Deposito Bank VS Reksadana Pendapatan Tetap, Mana yang Lebih Cuan?

Nandini 14 Mar 2021 258
Dibaca Normal 15 Menit

Saat ini, ada banyak sekali jenis investasi yang bisa dijajal oleh pemula. Dua di antaranya yang tergolong populer adalah deposito dan Reksadana Pendapatan Tetap. Mana yang lebih menguntungkan?



Investasi adalah kegiatan penanaman modal untuk mendapatkan keuntungan di kemudian hari. Banyak orang menyebut investasi identik dengan melipatgandakan atau menambah uang, hanya saja dengan disertai risiko tertentu. Kondisi ini lantas membuat banyak orang ragu untuk memulai investasi. Sebenarnya, bagaimana sih konsep investasi itu?

Investasi juga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu solusi perencanaan keuangan yang aman dari risiko inflasi. Cara berinvestasinya pun cukup mudah; Anda hanya perlu menanamkan modal ke produk-produk investasi tertentu, lalu dapatkan return-nya di masa depan atau dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan produk investasi yang Anda pilih.

Investasi Berdasarkan Usia(Baca Juga: Memilih Investasi Yang Tepat Berdasarkan Umur)

Saat ini, ada banyak sekali jenis produk investasi, seperti emas atau logam mulia, deposito, properti, reksadana, dan lain sebagainya. Makin melek masyarakat terhadap investasi, mereka akan cenderung mencari jenis-jenis investasi apa yang cocok dengan rencana keuangannya di masa depan. Salah satu jenis investasi yang paling simpel adalah deposito.

Selain deposito, saat ini ada juga yang namanya reksadana. Reksadana sekarang ini mulai digemari masyarakat Indonesia, sebab banyak sekali kemudahan yang didapat, khususnya bagi pemula. Salah satu jenis reksadana yang bisa dicoba adalah Reksadana Pendapatan Tetap.

Nah, di antara deposito dan Reksadana Pendapatan Tetap, mana sih yang lebih menguntungkan? Mari kita kupas satu persatu mengenai keduanya.

 

Mengenal Konsep Dasar Deposito Bank

Deposito adalah salah satu fasilitas penyimpanan yang ditawarkan oleh bank di mana pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu dan dengan syarat-syarat tertentu. Nah, deposito ini biasanya banyak digemari oleh ibu-ibu rumah tangga dan investor yang masih ragu untuk investasi. Kenapa demikian? Hal tersebut tak lain karena mereka takut akan risikonya. Jadi, mereka menganggap deposito ini lebih aman karena mirip seperti menabung. Lantas, apa sih perbedaan antara deposito dan tabungan?

 

1. Deposito Adalah Simpanan Berjangka

Walaupun memiliki kesamaan fungsi untuk menyimpan uang dan sama-sama mendapatkan bunga, deposito dan tabungan merupakan dua produk berbeda. Perbedaan dari kedua produk ini sangatlah jelas.



Ketika Anda menyimpan uang dalam bentuk tabungan, Anda akan mendapatkan buku tabungan (rekening) dan kartu ATM yang bisa digunakan untuk mengambil uang sewaktu-waktu. Sementara untuk deposito, Anda akan diberikan bilyet deposito sebagai bukti kepemilikan investasi. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Anda tidak bisa mengambil dana deposito sewaktu-waktu karena ada jangka waktu yang sudah disepakati antara pihak bank dan nasabah itu sendiri.

Sebaliknya, Anda hanya bisa mengambil dana ketika sudah jatuh tempo. Jangka waktu yang diberikan pun bervariasi, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan sampai 24 bulan. Namun, jika Anda ingin mengambil sebelum jangka waktu yang ditentukan, maka Anda akan dikenakan penalti sesuai kesepakatan awal investor/nasabah dengan bank.

Risiko Pencairan Deposito Sebelum Tempo(Baca Juga: Risiko Mencairkan Deposito Sebelum Jatuh Tempo)

 

2. Deposito Memiliki Bunga Lebih Tinggi Dari Tabungan

Nah, salah satu keunggulan menabung deposito daripada tabungan biasa adalah bunganya lebih tinggi. Di tahun 2020, suku bunga deposito sekitar 3% hingga 5% per tahun, sementara untuk tabungan/simpanan bank biasa hanya berkisar antara 0% hingga 1% per tahun.

Untuk tabungan, bunga yang diberikan adalah bentuk jasa karena telah mempercayakan jasa mereka. Sayangnya, Anda masih dikenakan potongan biaya administrasi bulanan sehingga keuntungan yang akan didapatkan juga berkurang.

Sementara untuk deposito, Anda tidak akan dikenakan biaya administrasi bulanan. Hanya saja keuntungan yang didapatkan nantinya akan dikenakan pajak kurang lebih sekitar 20%. Semakin lama jangka waktu yang dipilih untuk menyimpan deposito, makin bertambah besar pula bunga yang akan diperoleh. Deposito yang sudah memasuki jatuh tempo pun bisa diinvestasikan lagi, sehingga keuntungan yang diberikan lebih besar dan lebih menjanjikan daripada tabungan.

Keajaiban Bunga Deposito(Baca Juga: Keajaiban Bunga Deposito)

 

3. Deposito Bisa Jadi Investasi

Sebagai salah satu produk investasi, Anda akan lebih memfokuskan deposito sebagai perencanaan keuangan masa depan, bukan?



Sebagai contoh misalnya Anda memiliki keinginan untuk naik haji. Namun, dana yang dimiliki ternyata belum mencukupi. Untuk mensiasati hal ini, Anda bisa menginvestasikan dana yang dimiliki dalam bentuk deposito berjangka. Dalam beberapa tahun ke depan, dana yang Anda simpan tersebut akan mendapatkan bunga cukup besar yang nantinya bisa digunakan untuk membayar biaya haji.

Selain untuk dana haji, deposito juga bisa kita alokasikan untuk pendidikan anak, membayar cicilan rumah atau mobil, dan lain sebagainya.

Jika dilihat, deposito ini termasuk jenis investasi dengan risiko rendah dan bunga yang diberikan lebih stabil, sehingga akan sangat menjanjikan jika dipakai sebagai investasi masa depan. Berbeda dengan tabungan biasa di mana lebih cocok digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.

 

Kunci Sukses Investasi Deposito

Dalam berinvestasi, tentu kita ingin mendapatkan keuntungan yang besar, bukan? Nah, berikut beberapa kunci sukses investasi deposito.

 

1. Cari Bank Dengan Reputasi Baik

Salah satu ciri bank dengan reputasi baik adalah sudah dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Reputasi bank yang baik akan menjadi pengelola dana investasi yang baik pula. Namun yang perlu diwaspadai adalah apabila Anda bertemu dengan bank yang menawarkan deposito berbunga tinggi. Jangan sampai tergiur, karena tidak semua bank tersebut diawasi oleh LPS.

Bank Peserta Penjaminan LPS

Keuntungan menanamkan deposito di bank yang dijamin dari LPS adalah jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan (misalnya kebangkrutan bank), Anda masih tetap mendapatkan jaminan investasi. Biasanya, maksimal bunga yang dijamin dari LPS sendiri adalah sekitar 6.5%. Oleh karena itu, jika ada yang menawarkan bunga tinggi dan tidak masuk akal, Anda perlu waspada.



 

2. Pilih Jenis Deposito Sesuai Kebutuhan

Setelah menemukan bank yang tepat, Anda perlu menentukan jenis deposito yang sekiranya cocok dengan rencana keuangan Anda. Di sini, Anda perlu membandingan beberapa produk deposito yang ditawarkan. Perbandingan ini perlu dilakukan untuk menemukan bank yang tepat dan bisa memberikan penawaran terbaik mulai dari acuan suku bunga yang ditetapkan, tinggi bunga yang diberikan, dan bentuk sistem pengelolaan yang dijalankan.

Makin tinggi bunga yang diberikan, maka keuntungan yang didapat semakin besar pula. Namun, perlu diingat bahwa tinggi bunga yang diberikan harus sesuai dengan acuan maksimal yang disarankan oleh LPS.

 

3. Tentukan Jangka Waktu Investasi Deposito

Umumnya, jangka waktu yang diberikan oleh bank ini bervariasi. Nasabah akan diberikan beberapa opsi jangka waktu mulai dari 1, 3, 6, 12 atau 24 bulan, bahkan bisa sampai beberapa tahun. Namun, lagi-lagi perlu diingat bahwa prinsip deposito adalah makin lama jangka waktu yang diambil, makin tinggi pula pertumbuhan bunganya sehingga keuntungan yang didapat makin besar.

Kendati demikian, Anda juga perlu memperhatikan kondisi dan perencanaan keuangan di masa depan. Jangan sampai setoran dana yang diinvestasikan melebihi penghasilan maupun kebutuhan, mengingat Anda tetap membutuhkan dana untuk keperluan sehari-hari. Dengan begitu, investasi deposito yang Anda lakukan akan berjalan baik, lancar dan menguntungkan.

Strategi Investasi Deposito(Baca Juga: Strategi Investasi Deposito Yang Mudah Diaplikasikan)

 

4. Alokasikan Dana Ke Beberapa Produk Deposito

Apabila masih bingung dalam memilih jenis deposito, Anda bisa menggunakan sistem laddering. Sistem laddering adalah sistem membagi dana investasi ke beberapa jangka waktu. Sistem ini cocok diterapkan oleh investor yang memiliki dana cukup besar.



Katakanlah Anda memiliki dana 300 juta. Dana ini bisa dibagi ke dalam 3 jangka waktu deposito berbeda; 100 juta pertama dengan jangka waktu satu tahun, 100 juta kedua dengan jangka waktu dua tahun, dan 100 juta ketiga dengan jangka waktu tiga tahun.

Apabila Anda memiliki kebutuhan mendesak, Anda bisa mengambil dana investasi pertama dan masih memiliki investasi kedua dan ketiga. Bunga yang didapat dari dana investasi yang Anda ambil dan dana investasi jatuh tempo tersebut bisa diinvestasikan lagi sehingga bisa lebih menguntungkan.

 

Apa Itu Reksadana Pendapatan Tetap?

Sekarang ini, banyak sekali orang yang mulai bermain reksadana seiring dengan banyaknya aplikasi pendukung. Investasi reksadana sendiri ada 4 jenis, seperti Reksadana Pasar Uang (money market fund), Reksadana Campuran (balanced fund), Reksadana Saham (equity fund), Reksadana Pendapatan Tetap (fixed fund).

Jenis-jenis Reksadana(Baca Juga: Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya)

Reksadana Pendapatan Tetap adalah salah satu produk investasi di mana 80% dana investor akan dialokasikan ke surat utang atau obligasi dan sisanya ke pasar uang. Keuntungan yang Anda dapatkan dari produk ini berasal dari bunga obligasi yang diberikan secara berkala dalam bentuk kupon. Biasanya, bunga obligasi itu akan dipergunakan oleh manajer investasi untuk diinvestasikan kembali agar keuntungan semakin bertambah.

Tidak seperti deposito, Reksadana Pendapatan Tetap tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Anda bisa memulai investasi hanya dengan modal Rp100.000,- bahkan Rp10.000,- juga lho. Bukankah itu menarik?

Dengan minimnya modal yang dibutuhkan, investasi ini termasuk investasi berisiko rendah dan cocok untuk investor pemula maupun moderat (menengah), yang tidak mau direpotkan untuk menghitung risiko dan menginginkan keuntungan dalam waktu 1-3 tahun. Investasi ini juga lebih fleksibel karena bisa dicairkan kapan saja tanpa menunggu waktu jatuh tempo dan tidak ada pengaruhnya terhadap nilai bagi hasil.

 

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap

Meskipun investasi Reksadana Pendapatan Tetap menawarkan fleksibilitas yang menggiurkan, investasi ini juga memiliki risiko. Risikonya adalah keuntungan yang kita dapatkan sangat bergantung pada suku bunga yang ditetapkan oleh bank.

Risiko Reksadana(Baca Juga: Jenis-Jenis Risiko yang Dihadapi Investor Reksadana)

Apabila suku bunga dan inflasi turun, maka harga obligasi dan pasar uang akan naik dan kita akan untung. Sebaliknya apabila suku bunga dan inflasi naik, maka harga obligasi dan pasar uang akan turun, sehingga kita akan berisiko untuk rugi. Keuntungan yang kita dapatkan sendiri berasal dari selisih Nilai Aktiva Bersih (NAB) obligasi tersebut.

Selain itu, obligasi juga memungkinkan untuk gagal bayar (wanprestasi). Ini bisa terjadi ketika manajer investasi mengalokasikan dananya ke suatu perusahaan tertentu, tetapi perusahaan tersebut tidak bisa membayar cicilan dan bunga obligasi dalam bentuk kupon. Oleh karenanya, investor akan rugi.

Di samping gagal bayar, investor juga menghadapi risiko likuiditas, dimana beberapa investor menarik dana dalam waktu yang bersamaan, sehingga menyebabkan manajer investasi kesulitan untuk menyediakan uang tunai (redemption).

 

Cara Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

Cara investasi Reksadana Pendapatan Tetap bisa dibilang cukup mudah. Anda bisa membelinya secara langsung melalui manajer investasi atau agen penjual produk tersebut. Setelah itu, Anda akan diminta untuk membuka rekening di agen atau manajer investasi tersebut. Penjualan dan pembelian produk reksadana itu hanya bisa Anda lakukan di tempat Anda membuka rekening saja. Jadi, jika Anda membelinya di agen X, maka Anda hanya bisa menjualnya di agen X juga.

Namun, kemajuan teknologi kini sudah sangat pesat, sehingga memungkinkan Anda untuk berinvestasi reksadana secara online. Caranya juga mudah dan simpel; Anda hanya perlu mengunjungi situs atau bahkan melalui aplikasi. Sekarang ini, sudah banyak aplikasi yang memudahkan investor untuk membeli reksadana, contohnya aplikasi Bibit dan Bareksa.

Aplikasi Reksadana(Baca Juga: 5 Marketplace Reksadana Yang Cocok Untuk Investor Milenial)

Proses membeli reksadana secara online pun cukup singkat. Anda hanya perlu mendaftarkan diri ke platform yang sudah dipilih, kemudian isikan biodata dan unggah foto KTP. Prosesnya biasanya kurang dari 15 menit dan proses verifikasinya 1x24 jam. Setelah mendapatkan kode verifikasi, Anda sudah bisa langsung mulai investasi.

Cara transaksinya sendiri mirip dengan Anda berbelanja di marketplace. Anda tinggal buka aplikasi atau platform tempat Anda mendaftar, lalu pilih jenis produk yang Anda inginkan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah Anda juga perlu memperhatikan berbagai informasi mengenai produk yang Anda pilih, seperti performa dan manajer investasinya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jika sudah menjatuhkan pilihan, langkah selanjutnya adalah klik beli dan lanjutkan pembayaran. Anda bisa langsung melakukan transfer bank atau memanfaatkan layanan e-wallet. Bagaimana, mudah 'kan?

Sebagai reminder sebelum melakukan transaksi reksadana, Anda harus banyak mencari informasi mengenai manajer investasi, bank kustodian (bank pengawasan dan penyimpanan aset reksadana) dan tata cara pembelian dan penjualan kembali produk reksadana.

Manajer Investasi Reksadana(Baca Juga: Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan)

Pilihlah manajer investasi dan bank kustodian yang bisa dipercaya. Dalam hal ini, Anda bisa mencarinya berdasarkan status registrasinya dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kemudian, perhatikan juga rekam jejak sekuritas perusahaan manajer investasi yang bisa dilihat berdasarkan usia produk reksadana, besaran dana yang dikelola setiap tahun, serta likuiditas asetnya. Sangat disarankan untuk memilih profil reksadana yang sesuai dengan Anda. Untuk Reksadana Pendapatan Tetap, Anda sebaiknya memilih yang moderat (risiko menengah).

 

Deposito Bank VS Reksadana Pendapatan Tetap

Berbicara tentang investasi, pastinya kita akan mencari mana yang lebih menguntungkan dan banyak mendatangkan cuan. Nah, di antara deposito bank vs Reksadana Pendapatan Tetap, keduanya sama-sama memiliki nilai plus dan minusnya. Apa sajakah?

 

1. Perbedaan Dana Awal Minimal

Di lihat dari jumlah setoran awal, deposito dirasa lebih memberatkan. Setoran awal deposito ini biasanya tergantung kebijakan dari masing-masing bank. Ada bank yang memberlakukan saldo awal senilai 1 juta, 5 juta, atau bahkan 10 juta lebih. Yang perlu Anda ketahui bahwa semakin besar setoran dana Anda di deposito, maka makin besar pula keuntungan yang akan Anda dapatkan. Kembali lagi, hasil return ini dihitung dari bunga.

Berbeda dengan Reksadana Pendapatan Tetap, Anda sudah bisa melakukan pembelian reksadana dengan modal kecil saja, sekitar Rp10.000,-. Sudah pasti ini akan sangat menguntungkan Anda yang memiliki modal terbatas, tetapi ingin tetap bisa investasi.

 

2. Jangka Waktu Pencairan

Kita sudah tahu bahwa deposito termasuk dalam produk tabungan berjangka. Oleh karenanya sebelum melakukan pembukaan rekening deposito, Anda dan pihak bank akan melakukan perjanjian mengenai berapa lama jangka waktunya. Setiap bank menawarkan beberapa opsi jangka waktu, biasanya antara 1, 3, 6, 9, 12 hingga 24 bulan. Lamanya jangka waktu ini (tenor) akan mempengaruhi return yang didapatkan.

Selain besarnya dana yang terkumpul, makin lama masa tenor, makin banyak juga bunga (keuntungan) yang didapatkan. Oleh sebab itu, Anda benar-benar harus bisa mengatur keuangan jika ingin menjadikan deposito sebagai investasi, sebab tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu.

Untung Rugi Deposito(Baca Juga: Menimbang Untung-Rugi Deposito)

Di sisi lain, pencairan Reksadana Pendapatan Tetap lebih fleksibel. Jadi, kita bisa melakukan pencairan kapan pun semau Anda tanpa ada biaya pemotongan. Di sini, Anda bebas menentukan lamanya investasi, baik itu bulanan maupun tahunan. Bahkan, pencairannya pun termasuk cepat (maksimal 7 hari kerja).

 

3. Risiko yang Ditawarkan

Segala sesuatu yang kita lakukan pastinya harus memiliki perhitungan yang pas agar terhindar dari risiko, begitu pula dengan investasi. Risiko investasi masih menjadi momok utama bagi investor, khususnya investor pemula.

Dari kedua produk investasi di atas (deposito dan Reksadana Pendapatan Tetap), depositolah yang memiliki risiko paling kecil. Hal ini dikarenakan deposito dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sehingga segala kerugian nasabah akan dijamin oleh lembaga tersebut. Akan tetapi, kelemahannya adalah jika Anda mencairkan deposito sebelum jatuh tempo, Anda akan dikenai penalti berupa biaya administrasi dan potongan nilai pokok bunga.

Biaya Penalti

Sementara itu untuk reksadana, risiko utamanya adalah kemungkinan gagal bayar karena yang diinvestasikan berupa obligasi (surat utang). Selain itu, investor juga akan menghadapi risiko dari fluktuasi harga yang mengakibatkan nilai unit penyertaannya menjadi naik turun. Belum lagi risiko likuiditas seperti yang sudah dijelaskan di atas, di mana manajer investasi mengalami kesulitas untuk menyediakan uang tunai karena sebagian besar investor melakukan redemption.

Dari segi risiko yang mungkin didapatkan, depositolah yang dinilai lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan dana yang kita himpun sangat dijamin oleh bank. Sekalipun bank pailit, masih ada lembaga yang siap menanggungnya.

 

4. Hasil Investasi di Masa Mendatang

Dilihat dari segi hasil investasinya (return), deposito sudahlah jelas, yakni berupa bunga yang sudah disepakati antara nasabah dan pihak bank sejak awal pembukaan rekening. Sementara untuk Reksadana Pendapatan Tetap, hasil investasi didapatkan dari selisih Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang berfluktuasi. Bisa dikatakan bahwa hasil investasi Reksadana Pendapatan Tetap ini tidak ada kepastiannya.

Cara Menghitung NAB RD(Baca Juga: Cara Menghitung NAB Reksadana)

Melihat dari segi persentase bunga yang ditawarkan, reksadana menawarkan bunga lebih menarik hingga 20% daripada deposito yang hanya berkisar antara 4-7%. Namun sebagai investor, Anda perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang mempengaruhi return agar tidak menyesal di kemudian hari.

 

Kesimpulan

Lalu manakah di antara deposito vs Reksadana Pendapatan Tetap yang lebih menguntungkan? Jawabannya hanya bisa Anda tentukan berdasarkan rencana dan tujuan keuangan Anda di masa depan. Baik deposito maupun reksadana tetap membawa prospek masa depan yang baik. Bahkan bisa dibilang, prospek reksadana di masa depan diprediksi masih aman terkendali.

Nah di masa pandemi seperti sekarang ini, jangan sampai Anda melewatkan kesempatan untuk mulai investasi. Meski semuanya serba sulit, tidak ada salahnya untuk menyisihkan sebagian pendapatan Anda untuk investasi. Toh bisa dibilang, investasi juga untuk mengembangkan uang, baik itu untuk dana haji, dana pensiun, modal nikah, maupun dana pendidikan anak. Baik yang berisiko rendah seperti deposito dan reksadana, atau yang berisiko lebih tinggi seperti saham dan mencari keuntungan di pasar forex, investasi bisa menjadi sumber penghasilan yang diandalkan bila Anda menjalankannya dengan serius.

Forum

DEFFI ISNANDA ZEIN (26 Jun 2018)

APAKAH STOP LOSS (SL) DAN tAKE PROFIT (TP) KITA YANG TENTUKAN ATAU DIBERIKAN OLEH SISTEM ?TRIMS INFONYA

Selengkapnya...

BANK1 Bulan
BANK DBS INDONESIA4.25
BANK MAYBANK INDONESIA4.25
BANK MEGA2.50
BANK CENTRAL ASIA 2.85
BANK TABUNGAN NEGARA3.25
BANK MANDIRI2.00
BANK PERMATA 4.00
BANK RAKYAT INDONESIA2.85
STANDARD CHARTERED BANK4.00
BANK ANZ INDONESIA2.75

Kirim Komentar/Reply Baru


Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Nandini   11 May 2021   75  
TimeFrame untuk menemukan Chart Pattern

Saya sudah mempelajari forex dari banyak buku dan artikel2 termasuk di SeputarForex.
Pertanyaan saya adalah di TimeFrame berapa biasanya kita dapat menemukan ChartPattern ?
Saya biasanya main di tf H1 dan H4, CP yg keluar seringkali bullflag dan bearflag saja, jarang sekali pattern lainnya.
Terima Kasih

Thyo 17 Nov 2019

Reply:

Erik T (18 Nov 2019 18:12)

Untuk Thyo,

Perkara pemilihan time frame sebenarnya tidaklah menjadi persoalan jika Anda hendak bertrading dengan teknik chart pattern. Pasalnya, teknik chart pattern dapat digunakan di semua time frame, mulai dari M1 hingga MN. Anda hanya tinggal meneliti dan menunggu pola yang terbentuk saja. Namun, umumnya yang sering dijadikan acuan adalah pola yang terbentuk pada time frame besar.

Karena semakin besar time frame yang digunakan, tentu akan memberikan peluang entry yang berkualitas. Pasalnya, jika pola chart pattern terbentuk pada time frame besar, maka tingkat akurasinya dan tingkat peluang menuju profitnya pun juga semakin besar. Sebaliknya, jika pola chart pattern terbentuk pada time frame rendah, maka tingkat akurasinya pun juga rendah.

Baca juga:

  • Memilih Time Frame Dalam Analisis Teknikal Forex
  • Pengaruh Time Frame Pada Hasil Trading
Semoga bisa membantu.
Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Linlindua   5 May 2021   166  
Live Trading NFP Bareng Finex
Live Trading NFP Bareng Finex
Melati   4 May 2021   235  
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Wahyudi   30 Apr 2021   149  
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Wahyudi   30 Apr 2021   183  
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
Linlindua   29 Apr 2021   141  
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
Linlindua   29 Apr 2021   160  
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
Linlindua   28 Apr 2021   133