lebih rendah jika dibandingkan dengan sinyal reversal dari pola dua candlestick maupun tiga candlestick. Untuk meningkatkan akurasi, kamu bisa memperhatikan kriteria Hammer dan Hanging Man yang valid, contohnya sebagai berikut:

Kriteria Pola Hammer Dan Hanging Man

Setelah memastikan validitasnya, kamu bisa gunakan metode analisa teknikal lain untuk mencari petunjuk entry atau konfirmator. Kamu dapat memanfaatkan indikator, Support Resistance, atau bahkan analisa lain seperti divergence dan pola chart.

 

Inverted Hammer Dan Shooting Star

Saat belajar cara trading dengan Hammer dan Hanging Man, ada dua pola candlestick lain yang sebenarnya juga wajib dipelajari. Hal itu karena keduanya merupakan formasi kebalikan dari Hammer dan Hanging Man, serta sama-sama menunjukkan sinyal reversal.

Dikenal sebagai pola Inverted Hammer dan Shooting Star, kedua pola ini memiliki lokasi sumbu yang berbeda dari Hammer dan Hanging Man. Inverted Hammer dan Shooting Star sama-sama mempunyai body (palu) kecil, tapi sumbu panjangnya terletak di bagian atas, sementara sumbu bawahnya sangat kecil atau bahkan tidak ada. Jika terbentuk di puncak uptrend atau downtrend, maka pembalikan bisa segera terjadi.

Inverted Hammer dan Shooting Star(Baca juga: Mengupas Tiga Strategi Trading Forex Dengan Trend Reversal)

Yang perlu diperhatikan, trading dengan pola candlestick apapun sebaiknya tidak dilakukan tanpa konfirmator sama sekali. Selalu gunakan alat bantu lain untuk mengkonfirmasi sinyal, karena berpedoman pada pola candlestick saja bukan merupakan pilihan trading yang bijak. Suatu strategi buy yang didukung dengan Inverted Hammer saja akan dianggap memiliki akurasi yang lebih rendah ketimbang persiapan buy atas dasar terbentuknya Inverted Hammer dan persilangan garis-garis Moving Average.

 

Jika kamu tertarik mempelajari trading reversal dengan sinyal pola candle, ada pola-pola 3 candlestick yang dianggap lebih akurat daripada Hammer, Hanging Man, Inverted Hammer, dan Shooting Star. Apa sajakah itu? Simak dalam Pola 3 Candle Terbaik Penanda Reversal.

Kirim Komentar/Reply Baru


Management Modal Untuk Trading Forex

trading yang bagai mana yang master gunakan hingga dapat menghasilkan profit secara kontinu dalam jangka panjang. trimkasih atas jawabannya akan sangat berguna bagi saya yang telah 3x MC

Supriono 6 Apr 2012

Reply:

Basir (06 Apr 2012 22:26)

Loss atau MC bisa mengincar siapa saja jika tidak hati hati. Letak dan Kunci trading sebetulnya bukan dari kehebatan menganalisa dengan menggunakan indikator tertentu. Tetapi kunci trading adalah pada kemampuan dalam mengatur keuangan. maka mulailah untuk terampil dalam mengatur modal anda. yang perlu jadi catatan, ketika anda melakukan BUY / SELL sebetulnya anda telah melakukan pinjaman kepada broker. uang yang masuk pasar adalah uang broker. Sedang dana anda adalah menjadi jaminannya dari setiap Open BUY/SELL anda. maka disanalah anda akan melihat berapa margin yang di kunci oleh beroker. Ketika ketika margin anda tidak mencukupi,  free margin dan margin level anda berkurang dan menipis dan floating minus sangat besar, maka anda akan terkena margin call. jadikalh pengalaman dari MC yang pernah anda alami.
Mulailah pandai pandai mengatur dana anda. Ingat lah, Trading adalah ilmu dan seni mengatur uang untuk mendapatkan uang.

thanks

Eris (02 Oct 2015 08:50)

Cara mengatur dana yg bagaimana yg bapak sarankan? Seingat saya cara mengatur dana di forex trading ada banyak. Nah yang bisa memungkinkan profit berkelanjutan dalam jangka panjang yang bagaimana pak?

Basir (02 Oct 2015 10:03)

Untuk Eris

Trading forex termasuk trading margin, dimana saat seorang trader melakukan BUY/ SELL ia menggunakan uang pinjaman dari broker dan dana yang ia depositkan menjadi margin atas transaksi yang dilakukan, dimana besarnya tergantung dari contract size (jenis account).

Ada banyak cara mengelola keuangan / money managment dalam mempertahankan atau meningkatkan balance. Tiap trader mempunyai cara tersendiri dalam hal ini, diantarannya:

1. Memakai persentase

Trader yang menggunakan cara ini,  membuat resiko sebesar yang direncanakan. Jika ia membuat resiko sebesar 5% dari modal $100 yang ia miliki, artinya ia menyisihkan resiko sebesar $5 dari open trade yang ia buka.

2. Resiko berdasarkan margin

Dalam hal ini seorang trader akan membuat resiko atau memasang stop loss berdasarkan margin. Jika ia membuka posisi BUY/ SELL dan marginnya sebesar $ 5, maka ia akan menempatkan stop loss berdasarkan besarnya margin dari kenaikan dan penurunan harga (hitungan pips/point)

3 Resiko berdasarkan satuan lot

Ada trader yang menggunakan resko berdasarkan satuan lot yang ia buka. Misalkan ia trade dengan lot 1 yang nilainya sebesar 10.000 kontak size,  atau lot 0.10 yang nilainya sebesar 1.000 kontrak size ataulot 0.01 yang nilainya sebesar 100 kontak size

Maka saat ia membuka open trade dengan lot 0.01, ia floating sebesar 100 pips, atau hanya minus sebesar $1.

Dari resiko tersebut cara mengambil keuntungnya pun berbeda-beda. Ada yang:

  • 1 : 1 ( keuntungan sebanding dengan resiko)
  • 2 : 1 ( keuntungan lebih besar dari resiko )


Namun demikian, cara pengelolan resiko tersebut bisa berbeda hal berdasarkan cara trade yang di gunakan.

Mungkin cara trade diatas berlaku bagi trader Daily atau Long-term namun tidak berlaku bagi para scalper dan para m singgihgale yang trading di hari tersebut.

Berdasarkan pengalaman secara pribadi saya menggunakan no 3,  karena disamping daily saya menggunakan pola long-term/swinger yang kadang menerapkan juga pola averaging. Saya menggunakan satuan lot yang terukur sekalipun harus floating dalam beberapa hari.

Thanks.

Zulkifli Hasan (01 Aug 2018 09:00)

Kalau menggunakan Risiko berdasarkan prosentase modal yang dibuka bagaimana dengan akun yang sedang dalam fase drawdown pak? Bukankah akan semakin susah mengembalikan modal yang sudah hilang? Mohon pencerahannya.

Admin (02 Aug 2018 09:04)

Betul sekali, dengan menggunakan risiko berdasarkan %modal, maka saat strategi trading sedang tidak manjur maka untuk mencapai nilai modal yang telah hilang juga dibutuhkan waktu yang sedikit lama. Namun, coba pertimbangkan kembali. Meski membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal, namun dengan metode money management seperti ini, maka tingkat drawdown pun atau terkurasnya akun hingga habis juga menjadi lebih lama.

Mari mencoba menghitung. Misalkan modal awal dengan 1,000 USD, dengan 5% modal sebagai risiko. Coba kita hitung jika sistem trading mengalami loss sebanyak 5x secara beruntun.

Trade 1: 5% x 1000 USD = 50 USD. Modal berkurang 50 USD menjadi 950 USD.

Trade 2: 5% x 950 USD = 47.5 USD. Modal berkurang 47.5 USD menjadi 902.5 USD.

Trade 3: 5% x 902.5 USD = 45.1 USD. Modal berkurang 45.1 USD menjadi 857.375 USD.

Trade 4: 5% x 857.375 USD = 42.8 USD. Modal berkurang 42.8 USD menjadi 814.575 USD.

Trade 5: 5% x 814.575 USD = 40.7 USD. Modal berkurang 40.7 USD menjadi 773.8 USD.

Total kerugian = 1000-773.8 = 226.2 USD atau hanya sekitar 22.6% dari total modal Anda.

Hasilnya akan sangat berbeda jika Anda menggunakan Fixed Equity sebagai jenis management modal Anda. Kerugian 5x secara beruntun dapat menyebabkan kerugian total sebesar 250 USD atau 25% dari modal.

Jauh lebih enak menggunakan prosentase bukan? Apalagi jika saat Anda memasuki periode keuntungan yang beruntun. Keuntungan yang Anda dapatkan juga akan berlipat dengan sendirinya.

 

Anda bisa membaca beberapa artikel tentang management modal berikut ini:

  • Metode Management Modal Trading
  • Tips Management Modal Trading

Zulkifli Hasan (03 Aug 2018 09:20)

Jadi dengan menggunakan metode ini jauh lebih baik pak ya intinya? Terima kasih pak.

Lalu bagaimana dengan perhitungan lotnya pak? apakah lebih baik dibagikan dengan Stop Loss yang fixed atau dengan Stop Loss yang berubah-ubah sesuai sistem tradingnya?

Admin (05 Aug 2018 09:28)

Betul sekali pak. Metode managament dengan %modal ini lebih baik karena sifatnya yang dapat berfungsi sebagai boost saat dalam fase keuntungan beruntun, dan menjadi rem saat fase kekalahan beruntun.

Menengai perhitungan Lot dengan menggunakan SL fixed maupun berubah-ubah itu tergantung sistem tradingnya pak. Beberapa sistem trading bekerja dengan Fixed SL, beberapa lagi memang mengamati perubahan dan struktur market untuk menentukan SL-nya. Keduanya juga memiliki kelenihan dan kekurangan masing-masing. Lebih baik Anda mencoba untuk backtest terlebih dahulu dengan akun demo selama satu bulan untuk melihat mana yang lebih baik.

Abu Al-Maida (08 Nov 2019 13:01)

@Supriono
berlatih lagi mas di akun demo, kalau kena MC artinya tidak pakai stop loss? wajib pakai stop loss karena sekalipun Don Juan disamping kita tetap aja harus ada stop loss untuk jaga-jaga. Mau profit? kuncinya ikuti trend, pintar baca berita fundamental, pintar baca indikator. Belajar juga gunakan multi time frame minimal 3 time frame. gunanya itu untuk melihat trend. buat pemula hindari pair XAUUSD terlalu ganas. berlatih adalah kuncinya, sabar dan terus belajar. Salam profit.