Cara Mengenali Sinyal Palsu Dengan Inside Bar

Nandini 14 Jan 2021 638
Dibaca Normal 4 Menit

Pola candle Inside Bar rupanya bisa saja menimbulkan sinyal palsu yang dapat menjegal langkah trader. Untuk itu, trader perlu tahu bagaimana triknya agar sinyal palsu Inside Bar dapat dimanfaatkan.

Dalam trading, kita pasti sudah mengenal banyak sekali pola candlestick. Salah satunya yakni Inside Bar, pola candlestick paling popular di kalangan trader karena kemudahan dan kesederhanaannya. Lantas bagaimana cara trading dengan Inside Bar? Simak tips sukses seputar trading Inside Bar pada artikel berikut ini.

 

Pengertian Inside Bar

Inside Bar dikenal sebagai pola candlestick double. Sesuai namanya, pola Inside Bar terdiri atas dua candle; candle pertama disebut Mother Bar karena memiliki ukuran lebih besar dari candle kedua, begitu pula candle kedua memiliki ukuran lebih kecil daripada candle pertama. Dapat dikatakan jika ukuran candle kedua "ditelan" candle pertama.

Strategi trading dengan Inside Bar

Adapun Inside Bar dapat dikenali apabila terbentuk dua candle, dengan panjang candle kedua lebih kecil dari candle sebelumnya dan persis terletak di dalam body candle pertama. Setidaknya ada tiga aturan yang bisa Anda pegang untuk mengenali pola Inside Bar, di antaranya:

  • Candle pertama disebut candle induk (Mother Bar) , dan candle kedua setelahnya disebut candle turunan.
  • Nilai tertinggi (High) dari candle keduanya pasti akan lebih tinggi, begitu juga sebaliknya dengan nilai terendah (Low).
  • Trading dengan Inside Bar hanya memperhitungkan nilai High dan Low saja, tidak dengan faktor yang lain.

 

Cara Trading Dengan Inside Bar

Trading dengan Inside Bar memang dinilai mudah dan cocok untuk pemula karena kesederhanaannya. Akan tetapi, pola Inside Bar juga membingungkan apabila digunakan di pasar yang penuh keraguan. Oleh karena itu, trader sebaiknya "mempersenjatai" pola ini dengan indikator-indikator pendukung, seperti Bollinger Bands atau Moving Average. Mengapa demikian?

Agar trading dengan Inside Bar bisa berhasil, trader harus benar-benar memastikan jika pola yang ia temui memang benar-benar candle Inside Bar. Setelah Inside Bar terbentuk, harga biasanya mengalami tekanan yang cukup ekstrem (breakout) ke salah satu arah. Untuk itu, Anda pasti butuh indikator penunjang lain untuk mengkonfirmasi arah tren.

Sebagai contoh Anda menggunakan Bollinger Bands. Jika harga menembus garis tengah (Middle Band), maka sudah bisa dipastikan pola Inside Bar mengalami breakout dan membentuk trend baru. Sebaliknya jika tidak mampu, maka harga berpotensi besar akan melanjutkan trend.

Apa Itu Breakout(Baca Juga: Apa Itu Breakout Trading?)

Selain menggunakan beberapa konfirmasi indikator, Anda juga bisa menggunakan batas Support atau Resistance untuk mengetahui arah pergerakan harga setelah pola Inside Bar terbentuk.

Namun sebelum melakukan trading dengan pola Inside Bar, Anda perlu menguasai beberapa langkah dasar berikut ini:

  1. mengenali posisi dan ciri khas dari pola Inside Bar;
  2. tahu kapan terjadinya breakout;
  3. mempersiapkan rencana eksekusi order Sell dan Buy-nya.

 

Mengenali Sinyal Palsu Dari Inside Bar

Sinyal palsu atau biasa disebut fake signal adalah kondisi di mana harga gagal menembus level tertinggi atau level terendah (false breakout) di Mother Bar setelah pola Inside Bar terbentuk. Akibatnya, harga berbalik arah karena adanya perubahan sentimen pasar atau reaksi pada berita-berita tertentu.

Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya sinyal palsu Inside Bar. Salah satu contohnya saat ada konferensi pers European Central Bank (ECB) pada 10 Maret 2016. Saat itu, harga EUR/USD bergerak bearish, tetapi tiba-tiba berubah bullish akibat penyataan Presiden ECB saat itu.

False break Inside Bar juga pernah terjadi pada Pound karena aksi short (sell) yang dilakukan oleh George Soros. Kejadian tersebut membuat Bank of England (BoE) mengalami kerugian besar. Pasalnya, setelah berhasil membuat level High baru, Pound kemudian ditutup kembali di dekat harga pembukaannya.

Secara umum, pola sinyal palsu dibedakan menjadi dua, yaitu pola bearish dan bullish. Keduanya terdiri dari satu atau lebih Pin Bar yang menunjukkan false breakout. Jadi, candle pertama akan menunjukkan harga yang menembus level tertinggi atau terendah di Mother Bar, sementara candle kedua bergerak berlawanan dengan candle pertama. Agar lebih jelas, perhatikan  pola false breakout bearish (1) dan bullish (2) pada gambar berikut:

Contoh pola Inside Bar

Pola-pola sinyal palsu seperti ini biasanya terjadi pada pasar yang sedang ranging (sideways) atau trending. Namun, jangan salah karena kemungkinan untuk berhasil pun tinggi jika Anda tahu triknya. Sebagai contoh, perhatikan gambar di bawah ini:

Contoh fake signal

Gambar di atas merupakan strategi trading dengan pola fake breakout bullish, dimana entry buy dilakukan setelah terjadi false breakout pada level Support dengan Stop Loss pada level terendah breakout bar. Jika Anda masih ragu dalam menentukan momen untuk entry, tak ada salahnya Anda menambahkan konfirmator lain agar lebih akurat.

Terkadang fake signal tidak hanya terdiri atas satu Inside Bar; bisa juga 2, 3, atau bahkan lebih. Untuk itu, Anda harus jeli membaca keadaan sebelum menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

 

Selain cara membaca sinyal harga, kejelian dalam trading juga diperlukan saat hendak memilih broker forex terbaik, apalagi jika Anda masih pendatang baru.

Kirim Komentar/Reply Baru


Forum

Agil (08 Dec 2014)

analisa dg pola divergence apa selalu bisa diterapkan dr penggunaan oscillator? apa dengan itu sudah cukup yakin untuk bisa diandalkan sebagai cara menentukan entry position?

Selengkapnya

Pola Candlestick
Bullish Harami
Indikasi : Bullish Reversal
Akurasi :

Terdiri dari 2 candlestick. Candlestick pertama bersifat bearish dan lebih besar sehingga menelan candlestick kedua yang bersifat bullish. Pola ini menandakan downtrend mulai kehilangan momentum. Meski bisa menambah akurasi sinyal, sumbu-sumbu candlestick kedua tidak harus berada dalam range candlestick pertama.
Cara Tepat Menentukan Stop Loss

mana cara yang paling tepat untuk menentukan stop loss di antara position sizing, pola market, dan volatilitas pasar?

Eka Doank 17 Oct 2014

Reply:

Basir (17 Oct 2014 13:52)

Dalam kondisi yang sedang anda hadapi, saran kami anda bisa menentukan stop loss senilai margin yang di kunci oleh broker. Misal margin yang kunci sebesar 6, maka anda bisa menentukan stop loss sebesar itu. Saat harga melambung atau turun drastis, dan position anda tampak profit, anda bisa menggeser stop loss menjadi nol atau senilai dari order anda. Saat harga menyentuh stop loss maka nilai profit/loss anda adalah nol

Disisi lain anda bisa menjadikan stop loss menjadi sebuah keuntungan. Saat harga menyentuh stop loss anda mendapat keuntungan.

Contoh, anda BUY EUR/USD 1.3450 SL 1.3410 TP  1.3550

Harga naik menuju 1.3539, anda menggeser stop loss menjadi 1.3470, ternyata harga turun dan menyentuh stop loss maka anda akan tetap profit sebesar 20 pips.

Thanks

Jujun Kurniawan 112
Forex