Mengenal AMM Kripto dan Cara Kerjanya

Damar Putra 26 Aug 2022
Dibaca Normal 6 Menit
kripto > belajar >   #belajar-kripto
Automated Market Makers (AMM) digadang-gadang menjadi pesaing berat Order Book yang ada pada Centralized Exchange. Lantas, apa itu AMM kripto?
DI

Pada awal kemunculannya, pembelian dan penjualan aset kripto dilakukan menggunakan mekanisme Order Book konvensional seperti pada saham dan aset lainnya. Sistem perdagangan ini lazimnya diterapkan pada Centralized Exchange atau bursa kripto terpusat. Dalam sistem ini, semua pembelian dan penjualan aset kripto sepenuhnya diatur oleh perusahaan exchange terkait.

Namun seiring berjalannya waktu, teknologi di dunia kripto kian maju. Salah satunya ditandai dengan ekosistem Decentralized Finance (DeFi) atau sistem finansial tidak terpusat (terdesentral). Atas dasar inilah kemudian lahir sebuah Decentralized Exchange (DEX) yang mengusung sistem Automated Market Makers (AMM) dan menjadi pesaing Centralized Exchange (CEX).

Lantas yang menjadi pertanyaan, apa itu Automated Market Makers (AMM) kripto? Bagaimana cara kerjanya?

 

Apa Itu AMM Kripto?

Mudahnya, Automated Market Makers atau AMM kripto adalah sebuah mekanisme pasar dalam ekosistem Decentralized Finance (DeFi) yang memanfaatkan algoritma komputer untuk memungkinkan otomatisasi pertukaran aset digital. Sistem AMM kripto ini memanfaatkan Liquidity Pool (kolam likuiditas) terdesentralisasi agar pengguna bisa melakukan transasksi jual beli aset kripto tanpa membutuhkan perantara untuk mengatur transaksi.

AMM Kripto

Contoh pengaplikasian sistem AMM kripto bisa dilihat pada Decentralized Exchange (DEX) yang dibangun di atas berbagai jaringan blockchain dengan kapabilitas Smart Contract seperti Ethereum, BNB, Cardano, dll. Manfaatnya, pengguna bisa melakukan transaksi dengan praktis tanpa perlu membuat akun dan melalui proses KYC. Cukup dengan menghubungkan wallet ke DEX, pengguna sudah langsung bisa melakukan jual dan beli aset kripto.

Sistem AMM ini memudahkan aset kripto untuk diperdagangkan tanpa izin dan secara otomatis menggunakan Liquidity Pool. Dalam hal ini, siapa pun bisa menjadi penyedia likuiditas selama ia memenuhi persyaratan algoritma Automated Market Makers.

 

Bagaimana Cara Kerja AMM Kripto?

Pada dasarnya, Automated Market Makers (AMM) sebenarnya merupakan pengembangan dari CEX pada umumnya. Namun dalam hal ini, sistem AMM kripto yang ada pada DEX akan mengeliminasi pihak ketiga dan menggantikannya dengan algoritma matematika, sehingga semua transaksi dapat berjalan secara otomatis, praktis, serta terdesentral (anonim).

Skema transaksi pada DEX terjadi langsung antar pengguna atau Wallet to Wallet. Misalnya, pengguna akan menjual BNB ke BUSD pada sebuah DEX, sementara di lain sisi ada pengguna lain yang ingin membeli koin BNB dengan sejumlah token BUSD. Transaksi kemudian akan segera diproses oleh platform DEX berdasarkan rumus-rumus yang telah ditanamkan dalam Smart Contract. Sehingga dalam DEX, tidak ditemukan Order Book seperti yang ada pada CEX.

Baca Juga: 7 Platform Decentralized Exchange Terpopuler Saat ini

Uniswap merupakan salah satu platform DEX paling awal dan terpopuler hingga saat ini yang diketahui menggunakan mekanisme Automated Market Makers untuk membangun Liquidity Pool besar. Untuk memahami cara kerja UniSwap, silahkan lihat gambar di bawah ini.

cara kerja UniSwap

 

Mengapa Liquidity Pool dan Liquidity Provider Penting dalam Ekosistem AMM Kripto?

Dalam ekosistem AMM kripto, Liquidity Pool dan Liquidity Provider memegang peranan penting dalam menunjang keberlangsungan DEX. Tanpa dua aspek tersebut, DEX tidak akan bisa berjalan dan digunakan. Mudahnya, Liquidity Pool (kolam likuiditas) adalah kumpulan aset kripto terkunci dalam teknologi Smart Contract yang digunakan untuk memfasilitasi pinjaman ataupun trading kripto pada DEX.

cara AMM kripto bekerja

Aspek lain yang tak kalah penting yaitu Liquidity Provider (LP). Ini merupakan penyetor aset kripto ke Liquidity Pool dan mendapatkan imbal hasil berupa interest (bunga). Interest yang dibayarkan kepada LP pada dasarnya berasal dari biaya transaksi pada DEX. Dalam hal ini, besaran bunga yang didapat oleh LP tentu berbanding lurus dengan jumlah aset kripto yang disetorkan ke Liquidity Pool.

Baca Juga: Yield Farming Vs Staking, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Semua pertukaran terjadi dengan memasukkan dan menarik aset dari kolam likuiditas. Sehingga, semakin banyak aset yang disimpan di dalam kolam, slippage yang terjadi semakin kecil dan mengurangi kerugian bagi pengguna. Slippage sendiri adalah perbedaan antara harga pasar suatu aset dengan harga aset yang didapatkan saat melakukan trading.

 

Apa Kelebihan dan Kekurangan AMM Kripto?

Pada dasarnya, semua sistem memiliki kelebihan dan kekurangan yang wajib diperhatikan oleh pengguna. Meski dianggap inovatif, sistem AMM kripto juga memiliki beberapa kekurangan yang wajib diketahui. Nah, berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan AMM pada platform DEX.

 

Kelebihan

  • Desentralisasi. Tujuan awal dibuatnya cryptocurrency adalah agar pengguna bisa saling bertransaksi secara Peer-to-Peer (P2P) tanpa melalui pihak ketiga dan secara anonim. Hadirnya sistem AMM ini telah mewujudkan impian tersebut sehingga lahirlah Decentralized Exchange (DEX) yang menjembatani pertukaran aset kripto secara terdesentral.
  • Non-Custodial. Pada dasarnya, semua platform DEX bersifat non-custodial yang artinya pengguna masih secara penuh memegang asetnya sendiri serta tidak bergantung pada pihak ketiga untuk menjaga keamanan aset. Dalam ekosistem AMM kripto, semuanya telah diatur dalam Smart Contract. Sementara pada CEX, aset perlu disimpan pada bursa terkait dan ada risiko dana dibekukan bila pengguna melakukan pelanggaran berat.
  • Pilihan aset kripto lebih beragam. DEX biasanya menjadi pilihan utama untuk para developer yang ingin mendaftarkan koin atau token setelah diluncurkan. Proses listing koin atau token kripto pada DEX memang jauh lebih simple dibanding pada platform CEX, sehingga platform DEX memiliki ragam koin yang sangat bervariasi, mulai dari yang terkenal hingga koin-koin micin.

 

Kekurangan

  • Sangat bergantung pada ikuiditas. Bisa dikatakan bahwa nyawa sebuah platform DEX adalah Liquidity Pool dan Liquidity Provider. Jika 2 aspek tersebut lemah, maka akan mengakibatkan platform gagal fungsi dan transaksi tidak bisa diproses.
  • Volume transaksi dan slippage. Platform DEX sangat memerlukan volume transaksi stabil guna menekan tingkat slippage yang tinggi. Trading pada DEX dengan volume transaksi kecil dapat menyebabkan pembengkakan harga pembelian aset dari harga aslinya di pasar.
  • Jenis order yang terbatas. Kelemahan sistem AMM kripto pada platform DEX berikutnya adalah tidak tersedia banyak jenis order. Lain cerita bila bertransaksi di platfrom CEX, pengguna mungkin akan menemukan jauh lebih banyak jenis order seperti Limit Order, Stop Order, OCO, dan fitur-fitur order lainnya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Memakai OCO Order yang Efisien?

 

Daftar Automated Market Maker Terpopuler Saat Ini

Saat ini sudah banyak produk DeFi yang telah mengusung sistem Automated Market Maker. Nah, berikut adalah daftar platform dengan sistem Automated Market Maker terpopuler yang mungkin bisa dijadikan referensi:

  1. UniSwap
  2. Balancer
  3. AAVE
  4. Curve
  5. PancakeSwap

 

Selain DEX, masih ada banyak potensi lain yang mungkin akan terus berkembang dalam dunia DeFi. Salah satunya adalah pilihan token-token berbasis Ethereum dengan kegunaan unik yang bisa sangat berpotensi di masa mendatang. Simak ulasan selengkapnya pada token-token DeFi terbaik sebagai aset investasi

Terkait Lainnya
 

Kirim Komentar Baru