Trik Jitu Membeli Saham Yang Baru Melantai

Jujun Kurniawan 13 Jan 2020 514

IPO (Initial Public Offering) merupakan penawaran saham perdana sebuah perusahaan kepada publik. IPO adalah suatu mekanisme bagi perusahaan guna menaikan level perusahaan menjadi perusahaan go public di mana lebih terbuka dan akuntabel.

Mekanisme ini menguntungkan bagi perusahaan, karena lebih banyak pihak yang terlibat dalam permodalan perusahaan. Hal ini membuat permodalaan perusahaan menjadi lebih stabil dan kemungkinan perbaikan manajerial dari waktu ke waktu. Dengan begitu, kinerja perusahaan menjadi lebih baik dan konsisten. Keberlangsungan hidup perusahaan pun akan lebih terjaga. Selain itu, publik juga akan memiliki lebih banyak pilihan dalam melakukan investasi saham.

saham ipo

Sejak awal 2019 hingga Oktober 2019, ada 42 perusahaan yang mencatatkan saham di papan bursa. Dari 42 emiten baru itu, sebanyak 22 emiten mencatatkan performa ciamik dari awal pertama listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari 22 saham tersebut, capital gain atau potensi keuntungan yang diperoleh antara 1–1.706%.

Ada juga saham emiten baru yang tak tanggung-tanggung karena melesat lebih dari 1000%. Sementara itu, ada 20 emiten yang mencatatkan performa saham IPO buruk dengan koreksi mulai dari 1% hingga lebih dari 70%. 

 

Keuntungan dan Risiko Investasi di Saham Yang Baru IPO

Dalam berinvestasi saham, banyak hal yang harus dipelajari secara mendalam. Tidak bisa hanya dengan asal membeli saham tanpa analisis dan pertimbangan yang matang. Begitu juga dengan saham yang baru IPO, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana prospek saham tersebut ke depannya. Maka dari itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu keuntungan dan risiko berinvestasi di saham yang baru IPO.

Keuntungan Membeli Saham IPO, antara lain.

  1. Saham IPO bersifat longgar karena harga sudah menyesuaikan patokan. Berbeda dengan saham yang sudah lama di bursa di mana pembeli sendiri yang harus tahu akan beli di harga berapa.
  2. Kemungkinan keuntungan saham IPO tinggi, karena ditawarkan pada saat kondisi bullish. Dengan begitu, kemungkinan harga akan tinggi pada saat pembukaan.
  3. Khusus saham IPO, analisis bisa dilakukan sebatas kisaran animo pasar saja. Hal ini berbeda dengan saham yang sudah lama di bursa. Pembeli harus memahami betul analisis dan strategi apa yang akan diterapkan.
  4. Kelonggaran masa pembelian juga bisa jadi kelebihan lainnya, berbeda dengan saham yang sudah lama di bursa. Pembeli sendiri yang akan menentukan tanggalnya.

Risiko Membeli Saham IPO, antara lain.

  1. Lot atau jatah pembelian saham IPO sudah ditentukan. Sebagai ilustrasi, si A membeli 100 lot saham IPO, tetapi ternyata hanya mendapatkan 10 lot. Ini adalah hal biasa sebab jumlah lot ditentukan penerbit, bukan pembeli.
  2. Ada rentang seminggu sebelum withdrawal (penarikan dana). Artinya, harus rela menunggu lebih kurang sepekan sebelum waktu refund.

saham ipo

(Baca: 5 Jenis Saham Berdasarkan Kinerja Perdagangan)

Apabila kelebihan dan kerugian membeli saham IPO sudah diketahui, pertanyaan berikutnya biasa berkisar terkait dengan harus membeli saham IPO yang mana? Berikut 5 tips jika anda ingin membeli saham yang baru IPO.

  1. Mengobservasi Nilai Saham IPO
    Karena saham yang baru IPO belum memiliki histori harga. Jadi, yang bisa Anda lakukan adalah menganalisis dari pospektus dan riset-riset yang tersebar di media massa.
  2. Melihat Jumlah Saham Yang Dilepas Ke Publik
    Pada umumnya, semakin besar jumlah saham yang dilepas ke publik atau sekitar di atas 30%, maka akan semakin baik. Karena ini berarti makin banyak masyarakat yang bisa memiliki saham tersebut. Secara teori, transaksi saham akan lebih likuid pada pasar sekunder.
  3. Rekam Jejak Penjamin Emisi
    Cara menilai penjamin emisi calon emiten adalah Anda dapat melihat track record tingkat kesuksesan dan nilai oversubscribe (saham tersebut banyak peminatnya) dari saham yang baru IPO tersebut.
  4. Laporan Keuangan
    Anda dapat menganalisis kinerja laporan keuangan dari perusahaan yang baru menjual sahamnya di bursa, minimal 3 tahun terakhir dan bandingkan dengan kinerja emiten lain yang sejenis.
  5. Mengawasi Tren Pasar
    Dilihat dari data historis di bursa, beberapa saham IPO dengan fundamental yang bagus, tapi harga sahamnya merosot. Hal ini diakibatkan karena saham tersebut rilis atau IPO saat tren pasar sedang negatif.
Kirim Komentar/Reply Baru
Febrian Surya 207
Tokoh  
Trading trend dengan price action daily

Master, Untuk Trading dengan price action, Jika di TF Daily sedang sideways dan di H4 sedang trend naik seperti EU saat ini, bagaimana cara kita trade with the trend apakah suport resistance di daily chart menjadi trendnya?

dari pengamatan saya, di H4 juga sudah terjadi inside bar terhadap level suport jangka pendeknya walaupun trendnya naik, jika saya entry sell di mother bar tsb apakah saya melawan trend? lalu moving average berapa yang bisa digunakan di TF H4? mengingat di TF daily Ema 8&21 lalu di TF H4nya brapa?

Muhammad Yusuf 4 Dec 2017

Reply:

M Singgih (10 Dec 2017 23:26)

@ Muhammad Yusuf:

Di tanggal pertanyaan Anda (4 Desember 2017), EUR/USD Daily sedang uptrend dengan koreksi (korektif bullish), bukan sideways:

                   

Garis histogram ADX berwarna hijau dan berada diatas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat, dan kurva indikator sma 100 juga membentuk sudut positif (bukan datar).

Sedang di time frame H4 sedang downtrend:

                             

Inside bar, mother bar dan level support berapa yang Anda maksudkan?

Kalau Anda mengikuti cara trading Nial Fuller dengan menggunakan ema 8 & ema 21 di time frame daily, di time frame H4 juga bisa menggunakan ema 8 dan ema 21. Kedua ema tsb dimaksudkan sebagai resistance dan support dinamis.

Edwin Widianto (16 Jun 2019 04:09)

permisi pak. mau tanya sedikit. indikator moving average periode berapa ya pak untuk mengetahui akan terjadi reversal yang cukup akurat untuk time frame 1 hari..? 

M Singgih (18 Jun 2019 02:52)

@ edwin widianto:

Pergerakan reversal biasanya diamati dari bentukan price action yang dikonfirmasi dengan indikator trend. Indikator Moving Average (MA) memang bisa digunakan sebagai konfirmator, biasanya dengan 2 MA yang mana kurvanya saling berpototongan (crossing).

Untuk time frame daily biasanya digunakan kombinasi antara SMA 200 dengan SMA 100 atau EMA 100, SMA 89 atau EMA 89, SMA 55 atau EMA 55, SMA 50 atau EMA 50.
SMA 200 daily lazim digunakan trader sebagai acuan arah trend. Baca juga: Trading Dengan 200 Day Moving Average

Febrian Surya 176
Tokoh