Cara Investasi di Saham Fintech


Nandini 31 May 2021 23Dibaca Normal 14 Menit

Kehadiran Fintech masa kini menyuguhkan banyak sekali kemudahan, termasuk untuk diinvestasikan. Namun perhatikan dulu beberapa hal berikut sebelum memutuskan berinvestasi saham fintech.



Dahulu, saat Anda membutuhkan suatu barang atau makanan, Anda akan melakukan barter dengan barang yang bernilai sama sebagai alat transaksi ekonomi yang sah. Lambat laun, sistem barter ini terasa kurang efisien, sehingga diganti dengan benda-benda berbentuk uang logam dan kertas. Seiring perkembangan teknologi yang pesat, transaksi pembayaran diubah menjadi lebih mudah dengan kehadiran inovasi baru dalam bidang finansial yang disebut Fintech. Apa itu?

 

Mengenal Konsep Fintech Masa Kini

Kata Fintech sendiri merupakan singkatan dari Financial Technology yang menggabungkan sistem keuangan dengan teknologi. Fungsinya tentu untuk memaksimalkan penggunaan teknologi dalam mengubah, mempertajam, serta mempercepat pelayanan di bidang keuangan.

Di awal kemunculannya, Fintech hanya digunakan sebagai back-end lembaga keuangan resmi, seperti bank. Namun berkat kemajuan teknologi, Fintech mengubah orientasinya ke konsumen dan memperluas cakupannya di berbagai sektor dan industri, seperti perbankan ritel, penggalangan dana dan nirlaba, investasi, pengembangan dan penggunaan mata uang kripto, serta pendidikan. Layanan dan produk yang dikembangkan pun bervariasi, seperti Peer-to-Peer (P2P) Lending dan crowdfunding, market aggregator, payment, clearing, settlement, serta manajemen risiko investasi.

Apa Itu Fintech?

Berkat adanya inovasi baru ini, metode pembayaran yang bersifat konvensional sekarang beralih ke moderat. Anda bisa melakukan transaksi pembayaran tanpa perlu menggunakan uang logam maupun kertas karena ada layanan transfer dana secara online. Saat Anda ingin mengajukan pinjaman, Anda juga tidak perlu repot-repot ke bank. Bahkan mengelola dan mengecek perkembangan investasi pun bisa dilakukan hanya dengan menggunakan smartphone.

Kelebihannya, transaksi keuangan jenis ini dinilai lebih fleksibel, aman, dan efisien karena hanya menggunakan aplikasi atau website yang bisa diakses dengan mudah, cepat, dan singkat serta dari mana saja dan kapan saja.

 

Analisis Saham Fintech

Fleksibilitas transaksi keuangan yang ditawarkan oleh Fintech sangat menjanjikan bagi penggunanya. Selain kemudahan bertransaksi, Fintech juga memudahkan Anda dalam berinvestasi. Sekarang ini, banyak orang berinvestasi dengan memilih berbagai produk yang bisa dijangkau oleh kalangan manapun tanpa ribet. Keuntungan yang diberikan pun cukup menggiurkan. Salah satunya dengan investasi saham Fintech.



Namun dalam pelaksanaannya, investasi saham Fintech tidak semudah yang dibayangkan. Jika Anda tak bisa mengendalikannya, sudah jelas Anda akan mengalami loss. Maka dari itu, analisis perlu dilakukan sebelum berinvestasi. Anda bisa menggunakan dua cara analisis yang sering digunakan oleh para investor yaitu, analisis fundamental dan analisis teknikal.

 

1. Analisis Fundamental

Analisis fundamental adalah analisis paling mendasar yang digunakan untuk mencari informasi mengenai perusahaan dari saham yang dituju secara keseluruhan. Informasi yang diperoleh merupakan informasi mengenai kondisi ekonomi, perkembangan, dan reputasi baik buruknya perusahaan tersebut.

Memilih Saham Dengan Analisa Fundamental(Baca Juga: Mencari Harga Saham Murah Dengan Analisa Fundamental)

Kinerja suatu perusahan juga menjadi pertimbangan dalam memperkirakan harga saham yang cocok. Anda bisa memperoleh informasi tersebut dari data yang sudah disediakan perusahaan, tetapi Anda bisa menggali lebih dengan mengamati aktivitas perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Dari situlah Anda bisa mempelajari apa kelebihan dan kelemahan dari sistem manajemen, perkembangan keuntungan dan kerugiannya, serta semacamnya.

Kemudian, Anda bisa membandingkan beberapa perusahaan untuk mengetahui perusahaan mana yang memiliki performa bagus dan potensial. Dari analisis inilah, Anda bisa mengambil keputusan untuk memilih saham perusahaan mana yang patut diinvestasikan.

 

2. Analisis Teknikal

Jika analisis fundamental merujuk pada hal-hal mendasar mengenai informasi perusahaan penyedia saham, analisis teknikal justru mengacu pada kondisi pasarnya. Analisis ini Anda lakukan untuk mencari informasi mengenai rekam jejak perubahan harga saham, serta seberapa besar tingkat kenaikan dan penurunan harga suatu saham.

Selain itu, informasi volume perdagangan, pasokan, serta penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu juga dibutuhkan dalam melakukan analisis ini. Makin bagus rekam jejak perkembangan harga saham, semakin mudah Anda mengambil keputusan untuk saham Anda.

Indikator Teknikal Untuk Saham(Baca Juga: Indikator Teknikal Terbaik Untuk Trading Saham)

Data informasi tersebut kemudian dibandingkan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai kondisi pasar dalam memprediksi tren harga saham berikutnya. Selanjutnya, ketika ada kesempatan untuk melakukan pembelian maupun penjualan saham, Anda bisa mengambil keputusan yang tepat.

 

Apa Saja yang Perlu Dianalisis Dari Saham Fintech?

Dalam melakukan investasi saham di Fintech, memahami cara menganalisis saham saja tidak cukup. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memaksimalkan potensi kesuksesan dalam bisnis saham ini, di antaranya:

 

1. Sales Growth

Sales growth merupakan kenaikan jumlah penjualan dari waktu ke waktu. Pertumbuhan penjualan ini digunakan sebagai indikator permintaan dan daya saing perusahaan, serta untuk mengukur performa penjualan. Makin tinggi pertumbuhan penjualan, makin meningkat pula pendapatan suatu perusahaan.

Baca juga: 25 Istilah Saham Yang Wajib Diketahui Pemula

Tentu saja, pertumbuhan penjualan dari periode waktu tertentu bisa digunakan untuk memprediksi pertumbuhan penjualan ke depannya. Selain itu, konsistensi dari aktivitas kinerja suatu perusahaan yang mengalami peningkatan dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan yang lebih baik.

Sales growth sendiri ada dua macam, yakni positif dan negatif. Sales growth bisa dikatakan positif apabila angka penjualan periode saat ini lebih tinggi dari periode sebelumnya. Ini artinya pertumbuhan penjualan suatu perusahaan semakin baik dari periode kemarin. Peluang untuk menentukan strategi bisnis yang lebih baik ke depannya sangat mungkin terjadi.

Sales Growth

Sedangkan sales growth negatif adalah ketika pendapatan tahun ini lebih rendah daripada periode kemarin. Apabila ini terjadi dari waktu ke waktu, ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang tidak sehat dan harus segera diperbaiki. Jika tidak, perusahaan bisa mandeg dan bangkrut.

Untuk mengetahui perkembangan sales growth, Anda bisa menghitungnya dengan cara mengurangi jumlah penjualan di periode saat ini dengan periode sebelumnya, kemudian membaginya dengan penjualan di periode sebelumnya lalu dikalikan 100. Rumusnya sebagai berikut.

[Penjualan periode sekarang - penjualan periode sebelumnya) / penjualan periode sebelumnya] × 100

Sales growth perusahaan besar yang mencapai 5-10% sudah dianggap memiliki pertumbuhan baik, sedangkan untuk perusahaan kecil akan dianggap memiliki pertumbuhan yang baik apabila mencapai angka lebih dari 10%.

Dari sini terlihat bahwa sales growth memiliki peran penting bagi perusahaan untuk mengetahui keberhasilan strategi yang digunakan, menandakan potensi keuntungan akibat meningkatnya pertumbuhan penjualan dari waktu ke waktu, serta dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan dan perusahaan.

 

2. PEG (Price-to-Earnings-Growth) Ratio

PEG Ratio atau biasa disebut sebagai pertumbuhan laba perseroan merupakan rasio untuk mengukur nilai saham sebenarnya dilihat dari pendapatan saat ini dan potensi kenaikan laba perusahaan ke depannya. Rasio ini dapat memberikan gambaran perusahaan secara lengkap dengan adanya perhitungan dari pertumbuhan laba per saham atau EPS (Earnings Per Share).

Para investor biasanya menggunakan PEG untuk menghitung apakah harga saham ada di atas atau di bawah yang memiliki potensi untuk tercapai di periode berikutnya. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan lebih tinggi tentu memiliki rasio PEG yang tinggi pula. Untuk menghitung rasio PEG, Anda bisa menggunakan rumus sebagai berikut.

PEG = PER (price-per-earning-ratio) / Pertumbuhan EPS (earning-per-share) Tahunan

Keterangan:

  • PER : rasio harga terhadap pendapatan
  • EPS : laba per lembar saham

Hasil rasio PEG perusahaan yang berada di rentang angka 0% - 100% menunjukkan bahwa harga saham tersebut undervalued atau bernilai murah, sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi. Sedangkan hasil rasio PEG perusahaan yang berada lebih dari 100% menunjukkan bahwa harga saham overvalued atau bernilai terlalu mahal. Namun, ada juga rasio PEG perusahaan kurang dari 0% karena adanya penurunan pendapatan pada perusahaan tersebut.

Baca juga: Perhatikan Rasio-Rasio Ini Agar Tidak Salah Memilih Saham

 

3. Retention Rate

Retention rate merupakan persentase jumlah customer yang telah berlangganan tetap di suatu perusahaan. Ini digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan marketing perusahaan. Apabila berhasil, strategi marketing tersebut bisa dipertahankan atau malah ditingkatkan lagi untuk mempertahankan customer. Dengan adanya customer loyalty, secara tidak langsung mereka akan membantu memasarkan produk suatu perusahaan untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Customer Retention Rate

Untuk menentukan retention rate, Anda perlu memperhatikan beberapa poin penting, seperti seberapa besar kemungkinan perusahaan mempertahankan customer baru, berapa lama waktu untuk bisa mempertahankan customer dengan strategi yang telah dijalankan, serta gambaran besar akan potensi peningkatan pertumbuhan perusahaan tersebut. Dengan begitu, Anda bisa lebih matang dalam memutuskan penggunaan strategi yang potensial untuk masa depan perusahaan.

Cara untuk menghitung retention rate perusahaan adalah dengan menghitung jumlah customer yang ada pada akhir periode tertentu dibandingkan jumlah customer di awal periode. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Retention rate = ((E-N) /S) × 100

Keterangan:

  • E : jumlah customer akhir periode
  • N : jumlah customer baru selama satu periode

 

4. Margin Expansion

Margin expansion atau margin keuntungan (profit margin) merupakan persentase laba bisnis yang diperoleh dari hasil penjualan. Margin ini digunakan untuk melihat profitabilitas dalam periode waktu tertentu. Bisa secara bulanan, mingguan, maupun harian tergantung kebutuhan.

Namun untuk bisnis besar, Anda harus membuat laporan margin expansion secara periodik karena Anda perlu melaporkannya ke peminjam dana/investor. Tingkat perhitungannya yang lebih tepat sasaran membuat margin expansion diperlukan untuk pemeriksaan kesehatan perusahaan, serta sebagai penentu pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik. Perhitungan margin expansion dapat dirumuskan sebagai berikut:

Margin Expansion = Laba Bersih (atau Penghasilan) / Penjualan Bersih (atau Pendapatan)

Atau bisa ditulis dengan rumus:

Margin Expansion = (Penjualan Bersih - Biaya) / Penjualan Bersih

Atau bisa dengan rumus yang lain seperti:

Margin Expansion = 1 - (Beban / Penjualan Neto)

Margin expansion ini diperlukan sebagai indikator investor dalam menentukan penanaman modal terhadap suatu perusahaan. Selain itu, dijadikan juga sebagai pertimbangan dalam memberi pinjaman. Sebelum melakukan penanaman modal maupun pemberian pinjaman, investor bisa mempelajari terlebih dahulu pola musiman dari penjualan dan kinerja suatu perusahaan, dengan membandingkan beberapa laporan margin expansion dari periode yang berbeda.

Baca juga: Pengertian Net Profit Margin

 

Tips Memilih Platform Investasi Saham Fintech

Dalam investasi, Anda perlu selektif memilih platform yang aman dan nyaman. Ada banyak sekali platform penyedia investasi apapun -termasuk saham Fintech- yang bersifat ilegal, seiring adanya kemudahan yang Fintech berikan. Justru, kemudahan-kemudahan itu membuat makin rawan penipuan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, berikut beberapa tips memilih platform investasi saham di Fintech.

 

1. Sudah Terdaftar OJK

Pastikan platform terdaftar di OJK. Platform yang sudah terdaftar di OJK ini biasanya sudah lolos verifikasi dan aman digunakan karena kerjanya diawasi langsung oleh OJK.

5 Ciri Investasi Bodong(Baca Juga: 5 Ciri Fintech Bodong Menurut OJK)

 

2. Reputasi Platform

Sebelum menanamkan dana investasi, Anda perlu mencari informasi perkembangan platform tersebut. Telitilah dalam melihat perkembangannya selama beberapa periode. Jangan lupa juga untuk membaca review dari pengguna lain.

 

3. Tersedia Proteksi Dana

Kenapa Anda perlu adanya proteksi dana? Proteksi dana ini akan melindungi investor dari risiko gagal bayar. Untuk itu, carilah platform yang memberikan fasilitas ini.

 

Temukan Saham Perusahaan Fintech Terbaik

Saham merupakan salah satu bentuk instrumen investasi yang banyak digemari para investor. Harganya yang terjangkau dan sistemnya yang praktis menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, investasi saham ini terbilang cukup mudah dan fleksibel untuk dilakukan, sehingga tidak heran apabila saham menjadi incaran, termasuk saham Fintech.

Apakah Anda tertarik dengan saham Fintech? Jika iya, berikut ada beberapa tips untuk menentukan kategori saham perusahaan Fintech yang baik.

 

1. Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar merupakan agregat perusahaan yang menunjukkan total jumlah saham yang beredar dikalikan dengan harga satu saham saat ini. Ini penting dipertimbangkan karena menunjukkan tingkat perkembangan volatilitas harga saham.

Jika sebuah perusahaan berkapitalisasi besar dan lebih besar, biasanya aliran penerimaannya lebih stabil. Itu artinya volatilitas saham perusahaan tersebut rendah. Sedangkan saham yang baik adalah saham yang memiliki volatilitas tinggi, maka dari itu pilihlah saham dengan volatilitas terbaik.

Kapitalisasi Pasar

 

2. Laporan Keuangan

Kenapa laporan keuangan itu penting? Sebab Anda bisa tahu apakah saham perusahaan yang Anda incar tersebut sehat atau tidak. Dalam membaca laporan perusahaan, perhatikan apakah perusahaan tersebut mampu membayar segala kewajiban yang ditanggung perusahaan, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Selain itu, lihatlah tren pendapatan, profit, dan margin, serta rasio perusahaan tersebut. Perhatikan juga total aset, liability, dan ekuitas apakah ada perubahan yang tidak wajar dari satu periode ke periode lainnya; semakin meningkat atau malah semakin menurun.

Cari tahu apa penyebabnya agar Anda bisa menilai dengan baik perusahaan tersebut. Jangan lupa untuk membandingkannya dengan perusahaan lain agar Anda mendapat perspektif berbeda dan lebih mendalam.

 

3. Manajemen Risiko

Setiap investasi pasti ada risikonya, baik itu besar maupun kecil. Sebab, prinsip mutlak dunia investasi adalah high risk, high return. Risiko ini tidak bisa dihindari, tetapi bisa Anda minimalisir. Maka dari itu, penting untuk memahami risiko-risiko perusahaan yang Anda pilih.

Tidak selamanya perusahaan akan berada di situasi yang selalu menguntungkan. Pasti akan ada skenario terburuk yang terjadi. Carilah informasi bagaimana perusahaan mengatasi risiko-risiko yang ada untuk saat ini, serta rencana untuk ke depannya. Hal ini akan membantu ketika saham yang Anda miliki mengalami masalah, sehingga Anda tidak akan merugi terlalu besar.

Profil Risiko Investasi(Baca Juga: Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya?)

 

Keuntungan Investasi Saham Jangka Panjang

Dari sekian banyak instrumen investasi, saham merupakan investasi yang memiliki potensi keuntungan lebih besar. Hal ini dikarenakan saham lebih potensial ketika diinvestasikan dalam jangka panjang, bukan jangka pendek.

Investasi jangka panjang itu sendiri merupakan penanaman aset dalam jangka waktu lebih dari satu tahun, sehingga dalam jangka waktu tersebut keuntungan akan mencapai angka tinggi. Hal ini tentu sangat menguntungkan Anda di masa depan, di antaranya Anda bisa mempersiapkan dana untuk kebutuhan di masa depan, seperti membeli rumah, ibadah haji, dana pendidikan anak, serta dana pensiun.

Baca juga: Mulai Kapan Sebaiknya Mempersiapkan Dana Pensiun?

Dengan melakukan investasi jangka panjang, Anda juga bisa meminimalisir risiko menjadi lebih rendah. Berbeda dengan investasi jangka pendek yang memiliki pergerakan investasi cepat, sehingga risiko yang ditimbulkan besar. Hal ini terjadi karena harga pasar cenderung tidak stabil.

Investasi Jangka Pendek

Selain menjadi persiapan dana di masa depan, investasi saham jangka panjang juga memberikan keuntungan lain sebagai berikut.

 

1. Dividen

Dividen merupakan pembagian laba perusahaan kepada para pemegang saham yang diperoleh selama periode waktu tertentu. Laba yang dibagikan bisa bermacam bentuk, ada likuidasi, properti, skrip, serta yang paling sering digunakan adalah bentuk tunai dan saham. Jumlah dividen yang diterima investor bergantung pada jumlah saham yang dimiliki. Makin banyak saham yang dimiliki, makin banyak pula dividen yang diterima.

Kunjungi juga: Jadwal Dividen Saham Indonesia

 

2. Capital Gain

Ketika harga saham perusahaan cenderung naik-turun, Anda bisa memanfaatkan situasi ini untuk meraih keuntungan lebih atau capital gain. Capital gain merupakan situasi dimana Anda membeli harga saham rendah kemudian menjualnya ketika harga saham tinggi.

Anda bisa mendapatkan capital gain hanya dengan menginvestasikan saham dalam jangka panjang. Ketika saham yang Anda beli dengan harga murah ternyata memiliki harga lebih tinggi beberapa tahun berikutnya, Anda bisa menjualnya dan mendapat keuntungan besar.

 

3. Compound Interest

Compound interest merupakan bunga berbunga yang diperoleh dengan menginvestasikan kembali dividen tunai yang diperoleh investor ke dalam lembar saham yang dipegang. Misalnya Bapak X mendapat dividen dari perusahaan A sebesar 1 juta. Dividen tersebut kemudian diinvestasikan kembali ke perusahaan A dengan cara membeli lagi saham perusahaan tersebut.

Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh akan berlipat-lipat. Apalagi jika hal ini dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, keuntungan yang didapatkan tentu sangat besar.

 

Kesimpulan

Nah, itulah beberapa informasi yang bisa Anda pertimbangkan jika berminat untuk investasi saham di Fintech. Bagaimana menurut Anda, apakah makin tertarik? Bisa dibilang, investasi ini cocok untuk investasi jangka panjang. Oleh karena itu, Anda membutuhkan kesabaran ekstra lantaran mengumpulkan keuntungan besar membutuhkan waktu yang lama.

 

Jika Anda tipe trader agresif yang menginginkan hasil cepat, mencari alternatif investasi selain saham bisa menjadi pilihan. Salah satu solusi tepatnya adalah dengan belajar meraup keuntungan di pasar forex, karena trading forex memungkinkan perdagangan dengan likuiditas dan volatilitas yang lebih tinggi daripada saham.

BANKKPRRitel
Bank Amar Indonesia 13.00% 11.00%
Bank Artha Graha Internasional 10.90% 10.40%
Bank Artos Indonesia 30.23% 30.23%
Bank Bisnis Internasional 8.78% 12.35%
Bank Bukopin 9.31% 9.20%
Bank Bumi Arta 9.98% 10.55%
Bank Capital Indonesia 13.30% 13.30%
Bank China Construction Bank Indonesia 9.89% 9.89%
Bank Cimb Niaga 9.55% 10.10%
Bank Commonwealth 10.75% 10.75%

Kirim Komentar/Reply Baru
Apakah PayLater Riba Atau Tidak?
Apakah PayLater Riba Atau Tidak?
Nandini   19 May 2021   107  
Aplikasi Transfer Uang Paling Mudah Digunakan
Aplikasi Transfer Uang Paling Mudah Digunakan
Jujun Kurniawan   21 Jul 2020   535  
Alasan Utama UKM Perlu Menggunakan Mobile Payment
Alasan Utama UKM Perlu Menggunakan Mobile Payment
Wahyudi   17 Apr 2020   616  
Keunggulan Kartu Jenius BTPN Untuk Millennial
Keunggulan Kartu Jenius BTPN Untuk Millennial
Wahyudi   24 Mar 2020   1409  
Ini Manfaat QRIS Yang Dirilis BI
Ini Manfaat QRIS Yang Dirilis BI
Jujun Kurniawan   21 Jan 2020   2114  
7 Tren Teknologi Musuh Perbankan Di 2020
7 Tren Teknologi Musuh Perbankan Di 2020
Jujun Kurniawan   9 Jan 2020   2412  
7 Aplikasi Yang Bikin Menabung Jadi Lebih Mudah
7 Aplikasi Yang Bikin Menabung Jadi Lebih Mudah
Ryandy H   14 Nov 2019   1112