Tips Belajar dari Insiden Jatuhnya Terra LUNA

Cahyaning 21 Jun 2022 Dibaca Normal 8 Menit
kripto > belajar >   #terra
Kejatuhan Terra Luna menimbulkan gonjang-ganjing di dunia kripto. Lalu, pelajaran apa yang bisa diambil dari peristiwa ini?
DI

Pasar kripto memang tak bisa ditebak jalannya. Terkadang, investasi aset kripto bisa membawa keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat. Namun di lain waktu, kripto juga bisa menyebabkan kerugian besar. Sebetulnya hal ini bukanlah kejadian yang baru di pasar cryptocurrency. Bahkan, insiden serupa belum lama ini terjadi pada salah satu token terbesar yaitu Terra Luna atau LUNA.

kejatuhan terra LUNA

 

Berkenalan Dengan Terra Luna

Sebelum membahas tentang kejatuhan Terra LUNA, ada baiknya mengenal aset ini terlebih dahulu. Terra sendiri merupakan sebuah blockchain yang dibangun untuk menciptakan pembayaran digital terdesentralisasi menggunakan algorithmic stablecoin.

Terra dibuat pada tahun 2018 oleh Do Kwon dan Daniel Shin di Terraform Labs di Korea Selatan. Blockchain ini dikenal memiliki kemampuan smart contract dan bisa mendukung dibangunnya ekosistem DApps. Terra menyediakan aset yang memiliki stabilitas uang fiat namun bersifat terdesentralisasi dan memanfaatkan keamanan jaringan blockchain.

Algorithmic stablecoin yang mendukung Terra adalah TerraUSD atau UST. Jaringan ini juga memiliki aset kripto bawaan bernama LUNA yang sempat menjadi salah satu koin terbesar di pasar kripto. Bahkan menurut, Terra LUNA sempat memiliki kapitalisasi pasar sebesar $27 milyar Dolar dan diperdagangkan di harga $75 dolar. Hal tersebut mengantarkan Terra LUNA masuk dalam jajaran 10 besar aset kripto tebaik di dunia.

 

Cara Kerja UST dan LUNA

Seperti yang sudah disebebutkan sebelumnya, UST merupakan stablecoin. Terra menjaga harga UST tetap sama dengan Dolar AS melalui aset LUNA yang bisa ditukar menjadi UST oleh pengguna Terra. Sistem penukaran ini seharusnya menguntungkan UST dan LUNA, karena secara teori berarti suplai LUNA akan berkurang seiring meningkatnya penggunaan UST. Itu berarti, LUNA akan semakin langka dan harganya akan semakin tinggi.

Algoritma Terra membuat suplai kedua token mengalami kontraksi dan ekspansi, tergantung dari permintaan UST dan stablecoin Terra lainnya, di mana:

  • Ekspansi berarti adalah ketika harga UST lebih tinggi dibandingkan Dolar AS, suplai terbatas, sementara permintaan terlalu tinggi. Protokol akan memberi insentif kepada pengguna untuk burn LUNA sehingga supai UST bertambah.
  • Kontraksi berarti harga UST lebih rendah dibandingkan Dolar AS, suplai terlalu banyak, sementara permintaan lebih sedikit. Dalam kondisi ini, protokol akan mendorong pengguna untuk burn UST dan mencetak LUNA baru.

Sayangnya, ada risiko besar terkait mekanisme penggunaan LUNA sebagai jaminan stabilitas nilai UST. Misalnya, ketika pasar kripto sedang mengalami fase bearish berkepanjangan, antusiasme trader akan menurun dan banyak yang menjual LUNA dan UST secara masif. Hal ini berpotensi menciptakan death spriral di mana mekanismenya akan menekan harga kedua token tersebut ke bawah.

Siklus death spiral pada UST akan memaksa Terra untuk terus menciptakan LUNA baru sebagai upaya menjaga nilai UST pada 1 Dolar AS. Pada kondisi ini, diperlukan intervensi besar dari protokol Terra untuk menyelamatkan harga kedua token tersebut.

Baca juga: Mengenal Stablecoin dan Perannya di Pasar Kripto

 

Kronologi Kehancuran Terra Luna

Pada tanggal 7 dan 8 Mei 2022, terjadi kemerosotan UST hingga nilainya turun ke level 0.98 Dolar AS. Algoritma Terra yang mencetak LUNA untuk menstabilkan harga UST membuat harga koin Terra (LUNA) mengalami penurunan sebanyak 20% hingga mencapai 61 Dolar AS.

Luna Foundations Guard atau LFG langsung melakukan tindakan untuk melindungi harga aset. Mereka segara mengerahkan 1.5 miliar Dolar AS dari cadangannya untuk menstabilkan UST. Rencananya, LFG akan meminjamkan BTC senilai 750 juta Dolar AS kepada market maker untuk dijual, serta meminjamkan UST senilai 750 juta Dolar lagi yang akan digunakan untuk membeli kembali BTC setelah volatilitas mereda.

Tetapi, kepanikan pasar sudah terlanjur jauh. Pada tanggal jatuhnya UST, tercatat bahwa total deposit di stablecoin UST merosot dari 14.02 miliar UST menjadi 11.7 miliar UST hanya dalam waktu dua hari. Karena protokol yang diterapkan oleh Terra, akhirnya jumlah LUNA menjadi sangat banyak. Harga LUNA dan UST mencapai tahap di mana jaringan Terra tidak dapat meningkatkan nilainya melalui mekanisme arbitrase.

Untuk mengatasi hal ini, pihak Terra pun menawarkan solusi yang berkaitan dengan proposal pembakaran suplai UST dan rencana staking LUNA. Do Kwon selaku CEO secara resmi menyatakan rencana untuk memperbaiki ekosistem Terra dan UST. Sayangnya, komunitas Terra di Twitter banyak yang kurang setuju terhadap rencana tersebut.

Do Kwon kemudian merilis Revival Plan 2 untuk memperbaiki ekosistem Terra melalui hard fork. Nantinya, Terra akan dilahirkan kembali tanpa adanya UST. Dan pada 18 Mei, Terra Builders Alliance secara resmi meluncurkan proposal untuk membuat blockchain baru tanpa algorithmic stablecoin.

Baca juga: Kupas Tuntas Terra Luna 2.0 dan Prospeknya

 

4 Hal yang Bisa Dijadikan Pelajaran

Peristiwa semacam kejatuhan Terra LUNA bisa saja terjadi lagi di masa depan pada kripto lain. Mungkin, inilah saat yang tepat bagi para penggemar kripto untuk lebih berhati-hati saat memilih koin untuk investasi. Berikut ini beberapa hal yang bisa dipelajari dari jatuhnya Terra LUNA.

 

1. Aset yang Stabil Butuh Cadangan yang Stabil

Stablecoin memang merupakan salah satu jenis investasi kripto yang dianggap aman karena nilainya terkorelasi dengan mata uang fiat atau aset stabil lainnya. Sayangnya, tak semua stablecoin yang ada sekarang memiliki patokan seperti itu. Terra USD sendiri adalah algorithmic stablecoin, di mana tokennya didukung oleh cryptocurrency lain, bukan Dolar yang lebih stabil.

Ditambah lagi, mekanisme yang digadang-gadang akan melindungi nilai aset justru menjadi boomerang saat kripto dilanda tren bearish berkepanjangan. Fenomena kejatuhan Terra LUNA ini seharusnya bisa dihindari jika UST berpatokan pada aset yang memilki nilai lebih stabil.

 

2. Beli Berdasarkan Value

Sering kali trader justru membeli aset karena hype semata. Ingatlah, hanya karena suatu aset sedang hype, tidak menjadikan aset tersebut investasi yang baik. Jangan mudah ikut-ikutan tren, dan lakukankah penelitian mendalam tentang suatu koin kripto. Dalam kasus ini, Terra jatuh karena mekanisme stabilisasi yang cacat. Sayangnya, para trader justru tidak peduli akan hal ini dan langsung membeli koin tersebut banyak-banyak tanpa mencari tahu cara kerjanya terlebih dahulu.

Baca juga: 7 Tips Ampuh Hindari FOMO untuk Trader Kripto

 

3. Kripto Tidak Sepenuhnya Terdesentralisasi

Tim pembuat Terra bermaksud membuat "decentralized money" untuk ekonomi yang sepenuhnya terdesentralisasi. Tetapi saat kejatuhannya kemarin, komunitas justru menemukan bahwa koin ini sangat terfokus pada pihak-pihak tertentu. Itu berarti, para pemilik aset nyaris tak memiliki kekuasaan atas pergerakan Terra.

Contohnya, semua hal yang berkaitan dengan penyelamatan Terra LUNA ditentukan oleh Do Kwon dan 6 member penting di LFG tanpa ada campur tangan para pemegang aset. Bahkan, Terraform Labs juga bekerjasama dengan validator lain di balik layar untuk membekukan blockchain Terra tanpa peringatan. Hal ini tentu tak sesuai dengan konsep desentralisasi yang sudah dikenal luas di komunitas kripto.

 

Dampak Terhadap Industri Kripto

Umumnya, koin yang mengalami kemerosotan besar merupakan aset dengan kapitalisasi kecil. Ketika hal ini terjadi pada koin dengan kapitalisasi besar seperti Terra LUNA, banyak pihak yang panik karena akan berimbas pada aset-aset kripto lainnya.

Aset sebesar Bitcoin tak lolos dari dampak kejatuhan Terra LUNA. Pada saat puncak kejadian tersebut,  Bitcoin mengalami penurunan pertama ke angka 27 ribu Dolar AS sejak Juli 2021. Hal ini terjadi saat LFG menjual sekitar 80 ribu BTC. Penjualan masif itu pun menjatuhkan harga Bitcoin dan membawa banyak aset di pasar kripto terjun bersamanya

Selain itu, pengguna jaringan Terra kehilangan miliaran dolar. Bahkan, bos Binance pun mengaku kehilangan Rp23 Triliun karena peristiwa ini.

Selama beberapa tahun belakangan, para developer blockchain berlomba-lomba menciptakan koin terbaik. Ambisi mereka adalah menciptakan sebuah aset yang jauh lebih tahan inflasi dibandingkan aset yang bergantung pada pemerintahan. Kejatuhan Terra LUNA dan UST ini mungkin akan membuat banyak developer kembali mengevaluasi tujuan dan sistem mereka.

 

Kesimpulan

Kejatuhan Terra LUNA mungkin adalah salah satu peristiwa paling bersejarah di dunia kripto. Pasar kripto memang memiliki potensi investasi keuangan yang menggiurkan. Tetapi, risikonya pun tidak kecil. Belum lagi, karena cryptocurrency memiliki beberapa kekurangan seperti regulasi yang belum cukup kuat, manipulasi pasar, skema rug pull, peretasan, kurang transparansi, serta budaya FOMO yang cukup kuat.

Para developer kripto meyakinkan trader bahwa aset mereka aman karena terdesentralisasi, padahal kenyataannya harga aset dikontrol melalui stablecoin. Padahal, strategi ini bisa berbalik menjadi lingkaran setan seperti apa yang terjadi pada kejatuhan Terra LUNA. Untuk itulah, sangat penting melakukan penelitian mendalam tentang aset kripto dan hindari berinvestasi pada koin yang menerapkan skema serupa.

 

Peristiwa kejatuhan Terra LUNA ini memicu efek domino yang menyebabkan pasar kripto memasuki fase bearish. Lantas, apa yang harus dilakukan? Bisakah tetap menjalankan trading kripto dalam kondisi Bear Market?

Terkait Lainnya
 
Komentar[1]    
  Kaka   |   22 Jun 2022

Sistem algoritmanya udah kelihatan cacat kayak gitu, tapi kenapa dia masih sempat bisa masuk top 10 ya? Apa awal mula yang bikin dia hype?

Info Karir
Kontak Kami
Tentang Kami
Peraturan
Terms Of Use
Privacy Policy
Arsip