Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya


Nandini 22 Jan 2021 322Dibaca Normal 14 Menit

Ada banyak sekali jenis reksadana yang bisa dijadikan instrumen investasi. Mulai dari reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga reksadana saham. Berikut ulasan selengkapnya.



Dewasa ini, masyarakat tampaknya mulai memahami pentingnya investasi. Daripada menghambur-hamburkan uang untuk keperluan yang tidak jelas, lebih baik digunakan sebagai investasi jangka panjang. Toh investasi tidaklah merugikan, bukan?

Nah jika Anda tertarik untuk mulai terjun dalam dunia investasi, terdapat sebuah wadah untuk memudahkan Anda mengelola dana yang akan diinvestasikan, yaitu reksadana. Lantas, apa itu reksadana? Berikut penjelasannya.

 

Sekilas Tentang Investasi

Sebelum membahas pengertian dan hal-hal yang menyangkut reksadana, Anda perlu mengenal dulu seputar investasi. Kebanyakan orang tidak akan berminat jika belum mengenalnya, seperti pepatah "tak kenal maka tak sayang”.

Investasi dapat didefinisikan sebagai proses penanaman modal pada aset-aset tertentu, di mana pemilik modal nantinya akan memperoleh imbal balik berupa profit/keuntungan yang lebih besar dalam jangka waktu tertentu. Saat ini, investasi bahkan sudah dijadikan lading bisnis yang menggiurkan.

Investasi reksadana

Ada banyak sekali jenis-jenis investasi yang bisa Anda coba, mulai dari investasi properti, saham, obligasi, valuta asing alias forex, hingga investasi emas dan sebagainya. Cara memulainya pun terbilang mudah; cukup manfaatkan smartphone, kemudian download apilkasi aplikasi e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee, atau Pegadaian digital sebagai platform investasi Anda. Mudah sekali kan?

Kendati demikian, tak ada bisnis yang tak menanggung risiko. Jika Anda siap mendulang profit, Anda pun harus sudah siap mengalami loss. Untuk itu, bijak-bijaklah dalam berinvestasi.

High Risk High Return; semakin tinggi risiko investasi, semakin menggiurkan pula peluang keuntungannya.

 

Apa Itu Reksadana?

Secara umum, pengertian reksadana adalah suatu "wadah" untuk menghimpun dana dari para investor sebelum membeli sekuritas. Reksadana ini biasanya lebih diperuntukkan bagi calon investor yang memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai investasi.



Modal-modal yang ditanamkan oleh pemilik modal di reksadana nantinya akan dikelola dan diinvestasikan oleh manajer investasi dalam portofolio efek. Reksadana merupakan lembaga investasi resmi di Indonesia berdasarkan UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sistem kerja dari reksadana ini pun mudah dan sederhana, sehingga sangat cocok bagi para pemula. Anda hanya perlu menaruh sejumlah modal untuk membeli reksadana dan memilih jenisnya sesuai keinginan. Selanjutnya, manajer investasi akan me-manage investasi ke beberapa instrumen atau perusahaan melalui verifikasi investasi. Verifikasi ini dilakukan agar aktivitas investasi Anda aman dari kerugian atau risiko.

Manajer Investasi Reksadana(Baca Juga: Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan)

 

Mengenal Risiko Investasi Reksadana

Sebagaimana yang sudah disinggung di atas, setiap bisnis pasti memiliki risiko masing-masing. Sebelum memutuskan untuk menanamkan modal pada reksadana, ada baiknya simak dulu beberapa risiko reksadana berikut ini agar Anda tak salah langkah.

 

1. Return Reksadana Tidak Pasti

Memang konsep reksadana adalah Anda menyetorkan sejumlah uang ke lembaga, tetapi bukan berarti sama dengan menabung atau melakukan deposito. Dalam reksadana, besar return-nya tidak bisa dipastikan karena Anda bisa untung atau rugi. Apalagi, kerugian reksadana juga dianggap cukup tinggi.

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Jika ingin mulai berinvestasi pada reksadana, berikut beberapa poin yang perlu Anda perhatikan untuk meminimalisir kerugian:

  • Pilihlah jenis-jenis reksadana yang tepat karena setiap jenisnya memiliki risiko berbeda. Sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan Anda.
  • Lakukan diversifikasi risiko, artinya jika salah satu instrumen investasi Anda sedang rugi, Anda masih memiliki aset lain yang bisa diandalkan.

 

2. Pemerintah Tidak Ikut Menjamin Reksadana

Jika risiko tabungan dan deposito dijamin oleh pemerintah apabila bank bermasalah, lain halnya dengan reksadana. Risiko yang timbul karena kerugian reksadana akan ditanggung oleh nasabah secara mandiri. Oleh karena itu, bersikaplah selektif saat memilih reksadana yang tepat.

Memilih Reksadana(Baca Juga: 5 Marketplace Reksadana Yang Cocok Untuk Investor Milenial)

 

3. Tidak Ada Jaminan Proteksi Jiwa

Apabila nasabah mengalami musibah dan tidak bisa melanjutkan investasi, maka investasi dianggap berhenti. Ya, beginilah risiko yang mungkin timbul ketika tidak ada pihak lain yang bersedia melanjutkan investasi sebelumnya.

Namun, jika ada nasabah yang ingin memproteksi dirinya, mereka bisa membeli asuransi jiwa. Jadi jika terjadi sesuatu pada mereka, masih ada uang dari asuransi untuk tetap melanjutkan investasi. Perlu diingat sebagai nasabah, Anda juga harus jeli dalam memilih asuransi jiwa maupun tempat investasinya.

 

4. Investor Harus Punya Inisiatif Sendiri

Bila ingin mulai investasi reksadana, Anda harus disiplin menabung karena tidak ada pihak yang mengingatkan Anda untuk menyetor uang setiap bulannya. Hal ini berbeda dengan asuransi yang rutin mengirimkan premi.

Nah agar tak lupa, Anda bisa menggunakan fasilitas "Auto-Invest", dimana uang Anda akan otomatis terpotong setiap bulan untuk diinvestasi ke reksadana. Jadi, investor tidak usah khawatir lagi.

 

5. Reksadana Bisa Dibubarkan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, reksadana bukanlah lembaga yang dijamin oleh pemerintah, sehinga bisa saja dibubarkan kapan saja. Ada dua kondisi yang memungkinkan suatu reksadana akhirnya dibubarkan, antara lain:

  • OJK memerintahkan untuk bubar berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Nilai aktiva bersih dari reksadana kurang dari Rp25,000,000,000,- (dua puluh lima miliar rupiah) selama 90 hari bursa berturut-turut.

Untuk menghindari hal ini, Anda sebaiknya membuat daftar atau list reksadana, kemudian pilihkan reksadana dengan kinerja yang baik berdasarkan data nilai aktiva bersihnya.

NAB reksadana(Baca Juga: Cara Menghitung NAB Reksadana)

 

6. Pencairan Tidak Bisa Dilakukan Dan Terjadi Likuiditas

Normalnya, pencairan dana reksadana memakan waktu selama tiga hari. Setelah tiga hari, uang akan otomatis masuk ke rekening investor. Meski proses pencairan bisa dipercepat, tetapi ada risiko likuiditas yang mungkin terjadi.

Risiko likuiditas adalah risiko yang timbul ketika manajer investasi gagal menyediakan dana karena sebagian besar investor melakukan penjualan kembali (redemption) atas portofolio-portofolio yang dipegangnya. Untuk menghindari risiko ini, Anda perlu melihat kekuatan Manajer Investasi berdasarkan besar dana kelolaannya (AUM/Asset Under Management). Semakin besar AUM-nya, semakin kuat pula manajer investasi tersebut.

 

7. Berkurangnya Nilai Efek Keikutsertaan

Risiko ini dialami oleh investor akibat adanya penurunan harga efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) dalam portofolio mereka. Risiko ini cukup banyak dan bisa terjadi kapan saja tergantung pasar.

 

8. Terjadinya Wanprestasi

Sebenarnya masih banyak risiko dari investasi reksadana, seperti risiko inflasi, ketidakpatuhan investor, dan yang lainnya. Akan tetapi, risko terburuk yaitu wanprestasi atau gagal bayar.

Terjadinya Wanprestasi

Waprestasi dapat terjadi apabila rekan usaha manajer investasi tidak bisa membayar kewajibannya atau ganti rugi saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Akibatnya, nilai investasi akan hilang. Tips untuk menghindarinya adalah investor harus mengenali manajer investasi reksadananya dengan baik.

 

Manfaat Investasi Di Reksadana

Meski memiliki cukup banyak risiko, reksadana nyatanya masih menjadi instrumen yang banyak difavoritkan oleh investor masa kini. Apa alasannya?

 

1. Kemudahan Berinvestasi

Alasan pertama mengapa banyak investor melirik reksadana adalah karena modalnya terbilang murah. Dengan merogoh kocek mulai dari Rp100.000,- saja, Anda sudah bisa membeli produk reksadana.

 

2. Dikelola Oleh Manajemen Professional

Bagi para pemula yang masih buta investasi, reksadana adalah pilihan tepat untuk memulainya. Modal tersebut nantinya hanya akan dikelola oleh manajemen investasi profesional yang memiliki keahlian khusus di bidang pengelolaan dana. Manajemen investasi ini pun terpercaya, karena mereka sudah memperoleh izin dari OJK dan pengelolaan portofolio investasi reksadananya sendiri.

 

3. Likuiditas Tinggi

Likuiditas merupakan kemampuan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Dengan likuiditas yang tinggi, investor bisa meraih kesuksesan investasinya dengan mudah. Cukup cairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai dengan ketetapan yang berlaku.

 

4. Diversifikasi Investasi

Reksadana memungkinkan para nasabahnya untuk tidak berfokus pada satu investasi saja. Untuk mengurangi risiko kerugian, nasabah bisa melakukan berbagai investasi di lebih dari satu perusahaan. Dengan kata lain, investasinya tersebar.

Tips Diversifikasi Risiko(Baca Juga: 5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi)

 

5. Transparansi Informasi

Para investor reksadana bisa dengan mudah memantau keuntungan, biaya, dan risiko dari keikutsertaan mereka. Pihak pengelola hingga manajemen investasi wajib menerbitkan Laporan Keuangan secara teratur dan mengumumkan Nilai Aktiva Bersih setiap hari di surat kabar.

 

6. Sesuai Untuk Berbagai Tujuan Keuangan

Reksadana termasuk investasi yang fleksibel karena dapat digunakan untuk kebutuhan investasi jangka pendek, menengah, hingga panjang sekalipun, tergantung dari jenis reksadananya.

 

7. Hasil Investasi Menarik

Potensi keuntungan yang tinggi akan menarik investor untuk berinvestasi di reksadana. Bahkan, keuntungan ini bisa dinikmati dalam jangka panjang, jadi bisa digunakan untuk persiapan masa pensiun, dana pendidikan, dan tujuan jangka panjang lainnya. Ditambah lagi, return yang didapatkan bisa lebih tinggi dari hanya sekedar menabung dan deposito. Namun sekali lagi, semua itu tergantung jenis reksadananya.

 

8. Lebih Aman

Keamanan adalah salah satu poin penting dalam investasi. Reksadana sendiri menawarkan tingkat risiko rendah bagi para investornya. Kok bisa? Ini karena dana investor tidak langsung dikelola oleh manajemen investasi, melainkan dititipkan di rekening bank khusus yang disebut bank kustodian.

 

Jenis-jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risiko

Bagi para investor pemula, reksadana diklaim sebagai langkah awal yang cocok untuk memulai investasi. Meskipun begitu, tahukah Anda bahwa ada beberapa jenis reksadana? Berikut kami sajikan penjelasannya mengenai jenis reksadana berdasarkan tingkat risikonya.

 

1. Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana dengan risiko paling rendah. Reksadana jenis ini menempatkan 100% modal investor pada instrument pasar uang, seperti obligasi yang jatuh tempo kurang dari satu tahun, deposito, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jenis reksadana ini merupakan investasi jangka pendek yang diklaim paling aman di antara jenis reksadana lainnya.

Dibandingkan dengan deposito, reksadana pasar uang memiliki keunggulan:

  • Keuntungan rata-rata sebesar 20%, sementara deposito hanya 4-7%.
  • Setoran minimal awal hanya Rp10.000,- , sedangkan deposito sekitar Rp1 jutaan.
  • Sistem penarikan reksadana pasar uang lebih mudah (bisa kapan saja) dan tanpa potongan.
  • Bebas pajak.
  • Jangka waktu investasi lebih fleksible yang bahkan satu hari pun bisa.

Reksadana Pasar Uang

 

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund) adalah jenis reksadana yang menginvestasikan asetnya sekurang-kurangnya 80% dalam bentuk surat utang atau obligasi. Obligasi ini diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah, dengan risiko investasi konservatif atau menengah.

Reksadana jenis ini termasuk investasi jangka menengah hingga panjang, sehingga cocok bagi investor yang suka bermain aman. Setidaknya butuh waktu satu sampai tiga tahun untuk mendapatkan return yang lebih stabil dan baik.

Keunggulan reksadana satu ini kurang lebih sama dengan reksadana pasar uang. Selain itu mekanisme kerjanya pun mudah.

Katakanlah Anda menginvestasikan dana sebesar Rp2,000,000,- ke reksadana A dengan harga Rp895 per unitnya. Menurut perhitungan, Anda akan mendapatkan Unit Keikutsertaan sebanyak 2,234.64. Jika dalam setahun harga NAB sebesar Rp1,100,- per unit, maka Anda sudah mendapatkan keuntungan:

Laba

= (2,234.64xRp1,100) - Rp2,000,000

= Rp2,458,104 - Rp2,000,000 = Rp458,104

 

3. Reksadana Campuran

Reksadana Campuran juga disebut dengan Hybrid Funds. Maksud dari campuran di sini adalah jenis reksadana yang menggabungkan saham, obligasi, dan pasar uang. Kebijakan ini memungkinkan para investor untuk berinvestasi pada efek ekuitas serta pasar uang dengan persentase sekitar 1-79% nilai aktiva bersihnya.

Dibandingkan hanya fokus berinvestasi di satu instrumen, reksadana campuran memberikan kemudahan untuk menggabungkan beberapa instrument seperti saham dengan obligasi, hutang, dan lainnya. Jenis reksadana ini idealnya untuk para investor moderat dan agresif. Itu karena reksadana campuran memiliki risiko tinggi.

Jika dilihat, return dari jenis campuran ini masih di bawah reksadana saham, tetapi lebih tinggi dari reksadana pendapatan tetap. Akan tetapi, unsur sahamnya tetap sama; fluktuasi mengikuti kinerja IHSG, kecuali porsi sahamnya kecil. Imbal hasil yang didapatkan dari reksadana campuran ini bisa mencapai 15% per tahunnya. Memang tinggi, tetapi sebanding dengan risikonya juga.

 

4. Reksadana Saham

Reksadana saham adalah jenis reksadana yang menempatkan modal investasi ke pembelian saham-saham dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Keuntungan dari jenis reksadana ini terbilang cukup tinggi, tetapi risiko yang didapat juga paling tinggi dan terkesan agresif.

Reksadana Saham

Kendati demikian, tidak semua saham dapat dibeli investor. Ada beberapa ketentuan mengenai reksadana saham yang diatur OJK untuk investor, di antaranya:

  • Dilarang membeli saham yang informasinya kurang jelas. Jadi, saham-saham yang bisa dibeli hanyalah saham-saham terdaftar di Bursa Efek Indonesia atau bursa efek luar negeri. Para investor tidak diperkenankan membeli saham yang informasinya sulit diakses dari Indonesia.
  • Investasi maksimum sahamnya adalah 10% dari nilai aset reksadana.
  • Dilarang menguasai lebih dari 5% modal perusahaan terkait.

Reksadana saham lebih cocok digunakan untuk investasi jangka panjang, sebab fluktuasinya tinggi. Saat harga turun, investor disarankan untuk tidak cepat-cepat menjualnya, tetapi tunggulah beberapa saat. Dalam jangka panjang, sebenarnya reksadana saham ini berpotensi tumbuh dengan baik sehingga profitnya pun menjanjikan.

Ada dua tips agar reksadana Anda menguntungkan, di antaranya:

  • Tentukan tujuan rencana keuangan yang tepat. Investor harus punya setidaknya tujuan keuangan di atas 5 tahun, misalnya untuk dana pendidikan dan pensiun. Bagi mereka yang hanya ingin cepat mendapatkan keuntungan, jenis reksadana ini tidaklah cocok dan sebaiknya ditinggalkan.
  • Pelajari kinerja reksadana tersebut. Sebelum menaruh investasi dalam reksadana saham, investor sebaiknya melakukan review kinerja reksadana tersebut dengan melihat Laporan Keuangannya selama beberapa tahun terakhir.

Keuntungan Reksadana(Baca Juga: Potensi Keuntungan Investasi Reksadana)

 

Kiat Sukses Investasi Reksadana

Sukses dalam investasi merupakan impian setiap orang. Apalagi untuk pemula yang baru kenal investasi, mereka akan berpikir seperti baru dapat rejeki nomplok. Nah agar investasi reksadana sukses, berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan.

 

1. Buatlah Tujuan Investasi

Dalam berinvestasi, hal wajib yang harus dimiliki adalah tujuan investasi itu sendiri. Dengan tujuan yang jelas, Anda bisa menentukan jenis investasi reksadana maanakah yang sesuai. Pun, Anda akan lebih mudah menjalankan investasinya seacara lebih terarah dan fokus, sehingga risiko yang timbul bisa diminimalisir.

 

2. Kenali Potensi Dan Kemampuan Diri

Setiap orang tentu memiliki potensi dan kemampuan yang beragam. Potensi dan kemampuan inilah yang akan membawa Anda untuk mencapai tujuan. Sayangnya, bila Anda tak mampu menemukan potensi dan kemampuan diri, Anda akan cenderung monoton dan berhenti di satu titik. Untuk itu, penting mengetahui potensi dan kemampuan diri agar bisa lebih berkembang dan sukses di berbagai bidang, termasuk berinvestasi.

 

3. Sisihkan Dana Secara Konsisten

Pastikan Anda selalu menyisihkan dana alias menabung, bisa per minggu atau per bulan dengan nominal yang sama sebagai modal. Tipsnya di sini, Anda harus konsisten dengan dana yang akan Anda sisihkan untuk investasi. Cara ini disebut dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Tujuannya adalah untuk mencegah investor menginvestasikan dana mereka di waktu yang salah ketika harga aset sedang tinggi (mengurangi dampak volatilitas).

 

4. Mulai Secara Bertahap

Investasi yang dilakukan secara bertahap akan melatih investor disiplin. Strategi ini juga termasuk bagian dari DCA. Cara ini lebih cocok untuk para pemula dan mereka yang tidak memiliki banyak modal di awal investasi. Poin plusnya, investor bisa mengalokasikan dana yang nominalnya kecil, tetapi sama setiap bulannya.

 

5. Beli Reksadana Hanya Pada Agen Resmi

Sebelum membeli reksadana, Anda harus tahu terlebih dahulu agen yang mengelola produk reksadana tersebut. Anda harus memilih agen-agen resmi yang semua informasi mengenai produk, manajer investasi, bank kustodian, kebijakan, dan informasi lainnya jelas dan tercatat oleh lembaga terkait.

Anda bisa membeli reksadana dari bank, manajer investasi (MI), serta agen penjualnya. Akan tetapi, bank dan agen resminya harus sudah mendapat izin sebagai APERD (Agen Penjual Reksa Dana). Berikut beberapa agen resmi reksadana yang bisa dijadikan pertimbangan.

Bank reksadana

 

Kesimpulan

Sudah tahukan informasi mengenai reksadana dan kiat-kiat sukses investasinya? Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera investasi agar rencana keuangan di masa depan lebih baik. Apabila masih takut, pilihlah dari yang risikonya kecil dan bermainlah dengan cara yang aman.

BANK1 Bulan
BANK DANAMON INDONESIA3.65
BANK IBK INDONESIA, 5.75
BANK MEGA2.50
BANK QNB INDONESIA4.86
BANK COMMONWEALTH4.25
BANK OCBC NISP 3.25
JP MORGAN CHASE BANK3.56
BANK HSBC INDONESIA4.00
BANK MANDIRI2.00
BANK NATIONALNOBU3.50

Kirim Komentar/Reply Baru
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Jujun Kurniawan   20 Jul 2020   605  
Cara Menghitung NAB Reksadana
Cara Menghitung NAB Reksadana
Wahyudi   12 May 2020   2381  
Sebelum Investasi Reksadana, Kenali Biayanya!
Sebelum Investasi Reksadana, Kenali Biayanya!
Wahyudi   29 Feb 2020   493  
Cara Menabung Umroh Lewat Reksadana
Cara Menabung Umroh Lewat Reksadana
Wahyudi   14 Jan 2020   772  
Alasan Reksadana Tepat Menjadi Dana Darurat
Alasan Reksadana Tepat Menjadi Dana Darurat
Wahyudi   10 Jan 2020   498  
Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan
Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan
Wahyudi   18 Dec 2019   532  
Jenis-Jenis Risiko yang Dihadapi Investor Reksadana
Jenis-Jenis Risiko yang Dihadapi Investor Reksadana
Wahyudi   26 Nov 2019   449