Seluk Beluk Peluncuran Ethereum 2.0

Damar Putra 29 Apr 2022
Dibaca Normal 7 Menit
kripto > platform >   #ethereum
Sebagai Investor kripto, ada banyak informasi penting di balik agenda peluncuran Ethereum 2.0 yang wajib untuk diketahui. Apa saja itu?

Ethereum mungkin menjadi salah satu topik yang sedang ramai diperbincangkan oleh para penggemar kripto belakangan ini. Apalagi, banyak media yang mulai memberitakan bahwa peluncuran Ethereum 2.0 akan segera terealisasi dalam waktu dekat.

Pada dasarnya, tujuan awal didirikannya Ethereum adalah sebagai platform kriptografi terbuka dan terdesentralisasi untuk para developer menjalankan smart contract d apps (decentralized applications). Namun seiring meningkatnya popularitas Ethereum, hal tersebut menimbulkan masalah-masalah baru seperti lambannya throughput akibat lalu lintas jaringan yang padat dan melonjaknya biaya gas.

Ethereum 2.0

Alasan-alasan tersebut melatarbelakangi Vitalk Buterin dan tim pengembang Ethereum untuk merancang pembaruan ke Ethereum 2.0. Lantas, apa yang akan terjadi setelah Ethereum 2.0 diluncurkan? Bagaimana nasib koin Ether (ETH) yang beredar saat ini?

 

Apa Itu Ethereum 2.0

Ethereum 2.0, juga dikenal sebagai ETH2 atau "Serenity", merupakan versi Ethereum terbaru yang telah menerima berbagai pembaruan untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas jaringan. Tujuan utama update ini adalah agar Ethereum mampu memproses lebih banyak transaksi dan mengurangi kemacetan dalam jaringan.

Baca Juga: Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?

 

Sejarah Pengembangan Ethereum

Pada awal diluncurkan di tahun 2015, developer Ethereum telah menyiapkan 4 tahap pengembangan jangka panjang. Deskripsi detail untuk setiap tahap dimasukkan dalam EIP (Ethereum Improvement Proposals) yang kemudian diajukan dan disetujui oleh komunitas Ethereum.

Dalam setiap proposal, terdapat aturan main yang perlu diikuti oleh para klien dan pengembang Ethereum:

  1. Frontier. Tahap ini merupakan versi pertama yang diluncurkan pada tahun 2015, di mana para pengguna dan developer dapat melakukan mining koin Ether (ETH), menguji coba platform, dan membangun d apps.
  2. Homestead. Tahap ini diluncurkan pada bulan Maret 2016 dan membawa banyak pembaruan yang akan menjadi dasar untuk proses upgrade di masa mendatang.
  3. Metropolis. Tahap ini dibagi lagi menjadi 2 tahap yaitu Byzantium dan Constantinople. Byzantium diluncurkan pada bulan Oktober 2017 yang membuat jaringan lebih ringan, lebih cepat, lebih aman, dan tingkat privasi lebih baik dari versi sebelumnya. Sedangkan Constantinople diluncurkan pada bulan Februari 2019 untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada semua pembaruan yang dilakukan pada tahapan Byzantium.
  4. Serenity atau Ethereum 2.0. Tahap pembaruan yang paling dinantikan, karena digadang-gadang dapat meningkatkan semua aspek dalam jaringan Ethereum.

Baca juga: 5 Cara Investasi Ethereum (ETH)

 

Fase-Fase Peluncuran Ethereum 2.0

Saat ini, Ethereum sudah memasuki tahap pengembangan Serenity atau Ethereum 2.0 yang akan diluncurkan dalam 4 fase dari tahun 2020-2022. Tahapan ini sangat penting karena diharapkan mampu menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh Ethereum 1.0. Secara ringkas, berikut adalah fase-fase peluncuran Ethereum yang perlu diketahui pemula.

 

Fase 0: Beacon Chain

Pada fase ini, Developer Ethereum merilis Beacon Chain untuk mempersiapkan implementasi PoW ke PoS di masa mendatang. Meski belum digunakan sepenuhnya, namun pengguna sudah bisa melakukan staking Ethereum 2.0 pada tahapan ini. Proses mining dengan konsensus PoW akan dibuat lebih sulit, dengan harapan para miner akan berpindah ke konsensus PoS. Fase ini telah diimplementasikan sejak bulan November 2020.

 

Fase 1 - Sharding Chain

Pada Ethereum 1.0, salah satu kelemahan terbesarnya adalah throughput yang lamban akibat padatnya lalu lintas jaringan. Hal ini terjadi karena Ethereum 1.0 menjalankan jaringan hanya dalam 1 chain besar. Sehingga, fokus utama pada fase Sharding Chain adalah mencoba membagi chain ethereum menjadi 64 chain yang terhubung secara paralel.

Ethereum Sharding Chain

Masing-masing chain bisa memiliki data tersendiri yang diversifikasi oleh induk chain. Solusi ini ditawarkan untuk mengatasi masalah skabilitas. Fase Sharding Chain ini sudah dijalankan sejak tahun 2021 silam.

 

Fase 1.5 - The Merge

Fase ini merupakan proses penggabungan atau peleburan Ethereum 1.0 dan Ethereum 2.0, di mana Ethereum 1.0 akan mengisi Sharding Chain dari Ethereum 2.0. Para HODLer koin Ether tidak perlu melakukan apapun karena semuanya akan ditangani oleh tim developer Ethereum.

Baca juga: Cara Tepat HODL Kripto yang Perlu Kamu Tahu

 

Fase 2 – Eksekusi dan eWASM

Solusi ini dihadirkan untuk mengatasi masalah kecepatan yang timbul pada EVM. Penggunaan eWASM akan mampu meningkatkan kecepatan dan proses kerja EVM. Pada saat yang bersamaan, hal ini juga meningkatkan keamanan serta kapabilitas dari EVM itu sendiri.

Pada fase ini, fokus utama developer cenderung ke arah optimasi jaringan yang sudah berjalan, seperti Stateless Verification, Advanceed Cryptography, upgrade EVM, dll. Setelah fase ini, besar kemungkinan ada fase-fase lanjutan lainnya. Namun untuk saat ini, fase-fase selanjutnya belum didefinisikan dengan jelas oleh pihak developer Ethereum.

Baca Juga: Apa Itu Ethereum Killer?

 

Apakah Ethereum 2.0 Lebih Baik Daripada Ethereum 1.0?

Jawaban singkatnya adalah "ya, Ethereum 2.0 jauh lebih baik dibandingkan Ethereum 1.0". Hal ini dikarenakan Ethereum 2.0 sudah mendapatkan banyak pembaruan yang membuat performanya jauh lebih baik. Sebagai perbandingan, jaringan Ethereum 1.0 hanya mampu mendukung sekitar 30 transaksi per detik yang terbukti mengakibatkan kemacetan jaringan. Sebaliknya, jaringan Ethereum 2.0 mampu memproses transaksi hingga 100 transaksi per detik setelah mendapatkan pembaruan di fase Sharding Chain.

ethereum vs ethereum 2.0

Selain itu, Ethereum 1.0 masih menggunakan konsensus kerja PoW yang dianggap kurang efisien dan kurang ramah terhadap lingkungan. Ethereum 2.0 sendiri sudah beralih ke konsensus kerja PoS yang membuatnya lebih efisien dan tidak membutuhkan daya terlalu besar untuk menjalankannya, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Namun sisi buruknya, Ethereum 2.0 berisiko mengalami masalah keamanan. Hal ini karena jaringan PoS hanya memiliki sekumpulan kecil validator yang membuat sistem lebih terpusat sehingga menurunkan keamanan jaringan. Sementara itu, jaringan PoW memiliki setidaknya 16,384 validator yang membuatnya sangat terdesentralisasi dan jauh lebih aman.

Baca Juga: Apakah Proof of Authority Lebih Baik Dari PoS dan PoW?

 

Kapan Ethereum 2.0 Akan Dirilis?

Untuk hal ini belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, Ethereum 2.0 baru akan dirilis setelah fase 1.5 (The Merge) sudah terselesaikan. Beberapa media menyebutkan bahwa fase tersebut akan mulai aktif dijalankan pada Juni 2022. Namun, anggota tim developer Ethereum Tim Beiko membantahnya. Ia mengatakan bahwa fase The Merge tidak akan terjadi tepat di bulan Juni, tapi beberapa bulan setelahnya dan belum ada tanggal pastinya.

Hal tersebut juga diperjelas oleh insinyur Ethereum DevOps, Jayathi Parathi. Ia mengungkapkan dalam cuitannya di Twitter bahwa The Merge Ethereum akan kembali tertunda. Pasalnya, ada bug sistem yang ditemukan sehingga masih pengujian lebih lanjut masih dibutuhkan.

 

Apakah Biaya Gas (Gas Fee) Ethereum Akan Berkurang?

Selain kecepatan transaksi yang lamban, masalah terbesar Ethereum adalah seputar biaya gas (Gas Fee) yang mahal di setiap transaksi. Peluncuran Ethereum 2.0 dengan konsensus PoS diharapkan membawa banyak perubahan, salah satunya adalah masalah Gas Fee yang mahal.

Menurut lansiran dari Yahoo Finance, kemacetan jaringan adalah salah satu alasan utama penyebab melonjaknya biaya gas Ethereum. Pembaruan pada fase Sharding akan membuat banyak peningkatan transaksi per detik, sehingga hal ini menjadi kabar yang cukup baik. Secara tidak langsung, tidak adanya kemacetan jaringan akan mengurangi biaya transaksi.

 

Apa Dampak untuk Para Miner Ethereum?

Rilis Ethereum 2.0 merupakan kabar buruk untuk para miner. Perlu diketahui bahwa mining hanya dapat dilakukan pada Ethereum 1.0 yang masih menggunakan konsensus PoW untuk proses validasi transaksi Ether (ETH). Karena Ethereum 2.0 sudah beralih ke konsensus PoS untuk proses validasi, maka koin Ether (ETH) tidak lagi bisa di-mining.

Akibatnya, banyak para miner mulai menjual rig mining dan ada juga beberapa miner mensiasati hal ini dengan mencoba menambang koin lain yang masih menggunakan konsensus PoW seperti Ethereum Classic (ETC), Litecoin (LTC), Bitcoin Cash (BCH), Monero (XMR), dll.

 

Itulah tadi seluk beluk di balik agenda peluncuran Ethereum 2.0. Perlu diketahui, Ethereum memang memiliki banyak fitur canggih yang bisa digunakan developer untuk membangun berbagai proyek. Beberapa contohnya bisa disimak di proyek terpopuler yang dibangun di atas jaringan Ethereum

Terkait Lainnya
 

Komentar @inbizia

Wah luar biasa banget teknologi dari Ethereum, bukan hanya sekedar membangun blockchain saja tapi banyaj sekali fitur-fitur didalam yang mendukung ekosistem dari ETH. Kurasa kedapan pun ETH akan terus bertahan dan aku berharap nilai ETH bisa stabil meski ga semahal bitcoin. Setelah smart contract dan marketplace NFT nya ETH, sekarang juga meluncurkan EtherScan yang sangat berguna banget sebagai alat analisa transaksi yang telah ada. Dengan banyaknya fitur yang ada tidak bakalan tifak mungkin ETH bakal kuasain crypto dengan pengguna yang bakalan meledak.
 Josh W |  21 Nov 2022
Halaman: Cara Menggunakan Etherscan Untuk Menganalisa Kripto
Intinya biaya gas adalah biaya admin yang harus dibayarkan kepada penyedia jasa kripto untuk menutupi biaya seperti listrik, biaya kompensasi miner, biaya pengembangan aplikasinya kripto juga sehingga keamanan tetap terupdate. Untuk mengurangi biaya tersebut maka pihak Ethereum mengembangkan teknologi yang lebih canggih yang tidak perlu sumber daya yang besar seperti sekarang. Selain itu hindarin orang yang ga bertanggung jawab, jadi dengan adanya pembayaran maka orang tersebut tidak akan sembarang nge-spam.
 Leo Yang |  21 Nov 2022
Halaman: Mengenal Gas Fee Dalam Transaksi Kripto Apa Fungsinya
Pak @Leo Yang, apakah maksudnya penyedia jasa kripto itu exchange? kalo iya, berarti biaya gas ditentukan oleh penyedia jasa kripto dong? Terus, teknologi canggih yang dikembangkan oleh Ethereum itu apaan pak? Nah terus, ini kan sekarang Ethereum udah gak PoW tuh, berarti udah gak ada miner ya?
 Lintang |  21 Nov 2022
Halaman: Mengenal Gas Fee Dalam Transaksi Kripto Apa Fungsinya
Halo @Lintang, penyedia jasa kripto bukan hanya exchange saja tetapi yang menerima pembayaran Ethereum karena dalam konteks artikel ini lebih membahas tentang biaya gas Ethereum diimana sudah dijelaskan di kalimat awal bahwa Ethereum mendominasi sektor NFT terutama di OpenSea yang merupakan marketplace NFT yang terkenal. Biaya gas fee sangat ditentukan berdasarkan proses minting itu sendiri. Semakin cepat seorang ingin minting maka biaya juga semakin tinggi atau ketika proses minting padat dimana banyak yang melakukan minting, maka prosesnya perlu sumber daya yang besar. Jadi penentuan biaya gas memang ditentukan oleh penyedia jasa tetapi dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti :kompleks atau tidaknya NFT, seberapa padat lalu lintas transaksi, dan harga aset kripto. Teknologi canggih yang menurut saya canggih ya adalah Ethereum 2.0, juga dikenal sebagai ETH2 atau “Serenity”, adalah peningkatan blockchain Ethereum. Peningkatan ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas jaringan Ethereum sehingga dapat memproses lebih banyak transaksi dan mengurangi kemacetan. Dimana faktor mendasar biaya gas fee berdasarkan itu juga, kalau teratasi maka biaya menjadi lebih rendah. Sistem ini juga mengubah PoW dimana metode mining yang tentunya membutuhkan daya yang sangat besar agar mendapatkan reward berupa ETH menjadi PoS dengan sistem stake dimana penambang menggunakan coin yang sudah ada sebagai jaminan taruhan untuk menghasilkan coin ETH. Jadi miner bukannya benar-benar akan dihilangkan tetapi bergeser maknanya. Proof of Stake adalah konsep dalam investasi aset kripto di mana Anda sebagai pengguna dapat menambang atau memvalidasi transaksi sesuai jumlah koin yang Anda pegang. Artinya, semakin banyak koin yang Anda miliki, maka semakin besar pula kekuatan penambangannya. Metode ini dibuat dengan tujuan mencegah pengguna agar tidak bisa mencetak koin tambahan yang tidak mereka hasilkan. Tidak seperti PoW, PoS dalam hal ini orangnya disebut validator tidak perlu menggunakan daya komputasi dalam jumlah besar Alih-alih menambang blok baru, sistem ini mengharuskan pengguna untuk menunjukkan kepemilikan sejumlah aset kripto. Di sini, penambang disebut sebagai validator. Mereka akan mempertaruhkan coin-nya untuk berpartisipasi dalam verifikasi transaksi. Coin tersebut kemudian akan dijadikan sebagai jaminan selama pengguna masih menjadi validator. Ketika berhasil terverfikasi maka Secara sederhana, dalam hal untuk memvalidasi suatu bukti agar mendapatkan reward, PoW menggunakan daya listrik dan daya komputasi yang besar agar mendapatkan ETH sedangkan PoS menggunakan Coin dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan reward coin. Imbasnya, Gas Fee tentunya akan lebih murah
 Leo Yang |  21 Nov 2022
Halaman: Mengenal Gas Fee Dalam Transaksi Kripto Apa Fungsinya
Seperti yang artikel tulis bahwa Shiba Inu (SHIB) ini beroperasi di jaringan Ethereum dan dapat dikaitkan dengan smart contract untuk menciptakan produk-produk DeFi (Decentralized Finance). Dalam arti kata SHIB terikat dengan Ethereum. Sedangkan doge coin dibangun diatas jaringan blockchain tersendiri yaitu Blockchain Dogecoin yang pada awalnya dibuat hanya untuk mengolok-ngolok orang yang bersedia menukarkan uang dengan kripto. Shiba Inu memiliki proyek awal yang lebih jelas dimana proyek tersebut adalah pengujian daya tahan Shiba Inu apakah bertahan tanpa tim pusat (desentralisasi), tanpa adanya pendanaan dan tanpa kepemimpinan langung. Dari sini juga sudah jelas untuk saya proyek Shiba sudah terarah yaitu menuju token yang terdesetralisasi yang berkembang menjadi satu ekosistem yang dinamis. Proyek selanjutnya akan mengembangkan game yang tentunya menggunakan SHIB sebagai pembayaran. Bagi sya proyek ini bertujuan untuk menambah kegunaan SHIB selain untuk alat pembayaran dan alat investasi, dapat digunakan juga dalam game yang mereka luncurkan dan apabila berhasil saya rasa SHIB akan merambah ke game lainnya. Seperti yang diketahui coin meme ini baik Shiba maupun Doge nilainya sangat berpengaruh pada popularitas mereka. Dalam hal ini Doge dipopulerkan oleh Elon Musk. Yang menjadi pertanyaan, apabila Elon Musk meninggalkan Doge Coin, bisakah Doge Coin tetap berjaya? Untuk Nilai Shiba Inu, terbukti hanya dalam 2 tahun sejak diluncurkan SHIB cukup berhasil dan bertahan serta harganya meningkat. Dan diprediksi akan naik terus. Disisi lain, pemegang doge coin, Elon Musk juga udah mengakui bahwa harga doge coin sudah hampir mencapai puncak tertinggi (bisa di cek ditwitternya). Jadi proyek Shiba Inu saat ini bukan hanya sebagai alat pembayaran uang digital seperti kripto pada umumnya dan juga sebagai instrumen aset investasi tetapi juga sebagai alat penukaran dalam game. Tapi sekali lagi ya ini pandangan saya terhadap suatu investasi, bisa aja anda berbeda pandangan dan sah-sah saja berbeda. Karena baik doge coin dan SHIB juga memiliki nilai untuk bisa taking profit tapi untuk saya, saya lebih memilih SHIB dan menurut saya proyek yang dijalankan memiliki prospek yang bagus dan tentu akan saya pantau terus.
 Yanto |  21 Nov 2022
Halaman: Trading Meme Coin Pilih Shiba Inu Atau Dogecoin
Perkembangan Ethereum patut diacungi jempol. Developernya juga sangat memperhatikan kekurangan dalam versi lama Ethereum. Tetapi pasti ada pengorbanan yang dilakukan meski bagi saya lebih banyak pro daripada kontra Berarti ETH 2.0 ini miner sepenuhnya akan dihilangkan. Bisa aja miner pindah haluan ke kripto lain. Tapi memang mining ini udah masalah lama yang terjadi, dimana sangat besar dalam konsumsi daya listrik dan menimbulkan jejak karbon di lingkungan. Saya menduķung rencana penghilangan metode ini dan diganti metode lain dalam mendapatkan koin ETH.
 Jhon Peter |  22 Nov 2022
Halaman: Seluk Beluk Peluncuran Ethereum

Komentar[1]    
  Jhon Peter   |   22 Nov 2022

Perkembangan Ethereum patut diacungi jempol. Developernya juga sangat memperhatikan kekurangan dalam versi lama Ethereum. Tetapi pasti ada pengorbanan yang dilakukan meski bagi saya lebih banyak pro daripada kontra

Berarti ETH 2.0 ini miner sepenuhnya akan dihilangkan. Bisa aja miner pindah haluan ke kripto lain. Tapi memang mining ini udah masalah lama yang terjadi, dimana sangat besar dalam konsumsi daya listrik dan menimbulkan jejak karbon di lingkungan. Saya menduķung rencana penghilangan metode ini dan diganti metode lain dalam mendapatkan koin ETH.