Mengungkap Mitos Di Balik Rasio Profit Loss

Jujun Kurniawan 17 Oct 2019 3956
Dibaca Normal 5 Menit

Anda mungkin telah mendengar banyak mitos soal rasio Profit Loss, tapi tahukah Anda bahwa tidak semua mitos tersebut bisa diaplikasikan pada aktivitas trading rill?



Ketika trading di pasar forex dan pasar lainnya, kita sering diberi tahu tentang strategi Money Management. Dimana strategi tersebut menganjurkan rata-rata keuntungan (profit) harus lebih besar dibanding rata-rata kerugian (loss). Jika dilihat secara teori, memang hal tersebut sangatlah penting dan harus diterapkan dalam trading. Namun, jika di telaah lebih jauh, rasio Profit Loss ini harus disesuaikan dengan kondisi riil saat melakukan trading.

Ada banyak faktor yang menyebabkan Anda harus fleksibel dalam menentukan rasio Profit Loss. Artikel kali ini akan memberikan sebuah rahasia lain yang perlu diperhatikan agar tidak terpaku pada rasio Profit Loss saja. Pelajari faktor-faktor lain yang juga bisa menghapus mitos bahwa rasio Profit Loss adalah kunci utama dalam kesuksesan trading jangka panjang.

 

Apa Itu Rasio Profit Loss

Rasio Profit Loss mengacu pada ukuran rata-rata keuntungan dibandingkan dengan ukuran rata-rata kerugian per trading. Misalnya, jika peluang keuntungan yang diharapkan adalah 900 USD dan peluang kerugian yang dirisikokan adalah 300 USD untuk trading, maka rasio Profit Loss yang anda gunakan adalah 3:1, yaitu 900 USD dibagi dengan 300 USD. Banyak buku trading menganjurkan rasio Profit Loss minimal 2:1 atau 3:1, berarti setiap 200 USD atau 300 USD yang Anda hasilkan per trading, potensi kerugian harus dibatasi pada 100 USD.

Sekilas, kebanyakan orang akan setuju dengan rekomendasi ini. Lagi pula, bukankah potensi kerugian harus dijaga sekecil mungkin dan potensi untung diatur sebesar mungkin? Jawabannya, tidak selalu. Rekomendasi umum ini bisa menyesatkan dan malah menyebabkan kerugian pada akun trading Anda.

Saran utama untuk memiliki rasio Profit Loss minimal 2:1 atau 3:1 per trading adalah ide yang terlalu sederhana karena tidak memperhitungkan realita dari pasar forex. Ada faktor-faktor ekspektasi statistik yang mempengaruhi, antara lain:

  • Profitabilitas rata-rata keuntungan per individu (Average Profitability Per Trade atau APPT)
  • Gaya trading individu, terutama bila suka trading menggunakan Leverage yang tinggi.

rasio profit loss(Baca Juga: Cara Trading Aman Dengan Leverage Yang Tinggi)

 

Pentingnya Rata-Rata Profitabilitas Per trading (APPT)

APPT pada dasarnya mengacu pada jumlah rata-rata yang Anda harapkan untuk menang atau kalah per trading. Kebanyakan orang sangat fokus pada menyeimbangkan rasio untung / rugi mereka atau pada keakuratan strategi trading mereka, sehingga mereka tidak menyadari bahwa ada gambaran yang lebih besar yaitu:



Kinerja trading Anda sangat tergantung pada APPT Anda.

Ini adalah rumus untuk profitabilitas rata-rata per trading:

APPT = (PW × AW) - (PL × AL)

PW = Probabilitas menang

AW = Rata-rata kemenangan

PL = Kemungkinan kehilangan

AL = Kerugian rata-rata

 

Mari kita menjelajahi APPT dari ilustrasi berikut:



Skenario A:

Katakanlah dari 10 trading yang Anda lakukan, Anda menang tiga kali dan Anda menyadari kerugian sebanyak tujuh kali. Probabilitas Anda untuk menang adalah 30%, atau 0.3, sedangkan probabilitas Anda untuk kerugian adalah 70%, atau 0.7. trading kemenangan rata-rata Anda menghasilkan $ 600 dan kerugian rata-rata Anda adalah $ 300 (2:1).

Dalam skenario ini, APPT :

(0.3 x 600 USD)–(0.7 x 300 USD)= -30 USD

Seperti yang Anda lihat, APPT berada pada hasil negatif, yang berarti bahwa untuk setiap trading yang Anda lakukan, Anda kemungkinan akan kehilangan 30 USD.

Meskipun rasio Profit Loss yang diaplikasikan adalah 2:1, strategi trading ini menghasilkan trading yang menang hanya 30% per trading, dan menghilangkan peluang kemenangan dari rasio laba/rugi 2: 1.

Skenario B:

Sekarang mari kita cermati APPT dari strategi trading yang memiliki rasio Profit Loss 1:3, tetapi memiliki lebih banyak trading yang menang daripada yang kalah. Katakanlah dari 10 trading yang Anda lakukan, Anda menghasilkan keuntungan trading sebanyak delapan kali dan rugi sebanyak dua kali.



Dalam skenario ini, APPT:

(0.8 x 100 USD)–(0.2 x 300 USD)= 20 USD

Dalam hal ini, meskipun strategi trading ini memiliki rasio Profit Loss 1:3. Tetapi, menghasilkan APPT yang positif, yang berarti Anda bisa mendapatkan keuntungan dari waktu ke waktu. Sangat penting untuk memahami bahwa nilai keuntungan dalam nominal jauh lebih berpengaruh pada hasil trading secara keseluruhan dibandingkan sekadar rasionya. Anda juga harus terus mengasah kemampuan agar peka pada pasar dan tahu angka profit yang ideal.

exit trading dan rasio profit loss(Baca Juga: Teknik Forex Untuk Menentukan Exit Trade Ideal

 

Banyak Cara Untuk Meraih Profit

Setelah membaca ulasan di atas, kini Anda paham bahwa banyak faktor yang menentukan kesuksesan trading, bukan hanya mengacu pada rasio Profit Loss. Saat trading forex, tidak ada satu acuan Money Manajemen atau strategi trading tertentu untuk semua transaksi. Nasihat konvensional seperti memastikan rasio keuntungan Anda wajib lebih besar dari kerugian Anda per trading, tidak begitu berpengaruh di akun riil jika tidak diimbangi dengan rata-rata keuntungan atau APPT yang positif.

Kalkulator Money Management

Satu lagi hal penting untuk diperhatikan adalah mengenali gaya trading pribadi agar tidak mudah terpengaruh dan mengubah Trading Plan di tengah jalan. Nah, selain terlalu percaya mitos rasio Loss Profit, pelajari juga kesalahan-kesalahan trader pemula paling fatal lainnya ya! 





Forum

Susila (17 Sep 2019)

saya pemula. Untuk membuat stop loss dan take profit yang saya inginkan nggak pernah bisa, mohon bantuannya, terima kasih.

Selengkapnya...


Kirim Komentar/Reply Baru
Memasang SnR di buntut atau body?
Yang valid itu SnR yang dipasang di buntut atau body pak? saya masih bingung. 

Tualeka 10 Apr 2018

Reply:

Basir (11 Apr 2018 07:01)

Untuk Tualeka,

Keduanya bisa dilakukan atau bisa di jadikan acuan untuk Support and Resistance. Untuk yang body candle, biasanya terdapat pada pivot point. Sementara untuk yang ujung / ekor candle sebagai acuan swing high / low.

Cara sederhana  ini  sering digunakan adalah dengan memberi tanda pada level-level high atau low yang baru terbentuk. Jika harga gagal menembus suatu level tertinggi yang baru terbentuk, maka level tersebut adalah swing high dan berlaku sebagai resistance. Sebaliknya, jika harga gagal menembus suatu level terendah yang baru terbentuk, maka level tersebut adalah swing low dan berlaku sebagai support.

Valid tidaknya hal ini tergantung dari kekuatan pasar sendiri. Namun setidaknya, sebagai trader bisa mengetahui gambaran dari level-level psikologis.

Thanks.

Pound Tergelincir, S1 Jadi Batas Penentu
Pound Tergelincir, S1 Jadi Batas Penentu
Kazuki   8 Apr 2021   76  
Sterling Melaju Naik, Akankah R1 Terpenetrasi?
Sterling Melaju Naik, Akankah R1 Terpenetrasi?
Kazuki   5 Apr 2021   61  
Strategi Scalping Dengan Candlestick 1 Menit
Strategi Scalping Dengan Candlestick 1 Menit
Linlindua   31 Mar 2021   382  
Cara Trading Tanpa Indikator Untuk Profit Maksimal
Cara Trading Tanpa Indikator Untuk Profit Maksimal
Linlindua   29 Mar 2021   339  
EUR/USD Berjuang Pulih, S1 Jadi Area Pengujian
EUR/USD Berjuang Pulih, S1 Jadi Area Pengujian
Kazuki   29 Mar 2021   85  
Jenis - Jenis Hedging Yang Wajib Anda Ketahui
Jenis - Jenis Hedging Yang Wajib Anda Ketahui
Linlindua   26 Mar 2021   173  
Pasca Meroket, EUR/NZD Uji Ketangguhan R1
Pasca Meroket, EUR/NZD Uji Ketangguhan R1
Kazuki   24 Mar 2021   100  
EUR/JPY Konsolidasi, Tunggu Aksi Harga Di R1
EUR/JPY Konsolidasi, Tunggu Aksi Harga Di R1
Kazuki   23 Mar 2021   97