Mengapa Sebagian Besar ICO Gagal?

SAM 20 Feb 2018
Dibaca Normal 6 Menit
kripto > koin >   #ico
Ada 3 pilar penting yang sering diabaikan pengembang ICO hingga menyebabkan kegagalan masif ini. Apa sajakah itu?

Dalam tulisan kali ini, kita akan mempelajari alasan mengapa kebanyakan ICO yang diadakan oleh berbagai developer di dunia mengalami kegagalan. Statistik dari Tokentops mengungkapkan, 99% ICO telah menjadi SCAM dan terkonfirmasi gagal. Tidak sedikit ICO yang menawarkan iming-iming ROI (Return Of Investment / Pengembalian Investasi) dengan level terlalu tinggi.

Baca Juga: 5 Kasus Penyalahgunaan Kripto Yang Menggegerkan Dunia

Bayangkan saja, ICO (Ininitial Coins Offering) yang baru-baru ini diadakan seperti Dent menawarkan ROI 57,659% atau 576 kali lipat dari investasi awal. Bagi yang berpikiran logis dan normal, tentu saja sudah mengetahui bahwa investasi semacam ini sangat berpotensi SCAM atau mengarah pada penipuan, yang kemudian bisa berakhir pada lenyapnya dana investasi.

Mengapa sebagian besar ICO gagal

Pada tanggal 12 Juni 2017, sebuah ICO berbasis Ethereum yang disebut Bancor menghasilkan 153 USD juta dalam 3 jam saja. BAT ICO menghasilkan 35 juta USD dalam 30 detik, atau sekitar 1.2 USD juta per detik. Kemudian, pernahkah Anda mendengar tentang UET? UET memiliki ICO yang menghasilkan 40,000 USD hanya dalam waktu 3 hari. Kenapa kita membahas Bancor, BAT, dan UET?

Ketiga ICO tersebut sudah terbukti sebagai sebuah ICO atau Token Lelucon. Bayangkan saja, token yang tidak jelas penggunaannya dan tidak memiliki fungsi ekonomis sama sekali, justru menghasilkan pengumpulan dana yang super besar hanya dalam waktu singkat. Mereka hanya berfokus pada bentuk koin "kripto" saja, tanpa memperhatikan bahwa fungsi dan manfaatnya haruslah bisa bersaing dengan Top Kripto yang bertengger di papan atas saat ini.

Faktanya, sekitar 99% dari semua ICO yang sudah meluncur telah menemui kegagalan. Tentu angka mengejutkan tersebut bukan hanya tebak-tebakan belaka, karena ribuan kripto atau token baru telah diciptakan selama beberapa tahun terakhir, dan lebih dari 90% diantaranya telah gagal. Bahkan jika kita mengunjungi situs Coinmarketcap, ada sekitar 1,540 koin yang sudah tercipta dan melantai di pasar, tetapi lebih dari 50% di antaranya cuma memiliki valuasi pasar kurang dari 1 juta USD. Artinya, adopsi yang terjadi pada koin-koin tersebut bisa dikatakan gagal.

Sebelum kita melanjutkan ke pembahasan inti, ada sesuatu yang perlu diluruskan: saya secara pribadi tidak membenci ICO. Saya percaya bahwa ICO adalah sesuatu yang benar-benar revolusioner dan akan terus berkembang sebagai kendaraan masa depan. Apalagi, pengusaha dan investor yang ingin berinovasi hanya membutuhkan konsep Whitepaper untuk mengadakan penggalangan dana proyek. Tentu saja hal ini saya anggap benar-benar "brilian", tapi di saat bersamaan juga "tidak masuk akal".

 

Jadi, Bagaimana Sebuah ICO Bekerja?

Pada intinya, pengembang menerbitkan sejumlah token terbatas. Dengan menyimpan sejumlah token terbatas, mereka memastikan bahwa token itu sendiri memiliki sebuah nilai, sekaligus menunjukkan bahwa ICO memiliki tujuan yang ingin dicapai. Token dapat memiliki harga yang ditentukan sebelumnya, atau mungkin meningkat dan menurun tergantung pada seberapa besar pembelian dan penjualan yang terjadi (konsensus).

Token pada dasarnya adalah sebuah mata uang asli yang hanya dapat digunakan di lingkupnya. Ibarat koin spesial yang Anda peroleh di pusat permainan arkade di Mall, Anda hanya dapat menggunakan koin tersebut pada device permainannya saja. Token tersebut hanya dapat berfungsi ketika si pemilik menggunakannya di area asalnya, seperti gelang penanda yang dipakai suatu tempat wisata. Ketika Anda mengenakannya, gelang tersebut hanya berlaku di tempat wisata yang mengeluarkannya, dan tidak berlaku di tempat wisata lain.

Transaksi ICO cukup sederhana. Jika seseorang ingin membeli token, mereka hanya perlu mengirim sejumlah dana ke alamat pelaku ICO. Ketika transaksi selesai dilakukan, maka pembeli mendapatkan jumlah token yang sesuai. Jadi, sesederhana itulah gagasan utama tentang bagaimana ICO bekerja. Jika mudah dilakukan, lantas mengapa sebagian besar ICO gagal?

Cara kerja ICO

Alasan utama di balik fenomena tersebut bisa ditelusuri kembali pada kurangnya kesadaran para pengembang atau pengusaha akan tiga pilar yang harus di miliki sebuah Token:

  1. Cryptoeconomics atau Kriptoekonomi
  2. Utilitas
  3. Keamanan

Tanpa pemahaman tentang ketiga komponen tersebut, sebuah Token bakal kesulitan untuk bersaing dengan ribuan koin lainnya. Untuk membantu pemahaman Anda, berikut ini uraian tentang masing-masing pilar penting di atas:

 

1. Kriptoekonomi

Adalah sebuah fakta yang lucu ketika kebanyakan pengembang melupakan pilar pertama ini dalam ICO mereka. Perlu diingat, ada 2 kata yang menyusun kata Kriptoekonomi: Kriptografi dan Ekonomi. Kebanyakan pengembang hanya memperhatikan bagian Kriptografi saja, tanpa benar-benar memperhatikan bagian Ekonomi. Sebagai akibatnya, sangat jarang ditemukan Token hasil ICO yang kerangka ekonominya dipetakan dengan baik sebelum membuat Whitepaper-nya.

Agar Token hasil ICO dapat berharga dalam jangka panjang, tentu saja sisi ekonomisnya harus tetap diperhatikan, karena yang menciptakan sebuah kesepakatan harga di dunia kripto adalah konsensus; kesadaran penuh antara sisi supply dan demand. Sedangkan yang terlihat saat ini, kebanyakan Token hanya berupa inflasi dengan model ekonomi yang cacat sehingga tidak dapat berkelanjutan untuk jangka panjang. Tidak jarang ICO menawarkan keuntungan yang cukup tinggi dan hanya berujung pada Skema Ponzi, yang tak diragukan lagi akan runtuh dalam waktu singkat.

Salah satu keuntungan terbesar ICO adalah setiap orang bisa mengajukan proposal (Whitepaper) untuk konsep mereka agar didanai oleh publik. Namun yang perlu diingat di sini adalah, hal itu bukanlah produk jadi, melainkan hanya sebuah konsep. Masih ada jalan panjang sebelum konsep tersebut dapat menjadi produk jadi, sehingga ada kemungkinan 90 sampai 95% bahwa konsep dapat berujung gagal.

 

2. Utilitas

Sebagian besar ICO tidak memaksimalkan pilar ini pada Token mereka. Padahal, bukti otentik bahwa individu membutuhkan Token di masa depan harus disediakan, agar nilai keseluruhan dari produk ICO benar-benar bagus. Contohnya, jika Anda ingin menjadi seorang pengembang ICO, tanyakan pada diri Anda sendiri: jika Anda tidak mengambil Token, apakah bisnis Anda akan bangkrut? Jika jawabannya tidak, berarti Anda tidak memerlukan Token ataupun mengadakan ICO. Kebanyakan orang "mentokenkan" bisnis mereka hanya agar bisa "HODL" (Hold On For Dear Life) dan memiliki kripto yang lebih banyak di masa depan.

Jika Anda ingin menggunakan Token untuk bisnis, Anda harus benar-benar memahami perannya dan memaksimalkan kegunaannya, bukan hanya Follow The Crowd tanpa tahu seluk-beluk Token dan ICO. Anda harus mengerti bahwa "tokenisasi" dapat menjadi alat serbaguna untuk memberikan keuntungan lebih besar pada bisnis.

Untuk memaksimalkan Utilitas sebuah Token atau ICO, ada beberapa hal yang harus benar-benar dipahami oleh pengembang maupun investor, di antaranya adalah Hak dan Kewajiban, Penentuan Nilai Tukar, Toll (syarat mendapatkan fasilitas), Fungsi, Jenis Mata Uang, dan Keuntungan.

 

3. Keamanan

Data dari Chainanalysis menunjukkan bahwa lebih dari 30,000 orang telah menjadi korban kejahatan cyber terkait kripto. Masing-masing dari mereka sudah kehilangan hingga 7,500 USD. Sementara itu, kejahatan penipuan ICO selama tahun 2017 menimbun kerugian hingga 1.6 miliar USD.

Para pengembang atau perusahaan yang akan mengadakan ICO tentu harus benar-benar memperhatikan masalah keamanan. Sekali platform terkena hacking yang entah disebabkan oleh kesalahan kode, phising, maupun alasan lain, maka kepercayaan dari pembeli Token akan memudar. Akibatnya, demand (permintaan) akan langsung drop dan menyebabkan berkurangnya minat terhadap Token. Hal ini lantas bisa membuat Token cepat hilang dari peredaran, karena tidak ada yang berminat lagi untuk memilikinya.

Terkait Lainnya
 

Komentar @inbizia

Terbongkar Kelicikan Hary Suwanda kalian bisa google : Hary suwanda, baru2 ini dia terjerat kasus Penipuan/penggelapan investasi. korbannya 2 orang. Sri ditipu senilai 1.3 Milyar, invest sejak 2011 smp skr ga balikin, yg terbaru Sendy Perico (pengusaha) rugi senilai 11 Milyar !! Sekarang kasusnya di pengadilan jakarta barat, Namun sayangnya tuntutannya cuma 2 tahun ? pantas aja dia msh bs tertawa tawa, betapa ringannya hukuman di indonesia Pelajaran berharga bagi Masyarakat 1. dont judge a book by its cover ! dia itu tampangnya orang alim kok, perbuatannya , kalian nilai sendiri ya 2. banyak orang yang bingung menilai seseorang, dia emang banyak TAU soal trading , tapi apakah dia BISA ? dia sering mengklaim dirinya trader sukses di medsos, klaim mampu menhasilkan Us$1 million , faktanya skr menipu. 3. Kalau dia atau orang lain yg sering koar2 di media klaim udah sukses, tolong buktikan aja isi dapurmu ! atau jadi fund manager di reksadana, lets see how good you are ! liatlah skr, artinya dia tidak mampu cari uang dari trading 4. sepak terjang hary suwanda 2004 ikut seminar option oleh kishore (singapore) kemudia dia, abraham lembang, peter sufandri juga jual seminar smp 2011. 2011, 2014 kasus penipuan. 2019 sidang di pengadilan jakarta barat Analisa : 2004 - 2011 = 7 tahun bisnisnya jualan seminar 2011 menipu Sri 1.3 Milyar , 2014 bawa kabur 11 Milyar uang pengusaha sendy periko kesimpulan : kalo dia jago trading , kenapa mesti menipu orang lain ? knp jual seminar ? artiya dia masih belum punya kemampuan trading, namun masyarakat banyak yg terkecoh oleh penampilannya, knowledge nya. mrk tidak bisa menilai KEMAMPUANNYA !! serta INTEGRITAS nya.
 John Doe |  9 Aug 2019
Halaman: Trader Sukses Indonesia Hary Suwanda Forex Bukan Untuk Pemula
Haha, ya gitu tuh, sebelum dicoba banyak-banyak lihat review. Banyak yang pakai ga. Coba-coba indikator boleh, tapi sebaiknya di demo akun. Atau kalau kamu trader berpengalaman bisa pakai akun cent.
 Pipit |  14 Jan 2021
Halaman: Cara Memilih Indikator Forex Terbaik
Tergantung strateginya. Kalau day trading lebih baik di time frame 1 jam sampai 4 jam. Kalau swing trading bisa pilih time frame 4 jam sampai 1 hari. Untuk periode EMA tidak ada batasan, bisa coba EMA 50 atau bahkan 200, mana saja yang penting dicoba dulu performanya di akun demo (backtest)
 Adrian |  9 Mar 2022
Halaman: Cara Membaca Indikator Stochastic Menurut Macam Fungsinya
Saya baru dengar soal upbit ini. Jadi ada beberapa pertnayaan: -apakah koin2 artis kayak Asix dan icoin juga bisa ditukarkan di sini? - apa aplikasinya bisa dipake untuk trading juga? Trims pencerahannya.
 Jerome |  1 Apr 2022
Halaman: Review Exchange Kripto Upbit Indonesia
Dha banyak pilihan saham syariah gini, tp orang2 masih bnyk yg kena bujuk rayu saham abal2. Disitu sy merasa sedih. Btw min gaada rencana bahas saham paytrennya Yusuf mansyur ato icoin punya anaknya? Kyknye seru tuh kalo diangkat. Biar makin bnyk yg tercerahkan. Xixixixi
 Anton |  13 Apr 2022
Halaman: Pasar Modal Dan Saham Menurut Islam
@William: Kalau membeli secara keseluruhan biasanya developer EA memiliki sebuah Website professional khusus yang berisikan product yang dijual beserta Track Record yang digunakan. Jadi website-nya akan berbeda-beda tiap robotnya. Market Place yang banyak pilihannya ada di MQL5. Namun, setahu saya sangat sedikit Developer professional yang akan menjual atau menyewakan produknya di MQL5 langsung mengingat adanya potongan yang dikenakan sebagai ganti biaya sewa di sana. Namun bukan berarti semua EA yang ada di MQL5 tidak professional dan kurang baik, selalu perhatikan masa berjalan robot yang ingin dibeli terlebih dahulu. Jika sudah berjalan lebih dari 1-2 tahun dan memiliki Review yang baik, maka bisa dicoba membeli di MQL5.
 Nur Salim |  3 Jun 2022
Halaman: Keunggulan Dan Kelemahan Robot Trading Forex Ea

Kirim Komentar Baru