Mengupas Korelasi Harga Emas Dan Dolar AS

Nandini 14 Nov 2020 617
Dibaca Normal 5 Menit

Korelasi harga emas dan Dolar AS sering dianggap selalu berlawanan. Apakah benar faktanya demikian? Apa saja faktor yang mempengaruhi hubungan pergerakan emas dan Dolar AS?

Emas merupakan logam mulia yang dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Banyak orang menilai investasi ini memiliki risiko rendah sehingga banyak peminatnya. Umumnya, orang-orang tertarik dengan emas batangan dibandingkan dengan perhiasan sebab dari segi harga jual dan belinya lebih menguntungkan.

Harga emas tidak pernah stabil dari waktu ke waktu. Banyak faktor yang menyebabkan pergerakan naik-turunnya harga emas. Beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga emas adalah nilai tukar USD, produksi emas dunia, permintaan dari industri, jumlah cadangan emas di bank sentral, serta keadaan politik dunia.

Emas Batangan

 

 

Bagi Anda seorang investor emas, pasti sudah paham bahwa ada korelasi antara harga emas dan Dolar AS. Sangat penting untuk mengetahui hubungan keduanya sebelum melakukan investasi emas, sebab hal itu dapat membantu Anda membuat keputusan yang tepat dalam mengambil langkah yang tepat. Lantas, bagaimanakah korelasi antara harga emas dan Dolar AS? Simak penjelasannya berikut.

 

Indeks Harga Emas Dan Dolar AS

Indeks Dolar AS dituliskan dengan kode USDX atau DXY, di mana angka indeks ini mencerminkan dan mengukur kekuatan mata uang Dolar AS terhadap beberapa mata uang utama lainnya, seperti Euro, Yen, Poundsterling, Dolar Kanada, Franc Swiss, dan Krona Swedia. Nilai mata uang Dolar AS dipantau terus-menerus oleh bank sentral dan hampir seluruh pelaku pasar yang terlibat dalam perdagangan global.

Baca juga: 6 Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Mata Uang

Nah, korelasi harga emas dengan Dolar AS ini biasanya diuraikan seperti ini:

Ketika nilai Dolar AS meningkat terhadap nilai mata uang lainnya di seluruh dunia, harga emas cenderung turun dalam Dolar AS. Hal itu disebabkan oleh harga emas yang menjadi lebih mahal dalam mata uang lain, sehingga pembelinya sedikit dan peminatnya menurun.

Sebaliknya, ketika nilai Dolar AS turun, harga emas cenderung naik. Apresiasi harga emas dikarenakan oleh harganya yang lebih murah dalam mata uang lainnya.

Perhatikan gambar berikut ini:

Korelasi Emas dan Dolar AS

Gambar di atas memperlihatkan hubungan antara harga emas dan Dolar AS (melalui pair USD/CHF) di tahun 2000-2011 yang pergerakannya saling berlawanan; harga emas akan turun jika Dolar AS naik, begitupun jika sebaliknya.

 

Pergerakan Dolar AS Terhadap Emas Dipengaruhi Faktor Berikut

Sebelum kita membahas korelasi harga emas dan Dolar AS lebih jauh, alangkah baiknya untuk mengetahui faktor apa saja yang memengaruhi pergerakan nilai tukarnya. Yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kondisi Perekonomian AS

Kondisi pertumbuhan ekonomi AS yang baik akan memberikan dampak positif terhadap nilai Dolar AS, sebaliknya ini akan memberikan dampak negatif bagi harga emas.

  • Tingkat Suku Bunga AS

Sama seperti di atas, apabila tingkat suku bunga AS dikatakan naik oleh bank sentral AS atau The Fed, maka Dolar AS akan dianggap menarik oleh para investor dibandingkan mata uang negara lain, sehingga nilainya pun akan meningkat dan menyebabkan penurunan harga emas. (Baca juga: Pengaruh Suku Bunga Terhadap Perekonomian Suatu Negara)

  • Status Emas Sebagai Safe Haven

Mengingat emas adalah aset investasi yang juga dianggap sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) yang diburu ketika timbul isu-isu global yang mengancam kestabilan ekonomi, maka emas akan cenderung naik di saat yang penuh ketidakpastian tersebut. Namun mengingat Dolar AS sendiri juga bisa berfungsi sebagai safe haven, maka kenaikan emas dalam hal ini bersifat relatif. Pada akhirnya, sentimen pasar akan menjadi katalis yang menentukan dinamika harga emas dan Dolar AS.

 

Hubungan Antara Dolar AS dan Harga Emas

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, korelasi emas dengan dolar AS adalah saling berbalik arah. Tetapi ,korelasi ini sebenarnya ada yang positif dan negatif. Berikut beberapa contoh momen korelasinya.

 

Korelasi Positif

Korelasi Dolar AS dan harga emas dikatakan positif apabila keduanya berjalan beriringan. Memang kebanyakan hubungan keduanya saling berlawanan, tetapi di suatu kondisi tertentu mereka bisa memiliki hubungan yang positif. Artinya, permintaan terhadap Dolar AS dan emas sama-sama meningkat di waktu yang relatif sama.

Gambar di bawah ini memperlihatkan chart korelasi harga emas dan Dolar AS yang seimbang dari pertengahan 1993 hingga awal 1994:

Korelasi Positif Emas Dan Dolar

 

Korelasi Negatif

Alasan kenapa logam mulia seperti emas dan Dolar AS dikatakan berkorelasi negatif adalah ketika standar emas (gold standard) masih dibelakukan pada tahun 1900. Saat itu, nilai suatu mata uang berkaitan erat dengan jumlah emas. Kemudian di tahun 1971, keterkaitan Dolar AS dan emas mulai dilepaskan dan keduanya diukur dari nilai supply dan demand masing-masing.

Korelasi Negatif Emas dan Dolar(Korelasi emas dan Dolar periode 2019-2020)

Hubungan harga emas dan Indeks dolar AS memang terbalik, tetapi hubungan ini tidak sekuat saat standar emas masih diberlakukan.

Meskipun begitu, perbedaan terbalik antara harga emas terhadap dolar AS masih berlaku karena:

  1. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ketika Dolar AS menurun maka akan meningkatkan nilai mata uang asing dari negara lain. Hal ini akan memberikan dampak pada permintaan komoditas menjadi naik, termasuk permintaan untuk emas.
  2. Emas adalah aset investasi alternatif di mana jika mata uang Dolar AS kehilangan nilainya, maka para investor akan mencari perlindungan alternatif melalui emas. Itulah mengapa, emas kerap menawarkan peluang investasi menjanjikan di kala Dolar AS turun.

Korelasi Emas Dan Dolar AS

Demikianlah ulasan mengenai lika-liku korelasi antara harga emas dan Dolar AS. Kita semua sudah paham bukan tentang pengaruh Dolar AS? Jadi, sebaiknya selalu ikuti perkembangan seputar ekonomi AS dan isu-isu fundamental terkini yang bisa mempengaruhi Dolar AS maupun emas. Jangan asal-asalan melakukan investasi, karena alih-alih mendapatkan profit, yang ada malah Anda buntung sendiri. Mari menjadi investor yang smart!

Kirim Komentar/Reply Baru

Forum

Hasan (13 Dec 2020)

Mau tanya suhu, kalo saya modal $10, pake akun micro 1:100 terus saya naik 10 pips berapa kira2 keuntungan saya suhu. Dan ketahanan dana saya berapa? Terimakasih

Selengkapnya

Kemarin 1,686.40
Minggu Lalu 1,721.00
1 Bulan Lalu 1,810.60
2 Bulan Lalu 1,908.25
3 Bulan Lalu 1,867.47
6 Bulan Lalu 1,943.65
Setahun Lalu 1,668.30
Dihajar Loss 4 Hari Berturut-turut, Mesti Bagaimana?

Assalamualaikum..
Mhn pncerahannya p.martin.

Saya trading gold pak dan modal saya $5000 (skrg equity $3300). Saya trader harian, sehingga saya paling banyak hnya membuka 2 posisi sehari klo ada peluang. Jika tidak ada, saya bahkan tidak ada trade sama sekali dlm sehari.

Sya sdh baca2 artikel disini mngenai manajemen resiko, money management, teknik analisa teknikal hingga psikologi trader.

Shingga kini sya sdh punya peraturan trading sndiri dn mencoba untuk disiplin. Bahkan sya sdh mncoba buat jurnal trade pribadi saya.

Saya sdh disipilin mnggunakan analisa teknikal versi saya dipadukan dgn lot sizing, money manajemen dan risk ratio yg saya terapkan.

Saya meresikokan 5% pak dgn SL 3 point untuk setiap open posisi dr analisa saya pak. Jd dgn modal $5000 sya meresikokan $250, dgn perhitungan lot = resiko modal / stoploss ($250/3 = 0.83).

Sehingga ktika saya trade, output yg dihasilkan jika loss saya hanya hilang 5% modal saya, kalau profit saya maximal untung 10% dr modal yg mnurut saya itu sdh cukup (krna saya risk reward 1:2 dan menggunakan trailing stop stiap 1 point sehingga jika TP saya tdk kena saya akan bsedia menerima profit brpapun)

Ketika trade saya profit, saya merasa senang (siapa yg tidak senang?) Lalu ketika trade saya loss saya mrasa bingung. Namun saya coba untuk tetap tenang dn beranggapan bahwa ini bukan hari keberuntungan saya.

Namun akhir2 ini saya dihajar loss selama 4 hari berturut2 pak sehingga saya mulai punya pikiran untuk meninggalkan konsep teknikal saya. Sedangkan yg saya baca disini yg sperti saya itu adalah penyakit para trader, yakni jika profit teori analisanya akan dianggap paling akurat namun jika loss akan cepat2 dibuang teknik tsb lalu cepat untuk mencari yg baru. Namun disisi lain, untuk mnghadapi loss kita hrus tetap tenang dan off-trade trlbh dahulu smpai kita tenang.

Saya jujur punya teknik sendiri dan saya akui teknikal memang tidak selamnya akurat. Tapi apa yg harus saya lakukan jika saya mnghadapi loss berturut2?? Saya takut trade kembali krna saya punya spekulasi jika nanti2 saya akan loss kmbali?? Mohon masukan dan saran untuk memperbaiki sistem saya pak. Terima Kasih..

Wassalam.

Ananda 25 Feb 2016

Reply:

M Singgih (26 Feb 2016 01:13)

@ Ananda:
Kalau sudah mengalami drawdown lebih dari 30% dengan losing streak 4 kali sebaiknya Anda off trade dulu.
Apakah sebelum digunakan untuk trade beneran Anda sudah melakukan backtest pada strategi trading Anda? Kalau sudah berapa persentasi profitnya? Kalau belum, yang harus Anda lakukan menurut sy adalah mem-backtest strategi trading Anda, sekitar 6 bulan hingga setahun kebelakang.
Sistem trading terdiri atas strategi, rencana, dan jurnal trading. Dalam hal ini Anda backtest strategi trading yang biasanya terdiri dari metode trading dan money management yang meliputi risk management, sesuai dengan time frame trading yang Anda gunakan dan besarnya modal Anda ($5,000).

Dari hasil backtest tersebut Anda akan mengetahui winning rate (W%) atau persentase profit dan losing rate (L%) atau persentase loss dari keseluruhan trade backtest tsb. Selain itu juga bisa diketahui besarnya profit rata-rata (Av W) dan besarnya loss rata-rata (Av L) (dalam satuan uang). Dari sini bisa dihitung angka harapan profit = (W% x Av W) - (L% x Av L) (dalam satuan uang). Untuk keterangan lebih lanjut bisa baca: Risk Reward Ratio Dan Harapan Profit

Jika ternyata dari hasil backtest W% lebih kecil dari L%, atau angka harapan profitnya negatif maka Anda bisa memperbaiki metode trading atau money management-nya. Memang hasil backtest yang bagus tidak menjamin akan selalu profit, tetapi kemungkinan profitnya akan lebih besar dari hasil backtest yang kurang bagus.

Tanpa backtest Anda tidak akan mengetahui kualitas strategi trading yang Anda gunakan terhadap pair yang sedang Anda tradingkan. Mungkin kalau ditest pada pair lain hasilnya akan berbeda.

Kalau Anda menggunakan platform Metatrader, untuk bisa melakukan backtest Anda harus membuat EA (Expert Advisor) dari strategi Anda tersebut, yaitu menuliskannya dalam program dengan bahasa MQL4 dan mendownload histori untuk 1 menit di broker-broker yang menyediakan (dulu Alpari ada). Anda juga bisa menggunakan jasa pembuat EA.

Alternatif lain Anda bisa melakukan forward test, jadi tidak usah mem-backtest tetapi mencobanya di akun demo selama beberapa bulan kedepan. Dalam hal ini Anda mesti bersabar untuk tidak trading dulu sampai mengetahui W% dan angka harapan profitnya.
Semoga bisa membantu.

Jacob (29 Feb 2016 14:07)

Risk & reward 1:2 tidak bisa diterapkan untuk day trading, karena jika terlalu kecil pasti SL tersentuh,dan jika terlalu besar TP tidak akan tersentuh.
untuk day trading SL harus lebih besar dari TP,tapi tentu saja winning precentage harus lebih besar dari 80%.

Ananda (03 Mar 2016 10:00)

Apakah memang benar bgitu p.m singgih, kalo risk reward 1:2 tdk bisa d pakai untuk day trading?? Apakah untuk daytrading memang d rekom SL lbh besar dr TP? Klo memang bgitu apakah money management ini dpt diandalkan, sekurangnya untuk bisa profit konsisten?? Apakah tdk besar pasak dr tiang??
Trims p.m singgih...

M Singgih (06 Mar 2016 14:02)

@ Jacob, @ Ananda :
Risk/reward ratio 1:2 atau lebih tinggi bisa diterapkan, tergantung dari kondisi pasar pada saat itu dan analisa kita. Jika kita entry pada saat yang tepat dan menempatkan level stop (SL) dan target (TP) yang logis dan sesuai dengan kondisi pergerakan harga pasar maka probabilitas keberhasilannya akan cukup tinggi. Berikut contoh penerapan risk/reward ratio yang lebih besar dari 1:2 pada day trading di time frame H1 (1 jam):



Dalam hal ini kita entry sell setelah harga menembus support S1 dan indikator parabolic SAR berpindah ke atas bar candlestick, harga menembus kurva supprt ema 55 dan kurva indikator MACD memotong kurva sinyal (warna merah) dan bergerak dibawahnya, serta garis histogram OSMA bergerak dibawah level 0.00.
Level stop loss pada resistance R1 dan target pada support S2.

Jika SL lebih besar dari TP berarti risk lebih besar dari reward atau risk/reward ratio lebih kecil dari 1:1. Kalau ini diterapkan maka dalam jangka panjang hasilnya tidak akan profitable, atau kemungkinan besar akan loss. Strategi trading dengan angka persentasi profit yang tinggi tidak menjamin akan profitable jika risk/reward ratio-nya rendah. Untuk keterangan lebih lanjut bisa baca: Angka Persentasi Profit Yang Bagus  dan Jumlah Posisi Trading Dan Risk/Reward Ratio

Jacob (07 Mar 2016 09:27)

Kondisi pasar seperti yang dicontohkan Pak m singgih tidak terjadi setiap hari,dan untuk day trader saya yakin ingin OP setiap hari.itulah alasan saya kenapa 1:2 tidak bisa digunakan untuk day trader.

M Singgih (10 Mar 2016 23:46)

@ Jacob:
Ya, memang tidak terjadi setiap hari, tetapi kalau Anda tidak merencanakan hanya trading pada satu pasangan mata uang tertentu, Anda bisa melihat pergerakan pasangan mata uang yang lain. Untuk forex rata-rata broker menyediakan sekitar 50 pasangan mata uang termasuk pasangan mata uang cross (cross currency pairs) dan pasangan  mata uang eksotik (exotics currency pairs) yaitu yang diluar mata uang utama.
Menurut saya yang penting usahakan minimal risk/reward ratio 1:1, kalau dari kondisi pasar tidak memungkinkan lebih baik tidak entry.

Drajat Wibowo (06 Oct 2019 20:48)

@Ananda

Gold XAUUSD memang ganas mas. kalau bisa cari pair lain aja, pergerakan di emas bisa ratusan pips permenit, kalau gak mahir lebih baik cari yg lebih rendah aja. XAUUSD ini punya ciri khas, sangat dipengaruhi berita fundamental, kalau mau main di XAUUSD rajin-rajin baca berita ekonomi USA, enaknya di XAUUSD ini ketika rilis berita ekonomi, profit kayak minum air derasnya.

Mas Ananda off aja dulu, kembali evaluasi sistem trading. Mas modal itu duit, jangan trading untuk kalah. kalau mas gak evaluasi diri lebih baik mas keluarkan saja sisanya sumbangkan ke panti asuhan pasti banyak yg berterima kasih daripada dipaksakan entry tapi loss.

Mas ingat pasal 1 hukum trading forex bahwa Trader tidak boleh punya opini, jika trader punya opini maka sulit keluar dari opininya. Begitu juga dengan indikator, jika indikator berikan sinyal buy dan sell yg salah, maka buang indikator itu jangan pertahankan opini. Master boleh dan wajib punya opini, tapi trader dilarang punya opini.

Menurut saya, Mas tidak belajar ciri khas XAUUSD, mas tidak kuasai berita fundamental dan arah trend. Kesalahan kedua, khusus untuk XAUUSD analisa teknikal akan sangat mudah dihancurkan berita fundamental. Indikator itu mungkin sudah benar, tapi tanpa indikator untuk melihat arah trend maka harga akan sulit diprediksi. Kesalahan ketiga, belajarlah pasang stop loss, khusus untuk XAUUSD pasang sekitar 150 pips. Kesalahan keempat, jika sudah loss sekali di XAUUSD jangan entry lagi hari itu, karena XAUUSD punya ciri khas yg unik ketika chartnya berantakan maka sepanjang hari chart itu juga akan berantakan tidak bisa diprediksi, kadang keatas kadang kebawah dan sangat liar, hati-hati lebih baik tutup laptop cari kesibukan lain.

Kesalahan kelima, chart XAUUSD ini punya pola waktu, ada jam-jam XAUUSD ini sangat tinggi pergerakkannya, lihat aja hasil trading 1 atau 2 hari sebelumnya, kemudian lihat di jam berapa XAUUSD ini cocok untuk entry, setau saya jam 2 siang sampai jam 5 sore waktu yg paling enak entry, pelajari ciri khas pair XAUUSD ini, analisa dan entry yg tepat. Salam Cuan.

Febrian Surya 932
Sistem 1705
Emas 
Sistem 7836
Febrian Surya 699
Emas