Perbedaan Token Vs Koin Kripto Yang Wajib Anda Ketahui


Linlindua 30 Jun 2021 34Dibaca Normal 8 Menit

Topik mengenai perbedaan token vs koin kripto seringkali membingungkan para pemula yang baru terjun ke dunia kripto. Yuk, kenali perbedaan kedua aset digital tersebut dengan lebih jelas melalui artikel berikut ini.



Kepopuleran mata uang kripto mendadak melambung di tengah pandemi virus Corona, terlebih setelah Elon Musk ikut campur tangan dengan cuitannya di media sosial baru-baru ini. Lantas, orang-orang pun mulai berbondong-bondong mencari informasi terkait kripto.

perbedaan token vs koin kripto(Baca Juga: Apa Itu Mata Uang Kripto?)

Saat riset, apakah Anda sering menjumpai istilah token atau koin kripto? Perbedaan token vs koin kripto seringkali membingungkan para pemula yang baru saja terjun di dunia uang kripto. Tak jarang, trader bahkan masih dibuat bingung tentang perbedaan keduanya.

Kebingungan ini muncul ketika seseorang menggunakan "koin" untuk merujuk pada mata uang kripto, sementara orang lain menyebutnya sebagai "token".

Begitu pun sebaliknya, ada yang menyebut "token" pada apa yang orang lain sebut sebagai "koin". Hal tersebut menyebabkan banyak orang menganggap "token" dan "koin" itu sama saja, padahal tidak.

Agar tidak keliru lagi, melalui artikel kali ini Anda akan menemukan penjelasan mengenai apa itu token, koin kripto, tujuan dan fungsinya, serta masing-masing contohnya.

 

Apa Itu Token?

Token adalah sebuah aset digital yang diterbitkan oleh suatu project sebagai alat pembayaran dalam lingkup project tersebut. Selain alat pembayaran, token juga bertugas selaku aset digital: merepresentasikan saham/kepemilikan perusahaan (security token), memberikan akses ke suatu fungsi dalam project, dan berbagai kegunaan lainnya.

Tiket konser adalah contoh token di kehidupan nyata yang bisa Anda gunakan hanya di waktu dan tempat tertentu. Untuk membayar biaya makan di restoran, tiket konser tersebut tidak berlaku. Tiket konser hanya bernilai di lokasi konser.



Hal yang sama berlaku pada token digital. Keberadan token digunakan pada suatu project saja. Contohnya, TEN berguna untuk mendapatkan diskon trading fee di exchanger Tokenomy.com. Sementara di Indodax (masih satu ekosistem dengan Tokenomy), TEN bisa digunakan untuk Community Coin Voting (CCV).

Baca Juga: Cara Trading Bitcoin di Indodax dan Kiat Suksesnya

Kasus lain bisa kita lihat pada VEX. Terkait dengan fungsinya, token VEX di situs Vexgift.com berguna untuk mendapatkan voucher belanja di aplikasi blockchain Vexanium. Sementara, Vexanium berbentuk koin dapat dipergunakan mengakses dan bertransaksi di platform D-App milik Vexanium.

Ada juga platform lain, NEO misalnya, menggunakan token bernama NEP-5. Selain itu, masih ada token dari platform lain sejenis Waves, Lisk, dan Stratis.

token kripto

Membuat token jauh lebih mudah karena tidak harus merumus kode-kode blockchain ataupun memodifikasi blockchain yang sudah ada. Anda tinggal pakai template dari platform yang ada seperti Ethereum. Bila Anda mengunjungi halaman All Token di Coinmarketcap, di sana akan terpampang urutan token teratas serta informasi token yang "menumpang" di platform koin lainnya.

 

Apa Itu Koin Kripto?

Teknologi blockchain memungkinkan setiap transaksi koin dilakukan dari satu orang ke orang lain tanpa ada koin fisik yang ditukarkan. Nantinya, semua transaksi koin akan tercatat di database (blockchain), diperiksa, dan diverifikasi oleh komputer seluruh dunia.

Perbedaan mendasar antara token vs koin kripto ialah koin mempunyai blockchain sendiri atau kerap disebut "membangun mainnetnya sendiri". Jika Anda perhatikan 100 koin teratas di Coinmarketcap, mereka tidak memiliki kolom "platform" karena koin-koin tersebut berperan sebagai platform bagi token yang ada.

Dikatakan di atas, koin mampu membangun mainnet sendiri dengan cara membuat blockchain. Tetapi, ada metode lain membangun mainnet bernama altcoin, lho. Altcoin ialah alternatif dari Bitcoin yang mayoritas dibangun menggunakan kode open source dari modifikasi Bitcoin, sehingga menghasilkan koin baru dengan fitur berbeda.

Proses tersebut dinamakan hard fork. Contoh varian Bitcoin hasil hard fork adalah Auroracoin, Litecoin, Dogecoin, dan lain-lain.

Baca juga: 10 Jenis Mata Uang Kripto Paling Populer Selain Bitcoin

Selain itu, bisa juga dengan membuat blockchain sendiri yang bukan termasuk turunan dari kode open source Bitcoin. Omni, NEO, Ripple, Waves diciptakan oleh blockchain baru dan bukan hard fork platform.

 

Tujuan Dan Fungsi Token Vs Koin Kripto

Aset digital paling populer berbasis blockchain adalah token dan koin kripto. Perbedaan mendasar dari keduanya bisa kita lihat dari sisi tujuan serta fungsinya. Jika baru mengenal dunia kripto, pengetahuan tentang jenis, fitur, manfaat, bahkan tujuan pembuatan token vs koin kripto dapat membantu Anda memahami lebih jelas perbedaan keduanya.

 

1. Token Kripto

Sebelumnya sudah disinggung bahwa pembuatan token kripto tidak sesulit koin kripto karena hanya membutuhkan sedikit sekali kemampuan teknis. Meski demikian, aktivitas ini cukup membingungkan bagi pemula.

Namun, jika Anda berpengalaman dalam pemrograman, proses pembuatan token tidak memerlukan waktu lama, kok. Pada dasarnya, pembuatan token memang butuh pengembang dan menghabiskan beberapa koin ke blockchain. Sebagai contoh, apabila berencana membuat token di Ethereum, maka Anda harus rela mengeluarkan beberapa Ether untuk mendapatkan penambang jaringan guna memvalidasi transaksi token (membuat token).

Baca juga: Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?

Perlu diketahui juga bahwa Anda harus mengeluarkan biaya untuk membayar seluruh transaksi token melalui blockchain, termasuk biaya pembuatan token. Mulai dari membangun aplikasi di platform Ethereum hingga membayar pengaman jaringan pun Anda harus menggunakan koin Ether.

token ethereum

Sebagian besar token dibuat dengan D-Apps. Artinya, ketika pengembang membuat token, mereka bisa memutuskan berapa banyak unit yang ingin dibuat dan merencanakan ke mana token tersebut akan dikirim. Tetapi, di kebanyakan kasus, token mempunyai fungsi tambahan daripada sekedar medium pembayaran.

Menurut regulator keuangan Swiss FINMA, ada empat jenis token, yaitu token utilitas, token pembayaran, token keamanan, dan token ekuitas. Lebih jelasnya, mari cermati pengertiannya berikut:

  • Token Utilitas:Disebut juga sebagai token aplikas, token ini berfungsi memberikan akses ke produk atau layanan tertentu. Namun, jumlah token ini terbatas sehingga nilainya sangat tinggi.
  • Token Pembayaran: Sesuai namanya, token ini dipergunakan untuk membayar barang dan jasa.
  • Token Keamanan: Orang-orang yang membeli token keamanan berinvestasi di ICO agar mendapatkan keuntungan. Bahkan, hukum Swiss memperlakukan token ini seperti surat berharga tradisional.
  • Token Ekuitas: Berfungsi mewakili beberapa saham atau ekuitas di perusahaan yang menerbitkannya.

Setelah token berhasil dibuat, maka token akan sering digunakan untuk mengaktifkan fitur aplikasi yang dirancang untuknya. Sebagai contoh, Musicoin merupakan token untuk mengakses berbagai fitur platform Musicoin seperti menonton video musik atau streaming lagu. Dalam hal ini, Musicoin termasuk token utilitas karena berfungsi untuk mendapatkan akses ke bagian tertentu dari suatu project, seperti mengakses layanan atau produk tertentu.

Binance (bursa kripto) juga memiliki token sendiri, di mana pengguna yang bertransaksi dengan BNB (Binance token) bisa mendapatkan diskon fee 50%. Ada pula token yang dibuat untuk mewakili pembayaran fisik yaitu WePower (WPR). Proyek WPR seperti D-Apps memungkinkan pengguna membeli dan menjual listrik di blockchain karena token ini mewakili sejumlah energi.

 

2. Koin Kripto

Pada dasarnya, koin kripto berperan seperti uang atau alat tukar. Beberapa contohnya dapat dilihat pada Bitcoin, Litecoin, dan Monero. Anda bisa membayangkan koin tersebut seperti uang di dompet atau celengan yang memiliki manfaat-manfaat seperti:

  • Transfer uang (memberi dan menerima nilai menggunakan koin).
  • Penyimpan nilai (disimpan dan ditukarkan dengan sesuatu yang bermanfaat).
  • Unit akun (memberi harga barang atau jasa di dalamnya).

Dalam ekosistem kripto, koin memungkinkan pengguna melakukan transfer pembayaran dan tempat penyimpanan. Oleh sebab itu, harga koin kripto terbilang sangat volatile. Berikut fakta-fakta tambahan mengenai koin kripto yang perlu Anda ketahui:

  • Koin kripto seperti BTC bisa digunakan untuk membayar barang maupun jasa di seluruh internet dan banyak tempat di dunia nyata.
  • Selain itu, Anda bisa menyimpan koin kripto dalam jangka waktu lama atau menukarnya dengan sesuatu yang senilai.
  • Barang yang Anda beli juga bisa dihargai dalam koin.

Fungsi BTC tidak bisa digunakan selain keperluan moneter. Artinya, koin ini tidak mampu dipertaruhkan untuk mendapatkan lebih banyak BTC maupun mengoperasikan aplikasi tertentu. Koin kripto BTC hanya memiliki satu fungsi sebagai alat tukar.

Baca juga: Tempat Belanja dengan Bitcoin di Indonesia

Namun dengan semakin berkembangnya waktu, beberapa koin digital kini mulai bermunculan dengan lebih banyak fitur daripada sekedar mata uang. Beberapa diantaranya adalah:

  • Ether (ETH): Berfungsi untuk memicu transaksi di jaringan Ethereum.
  • NEO (NEO): Koin ini tersimpan dalam dompet untuk mendapatkan dividen atau dikenal sebagai GAS. Token bisa dibangun di atas jaringan NEO, seperti halnya Ethereum. Saat mengirim token di jaringan ini, maka Anda harus membayar GAS sebagai biaya transaksi, seperti Ether untuk membayar biaya Ethereum.
  • Dash (DASH): Memungkinkan pengguna memberikan suara terkait keputusan penting bagi jaringan DASH. Apabila mereka mengantongi DASH dan ingin menyumbangkan ide untuk meningkatkan jaringan, maka mereka bisa ikut memberikan suara untuk memutuskan apakah peningkatan bisa terjadi atau tidak.

Tidak semua koin memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Anda bisa menyimak berbagai contohnya di Daftar Koin Kripto Terbaik Berdasarkan Market Cap. Beberapa koin kripto terpopuler yang perlu Anda ketahui contohnya Bitcoin (BTC), Bitcoin Cash (BCH), Litecoin (LTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP), Cardano (ADA), Stellar (XLM), NEO (NEO), NEM (XEM), dan Monero (XMR).

Inisial tiga atau empat huruf di setiap aset digital di atas disebut ticker. Sebagian besar transaksi pertukaran koin dan token selalu mengacu pada ticker, bukan nama lengkapnya.

kesimpulan token vs koin kripto

Sekarang, Anda sudah tidak bingung lagi kan tentang perbedaan token vs koin kripto? Memahami perbedaan keduanya adalah hal penting apabila Anda berniat investasi kripto. Meskipun istilah token maupun koin sering digunakan secara bergantian, mereka merujuk pada dua konsep yang berbeda dalam ekosistem kripto.

BANKKPRRitel
Bank Amar Indonesia 13.00% 11.00%
Bank Artha Graha Internasional 10.90% 10.40%
Bank Artos Indonesia 30.23% 30.23%
Bank Bisnis Internasional 8.78% 12.35%
Bank Bukopin 9.31% 9.20%
Bank Bumi Arta 9.98% 10.55%
Bank Capital Indonesia 13.30% 13.30%
Bank China Construction Bank Indonesia 9.89% 9.89%
Bank Cimb Niaga 9.55% 10.10%
Bank Commonwealth 10.75% 10.75%

Kirim Komentar/Reply Baru
Apa Itu FUD di Pasar Kripto dan Contoh Kasusnya
Apa Itu FUD di Pasar Kripto dan Contoh Kasusnya
Linlindua   31 Jul 2021   9  
Cara Trading CFD Kripto
Cara Trading CFD Kripto
Nandini   30 Jul 2021   10  
5 Kasus Penipuan Kripto Terbesar
5 Kasus Penipuan Kripto Terbesar
Nandini   27 Jul 2021   14  
7 Tips Ampuh Hindari FOMO untuk Trader Kripto
7 Tips Ampuh Hindari FOMO untuk Trader Kripto
Linlindua   26 Jul 2021   19  
Mengenal Stablecoin dan Perannya di Pasar Kripto
Mengenal Stablecoin dan Perannya di Pasar Kripto
Nandini   25 Jul 2021   8  
5 Cara Investasi Ethereum (ETH) Di Tahun 2021
5 Cara Investasi Ethereum (ETH) Di Tahun 2021
Nandini   23 Jul 2021   15  
Cara Staking Coin Untuk Pemula
Cara Staking Coin Untuk Pemula
Cahyaning   16 Jul 2021   25  
Teknik Trading Kripto dengan Price Action
Teknik Trading Kripto dengan Price Action
Nandini   28 Jun 2021   47  
Teknik Trading Kripto Apa Saja yang Menguntungkan?
Teknik Trading Kripto Apa Saja yang Menguntungkan?
Linlindua   15 Jun 2021   76