Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat serasa dimanjakan oleh hadirnya startup dompet digital dengan berbagai program promosi. Sebut saja OVO, DANA, Link Aja, GOPAY, dan lain-lain. Mereka seakan-akan berebut pelanggan dengan iming-iming cashback dan bentuk promo lainnya. Terlebih lagi pada tanggal gajian, kebanyakan aplikasi dompet digital tersebut mengirimkan push notification terkait promo agar customer membelanjakan penghasilannya. 

Bila dipikir-pikir, kebanyakan startup tersebut terhitung perusahaan baru. GOPAY misalnya baru berdiri sejak 2018, Link Aja berdiri pada 2007 sebagai TCASH, sementara OVO baru beroperasi mulai 2017 lalu. Meski baru mereka berani menggelontorkan dana besar-besaran untuk meningkatkan minat konsumen. Tak heran banyak orang jadi bertanya-tanya, bagaimana mereka mendapatkan profit bila terus memberikan cashback? 

fenomena-bakar-duit-ala-dompet-digital

Nah, ternyata kebanyakan startup belum mencapai break even point atau titik impas. Maksudnya, profit yang mereka dapat belum menutup jumlah modal yang telah dikeluarkan. Justru startup-startup tersebut masih menggelontorkan modal ke masyarakat dalam bentuk promo cash. Nah, aksi ini kerap disebut sebagai aksi bakar uang ala startup.

 

Aksi Bakar Duit ala Dompet Digital, Apa Sih Tujuannya?

Aksi bakar uang yang dilakukan dompet digital memang terkesan menguntungkan konsumen namun sebenarnya metode marketing ini menimbulkan "korban". Baik di sisi perusahaan kompetitor (dengan banyaknya perusahaan sejenis yang gulung tikar akibat kalah promo), dan juga korban dari sisi pemilik bisnis digital itu sendiri. Salah satunya Lippo Group yang harus menjual 30 persen saham OVO karena perusahaan tersebut bakar duit terus menerus. Sebenarnya apa tujuan aksi bakar duit ini?

Ilustrasinya seperti berikut ini:

Aksi bakar uang tujuannya adalah untuk “membunuh” kompetitor hingga menyisakan 1 atau 2 pemain utama saja. Setelah kompetitor mati, pemain nomor 1 dan 2 akan menguasai pasar atau bergabung dalam 1 kepemilikan. Jika skema ini terjadi, persaingan bisnis sudah selesai dengan menyisakan pemenang yang kuat bakar uang terus-terusan. Jika sudah menang, pemain tak perlu lagi bakar duit, sebab konsumen sudah ketergantungan dengan layanannya. Pelanggan juga sudah tidak punya pilihan lain. Perusahaan tinggal menjalankan strategi bisnis dan mulai mengumpulkan profit.

transaksi-dengan-dompet-digital

 

Apakah Perusahaan Luar Negeri Juga Ikut Bakar Uang?

Hampir semua bisnis berbasis digital menjadi populer berkat aksi bakar uang. Baik itu secara terang-terangan dalam bentuk penawaran diskon yang gencar maupun dalam bentuk iklan yang masif. Tanpa itu, platform digital akan sulit untuk bersaing. Berikut contoh kasus yang pernah terjadi di startup luar negeri:

Biaya mahal yang dikeluarkan saat bakar duit diharapkan akan terbayar lunas saat mereka hadir sebagai pemenang. Jika tak kuat bertahan mereka akan makin terjerumus dalam jurang kerugian hingga pemilik perusahaan dan investornya lepas tangan seperti kasus OVO yang sahamnya dilepas sebagian oleh Lippo.

 

Platform Digital Yang Bangkrut dan Layu Sebelum Berkembang

Startup yang sekarang ini hadir di masyarakat tidak selamanya sukses. Dunia juga mencatat beberapa platform yang gagal dan bahkan bangkrut menyisakan kisah pilu bagi pengembangnya. Berikut ini di antaranya:

Jadi kunci agar startup mampu bertahan dan sukses, perusahaan tersebut harus mampu menghadirkan layanan yang inovatif, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta harus kuat melalui periode bakar uang berkepanjangan sampai menyisakan 1-2 pemenang saja.