Teknik Trading Kripto dengan Price Action


Nandini 28 Jun 2021 47Dibaca Normal 8 Menit

Tahukah Anda? Price Action rupanya tak hanya digunakan untuk trading forex. Strategi satu ini juga bisa digunakan untuk trading kripto lho. Bagaimana caranya?



Banyak yang mengatakan bahwa Price Action adalah teknik trading forex yang sederhana. Namun kenyataannya, tidaklah benar-benar sesederhana itu. Bahkan, Anda perlu jam terbang tinggi untuk mendapatkan analisa yang tepat, terlebih saat live trading.

Sebenarnya, teknik ini tidak hanya digunakan untuk meraup keuntungan di pasar forex saja, tetapi juga bisa diaplikasikan ke trading kripto. Lantas, bagaimanakah teknik trading kripto dengan Price Action? Simak penjelasannya berikut ini.

 

Mengenal Price Action

Price Action merupakan rangkaian pergerakan harga dari waktu ke waktu yang menjadi dasar untuk menganalisa berbagai aset, seperti kripto, saham, komoditi, dan lain sebagainya.

Price Action ini biasa digunakan trader untuk membaca pergerakan harga dalam bentuk pola-pola candlestick. Selain itu, pola ini juga bermanfaat untuk mengetahui perkembangan tren saat ini, sehingga Anda bisa menentukan apakah harganya potensial atau tidak. Bagaimanakah dengan Price Action untuk kripto?

Price Action untuk Trading Kripto

Pada dasarnya, caranya tidak begitu berbeda. Teknik ini digunakan karena pasar mempunyai sejarah pergerakan harga yang terus berulang dari masa lalu hingga ke masa depan. Ingat, history repeats itself. Adapun semua variabel yang digambarkan oleh Price Action ini mempengaruhi pasar dalam berbagai jangka waktu, baik itu pendek, menengah, maupun panjang.

Pergerakan harga yang digambarkan pun akan menampilkan data yang dibutuhkan oleh trader untuk mengembangkan strategi trading. Strategi ini nantinya diharapkan mampu memberikan keuntungan serta probabilitas tinggi.

Kemampuan Price Action dalam membantu memprediksi pergerakan harga ke depannya dinilai memiliki akurasi tingkat tinggi. Tidak heran jika teknik ini sangat diperlukan untuk melakukan analisis trading kripto. Dengan berpedoman pada Price Action, trader tak perlu lagi menggunakan indikator apapun, atau memperhatikan faktor-faktor lain di luar chart harga sebelumnya.



Namun, perlu Anda ketahui bahwa apa yang Anda lihat dalam bentuk obyektif ini hanyalah dinamika perubahan harga dari data-data terdahulu. Bisa dibilang, perkiraan yang Anda ambil terhadap pola-pola pergerakan harga saat ini hanyalah evaluasi subyektif.

Baca Juga: Memahami Cara Konfirmasi Candlestick Dalam Strategi Price Action

Price Action sendiri dapat bermanfaat untuk menganalisa tren pergerakan harga. Sehingga dalam analisa data harga pasar kripto, Anda bisa melihatnya melalui dua tren, yaitu Uptrend dan Downtrend.

Uptrend adalah ketika setiap titik rendah baru akan selalu meningkat daripada titik rendah sebelumnya (Higher High, Higher Low). Sedangkan untuk Downtrend, setiap titik atas terbaru akan selalu menurun daripada titik atas sebelumnya (Lower High, Lower Low). Kedua trend ini bisa menjadi acuan untuk menentukan prediksi strategi trading ke depannya.

 

Mengamati dan Memahami Data Price Action

Sebelum menerapkan teknik Price action ini, ada baiknya Anda belajar memahami data dari Price action tersebut. Seperti apa sih data-data Price Action itu?

Pada Price Action, data ditampilkan dalam bentuk grafik yang menghubungkan pergerakan harga secara berurutan. Grafik yang paling sering digunakan di sini adalah grafik candlestick karena visualisasi pergerakan harga yang ditampilkan sangat jelas, dengan berbagai komponen lengkap seperti nilai harga saat pembukaan, nilai tertinggi, nilai terendah, dan nilai saat penutupan.

Tiap candlestick yang berurutan naik turun itu menunjukkan pergerakan harga di waktu yang berbeda. Jika grafik candlestick cenderung menurun, berarti tren yang terjadi adalah Downtrend. Sementara bila grafik candlestick cenderung naik, berarti tren terkini adalah Uptrend. Dari grafik ini pun Anda dapat mengidentifikasi bagaimana sentimen pasar. Nah, jika data grafiknya seperti ini, tertarikkah untuk mengaplikasikan Price Action di strategi trading kripto Anda?

Baca Juga: Cara Jitu Analisa Trend Dengan Pola Candlestick

 

Aplikasi Teknik Price Action

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Price Action bukanlah indikator, tetapi merupakan informasi data yang digunakan untuk membangun strategi trading. Dengan adanya pola Price Action ini, trader mungkin akan mengabaikan analisis fundamental dan membuat prediksi berdasarkan terjadinya konsolidasi dan breakout dari pergerakan harga.

Untuk tingkat akurasinya sendiri, penggunaan teknik ini bisa terbilang tinggi jika trader turut mempertimbangkan faktor-faktor pendukung lain seperti volume trading dan time frame. Kedua faktor tersebut sangat berperan penting dalam menentukan tingkat akurasi dari interpretasi data-data Price Action.

Pergerakan harga atau trend suatu aset akan dilihat dan dianalisa menurut time frame dari besar hingga ke kecil. Perbedaan time frame inilah yang kemudian menciptakan beragam gaya trading, mulai dari Scalper, Day Trader, Swing Trader, atau Position Trader.

Strategi Trading Aneh(Baca Juga: 5 Strategi Trading Paling Aneh, Layakkah Dicoba?)

Nah pada artikel kali ini, penulis mengajak Anda untuk berfokus pada teknik trading kripto bagi Swing Trader. Berikut ulasan selengkapnya.

 

1. Menentukan Pergerakan Trend

Grafik dengan jangka waktu pendek biasa digunakan untuk melihat dinamika pergerakan harga. Selanjutnya, tarik garis trend untuk memperjelas pergerakan harga.

Baca Juga: Teknik Trading Candlestick Dengan Trendline

 

2. Menentukan Batas Atas dan Batas Bawah

Seorang trader bisa membuka grafik 4-jam untuk menentukan batas bawah dan atas sebagai panduan Stop Loss dan Take Profit. Dua batas tersebut bisa digambarkan dengan warna berbeda agar lebih mudah dipahami.

 

3. Melakukan Konfirmasi Sebelum Membuka Posisi

Setelah menentukan batas bawah dan atas, trader bisa pindah ke grafik 1-jam untuk melihat konfirmasi sebelum membuka posisi trading. Konfirmasi tersebut bisa terlihat dari pola candlestick, pola grafik, serta pergerakan trend.

Saat mengamati trend, breakout atau retest bisa saja terbaca. Breakout merupakan kondisi harga keluar dari trend, sedangkan retest adalah pergerakan harga keluar dari trend lalu kembali lagi sebelum akhirnya keluar. Jika harga tampak sudah menembus batas-batas penting misalnya Support dan Resistance atau Pivot Point, selanjutnya perhatikan pola candlestick yang terbentuk di sana; bisa Pin Bar, Doji, Evening Star, dan sebagainya.

Pola Candlestick Menguntungkan(Baca Juga: Pola Candlestick Yang Paling Menguntungkan)

Sebagai contoh, katakanlah Anda trading dengan strategi trendline breakout. Saat mendapati harga tengah menembus trendline, jangan ambil tindakan sebelum harga menyelesaikan penetrasinya dan tertutup di luar trendline. Selain itu, perhatikan jenis candlestick untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut. Apabila breakout mengindikasikan bullish reversal, maka sinyal Buy akan lebih tervalidasi setelah candle bullish tertutup di atas down trendline.

Setelah melakukan konfirmasi, Anda harus memastikan apakah posisi yang akan dibuka sudah sesuai dengan manajemen risiko. Jika sudah sesuai, Anda dapat membuka posisi dengan tenang dan nyaman.

 

Aplikasi Dasar Analisa Price Action

Pergerakan harga yang tergambarkan di dalam chart akan selalu meninggalkan jejak yang membuat trader harus mempertimbangkan antara mau melakukan Open atau Close posisi. Tidak heran, trader membutuhkan peran Price Action sebagai alat bantu untuk bahan pertimbangan memahami kondisi pasar.

Satu hal yang Anda perlu ingat saat memasukkan teknik Price Action ke dalam strategi trading adalah Price action hanyalah alat bantu, bukan sebagai penentu final Open dan Close posisi. Nah, di Price Action sendiri ada beberapa hal yang digunakan untuk membantu analisa. Apa sajakah itu? Berikut penjelasannya.

 

1. Identifikasi Kondisi Pasar

Secara umum, kondisi pasar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yakni trending dan konsolidasi. Kondisi-kondisi tersebut dianalisa dengan memperhatikan harga High dan Low-nya.

Namun, sebuah pasar pastinya tidak selalu stabil dan sesuai dengan apa yang Anda kehendaki. Bisa saja pasar akan choppy, yakni suatu kondisi manakala level HH, HL, LH, dan LL-nya membentu garis zig-zag. Pada kondisi yang demikian, trader sebaiknya tidak masuk pasar karena pergerakan harganya cukup ekstrem.

Trading saat Sideways(Baca Juga: Cara Trading Forex Di Pasar Sideways)

 

2. Perhatikan Akurasi Sinyal Price Action

Pemilihan time frame tentu akan mempengaruhi frekuensi kemunculan candlestick atau grafik lainnya. Ketika trader menggunakan time frame H4, maka candle yang muncul adalah rangkuman harga tiap 4 jam sekali. Sedangkan untuk time frame Daily, candle akan merepresentasikan harga dalam sehari sekali. Semakin pendek jangka waktunya, risiko kemunculan fake signal akan semakin meningkat.

 

Kesimpulan

Saat melakukan analisis trading, seringkali dibutuhkan banyak indikator untuk mendukung ketepatan analisa tersebut, salah satunya adalah Price Action. Dengan menggunakan Price action, chart grafik yang ditampilkan tidak akan dipenuhi dengan indikator.

Penentuan strategi maupun prediksi berikutnya hanya berfokus pada pergerakan harga itu sendiri tanpa menggunakan indikator. Sekalipun perlu menggunakan indikator, setidaknya Anda hanya perlu menambahkan indikator trend dalam chart, salah satunya yakni Moving Average.

Akan tetapi, teknik Price action ini tidak mudah digunakan seperti saat trading dengan indikator teknikal. Sebab, teknik ini membutuhkan pengalaman mengenai dasar-dasar analisis teknikal seperti trend, trading range, Support & Resistance, dan lainnya. Untuk itu, sebaiknya pahami betul-betul bagaimana cara trading Price Action, terutama untuk pasar kripto.

Advertisement


Pola Candlestick
Shooting Star
Shooting Star
Indikasi : Bearish Reversal
Akurasi :

Terdiri dari 1 candlestick dan terjadi di pucuk uptrend. Harga pembukaan candlestick ini menciptakan gap naik dari candlestick sebelumnya, tapi kemudian ditutup dekat harga terendahnya. Sinyal bearish terkonfirmasi apabila candlestick berikutnya dibuka di bawah body Shooting Star.
BANKKPRRitel
Bank Amar Indonesia 13.00% 11.00%
Bank Artha Graha Internasional 10.90% 10.40%
Bank Artos Indonesia 30.23% 30.23%
Bank Bisnis Internasional 8.78% 12.35%
Bank Bukopin 9.31% 9.20%
Bank Bumi Arta 9.98% 10.55%
Bank Capital Indonesia 13.30% 13.30%
Bank China Construction Bank Indonesia 9.89% 9.89%
Bank Cimb Niaga 9.55% 10.10%
Bank Commonwealth 10.75% 10.75%
Advertisement

Kirim Komentar/Reply Baru
Apa Itu FUD di Pasar Kripto dan Contoh Kasusnya
Apa Itu FUD di Pasar Kripto dan Contoh Kasusnya
Linlindua   31 Jul 2021   9  
Cara Trading CFD Kripto
Cara Trading CFD Kripto
Nandini   30 Jul 2021   10  
5 Kasus Penipuan Kripto Terbesar
5 Kasus Penipuan Kripto Terbesar
Nandini   27 Jul 2021   14  
7 Tips Ampuh Hindari FOMO untuk Trader Kripto
7 Tips Ampuh Hindari FOMO untuk Trader Kripto
Linlindua   26 Jul 2021   19  
Mengenal Stablecoin dan Perannya di Pasar Kripto
Mengenal Stablecoin dan Perannya di Pasar Kripto
Nandini   25 Jul 2021   8  
5 Cara Investasi Ethereum (ETH) Di Tahun 2021
5 Cara Investasi Ethereum (ETH) Di Tahun 2021
Nandini   23 Jul 2021   15  
Cara Staking Coin Untuk Pemula
Cara Staking Coin Untuk Pemula
Cahyaning   16 Jul 2021   25  
Teknik Trading Kripto Apa Saja yang Menguntungkan?
Teknik Trading Kripto Apa Saja yang Menguntungkan?
Linlindua   15 Jun 2021   76