Strategi Trading Jangka Pendek

SAM 21 Nov 2011 533

Menjadi seorang trader artinya Anda telah memutuskan untuk memperoleh income tambahan dari selisih mata uang yang sedang ditradingkan. Namun, sudahkah Anda memilih strategi trading manakah yang paling ideal untuk "berburu"?

Dalam dunia trading forex, strategi trading bisa ditentukan berdasarkan banyak aspek, mulai dari pemilihan time frame, jenis analisa yang digunakan, hingga cara membaca chart. Namun jika dilihat secara umum, kebanyakan trader lebih menyukai strategi trading jangka pendek alias short-term. Tipe trader yang demikian biasanya ingin memperoleh kepastian profit dan loss sesegera mungkin. Dengan demikian, para short-term trader cenderung "rajin" untuk entry posisi dalam waktu sehari, karena prinsip tradingnya ialah "sedikit asal sering".

Nah, jika Anda tertarik untuk mencoba strategi trading jangka pendek ini, maka strategi yang bisa Anda gunakan adalah dengan memanfaatkan momentum jangka pendek. Ada tiga jenis indikator teknikal yang perlu Anda gunakan untuk melancarkan strategi ini. Apa saja ya?

 

Indikator Pendukung Strategi Trading Jangka Pendek

Meski ada banyak jenis indikator teknikal, tetapi sebaiknya Anda memasang tiga indikator penting ini untuk kesuksesan trading di time frame rendah:

 

1. Simple Moving Average (SMA)

Indikator SMA juga dikenal sebagai Moving Average yang umum digunakan saat ini. Indikator ini menjadi salah satu tool andalan para newbie, karena penggunaannya yang sederhana tapi multifungsi. Biasanya, SMA digunakan dengan setting periode 200-Day (SMA-200) yang sangat bermanfaat sebagai acuan tren jangka panjang. Namun dalam strategi trading jangka pendek, SMA yang disarankan adalah SMA-100 untuk memastikan akurasi open posisi sesuai arah trend.

Jenis Moving Average

(Baca Juga: Menggunakan Moving Average Sebagai Dasar Menentukan Open Position)

 

2. Exponential Moving Average (EMA)

Indikator EMA adalah varian kedua terpopuler setelah SMA. Umumnya, trader menggunakan indikator ini untuk mengantisipasi volatilitas pada time frame rendah, terutama saat rilis berita berdampak tinggi. Berbeda dengan indikator SMA, EMA menggunakan formulasi di mana harga pada candlestick terakhir lebih berpengaruh. Dalam kaitannya untuk trading jangka pendek, periode EMA yang digunakan adalah 20-Day (EMA-20). EMA-20 bermanfaat untuk mengetahui pergerakan dari momentum chart yang baru terjadi.

 

3. Moving Average Convergence Divergence (MACD)

Kemunculan sinyal trading yang ditunjuk oleh indikator tren seringkali menimbulkan keraguan bagi trader. Untuk itu, dibutuhkan satu tool yang bisa mengkonfirmasi sinyal tersebut secara lebih akurat, misalnya indikator MACD. Pada dasarnya, indikator MACD bisa Anda tambahkan dalam setup trading jangka pendek sebagai penunjuk arah tren serta momentum pasar. Pun, MACD juga digunakan untuk menyaring fake signal, sehingga risiko salah entry juga semakin kecil.

Jika ketiga jenis indikator di atas digabung, maka tampilannya akan tampak sebagaimana dalam chart EUR/USD berikut ini:

Indikator Untuk Trading Jangka Pendek

 

Setup Entry Untuk Trading Jangka Pendek

Dalam menggunakan strategi trading jangka pendek, Anda bisa mengambil posisi entry (BUY/SELL) dengan berpedoman pada setup berikut ini:

  1. Atur time frame menggunakan M5 hingga M30.
  2. Tambahkan indikator EMA-20, SMA-100, dan MACD dalam chart pair yang sedang Anda tradingkan.
  3. Entry BUY bisa diambil apabila terjadi crossing antara EMA-20 terhadap SMA-100 dari bawah ke atas, serta MACD berada di area positif.
  4. Sebaliknya, apabila crossing antara EMA-20 dan SMA-100 terjadi dari atas ke bawah serta histogram MACD berada di area negatif, maka Anda bisa entry SELL.
  5. Tentukan level Stop Loss dan Take Profit sesuai dengan pengaturan manajemen risiko Anda.

Jika diaplikasikan dalam chart, maka skenario entry BUY/SELL bisa Anda lihat dalam chart AUD/USD berikut ini:

Setup Entry Untuk Trading Jangka Pendek

 

Tertarik Dengan Strategi Trading Jangka Pendek? Perhatikan Poin Berikut!

Trading jangka pendek menawarkan kepastian profit dan loss dengan cepat. Kalau Anda lagi mujur, bisa jadi 10 OP Anda hari ini semuanya profit, hati pun senang. Namun, apa jadinya bila dari 10 entry, 8 di antaranya loss?

Kondisi yang demikian bisa terjadi karena kurangnya manajemen emosi dalam diri trader. Saat ia memperoleh profit beruntun, bukan tidak mungkin ia berencana entry lagi dengan lot yang lebih besar. Sayangnya, ia mengesampingkan manajemen risiko, sehingga level-level batasan profit dan loss tak diperhatikan. Untuk itu, ada beberapa tips yang bisa Anda perhatikan sebelum memulai trading jangka pendek:

1. Tentukan level Stop Loss melalui perhitungan yang matang. Tujuannya adalah agar Anda bisa memperkirakan besarnya batas toleransi risiko, sebelum memperhitungkan besarnya nominal profit. Intinya, bukan profit yang paling diutamakan, tapi pengukuran risiko-lah yang perlu didahulukan. Alih-alih memburu profit, sebaiknya amankan dana trading Anda dengan setup Stop Loss yang tepat. Anda bisa menggunakan perhitungan Risk Reward Ratio untuk menentukan rasio profit dan loss-nya.

Menentukan Risk Reward Ratio

 

2. Bersabarlah dalam menunggu momentum di pasar. Tahukah Anda apa bedanya pemenang dengan pecundang? Seorang pecundang biasanya akan exit dari pasar saat tabel profitnya bertanda positif. Padahal, bisa jadi harga masih melanjutkan floating profitnya, sehingga ada kemungkinan perolehan profit pun lebih besar.

Berbeda dengan seorang pemenang, ia biasanya akan sabar menunggu pergerakan harga sesuai dengan rencana trading yang telah dibuat -meski saat itu harga sedang floating loss. Dengan demikian, ia pun tahu letak kesalahannya di mana, sehingga bisa mengevaluasi rencana tradingnya menjadi lebih baik. Jadi, di antara pecundang dan pemenang, yang manakah karakter Anda?

 

3. Perhitungkan Money Management dengan teliti dan hati-hati. Pergerakan harga di time frame pendek bisa sangat cepat dan di luar kendali Anda. Adanya pelebaran spread juga menjadi "momok" tersendiri bagi para trader jangka pendek. Untuk itu, Anda harus selalu mawas kalau-kalau spread mendadak melebar saat kondisi pasar cenderung volatile. Kunci untuk mengatasinya: terapkan setup Money Management yang baik.

 

Tahukah Anda? Strategi trading jangka pendek dengan menggunakan time frame rendah semacam ini juga dikenal dengan istilah Scalping. Para trader penggemarnya pun dijuluki sebagai Scalper Mania. Biasanya, trader scalper akan menggunakan beberapa kombinasi indikator, salah satunya adalah scalping dengan Moving Average dan MACD.

Kirim Komentar/Reply Baru

Reply Pembaca : 2

Praditya Putra 24 MAR 2012
Sebenernya trading jangka pendek kayak gini bener nggak sih? Kok dikata cuman pengen masuk karena tangannya gatel lihat chart atau udah puas dapet profit yang dikit aja? Ini kesannya jadi trading jangka pendek ini kayak kurang bener ....
reply
Iwan Syarifudin 8 APR 2012
metode-metode trading saya rasa tidak ada yang benar ataupun salah. yang bisa dikatakan benar atau salah adalah cara melakukan tradingnya. apakah trader bisa disiplin dengan aturan pada metode itu, atau apakah metode itu sudah sesuai dengan kepribadiannya.

contohnya seperti ini, seorang scalper yang merasa sudah sangat cocok dengan gaya trading scalping, bisa meraih profit secara konsisten dan selalu menerapkan aturan-aturan tradingnya dengan disiplin, ini adalah cara trading yang benar.

sebaliknya, seorang scalper kadang masih suka menahan posisi tradingnya dalam waktu yang lama, dan kurang yakin apakah ini sebenarnya cocok dengan gaya tradingnya, tapi masih memilih trading dengan cara seperti ini, ini adalah cara trading yang tidak benar.

pada akhirnya ini akan terlihat di profit rata-rata yang dihasilkan dalam jangka waktu tertentu. jadi jangkan khawatirkan apakah trading jangka pendek, menengah, atau jangka panjang itu benar atau salah, tapi cukup ambil yang sekiranya sesuai dengan gaya dan kemampuan, lalu uji apakah itu bisa mendatangkan profit yang diharapkan.
Bang Munip 1 JUL 2012
kita disaranin buat hold posisi yg lagi profit selama mungkin, tapi apa gg ditekanin kalo kondisi kayak gitu itu juga mesti didasarin sama analisa?


lalu bagaimana kalo sebelumnya kita udah set sesuai rasio laba rugi dan posisi kita kena tp di tengah2 tren, apa kita mesi masuk pasar lagi buat ambil keuntungan dari situ, atau itu tandanya next time kita mesti pasangin tp yang levelnya lebih jauh lagi?


tolong dalam penjelasannya, disertai juga saran-saran close posisi dan alasan serta kapan waktu maksimal kita bisa mempertahankan floating. jangan asal kasih masukan untuk terus bertahan di posisi untung hanya karena ingin memaksimalkan profit, karena buat trader yang masih baru mereka tidak akan memiliki persiapan jika sewaktu-waktu harga mengalami reversal.
reply
Agus Gokiel 8 JUL 2012
Ane stuju2 aja seh sm artikelx. kn mang syg bgt kl posisi yg lg propit lngsung diclose. sering nyesel juga seh wkt hbs close trnyt trennx msh berlanjut. ..
Bang Munip 9 JUL 2012
Ya dari itulah perlu penjelasan lebih lanjut lagi soal close posisi. karena aturan nggak cuma waktu di open aja, tapi juga waktu close itu ada strateginya.

trader selama ini nggak asal exit setelah dapet profit yang dikira layak, atau dengan entengnya nahan posisi terus karena profit lagi banyak-banyaknya.

yang paling banyak disaranin, ya close diset pake stop loss & take profit. pengaturannya diset dari rasio laba rugi, dimana trader udah merencakan sendiri target profit yang pengen didapet dan kerugian yang masih bisa ditanggung dari rasio itu. kemudian ada lagi yang untuk close manual, yaitu menunggu sinyak dari indikator.

ketika dilihat bahwa kira-kira tren yang menguntungkan disinyalkan akan berakhir, maka trdaer bisa mulai berpikir untuk menutup posisinya. atau ada lagi dengan trailing stop, ini masih tergolong otomatis close, tapi bisa berguna untuk membatasi kerugian dari posisi floating yang dibiarkan terbuka pada saat tren harga menguat.
Break indikator sebagai sinyal entry dan exit

Bgmn cr memanfaatkan break pd sinyal indikator sbg entry & exit poin?

Eddy Spade 25 Sep 2014

Reply:

Basir (25 Sep 2014 13:59)

Dalam hal ini, yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah memahami kinerja dari indikator yang digunakan. Anda akan mampu membuat entry dan exit market saat anda memahami indikator yang anda gunakan.

Thanks.

M Singgih (12 Feb 2015 08:13)

@ eddy spade:
Tergantung dari indikatornya Pak. Biasanya cara seperti itu sering digunakan pada indikator oscillator (terutama RSI) dan indikator trend (moving average). Untuk indikator RSI bisa ditarik garis trend sesuai dengan arah pergerakan harga dan arah indikator itu sendiri (pada saat tidak terjadi divergensi). Entry atau exit bisa pada saat ada RSI break garis trend tersebut. Sebagai contoh bisa dilihat disini dan disini.
Untuk moving average lebih sederhana, dengan hanya mengamati apakah harga break atau memotong kurva indikator tsb.

Erik T (14 Jul 2019 22:21)

Untuk Eddy Spade,

Hal ini tergantung dari indikator yang Anda gunakan. Misalnya Anda menggunakan indikator Moving Average (MA), maka Anda bisa memberlakukan kurva MA tersebut sebagai support dan resisten dinamis. Maka, ketika terjadi breakout, Anda dapat membuka posisi sesuai dengan arah breakout tersebut.

Jika harga sedang berada diatas kurva MA, maka Anda dapat membuka posisi Sell ketika harga bergerak menembus MA kearah bawah. Sebaliknya, jika harga bergerak dibawah MA, maka Anda dapat membuka posisi Buy ketika harga bergerak menembus MA kearah atas. Tentu hal ini harus dikonfirmasi oleh indikator lain ataupun price ation untuk menghasilkan akurasi yang tinggi.

Semoga bisa membantu.