Memanfaatkan Dark Cloud Cover Sebagai Penanda Reversal

Novita 31 Jul 2020 213

Strategi trading dengan memanfaatkan pola-pola candlestick kerap dianggap sebagai cara analisa paling mudah dan sederhana ketimbang analisa fundamental. Pasalnya, trader hanya perlu memperhatikan pergerakan harga yang tercermin dalam ragam pola candle. Ada yang mengindikasikan trend continuation (penerusan), ada pula yang menunjukkan potensi terjadinya reversal (pembalikan harga).

Nah sehubungan dengan candlestick reversal, ada banyak sekali pola candle dengan indikasi demikian. Sebut saja Three Outside Up and Down, atau Evening Star dan Morning Star. Namun tahukah Anda? Ada pola candle lain yang juga mampu menunjukkan peluang reversal saat harga sedang Uptrend kuat, yaitu pola candle Dark Cloud Cover. Pernahkah Anda mendengar pola candle ini sebelumnya?

Mengenal Dark Cloud Cover(Baca juga: Tips Membaca Candlestick Simpel Dan Akurat, Tak Perlu Hafalan)

 

Mengenal Pola Candle Dark Cloud Cover

Jika dilihat berdasarkan jumlah candle penyusunnya, pola Dark Cloud Cover dapat dikategorikan sebagai double candle. Pola ini tersusun atas satu candle Bullish plus satu candle Bearish. Pada awalnya, buyer mencoba menaikkan harga dengan banyak melakukan aksi Buy, sehingga terbentuklah candle Bullish. Namun pada periode berikutnya, harga tidak dapat bergerak lebih tinggi karena tertekan aksi Seller. Akibatnya, harga bergerak turun dengan volume sebesar candle pertama; ini tercermin dalam candle Bearish.

Pola Dark Cloud Cover dapat terbentuk apabila Open candle kedua berada di atas Close candle pertama, kemudian Close candle kedua melewati Close candle pertama. Perlu diperhatikan, tidak semua candle yang tersusun atas candle Bullish disusul candle Bearish lantas disebut sebagai pola Dark Cloud Cover.

Agar tak terjebak dalam pola candle BUKAN Dark Cloud Cover, pastikan formasi candle yang Anda temui telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Grafik di bawah ini adalah contoh pola Dark Cloud Cover yang terbentuk dalam chart.

Pola Dark Cloud Cover

 

Sementara itu, chart di bawah ini menunjukkan formasi candle yang BUKAN Dark Cloud Cover. Mengapa? Sebab, level Open candle kedua sama dengan Close pada candle pertama, meskipun formasinya telah tersusun atas candle Bullish kemudian candle Bearish.

Bukan Dark Cloud Cover

Berdasarkan ulasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Dark Cloud Cover biasanya terjadi di akhir tren naik (Uptrend) yang panjang. Adanya candle Bearish setelahnya menjadi pertanda reversal. Jadi bila Anda menjumpai pola ini dalam chart, bersiaplah untuk mengambil ancang-ancang Sell ya!

 

Mengapa Pola Candle Dark Cloud Cover Bisa Terbentuk?

Terbentuknya candle Bearish dalam rangkaian Uptrend kuat dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti adanya berita-berita fundamental berdampak yang mempengaruhi sentimen pasar secara signifikan. Karena candle kedua merupakan candle Bearish, maka asumsinya sentimen pasar tengah digerakkan oleh berita negatif. Oleh sebab itulah Seller lantas mengambil alih pasar dari kendali Buyer.

Berita fundamental berdampak

Meski secara teori dapat dikatakan demikian, tetapi ada baiknya Anda benar-benar menunggu candle setelah Dark Cloud Cover tertutup untuk mengkonfirmasi terjadinya reversal. Hal ini bertujuan agar Anda tak terjebak dalam entry posisi yang salah. Bisa jadi candle Bearish yang terbentuk di sana hanyalah koreksi singkat, karena berita yang seharusnya berdampak besar, nyatanya tak terlalu berdampak.

 

Cara Trading Dengan Pola Dark Cloud Cover

Meski secara umum kemunculan pola Dark Cloud Cover memberikan sinyal entry Sell, tetapi dalam praktiknya Anda perlu memperhatikan beberapa poin penting. Jangan hanya karena muncul candle Bearish, Anda sudah tergoda untuk memasang entry. Apa sajakah itu?

1. Pastikan market sedang dalam keadaan trending, artinya harga tengah bergerak dalam satu arah secara terus-menerus dalam suatu waktu. Dalam kaitannya dengan pola Dark Cloud Cover, maka tren yang terbentuk seharusnya bullish; harga membentuk rangkaian level-level High yang semakin naik (Higher High). Jika perlu, ubah tampilan chart Anda ke time frame yang lebih besar (H4 atau Daily) agar pergerakan harga semakin jelas.

Memilih Time Frame Trading(Baca Juga: Memilih Time Frame Dalam Analisis Teknikal Forex)

2. Bila perlu, tambahkan indikator teknikal untuk identifikasi tren, seperti Moving Average atau Bollinger Bands. Kedua indikator tersebut dapat menunjukkan kondisi suatu tren berdasarkan posisi candlestick terhadap garis indikator. Apabila tren sedang bullish, maka posisi candlestick berada di atas garis Moving Average atau di atas Middle Band hingga menembus Upper Bands.

3. Lakukan entry hanya jika sudah terbentuk konfirmasi. Dalam hal ini, Anda bisa menunggu candle setelah Dark Cloud Cover tertutup sempurna. Pun, perhatikan perubahan posisi candlestick terhadap indikator Moving Average dan Bollinger Bands sebagai konfirmator tambahan. Bila setelah Dark Cloud Cover muncul candle Bearish, serta posisi harga berada di bawah Moving Average atau di bawah Middle Band hingga menembus Lower Band, maka entry Sell sudah bisa Anda pasang.

4. Jangan lupa untuk selalu memperhatikan level Stop Loss dan Take Profit yang sudah ditetapkan. Hal ini berguna untuk menghindari risiko di luar ekspektasi Anda. Adapun level-level Stop Loss dan Take Profit tersebut bisa ditentukan berdasarkan Risk Reward Ratio yang telah Anda rencanakan dalam sistem trading.

Risk Reward Ratio dalam Forex(Baca Juga: Teknik Memasang Stop Loss Terbaik Dalam Trading Forex)

 

Akhir Kata

Berdasarkan berbagai ulasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pola Dark Cloud Cover bisa menjadi acuan entry Sell dari peluang bearish reversal. Namun untuk menghindari kesalahan asumsi atau perolehan risiko yang terlalu besar, penggunaan konfirmator lain amat disarankan. Anda bisa menunggu candle ketiga terbentuk, atau menggunakan indikator teknikal. Yang jelas, jangan pernah memutuskan open posisi dengan satu sinyal candle saja ya!

 

Bila pola Dark Cloud Cover menunjukkan terjadinya bearish reversal, pola Triple Candle satu ini dapat Anda manfaatkan untuk mengidentifikasi bullish reversal. Simak cara memanfaatkan peluang dari pola candle ini dalam artikel berjudul "Cara Deteksi Bullish Reversal Dengan Pola Unique Three Rivers".

Kirim Komentar/Reply Baru


Tampilan Grafik Beda Timeframe

Apakah tampilan grafik sama yg kita lihat antara di timeframe M1, M5, M15?

Darman Noviandi 22 Apr 2020

Reply:

Kiki R (01 May 2020 12:50)

@Darman Noviandi: Tentunya ada perbedaan. Perbedaan tersebut karena setiap time frame adalah bagian dari time frame yang lain.

Contohnya jika Anda melihat 1 candlestick di time frame M15, maka di grafik M5 Anda melihat 3 candlestick dan 15 candlestick di M1. Dengan demikian, 1-3 candlestick di M15 bisa saja membentuk pola tertentu di M1. Memahami dengan baik bagaimana multi time frame bekerja dalam grafik akan memberikan pengetahuan lebih tentang pergerakan harga secara detail.