Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?

Febrian Surya 22 Sep 2020 813
Dibaca Normal 13 Menit

Walaupun sama-sama produk reksadana, ETF dan reksadana ternyata memiliki perbedaan yang perlu diketahui oleh investor. Apa sajakah itu? Manakah yang terbaik?



ETF dan reksadana merupakan produk investasi hasil racikan Manajer Investasi (MI). Walaupun memiliki perbedaan nama, namun kedua produk investasi tersebut sejatinya merupakan reksadana. Hal yang membedakan adalah, saat kamu berinvestasi ETF, kamu membeli semua saham yang ada di suatu indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI), misalnya LQ45.

Portofolio investasi yang ditawarkan oleh ETF dan produk reksadana biasa juga berbeda. Bila kamu investasi di reksadana, kamu bisa membeli produk reksadana yang berisikan saham, instrumen pasar uang, dan pendapatan tetap. Sementara itu, ETF hanya menawarkan indeks saham atau obligasi.

Investasi ETF Vs Reksadana

Dalam dunia investasi, ETF mungkin masih terdengar asing bagi sebagian investor pemula, lantaran masih jarang diinvestasikan oleh masyarakat. Pasalnya, mereka lebih memilih untuk membeli produk reksadana biasa lewat agen penjualan reksadana.

Baca juga: Tips Investasi Reksadana Bagi Investor Pemula

Nah, biar kamu nggak tambah bingung dengan apa itu ETF serta perbedaannya dengan produk reksadana biasa, kamu bisa simak penjelasannya di sini.

 

 

Apa Itu ETF?

ETF adalah singkatan dari Exchange Traded Fund, yakni reksadana berbentuk kontrak kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi, karakteristik dari investasi ETF adalah menggabungkan produk reksadana berbentuk terbuka (open ended fund) dan saham (common stock).



 

Perkembangan Investasi ETF

Investasi ETF mungkin baru beberapa tahun terakhir mulai banyak diinvestasikan di Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa investasi ETF bukanlah sebuah produk investasi baru. Instrumen ini sudah ada sejak 1990 saat ditransaksikan pertama kali di Bursa Efek Toronto.

Investasi ETF mulai berkembang ke Amerika Serikat pada 1993, lalu mulai dikenal dan ditransaksikan di Eropa pada 1997. Di Indonesia, investasi ETF pertama kali ditransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2007. Produk ETF pertama di Indonesia adalah R-LQ45X yang diracik oleh IndoPremier Sekuritas.

Sesuai namanya, R-LQ45X mengacu kepada kinerja indeks saham LQ45, atau kumpulan 45 perusahaan yang dinilai dari sisi likuiditas dan nilai kapitalisasi pasar dan selalu diperbarui setiap 6 bulan sekali.

Indeks Saham(Baca juga: Mengenal Apa Itu Indeks Saham Dan Beragam Manfaatnya)

Berdasarkan info Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minat investor kepada produk ETF di Indonesia semakin tinggi, setidaknya dalam periode 5 tahun antara 2015 hingga 2019. Pertumbuhan dana kelolaan ETF pada periode tersebut terhitung naik dari Rp2.6 triliun menjadi Rp15 triliun.

Hingga April 2020, tercatat setidaknya ada 33 produk ETF yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, tren investasi ETF di Indonesia masih kalah jauh dibanding instrumen pasar modal lainnya seperti reksadana dan saham.

 

Perbedaan ETF vs Reksadana

Seperti yang sudah dijelaskan di awal artikel ini, ETF dan reksadana sama-sama diterbitkan oleh Manajer Investasi (MI). Tetapi, cara berinvestasi kedua produk tersebut memiliki perbedaan dari sisi:



 

Perdagangan

ETF memiliki karakteristik reksadana tertutup. Saat kamu sudah membeli suatu produk ETF yang diterbitkan oleh Manajer Investasi (MI), kamu tidak bisa menjualnya kembali ke Manajer Investasi (MI). Transaksi harus lewat mekanisme jual beli di BEI berdasarkan pergerakan harga secara real time selama jam perdagangan, dan dengan indeks saham yang menjadi acuan underlying asset-nya.

Di lain pihak, produk reksadana saham umumnya memiliki karakteristik reksadana terbuka. Artinya, investor yang telah membeli produk reksadana di Manajer Investasi (MI) bisa menjual aset tersebut kembali kepada Manajer Investasi dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) saat itu juga.

Baca juga: Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan

Dalam perdagangan ETF, ada istilah dealer partisipan pasar primer yang menyediakan likuiditas (order beli dan jual) bagi investor ETF. Sementara itu, perdagangan untuk produk reksadana biasa bisa melalui Manajer Investasi (MI) maupun agen penjualan reksadana.

 

Minimal Pembelian

Minimal investasi untuk ETF dan reksadana biasa juga berbeda. Jika kamu berinvestasi ETF, kamu harus membeli minimal 1 lot (100 lembar saham) saat melakukan pembelian di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun bila lewat dealer partisipan pasar primer, kamu perlu membeli ETF dalam jumlah yang lebih banyak yakni 1000 lot (100ribu unit).

Minimal Pembelian ETF vs Reksadana

Lalu, bagaimana dengan minimal investasi di reksadana biasa? Di reksadana biasa, kamu hanya perlu berinvestasi minimal 1 unit saja, yang bisa dimulai dari nominal Rp10,000 di agen penjualan reksadana. Namun, minimal biaya investasi reksadana biasa lewat agen penjualan reksadana berbeda-beda, tergantung dari level produk reksadana yang mereka tawarkan.



Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Reksadana

Mengapa terdapat perbedaan biaya minimal investasi ETF vs reksadana konvensional yang sangat drastis? Pada dasarnya, membeli ETF sama halnya dengan membeli seluruh saham-saham yang terdapat di dalam indeks saham acuan misalnya LQ45. Sedangkan jika kamu membeli reksadana saham biasa, kamu hanya membeli beberapa saham saja yang sesuai dengan racikan Manajer Investasi (MI) lewat produk reksadana saham.

 

Underlying Asset

Instrumen investasi yang ditawarkan oleh ETF berupa saham dan obligasi yang mengacu kepada indeks, sedangkan reksadana biasa memiliki portofolio dari berbagai jenis instrumen investasi yang lebih luas, seperti obligasi, deposito, saham, dll.

Untuk obligasi, perlu diketahui bahwa aset satu ini dikenal tidak likuid untuk diperdagangkan. Belum lagi, obligasi memiliki jatuh tempo. Tetapi bila kamu membeli ETF obligasi dari dealer partisipan, obligasi yang kamu miliki masih tetap likuid karena investor bebas untuk memperjualbelikan aset tersebut di saat jam perdagangan.

Risiko Obligasi(Baca juga: Risiko Obligasi: 4 Hal Ini Harus Diwaspadai Investor)

Misalnya, bila kamu membeli ETF obligasi antara 1-3 tahun, obligasi-obligasi yang sudah di bawah 1 tahun akan dijual oleh dealer partisipan untuk dibelikan obligasi yang baru di bawah 3 tahun. Tetapi, investor tidak dijamin uangnya kembali saat berinvestasi ETF obligasi semacam ini, karena tidak memiliki tanggal jatuh tempo.

Hal ini tentunya berbeda bila kamu berinvestasi obligasi (individual). Kamu bisa tetap menerima kembali uang yang kamu investasikan berdasarkan tanggal jatuh tempo, walaupun suku bunga mengalami penurunan sekalipun.



 

Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang diperoleh investor ETF berasal dari penjumlahan semua saham-saham yang ada di produk ETF, dan bisa ditambah dengan nilai tunai bila ada saham-saham yang membagikan dividen

Dalam berinvestasi ETF saham, kamu bisa digambarkan sebagai seorang pembeli yang sedang membeli satu keranjang berisikan 50 saham.

Misalnya, jika NAB Rp100,000 untuk satu sahamnya, maka bila ada 50 saham di dalam keranjang tersebut, berapa jumlah uang yang perlu kamu bayarkan?

Jawabannya tentu sangat sederhana. Uang yang kamu perlu bayarkan adalah Rp100,000 x 50 = Rp 5,000,000. Bila dalam beberapa waktu kemudian nilai NAB mengalami kenaikan menjadi Rp110,000, nilai investasi ETF saham yang kamu miliki akan menjadi Rp110,000 x 50 = Rp 5,500.000. Artinya, kamu sudah meraup keuntungan Rp500,000 dari investasi awal.

Hal ini juga sama halnya ketika kamu ingin menghitung NAB reksadana milikmu. Yang perlu diketahui, Nilai Aktiva Bersih (NAB) untuk ETF bisa berubah-ubah setiap detiknya selama jam perdagangan masih dibuka. Di lain pihak, NAB reksadana biasa hanya mengalami perubahan setelah penutupan jam perdagangan.

 

Harga

Harga ETF bisa dimulai dari nominal berapapun, sedangkan harga reksadana pertama dimulai dari Rp1,000. Biasanya, harga dibuat sama dengan indeks acuan sehingga bisa memudahkan pemantauan perbandingan dengan indeks acuan.

Investor dapat menjual dan membeli harga ETF di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam satuan 1 lot yang setara 500 unit penyertaan. Namun, transaksi ini hanya diperuntukkan bagi investor ritel yang dinilai bertransaksi dalam jumlah kecil.

 

Kelebihan ETF

Setelah membandingkan ETF vs reksadana dari sisi perdagangan, underlying asset, minimal pembelian, hingga bagaimana cara menghitung Nilai Aktivasi Bersih (NAB) dan harga, kini saatnya kita membahas lebih dalam lagi tentang investasi ETF, dan mengetahui apa saja kelebihan yang bisa diperoleh investor.

Kelebihan ETF

 

Risiko Lebih Kecil Dan Terukur

Dengan memiliki portofolio saham yang mengacu kepada indeks saham seperti LQ45, maka risiko akan lebih minim jika dibandingkan dengan membeli saham secara langsung. Mengapa?

Ketika kamu membeli saham secara langsung, kinerja portofolio investasimu ditentukan oleh kinerja dari masing-masing saham yang dikoleksi. Misalnya saja, kamu berinvestasi di saham A, dan harga saham tersebut turun di bawah harga beli. Tandanya, kamu sudah mengalami penurunan nilai investasi.

Sementara itu, kinerja ETF saham ditopang oleh seluruh saham-saham yang masuk ke dalam indeks acuan. Sehingga, nilai kerugianmu tidak hanya dipengaruhi oleh satu atau dua saham saja, melainkan pengerakan indeks harga yang menjadi acuannya. Selama nilai indeks saham tersebut masih hijau, maka kamu masih untung.

Selain risiko yang kecil, investasi ETF juga lebih terukur. Lantaran, kamu tidak perlu repot-repot harus menganalisa saham satu per satu yang ingin kamu beli dengan melibatkan banyak tenaga dan waktu. Hal itu karena semua pergerakan harga yang terjadi hanya mengacu kepada satu hal saja, yakni indeks yang menjadi acuan.

Belum lagi, indeks saham yang menjadi acuan seperti LQ45 diisi oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki fundamental terjamin dari sisi manajemen hingga keuangan.

 

Lebih Transparan

Kelebihan lain ETF sebagai produk investasi bagi investor adalah berkaitan dengan transparansi. Investor pasti tidak mau memilih aset investasi seperti membeli kucing dalam karung. Untuk memastikan potensi profit dan risiko, mereka tidak akan langsung saja percaya apa yang dijanjikan oleh Manajer Investasi (MI) terkait komposisi aset investasi. Harus ada sebuah draft yang menunjukkan komposisi aset agar investor bisa mencari tahu lebih lanjut terkait risiko investasi tersebut.

ETF lebih transparan

Di reksadana, Manajer Investasi (MI) wajib mempublikasikan 10 efek terbesar. Sedangkan untuk produk ETF, pihak penerbitnya akan selalu mempublikasikan komposisi asetnya kepada investor secara berkala. Selain itu, ETF pasif yang mengacu ke indeks saham tertentu bisa semakin memudahkan investor untuk mengetahui seluruh saham-saham yang dibeli, dan bisa mempermudah investor untuk mengukur risiko investasi.

 

Proses Jual-Beli Lebih Cepat

Kecepatan dalam hal bertransaksi untuk produk investasi tentunya menjadi harapan bagi setiap investor di luar sana. Dengan cepatnya proses jual-beli yang bisa dilakukan, pastinya investor tidak akan ketinggalan momen untuk menangkap peluang dari pergerakan harga yang diinginkan. Saat kamu berinvestasi ETF, kamu bisa berinvestasi layaknya di pasar saham; kamu bisa keluar masuk pasar sesuai keinginanmu.

Bila kamu membeli ETF di bawah Satu Unit Kreasi (100,000 unit penyertaan), kamu masih tergolong sebagai investor ritel dengan jumlah transaksi yang sedikit. Untuk pembelian di bawah Satu Unit Kreasi, kamu bisa membeli di pialang saham. Sementara untuk transaksi di atas 100,000 unit penyertaan, kamu bisa menghubungi dealer partisipan atau perusahaan sekuritas.

 

Hemat Waktu Dan Tenaga

Investor milenial saat ini gencar mencari jenis instrumen investasi yang bisa diakses secara online. Lantaran, aktivitas investasi seperti ini tidak buang-buang waktu dan tenaga; hanya melalui laptop atau smartphone bisa membeli atau menjual produk investasi.

Platform Online ETF(Kunjungi juga: Pusat Informasi Fintech)

Khusus untuk investasi ETF, kamu tidak hanya bisa melakukannya lewat aplikasi online, karena kamu juga tidak perlu terus memantau terus aset-asetmu satu per satu. Untuk memonitor, kamu hanya perlu mengetahui pergerakan indeks saham atau obligasi yang menjadi acuan produk ETF. Kamu hanya perlu duduk santai seperti kamu sedang berinvestasi di reksadana. Lantaran, ETF adalah produk investasi yang menggabungkan karakteristik saham dan reksadana tertutup.

Sementara itu, investasi saham biasa tidak akan bisa terlepas dari grafik dan pergerakan harga. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan dan psikis seorang investor hingga menyebabkan kesulitan tidur akibat takut ketinggalan momen dari pergerakan harga saham-saham yang dimiliki.

 

Likuiditas Tetap Terjaga

Walaupun popularitas ETF masih kalah jauh dibanding saham dan reksadana dari kacamata investor, namun menyoal likuiditas ETF kamu nggak perlu khawatir karena akan dibantu oleh dealer partisipan yang siap membantu.

Likuiditas ETF(Belajar Forex Sebagai Aset Investasi Paling Likuid Di Dunia Finansial)

Pihak dealer partisipan bisa memasukkan order jual dan beli ke pasar primer maupun pasar sekunder agar aset-aset milik investor tetap bisa terjaga likuiditasnya. Oleh sebab itu, dealer partisipan juga disebut sebagai penyedia likuiditas. Bahkan, untuk investor yang baru pertama kali ingin berinvestasi di ETF, kamu bisa membeli produk-produk ETF tertentu mulai dari Rp10,000 saja.

 

Pilih ETF Dari Saham Yang Suka Bagi-Bagi Dividen

Dividen merupakan momen yang ditunggu oleh setiap investor saham di luar sana. Penentuan pembagian dividen ini berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Untuk mendapatkan opsi ETF yang memungkinkan pendapatan melalui dividen, kamu bisa mengacu kepada indeks IDX High Dividen 20.

Dividen Saham(Kunjungi juga: Jadwal Pembagian Dividen Saham Indonesia)

Indeks ini merupakan kumpulan dari berbagai saham yang rutin memberikan dividen kepada investor setiap tahunnya, dengan imbal hasil (yield) dividen yang relatif besar. Selain itu, perusahaan yang termasuk ke dalam indeks IDX High Dividen 20 adalah perusahaan yang memiliki tranksasi perdagangan mencapai lebih dari Rp1 miliar per harinya, sudah tercatat di BEI selama 3 tahun, dan memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar pula. Sebagai informasi, indeks IDX High Dividen 20 termasuk anak baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), karena baru diluncurkan pada Mei 2018 silam.

 

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Investasi ETF

Di balik kelebihan-kelebihan yang sudah dijelaskan sebelumnya, satu persepsi yang selalu dianggap sama oleh semua investor adalah tidak ada satu pun produk investasi yang bebas 100% risiko. Hal ini pun berlaku untuk produk ETF.

Faktanya, ETF memiliki risiko penurunan harga saham yang fluktuatif. Faktor ini disebabkan oleh kebijakan moneter Bank Indonesia seperti bunga bank dan nilai tukar mata uang, serta isu-isu geopolitik ataupun ekonomi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Selain itu, investor juga perlu menanggung biaya-biaya saat berinvestasi ETF seperti pajak capital gain, biaya spread, biaya premium, biaya diskon, dan masalah likuiditas (karena pasar ETF masih belum seramai reksadana dan saham).

 

Mana Yang Terbaik?

Satu hal yang perlu diluruskan saat berinvestasi adalah tidak ada produk investasi terbaik yang dipatenkan secara universal. Hanya ada produk investasi yang lebih baik dibanding investasi lainnya, itupun bisa berbeda untuk setiap investor karena harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Bila kamu tidak begitu mementingkan biaya-biaya yang dibebankan saat berinvestasi ETF, kamu bisa memilih ETF sebagai pelabuhan investasi. Namun bila kamu adalah investor yang merasa keberatan dengan mahalnya biaya investasi ETF, kamu lebih baik berinvestasi di reksadana konvensional, karena reksadana bebas pajak dan bebas biaya transaksi jual beli.

Yang jelas, baik ETF maupun reksadana menyediakan model perhitungan keuntungan secara otomatis. Tujuan investor dalam menempatkan dananya di sejumlah instrumen investasi adalah untuk mendapatkan potensi keuntungan dari naiknya nilai investasi yang dimiliki.

Pilihlah Produk ETF yang Memiliki Saham Perusahaan yang Suka Bagi-Bagi Dividen

Untuk menghitung hasil keuntungan saat berinvestasi di ETF atau reksadana, kamu tidak perlu repot-repot melakukannya sendiri. Bila kamu membeli melalui perusahaan sekuritas yang mendukung layanan online via aplikasi, kamu bisa mendapatkan alat hitung otomotis yang lebih akurat dan efektif dibanding harus menghitungnya secara manual.

 

Selain ETF dan Reksadana, alternatif investasi yang tak kalah menjanjikan adalah emas. Logam mulia ini merupakan aset klasik yang sejak dulu dianggap selalu mengalami kenaikan harga. Sebagai permulaan, Anda bisa mempelajari 7 Cara Investasi Emas Yang Terbukti Aman Dan Menguntungkan.

Forum

Rojali (30 Jul 2019)

alo mas admin 1. untuk melihat kalao xua/usd atau gbp/usd dalam satu jam saja sudah naik, beberapa point. lihat nya di sebelah mana, di software mt4 2. ada berita iran menangkap kapal tanker inggris, mas fisik perhiasan naik 3000 ribu, apakah akan berpengaruh juga ke trading emas.

Selengkapnya...

BANK 1 Bulan
BNI 46 2.85
BANK MAYORA 5.00
STANDARD CHARTERED BANK 4.25
BANK KB BUKOPIN 4.75
BANK CIMB NIAGA 3.25
BANK ICBC INDONESIA 4.00
BANK COMMONWEALTH 4.50
KESELURUHAN 8.75
BANK PERMATA 4.00
BANK OCBC NISP 3.50

Kirim Komentar/Reply Baru


Cara Kerja Trailing Stop
Bagaimana cara kerja Trailing Stop??

Karena saya seorang mobile trader dan menggunakan MT4 android krna lbh praktis dan efisien dlm menunjang keseharian saya dbanding dgn menggunakan laptop untuk trading. Dan fitur trailing stop ini sangat membantu saya untuk mengamankan profit yg saya dapat. Namun di MT4 platform android tidak trdapat fitur trailing stop!!

Bagaimana cara mengaktifkan fitur trailing stop untuk platform android? Apa ada instalasi khusus? Atau saya harus melakukan trailing stop manual (geser SL manual)?

Trims!

Donny Septian 21 Dec 2015

Reply:

Basir (22 Dec 2015 08:48)

Untuk Donny Septian,

Trailing Stop adalah fasilitas/layanan yang diberikan oleh broker kepada nasabahnya.Trailing stop merupakan cara untuk mengunci keuntungan. Benar, anda bisa menggunakan Trailing Stop di android anda dengan geser Stop Loss manual.

Sebetulnya Trailing Stopp adalah  Stop Loss positif,  dengan maksud merubah stop loss negatif/minus menjadi Stop Loss positif/profit.

Contoh :

Anda Melakukan Order EUR/USD

BUY 1.5000
Stop Loss 1.4950
Take Profit 1.5100

Harga naik ke 1.5075, maka anda bisa merubah Stop Loss. Anda ganti dengan 1.5050

(terserah yang penting diatas harga BUY, setelah terlihat profit, dan perhatikan batas minimal yang ditentukan broker)

Jadi BUY EUR/USD di 1.5000 Stop Loss di 1.5050 dan Take Profit 1.5100.

Dalam hal ini anda telah mengunci keuntungan sebesar 50 point. Harga jatuh kembali, anda tetap profit (+50)

Demikian pun saat anda SELL.

Intinya merubah/ memasang/ mengisi/ menggeser Stop Loss menjadi diatas Harga BUY atau dibawah harga SELL setelah terlihat profit.

Jadi anda tinggal membuka fasilitas modifikasi order di MT4 android. Cara kerja ini sama dengan Trailing stop.

Thanks.

Aliya (27 Jul 2016 08:46)

Jadi sebetulnya emang nggak ada trailing stop di MT4 android ya bang?
Emang sih, bisa diakalin dg modifikasi sl, tapi itu berarti musti manual trailing stopnya.
Ndak bisa otomatis spt di MT4 komputer.

Basir (29 Jul 2016 10:54)

Untuk Aliya,

Di metaratder 4 for android tidak ada trailing stopnya, traling stop hanya bisa di metrader for dekstop.

Thanks.

DiamondHead (02 Oct 2018 16:27)

Dalam pengaturan script mt4 Trailing stop saya mendapatkan setting yang bernama Trailing Step. Perbedaannya apa ya?

terima kasih

M Singgih (03 Oct 2018 08:00)

@ DiamondHead:

Trailing step adalah fasilitas tambahan untuk settingan pip yang lebih kecil dari yang diset di trailing stop.
Misal trailing stop diset 30 pip dan trailing step diset 5 pip, berarti setiap kenaikan 5 pip, stop loss-nya akan ikut bergeser sebesar 5 pip.

Misal:
Buy EUR/USD di 1.1550, trailing stop diset 30 pip, dan trailing step = 5 pip. Berarti stop loss (SL) di 1.1520.

  • Ketika harga bergerak naik dan mencapai 1.1580, trailing stop mulai aktif dan menggeser SL dari 1.1520 ke 1.1550 (breakeven).
  • Ketika harga lanjut bergerak naik ke 1.1585, maka trailing step aktif, dan SL bergeser ke 1.1555, karena trailing step diset 5 pip increment.
  • Ketika harga mencapai 1.1610 (1.1580 + 30 pip), maka SL akan bergeser ke 1.1580 (dari trailing stop).
  • Ketika harga di 1.1615, maka SL akan naik dan bergeser ke level 1.1585 (1.1580 + 5 pip), akibat trailing step yang 5 pip.

Begitu seterusnya.

Adit (07 Aug 2019 22:25)

Maaf pak @m singgih, berarti trailing step itu harus lebih kecil dari trailing stopnya ya intinya pak? Terima Kasih

M Singgih (13 Aug 2019 07:00)

@ Adit:

Ya, benar. Kalau lebih besar dari pip pada trailing stop berarti setting trailing stop-nya saja yang dirubah.

Budi (15 Feb 2021 19:52)

Dear Pak Singgih,

berarti jika sudah pasang TS maka (dengan asumsi laptop terus nyala dan terkoneksi) maka tidak perlu pasang TP ya?

Terima Kasih.

Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Febrian Surya   25 Aug 2020   1092  
Investasi SBN: Aksi Bangun Negara Pasca Pandemi Corona
Investasi SBN: Aksi Bangun Negara Pasca Pandemi Corona
Aditya Perdana   1 Jul 2020   435  
Pro Kontra Investasi Junk Bond
Pro Kontra Investasi Junk Bond
Aditya Perdana   22 Jun 2020   512  
Kenali 3 Risiko Investasi Di Sukuk Ritel SR012
Kenali 3 Risiko Investasi Di Sukuk Ritel SR012
Wahyudi   16 Jun 2020   545  
Apa Itu Junk Bond?
Apa Itu Junk Bond?
Aditya Perdana   9 Jun 2020   782  
Tips Efektif Investasi SBN Agar Untung
Tips Efektif Investasi SBN Agar Untung
Febrian Surya   27 May 2020   571  
Pandemic Bond: Peluang Investasi Jangka Panjang Dari COVID-19
Pandemic Bond: Peluang Investasi Jangka Panjang Dari COVID-19
Aditya Perdana   22 Apr 2020   696  
Cara Investasi Di Tengah Krisis Corona
Cara Investasi Di Tengah Krisis Corona
Wahyudi   19 Mar 2020   742