Profit Investasi Syariah, Perlukah Dikeluarkan Zakatnya?

Nandini 29 Apr 2021 104
Dibaca Normal 11 Menit

Seringkali kita bertanya-tanya apakah perlu mengeluarkan zakat dari profit investasi berbasis syariah. Untuk itu, coba simak jawabannya dalam konsep dan mekanisme pembayaran zakat investasi syariah berikut ini.



Di era milenial seperti sekarang ini, nampaknya investasi menjadi hal wajib yang mesti dilakukan. Pasalnya, investasi menjanjikan keuntungan lumayan untuk masa depan. Bisa dibilang, hasil investasi bisa dimanfaatkan untuk hal-hal darurat, hingga sebagai passive income maupun dana pensiun kelak.

Meskipun demikian, rupanya tidak semua orang merasa nyaman dengan hal-hal investasi, terutama seorang muslim. Mereka seringkali akan mempertanyakan hukum dan zakatnya. Jika Anda seorang muslim, Anda sudah tak perlu khawatir lagi karena sekarang sudah ada jenis investasi syariah.

Lantas, seperti apa itu konsep investasi syariah? Bagaimana dengan sistem bagi hasil dan zakat investasi syariah? Untuk selengkapnya, yuk simak uraian berikut!

 

Sekilas Tentang Konsep Investasi Syariah

Sebagai seorang muslim, tentunya Anda ingin memiliki investasi yang halal, dong. Nah, salah satu solusinya adalah dengan mulai berinvestasi secara syariah. Bagaimana itu?

Investasi ini merupakan jenis investasi yang berpedoman pada nilai-nilai Islam dan tidak melanggar ajaran agama Islam. Intinya, apa pun yang melanggar ajaran dan hukum agama tidak akan dijadikan sumber keuntungan.

Berbeda dengan jenis investasi konvensional, investasi syariah ini diawasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang didalamnya terbentuk Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas Syariah. Konsep investasi syariah sendiri lebih mengedepankan nisbah atau pembagian hasil. Jadi, yang mendapatkan hasil adalah pihak nasabah dan bank dengan nilai sama rata.

Investasi Syariah menurut MUI(Baca Juga: Inilah Kriteria Investasi Halal Menurut MUI)

 

Jenis-jenis Investasi Syariah

Ada cukup banyak jenis investasi yang bisa Anda pilih bila ingin mulai berinvestasi secara syariah. Dengan tetap memakai asas Islami, berikut beberapa jenis investasi syariah yang bisa Anda pertimbangkan untuk menambah portofolio.



 

1. Reksadana Syariah

Reksadana adalah jenis investasi dimana Anda menyetorkan sejumlah dana ke manajer investasi untuk kemudian diinvestasikan ke beberapa surat berharga, seperti obligasi, saham, dan instrumen pasar keuangan lainnya. Nah, untuk reksadana jenis syariah konsepnya juga sama dengan yang konvensional, tetapi mengikuti prinsip syariah. Prinsipnya sudah tertulis dalam Peraturan OJK tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.

Untuk memulai investasi ini pun mudah. Anda tinggal download saja aplikasi reksadana, lalu mengisi data yang diperlukan. Untuk modal awalnya, Anda hanya perlu menyetorkan dana mulai dari Rp100,000.

Reksadana Syariah dengan Modal 100 Ribu(Baca Juga: Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu)

 

2. Saham Syariah

Banyak orang berpendapat bahwa saham merupakan jenis investasi yang banyak mendatangkan keuntungan. Oleh karenanya banyak juga yang berbondong-bondong berinvestasi saham.

Perbedaan mendasar dari saham biasa dan syariah adalah tidak ada bunga, serta berprinsip pada nilai-nilai syariah. Namun untuk keuntungannya tetaplah sama, yaitu High Risk High Return.

Di Indonesia, ada dua jenis saham syariah yang diakui oleh pasar modal Indonesia:



  • saham syariah yang memenuhi kriteria peraturan OJK No. 325/POJK.04/2017 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, dan
  • saham syariah yang dicatatkan sebagai saham syariah oleh emiten atau perusahaan publik syariah menurut peraturan OJK No. 17/POJK.04/2015.

 

3. Emas Syariah

Jenis investasi syariah lain yang tak kalah menguntungkan adalah emas. Seperti yang kita ketahui, harga emas sendiri tiap tahun cenderung naik. Terlebih lagi, produk investasi ini juga sangat disarankan untuk para pemula. Cara memulai investasinya pun mudah. Anda hanya tinggal mendatangi pegadaian, toko emas resmi, bank-bank syariah atau tempat lainnya, kemudian tentukan berapa besarnya emas yang ingin Anda investasikan.

Cara Investasi Emas(Baca Juga: 7 Cara Investasi Emas, Terbukti Aman Dan Menguntungkan)

 

Profit Investasi Syariah

Seperti yang sudah kita ketahui, sistem profit investasi/perbankan berkonsep syariah pasti tidak ada riba (bunga). Lantas, dari mana keuntungan yang didapatkan? Nah, keuntungannya dihitung dengan sistem bagi hasil, dengan mekanisme sebagai berikut:

  • Profit sharing/bagi hasil. Keuntungan yang dibagikan ini biasanya berasal dari perhitungan pendapatan yang sudah dikurangi beberapa biaya produksi/operasional. Jadi, yang akan kita dapatkan adalah keuntungan bersih dari investasi yang bersangkutan.
  • Revenue sharing, yaitu total pendapatan yang belum dikurangi biaya dan komisi sistem perbankan.
  • Gross Profit Sharing. Pembagian keuntungan jenis ini dihitung berdasarkan pendapatan yang dikurangi harga pokok penjualan. Akan tetapi, ini belum dikurangi biaya-biaya operasional, pajak, pemasaran, administrasi dan biata lainnya. Bisa dibilang, ini adalah laba kotor.

Nah, ketentuan pembagian hasil ini biasanya akan dijelaskan saat awal menandatangani akad. Jadi, Anda sebagai pihak nasabah tidak perlu khawatir jika ada kecurangan, sebab semua sudah dimusyawarahkan sebelum terjadi akad/perjanjian itu.

6 Akad dalam Investasi Syariah(Baca Juga: 6 Akad Yang Perlu Diketahui Saat Investasi Syariah)

 

Manfaat dan Risiko Investasi Syariah

Nampaknya, investasi syariah sudah banyak diminati oleh masyarakat. Namun, sebagai investor yang cerdik, kita perlu tahu manfaat dan risiko yang akan ditimbulkannya. Jangan sampai Anda asal investasi tanpa mempertimbangkan plus dan minusnya. Nah, berikut beberapa manfaat dari berinvestasi secara syariah:



 

1. Mengedepankan Prinsip Halal

Sebagai seorang muslim, tentunya Anda ingin berinvestasi yang membawa manfaat dunia dan akhirat, bukan? Oleh karenya, investasi ini sangat cocok untuk Anda. Terlebih lagi, hasil yang Anda peroleh akan membawa berkah.

 

2. Terhindar Dari Riba

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, sistem keuntungan yang dibagikan bukan berasal dari riba atau bunga. Syariat Islam sendiri sudah menjelaskan bahwa riba termasuk hal yang dilarang (haram). Jadi, Anda tidak usah khawatir karena investasi syariah tidak ada praktik ribanya.

Baca juga: 7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia

 

3. Aman Dan Bebas Penipuan

Dalam praktik investasi syariah, Anda akan tahu setiap prosedur yang dijalankan.

 

4. Mengedepankan Kegiatan Sosial

Investasi syariah dinilai menjadi penggerak untuk meningkatkan kualitas ekonomi karena investasi ini juga memberikan manfaat bagi orang lain. Salah satunya lewat kegiatan sosial yang dilakukan. Nah, bukankah manfaat yang Anda dapatkan akan berlipat ganda?



 

5. Minim Risiko

Umumnya, profit yang diperoleh dari investasi tergantung dari suku bunga yang ditawarkan dan nilai jual-belinya. Sehingga jika harganya turun, maka profit yang dihasilkan pun akan rendah. Bisa dibilang, risiko investasi yang mungkin diterima investor akan sangat tinggi.

Namun, hal ini tak berlaku untuk investasi syariah. Pasalnya, investasi syariah dipercaya minim risiko, karena profit yang didapat berasal dari perhitungan bagi hasil secara kekeluargaan.

Manajemen Risiko Investasi Syariah(Baca Juga: Menilik Perbedaan Manajemen Risiko Investasi Syariah dan Non Syariah)

 

Sementara itu, beberapa risiko dari investasi syariah adalah sebagai berikut:

1. Imbal Hasil/Profit Tidak Pasti

Hal pertama yang kita pikirkan dari melakukan investasi pasti profitnya. Sama seperti investasi konvensional, profit yang dihasilkan tidak selalu memuaskan sebab semuanya tergantung dengan pasar dan kondisi ekonomi umumnya.

Baca juga: Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal

 

2. Kehilangan Modal

Masih berhubungan dengan poin pertama, jika pasar dan kondisi ekonomi tidak stabil, Anda bisa terancam kehilangan modal. Sama seperti realisasi investasi pada umumnya, ada kalanya Anda akan untung, tetapi tidak menutup kemungkinan, Anda juga akan rugi.

 

3. Sulit Menjual Kembali Produk Investasi

Kesulitan untuk menjual produk ini biasanya didasari karena investor tidak paham tentang produk yang dibelinya dan dampaknya di masa mendatang.

 

Sekilas tentang Zakat dan Jenisnya

Bagi umat muslim, zakat adalah salah satu kegiatan beramal kepada sesama yang membutuhkan. Umumnya, kegiatan zakat ini dilakukan di bulan Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selain makanan pokok, uang juga bisa dijadikan zakat yang jumlahnya disesuaikan dengan syarat yang telah ditentukan.

Investasi Syariah dan Kalkulasi Zakatny

Zakat merupakan harta yang dikeluarkan oleh pemiliknya bila sudah mencapai syarat. Seperti yang telah diketahui, zakat dibagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bagi umat muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk membagi hartanya kepada para mustahiq. Zakat ini biasanya berupa beras 2.5 kg, makanan pokok, atau uang yang setara dengan harga makanan, dan ditunaikan setiap bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri.

Sedangkan zakat maal adalah zakat harta. Zakat maal ini terdiri dari beberapa macam, antara lain:

 

1. Zakat Penghasilan

Zakat yang dikeluarkan mengacu pada pendapatan atau penghasilan rutin tiap bulannya. Batas minimal nilai harta yang harus dikeluarkan sekitar 2.5 persen dari penghasilan yang dimiliki.

 

2. Zakat Emas dan Perak

Emas, perak atau logam mulia lainnya bisa dikeluarkan zakatnya apabila sudah mencapai batas minimal jumlah serta sudah dimiliki selama 1 tahun. Untuk zakat emas, batas minimal zakatnya yaitu senilai 85 gram. Sedangkan untuk perak, batas minimalnya sekitar 595 gram. Zakat yang harus dibayarkan dari kedua logam mulia ini sama, yakni 2.5 persen dari aset yang dimiliki.

Perbedaan Zakat Emas Investasi dan Perhiasan

 

3. Zakat Perusahaan

Zakat jenis ini dianggap seperti zakat perdagangan, sebab perusahaan memiliki sistem perekonomian yang sama dengan perdagangan. Oleh karena itu, batas minimal pembayaran dan penghitungan zakat perusahaan setara dengan 85 gram emas.

Pun, sebuah perusahaan biasanya memiliki harta yang terwujud dalam tiga bentuk: harta dalam bentuk barang (sarana dan prasarana atau komoditas perdagangan), tunai (biasanya disimpan di bank), dan piutang. Ketiganya juga harus dikeluarkan zakatnya dengan perhitungannya berdasarkan laporan. Total yang dikeluarkan zakatnya adalah 2.5 persen.

 

4. Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga. Harta niaga sendiri merupakan harta atau aset yang diperjualbelikan dengan tujuan mendapat keuntungan. Harta perdagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya dihitung dari aset lancar usaha dikurangi hutang jangka pendek (jatuh tempo 1 tahun). Apabila selisih aset lancar dan hutang tersebut mencapai batas minimal nilai harta, zakat wajib ditunaikan sebesar 2.5 persen.

 

5. Zakat Saham

Pada zakat saham, zakat yang dikeluarkan berasal dari keuntungan investasi saham yang sudah mencapai batas minimal nilai harta. Yang mana nilainya setara dengan 85 gram emas dan dikeluarkan sekitar 2.5 persen dari hasil keuntungan yang dimiliki.

 

6. Zakat Reksadana

Sama seperti zakat saham, zakat reksadana berasal hari hasil keuntungan investasi. Zakatnya bisa dikeluarkan apabila sudah mencapai batas maksimal nilai harta sekitar 2.5 persen dan jangka waktu kepemilikan selama 1 tahun.

 

Perlukah Mengeluarkan Zakat dari Investasi Syariah?

Selama ini, orang mengetahui kalau zakat hanya dibayarkan saat akhir Ramadhan. Padahal ada pula yang namanya zakat harta. Seiring berkembangnya zaman, harta yang dimiliki oleh setiap orang tak hanya berasal dari penghasilan pekerjaan. Ada juga yang berasal dari portofolio investasi, baik itu saham, deposito, maupun reksadana. Hasil keuntungan yang diperoleh inilah yang kemudian menambah jumlah harta. Oleh karenanya, masyarakat muslim wajib dikenakan zakat.

Zakat Maal

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), seseorang yang memiliki pendapatan lain dan memiliki alokasi khusus di instrumen investasi, wajib mengeluarkan zakat dengan memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Maka, investasi syariah adalah termasuk bagian dari objek zakat dan perlu untuk menunaikan zakatnya.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, zakat investasi syariah merupakan bagian dari zakat maal dengan pengeluaran zakatnya sekitar 2.5 persen dari total hasil keuntungan yang diperoleh. Dalam perhitungannya, kita harus mengetahui berapa jumlah batas minimal nilai harta keseluruhan yang perlu dikeluarkan zakatnya (nisab-nya). Adapun contoh perhitungan zakat investasi adalah sebagai berikut:

Rumus: 2.5% × jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun

Bapak X memiliki total aset senilai Rp200,000,000,- selama 1 tahun penuh. Apabila harga emas saat ini Rp913,000,-/gram, maka nisabnya adalah senilai Rp77,605,000,-. Hal ini menunjukkan bahwa Bapak X sudah wajib zakat, sehingga zakat yang perlu dikeluarkan adalah 2.5% × Rp 200,000,000,-= Rp5,000,000,-.

Contoh lainnya adalah Ibu A memiliki deposito sejumlah Rp 50,000,000,- di bank, kemudian emas 20 gram atau sekitar Rp18,260,000,-, dan reksadana yang terdiri dari saham dan pasar uang senilai Rp 80,000,000,-. Total dari aset investasi yang dimiliki oleh Ibu A adalah Rp 148,260,000,-, sehingga zakat harta yang perlu dikeluarkan adalah 2.5% × Rp148,260,000,- = Rp 3,706,500,-.

 

Kesimpulan

Di atas merupakan beberapa hal yang perlu Anda ketahui jika ingin melakukan investasi syariah. Jangan hanya langsung main berinvestasi saja, pikirkanlah manfaat untuk ke depannya. Selain itu, sebagai muslim yang baik, jangan lupa keluarkan zakat agar investasi Anda makin berkah.

Forum

Wisnu Aditya (26 Apr 2021)

Berapa kekalahan yang wajar dalam forex untuk modal trading 10 juta? 

Selengkapnya...

BANK1 Bulan
BANK DBS INDONESIA4.25
BANK MAYBANK INDONESIA4.25
BANK MEGA2.50
BANK CENTRAL ASIA 2.85
BANK TABUNGAN NEGARA3.25
BANK MANDIRI2.00
BANK PERMATA 4.00
BANK RAKYAT INDONESIA2.85
STANDARD CHARTERED BANK4.00
BANK ANZ INDONESIA2.75

Kirim Komentar/Reply Baru


Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Nandini   11 May 2021   75  
hedging dengan jumlah lot yg sama pada posisi buy dan sell

Salam, Mas. Tolong nasehati saya. Trading sy bermasalah sejak pergerakan turun. Sampai sekarang terpaksa saya hedging dengan jumlah lot yg sama pada posisi buy dan sell. Sedih rasanya, Mas. Sampai sekarang saya kesulitan keuangan. Dan sampai kapan pergerakan turun ini terus? Moga nasehat Mas berguna bagi saya. Matur Nuwun.

Akzam 4 Jun 2012

Reply:

Basir (04 Jun 2012 15:17)

Bagi mereka penganut hedging / swing Trading hedging mungkin tak masalah karena mereka bisa mengunci dan bisa  kembali membuka kuncinya saat yang tepat.  kalau saja Jaraknya masih dekat mungkin salah satunya bisa dikorbankan. Kalau jaraknya sangat jauh anda bisa injek dana atau anda masuk dengan lot  lot kecil untuk  TP dan menyelamatkan akun anda minimal sampai BEP.

Thanks

Kiki R (22 Sep 2019 16:30)

@akzam: Dalam keadaan akun yang ter-hedging karena posisi yang salah arah hingga floating loss banyak maka perlu hati-hati dalam membuka hedging. Tidak ada yang benar-benar tahu dengan pasti seberapa jauh suatu harga akan naik begitupula dengan turun. Untuk kasus sekarang, cara terbaik adalah menunggu momentum untuk membuka posisi sell/buy dengan melihat trend di time frame besar seperti Monthly dan Weekly. Pembukaan hedging perlu diperhatikan ketahanan dana sehingga akun tidak margin call (MC). Salah satu alternatif lain juga adalah deposit dana secukupnya untuk menahan floating agar akun tidak MC.

Sebagai contoh, apabila pergerakan trend di Monthly dan Weekly adalah trend turun, maka kita perlu menunggu koreksi naik untuk membuka posisi buy yang floating loss dari atas. Tentu dalam membuka posisi loss buy harus diperhitungkan jumlah lot yang pas.

Kondisi ini bisa dicegah dari awal apabila kita menggunakan stop loss, sehingga ketika arah posisi kita salah maka kerugian segera dibatasi. 

Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Linlindua   5 May 2021   166  
Live Trading NFP Bareng Finex
Live Trading NFP Bareng Finex
Melati   4 May 2021   235  
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Wahyudi   30 Apr 2021   149  
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Wahyudi   30 Apr 2021   182  
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
Linlindua   29 Apr 2021   141  
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
Linlindua   29 Apr 2021   159  
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
Linlindua   28 Apr 2021   132  
Cara Beli Bitcoin Praktis Dan Mudah Untuk Pemula
Cara Beli Bitcoin Praktis Dan Mudah Untuk Pemula
Linlindua   27 Apr 2021   162