Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?


Febrian Surya 22 Sep 2020 1139Dibaca Normal 13 Menit

Walaupun sama-sama produk reksadana, ETF dan reksadana ternyata memiliki perbedaan yang perlu diketahui oleh investor. Apa sajakah itu? Manakah yang terbaik?



ETF dan reksadana merupakan produk investasi hasil racikan Manajer Investasi (MI). Walaupun memiliki perbedaan nama, namun kedua produk investasi tersebut sejatinya merupakan reksadana. Hal yang membedakan adalah, saat kamu berinvestasi ETF, kamu membeli semua saham yang ada di suatu indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI), misalnya LQ45.

Portofolio investasi yang ditawarkan oleh ETF dan produk reksadana biasa juga berbeda. Bila kamu investasi di reksadana, kamu bisa membeli produk reksadana yang berisikan saham, instrumen pasar uang, dan pendapatan tetap. Sementara itu, ETF hanya menawarkan indeks saham atau obligasi.

Investasi ETF Vs Reksadana

Dalam dunia investasi, ETF mungkin masih terdengar asing bagi sebagian investor pemula, lantaran masih jarang diinvestasikan oleh masyarakat. Pasalnya, mereka lebih memilih untuk membeli produk reksadana biasa lewat agen penjualan reksadana.

Baca juga: Tips Investasi Reksadana Bagi Investor Pemula

Nah, biar kamu nggak tambah bingung dengan apa itu ETF serta perbedaannya dengan produk reksadana biasa, kamu bisa simak penjelasannya di sini.

 

 

Apa Itu ETF?

ETF adalah singkatan dari Exchange Traded Fund, yakni reksadana berbentuk kontrak kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi, karakteristik dari investasi ETF adalah menggabungkan produk reksadana berbentuk terbuka (open ended fund) dan saham (common stock).



 

Perkembangan Investasi ETF

Investasi ETF mungkin baru beberapa tahun terakhir mulai banyak diinvestasikan di Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa investasi ETF bukanlah sebuah produk investasi baru. Instrumen ini sudah ada sejak 1990 saat ditransaksikan pertama kali di Bursa Efek Toronto.

Investasi ETF mulai berkembang ke Amerika Serikat pada 1993, lalu mulai dikenal dan ditransaksikan di Eropa pada 1997. Di Indonesia, investasi ETF pertama kali ditransaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2007. Produk ETF pertama di Indonesia adalah R-LQ45X yang diracik oleh IndoPremier Sekuritas.

Sesuai namanya, R-LQ45X mengacu kepada kinerja indeks saham LQ45, atau kumpulan 45 perusahaan yang dinilai dari sisi likuiditas dan nilai kapitalisasi pasar dan selalu diperbarui setiap 6 bulan sekali.

Indeks Saham(Baca juga: Mengenal Apa Itu Indeks Saham Dan Beragam Manfaatnya)

Berdasarkan info Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minat investor kepada produk ETF di Indonesia semakin tinggi, setidaknya dalam periode 5 tahun antara 2015 hingga 2019. Pertumbuhan dana kelolaan ETF pada periode tersebut terhitung naik dari Rp2.6 triliun menjadi Rp15 triliun.

Hingga April 2020, tercatat setidaknya ada 33 produk ETF yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, tren investasi ETF di Indonesia masih kalah jauh dibanding instrumen pasar modal lainnya seperti reksadana dan saham.

 

Perbedaan ETF vs Reksadana

Seperti yang sudah dijelaskan di awal artikel ini, ETF dan reksadana sama-sama diterbitkan oleh Manajer Investasi (MI). Tetapi, cara berinvestasi kedua produk tersebut memiliki perbedaan dari sisi:

 

Perdagangan

ETF memiliki karakteristik reksadana tertutup. Saat kamu sudah membeli suatu produk ETF yang diterbitkan oleh Manajer Investasi (MI), kamu tidak bisa menjualnya kembali ke Manajer Investasi (MI). Transaksi harus lewat mekanisme jual beli di BEI berdasarkan pergerakan harga secara real time selama jam perdagangan, dan dengan indeks saham yang menjadi acuan underlying asset-nya.

Di lain pihak, produk reksadana saham umumnya memiliki karakteristik reksadana terbuka. Artinya, investor yang telah membeli produk reksadana di Manajer Investasi (MI) bisa menjual aset tersebut kembali kepada Manajer Investasi dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) saat itu juga.

Baca juga: Rekomendasi 5 Manajer Investasi Reksadana Unggulan

Dalam perdagangan ETF, ada istilah dealer partisipan pasar primer yang menyediakan likuiditas (order beli dan jual) bagi investor ETF. Sementara itu, perdagangan untuk produk reksadana biasa bisa melalui Manajer Investasi (MI) maupun agen penjualan reksadana.

 

Minimal Pembelian

Minimal investasi untuk ETF dan reksadana biasa juga berbeda. Jika kamu berinvestasi ETF, kamu harus membeli minimal 1 lot (100 lembar saham) saat melakukan pembelian di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun bila lewat dealer partisipan pasar primer, kamu perlu membeli ETF dalam jumlah yang lebih banyak yakni 1000 lot (100ribu unit).

Minimal Pembelian ETF vs Reksadana

Lalu, bagaimana dengan minimal investasi di reksadana biasa? Di reksadana biasa, kamu hanya perlu berinvestasi minimal 1 unit saja, yang bisa dimulai dari nominal Rp10,000 di agen penjualan reksadana. Namun, minimal biaya investasi reksadana biasa lewat agen penjualan reksadana berbeda-beda, tergantung dari level produk reksadana yang mereka tawarkan.

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Reksadana

Mengapa terdapat perbedaan biaya minimal investasi ETF vs reksadana konvensional yang sangat drastis? Pada dasarnya, membeli ETF sama halnya dengan membeli seluruh saham-saham yang terdapat di dalam indeks saham acuan misalnya LQ45. Sedangkan jika kamu membeli reksadana saham biasa, kamu hanya membeli beberapa saham saja yang sesuai dengan racikan Manajer Investasi (MI) lewat produk reksadana saham.

 

Underlying Asset

Instrumen investasi yang ditawarkan oleh ETF berupa saham dan obligasi yang mengacu kepada indeks, sedangkan reksadana biasa memiliki portofolio dari berbagai jenis instrumen investasi yang lebih luas, seperti obligasi, deposito, saham, dll.

Untuk obligasi, perlu diketahui bahwa aset satu ini dikenal tidak likuid untuk diperdagangkan. Belum lagi, obligasi memiliki jatuh tempo. Tetapi bila kamu membeli ETF obligasi dari dealer partisipan, obligasi yang kamu miliki masih tetap likuid karena investor bebas untuk memperjualbelikan aset tersebut di saat jam perdagangan.

Risiko Obligasi(Baca juga: Risiko Obligasi: 4 Hal Ini Harus Diwaspadai Investor)

Misalnya, bila kamu membeli ETF obligasi antara 1-3 tahun, obligasi-obligasi yang sudah di bawah 1 tahun akan dijual oleh dealer partisipan untuk dibelikan obligasi yang baru di bawah 3 tahun. Tetapi, investor tidak dijamin uangnya kembali saat berinvestasi ETF obligasi semacam ini, karena tidak memiliki tanggal jatuh tempo.

Hal ini tentunya berbeda bila kamu berinvestasi obligasi (individual). Kamu bisa tetap menerima kembali uang yang kamu investasikan berdasarkan tanggal jatuh tempo, walaupun suku bunga mengalami penurunan sekalipun.

 

Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang diperoleh investor ETF berasal dari penjumlahan semua saham-saham yang ada di produk ETF, dan bisa ditambah dengan nilai tunai bila ada saham-saham yang membagikan dividen

Dalam berinvestasi ETF saham, kamu bisa digambarkan sebagai seorang pembeli yang sedang membeli satu keranjang berisikan 50 saham.

Misalnya, jika NAB Rp100,000 untuk satu sahamnya, maka bila ada 50 saham di dalam keranjang tersebut, berapa jumlah uang yang perlu kamu bayarkan?

Jawabannya tentu sangat sederhana. Uang yang kamu perlu bayarkan adalah Rp100,000 x 50 = Rp 5,000,000. Bila dalam beberapa waktu kemudian nilai NAB mengalami kenaikan menjadi Rp110,000, nilai investasi ETF saham yang kamu miliki akan menjadi Rp110,000 x 50 = Rp 5,500.000. Artinya, kamu sudah meraup keuntungan Rp500,000 dari investasi awal.

Hal ini juga sama halnya ketika kamu ingin menghitung NAB reksadana milikmu. Yang perlu diketahui, Nilai Aktiva Bersih (NAB) untuk ETF bisa berubah-ubah setiap detiknya selama jam perdagangan masih dibuka. Di lain pihak, NAB reksadana biasa hanya mengalami perubahan setelah penutupan jam perdagangan.

 

Harga

Harga ETF bisa dimulai dari nominal berapapun, sedangkan harga reksadana pertama dimulai dari Rp1,000. Biasanya, harga dibuat sama dengan indeks acuan sehingga bisa memudahkan pemantauan perbandingan dengan indeks acuan.

Investor dapat menjual dan membeli harga ETF di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam satuan 1 lot yang setara 500 unit penyertaan. Namun, transaksi ini hanya diperuntukkan bagi investor ritel yang dinilai bertransaksi dalam jumlah kecil.

 

Kelebihan ETF

Setelah membandingkan ETF vs reksadana dari sisi perdagangan, underlying asset, minimal pembelian, hingga bagaimana cara menghitung Nilai Aktivasi Bersih (NAB) dan harga, kini saatnya kita membahas lebih dalam lagi tentang investasi ETF, dan mengetahui apa saja kelebihan yang bisa diperoleh investor.

Kelebihan ETF

 

Risiko Lebih Kecil Dan Terukur

Dengan memiliki portofolio saham yang mengacu kepada indeks saham seperti LQ45, maka risiko akan lebih minim jika dibandingkan dengan membeli saham secara langsung. Mengapa?

Ketika kamu membeli saham secara langsung, kinerja portofolio investasimu ditentukan oleh kinerja dari masing-masing saham yang dikoleksi. Misalnya saja, kamu berinvestasi di saham A, dan harga saham tersebut turun di bawah harga beli. Tandanya, kamu sudah mengalami penurunan nilai investasi.

Sementara itu, kinerja ETF saham ditopang oleh seluruh saham-saham yang masuk ke dalam indeks acuan. Sehingga, nilai kerugianmu tidak hanya dipengaruhi oleh satu atau dua saham saja, melainkan pengerakan indeks harga yang menjadi acuannya. Selama nilai indeks saham tersebut masih hijau, maka kamu masih untung.

Selain risiko yang kecil, investasi ETF juga lebih terukur. Lantaran, kamu tidak perlu repot-repot harus menganalisa saham satu per satu yang ingin kamu beli dengan melibatkan banyak tenaga dan waktu. Hal itu karena semua pergerakan harga yang terjadi hanya mengacu kepada satu hal saja, yakni indeks yang menjadi acuan.

Belum lagi, indeks saham yang menjadi acuan seperti LQ45 diisi oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki fundamental terjamin dari sisi manajemen hingga keuangan.

 

Lebih Transparan

Kelebihan lain ETF sebagai produk investasi bagi investor adalah berkaitan dengan transparansi. Investor pasti tidak mau memilih aset investasi seperti membeli kucing dalam karung. Untuk memastikan potensi profit dan risiko, mereka tidak akan langsung saja percaya apa yang dijanjikan oleh Manajer Investasi (MI) terkait komposisi aset investasi. Harus ada sebuah draft yang menunjukkan komposisi aset agar investor bisa mencari tahu lebih lanjut terkait risiko investasi tersebut.

ETF lebih transparan

Di reksadana, Manajer Investasi (MI) wajib mempublikasikan 10 efek terbesar. Sedangkan untuk produk ETF, pihak penerbitnya akan selalu mempublikasikan komposisi asetnya kepada investor secara berkala. Selain itu, ETF pasif yang mengacu ke indeks saham tertentu bisa semakin memudahkan investor untuk mengetahui seluruh saham-saham yang dibeli, dan bisa mempermudah investor untuk mengukur risiko investasi.

 

Proses Jual-Beli Lebih Cepat

Kecepatan dalam hal bertransaksi untuk produk investasi tentunya menjadi harapan bagi setiap investor di luar sana. Dengan cepatnya proses jual-beli yang bisa dilakukan, pastinya investor tidak akan ketinggalan momen untuk menangkap peluang dari pergerakan harga yang diinginkan. Saat kamu berinvestasi ETF, kamu bisa berinvestasi layaknya di pasar saham; kamu bisa keluar masuk pasar sesuai keinginanmu.

Bila kamu membeli ETF di bawah Satu Unit Kreasi (100,000 unit penyertaan), kamu masih tergolong sebagai investor ritel dengan jumlah transaksi yang sedikit. Untuk pembelian di bawah Satu Unit Kreasi, kamu bisa membeli di pialang saham. Sementara untuk transaksi di atas 100,000 unit penyertaan, kamu bisa menghubungi dealer partisipan atau perusahaan sekuritas.

 

Hemat Waktu Dan Tenaga

Investor milenial saat ini gencar mencari jenis instrumen investasi yang bisa diakses secara online. Lantaran, aktivitas investasi seperti ini tidak buang-buang waktu dan tenaga; hanya melalui laptop atau smartphone bisa membeli atau menjual produk investasi.

Platform Online ETF(Kunjungi juga: Pusat Informasi Fintech)

Khusus untuk investasi ETF, kamu tidak hanya bisa melakukannya lewat aplikasi online, karena kamu juga tidak perlu terus memantau terus aset-asetmu satu per satu. Untuk memonitor, kamu hanya perlu mengetahui pergerakan indeks saham atau obligasi yang menjadi acuan produk ETF. Kamu hanya perlu duduk santai seperti kamu sedang berinvestasi di reksadana. Lantaran, ETF adalah produk investasi yang menggabungkan karakteristik saham dan reksadana tertutup.

Sementara itu, investasi saham biasa tidak akan bisa terlepas dari grafik dan pergerakan harga. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan dan psikis seorang investor hingga menyebabkan kesulitan tidur akibat takut ketinggalan momen dari pergerakan harga saham-saham yang dimiliki.

 

Likuiditas Tetap Terjaga

Walaupun popularitas ETF masih kalah jauh dibanding saham dan reksadana dari kacamata investor, namun menyoal likuiditas ETF kamu nggak perlu khawatir karena akan dibantu oleh dealer partisipan yang siap membantu.

Likuiditas ETF(Belajar Forex Sebagai Aset Investasi Paling Likuid Di Dunia Finansial)

Pihak dealer partisipan bisa memasukkan order jual dan beli ke pasar primer maupun pasar sekunder agar aset-aset milik investor tetap bisa terjaga likuiditasnya. Oleh sebab itu, dealer partisipan juga disebut sebagai penyedia likuiditas. Bahkan, untuk investor yang baru pertama kali ingin berinvestasi di ETF, kamu bisa membeli produk-produk ETF tertentu mulai dari Rp10,000 saja.

 

Pilih ETF Dari Saham Yang Suka Bagi-Bagi Dividen

Dividen merupakan momen yang ditunggu oleh setiap investor saham di luar sana. Penentuan pembagian dividen ini berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Untuk mendapatkan opsi ETF yang memungkinkan pendapatan melalui dividen, kamu bisa mengacu kepada indeks IDX High Dividen 20.

Dividen Saham(Kunjungi juga: Jadwal Pembagian Dividen Saham Indonesia)

Indeks ini merupakan kumpulan dari berbagai saham yang rutin memberikan dividen kepada investor setiap tahunnya, dengan imbal hasil (yield) dividen yang relatif besar. Selain itu, perusahaan yang termasuk ke dalam indeks IDX High Dividen 20 adalah perusahaan yang memiliki tranksasi perdagangan mencapai lebih dari Rp1 miliar per harinya, sudah tercatat di BEI selama 3 tahun, dan memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar pula. Sebagai informasi, indeks IDX High Dividen 20 termasuk anak baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), karena baru diluncurkan pada Mei 2018 silam.

 

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Investasi ETF

Di balik kelebihan-kelebihan yang sudah dijelaskan sebelumnya, satu persepsi yang selalu dianggap sama oleh semua investor adalah tidak ada satu pun produk investasi yang bebas 100% risiko. Hal ini pun berlaku untuk produk ETF.

Faktanya, ETF memiliki risiko penurunan harga saham yang fluktuatif. Faktor ini disebabkan oleh kebijakan moneter Bank Indonesia seperti bunga bank dan nilai tukar mata uang, serta isu-isu geopolitik ataupun ekonomi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Selain itu, investor juga perlu menanggung biaya-biaya saat berinvestasi ETF seperti pajak capital gain, biaya spread, biaya premium, biaya diskon, dan masalah likuiditas (karena pasar ETF masih belum seramai reksadana dan saham).

 

Mana Yang Terbaik?

Satu hal yang perlu diluruskan saat berinvestasi adalah tidak ada produk investasi terbaik yang dipatenkan secara universal. Hanya ada produk investasi yang lebih baik dibanding investasi lainnya, itupun bisa berbeda untuk setiap investor karena harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

Bila kamu tidak begitu mementingkan biaya-biaya yang dibebankan saat berinvestasi ETF, kamu bisa memilih ETF sebagai pelabuhan investasi. Namun bila kamu adalah investor yang merasa keberatan dengan mahalnya biaya investasi ETF, kamu lebih baik berinvestasi di reksadana konvensional, karena reksadana bebas pajak dan bebas biaya transaksi jual beli.

Yang jelas, baik ETF maupun reksadana menyediakan model perhitungan keuntungan secara otomatis. Tujuan investor dalam menempatkan dananya di sejumlah instrumen investasi adalah untuk mendapatkan potensi keuntungan dari naiknya nilai investasi yang dimiliki.

Pilihlah Produk ETF yang Memiliki Saham Perusahaan yang Suka Bagi-Bagi Dividen

Untuk menghitung hasil keuntungan saat berinvestasi di ETF atau reksadana, kamu tidak perlu repot-repot melakukannya sendiri. Bila kamu membeli melalui perusahaan sekuritas yang mendukung layanan online via aplikasi, kamu bisa mendapatkan alat hitung otomotis yang lebih akurat dan efektif dibanding harus menghitungnya secara manual.

 

Selain ETF dan Reksadana, alternatif investasi yang tak kalah menjanjikan adalah emas. Logam mulia ini merupakan aset klasik yang sejak dulu dianggap selalu mengalami kenaikan harga. Sebagai permulaan, Anda bisa mempelajari 7 Cara Investasi Emas Yang Terbukti Aman Dan Menguntungkan.

Kalkulator KPR

Memilih time frame rendah untuk kemudian mengolah cara trading jangka pendek bukanlah tindakan memalukan apalagi sebuah dosa.

Barbara Rockefeller

Kehancuran emosional hampir sama buruknya dengan kehancuran finansial.

Kim Krompass

Saya tahu kemana saya akan keluar bahkan sebelum saya masuk (pasar).

Bruce Kovner

Ketika mendapat profit, kita jadi lebih berhati-hati. Sedangkan ketika mengalami kerugian, kita justru mulai mengambil risiko lebih banyak dan rugi lebih banyak lagi.... Jadi, trader perlu memutuskan apakah mereka bisa menanggung risiko dan apakah mereka bisa mengambil keputusan dengan cepat sebelum trading.

Paul Rotter

Orang yang tradingnya maksa seringkali berujung pada kegagalan. Disyukuri saja profit yang sudah didapat hari itu. Jangan kemaruk.

Desmond Wira

Tak ada satupun aturan trading yang bisa 100% profit sepanjang waktu.

Jesse Livermore

Saya akan selalu mengurangi posisi ketika loss. Dengan begitu, saya hanya akan memiliki posisi kecil saat trading berakhir buruk.

Paul Tudor Jones

Saya selalu percaya bahwa passion yang diikuti kerja keras dan doa akan membuahkan hasil yang baik di segala bidang, termasuk forex.

Buge Satrio

Anda bisa memperkirakan apa yang terjadi. Tapi bila Anda tidak punya parameter trading, maka sebaiknya jangan masuk hanya karena peluangnya terlihat oke, atau karena seseorang mengatakannya.

Carolyn Boroden

Ketika Anda benar-benar percaya bahwa trading hanyalah sebuah permainan probabilitas yang sederhana, konsep seperti benar dan salah atau menang dan kalah tidak lagi memiliki makna yang sama.

Michael Covel

Trader cerdas akan selalu paham dan mengikuti latar fundamental dari instrumen tradingnya, namun untuk mengenali level entry dan exit, ia akan menggunakan analisa teknikal

Kathy Lien

Saya tak banyak melihat korelasi antara trading yang bagus dan kecerdasan. Beberapa trader terkemuka cukup cerdas, tetapi beberapa diantaranya tidak.

William Eckhardt

Trader yang benar-benar (ingin) sukses haruslah berkomitmen untuk mendalami dunia trading, dan menganggap uang sebagai bonus sampingan.

Bill Lipschutz

Trading bukanlah hanya soal melindungi modal dari kerugian, melainkan juga melindungi diri dari diri sendiri.

Kim Krompass

Charting itu agak mirip dengan berselancar. Anda tak perlu banyak tahu tentang fisik gelombang untuk menangkap sebuah ombak yang bagus. Anda hanya perlu mampu merasakannya ketika (ombak) itu terjadi dan memiliki keberanian untuk beraksi di saat yang tepat.

Ed Seykota

Untuk menjadi sukses, trading-lah seperti Anda memulai usaha, jangan perlakukan trading sebagai hobi atau pekerjaan rutin. Kalau cuma hobi, tak ada komitmen belajar, dan akhirnya Anda cuma buang-buang uang. Sedangkan kalau diperlakukan sebagai pekerjaan, trading bisa membuat Anda frustasi karena di sini tidak ada gaji bulanan.

Jean Folger

Masuklah pasar hanya saat pasar trending; jika bullish Anda harus buy, jika bearish masuk posisi sell. Cuma cara itu yang bisa menghasilkan keuntungan sebenarnya.

Jesse Livermore

Saya hanya kaya karena saya tahu kapan saya salah. Pada dasarnya saya bisa bertahan dengan mengakui kesalahan-kesalahan saya.

George Soros

Pada dasarnya, forex dan saham tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah risikonya.

Ellen May

Saat Anda mengalami kerugian beruntun, segala keraguan dan ketidakpastian akan menyeruak dan membuat Anda sangat ragu untuk menarik pelatuk (entry). Rasanya tak ada satupun yang berjalan dengan benar. Itu adalah sesuatu yang harus Anda kontrol.

Bill Lipschutz

Untuk pemula disarankan lebih baik trading saham dahulu, kalau sudah profit konsisten baru mencoba forex, emas, atau lainnya. Kalau dari awal sudah nekat trading forex, emas, apalagi indeks tanpa bekal ilmu yang cukup, boleh jadi sebentar saja uangnya langsung amblas,

Desmond Wira

Cara membangun return jangka panjang adalah dengan melindungi modal dan memaksimalkan profit.

Stanley Druckenmiller

Dalam berinvestasi Anda harus tahu betul apa-apa yang tidak Anda ketahui, dan berpeganglah hanya pada apa yang Anda ketahui.

Warren Buffett

Tekunilah proses dari setiap proses, kerjakan, rencanakan, investasikan waktu Anda dengan bijak, jadilah produktif, dan jangan buang-buang waktu.

Chris Lori

Yang penting bukan masalah benar atau salah, tapi seberapa besar profit Anda ketika benar, dan seberapa banyak loss Anda ketika salah.

George Soros
Kirim Komentar/Reply Baru
Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Nandini   11 May 2021   130  
Mulai Kapan Sebaiknya Mempersiapkan Dana Pensiun?
Mulai Kapan Sebaiknya Mempersiapkan Dana Pensiun?
Linlindua   26 Apr 2021   209  
Cara Cerdas Mengatur Keuangan Rumah Tangga Ala Wanita Karier
Cara Cerdas Mengatur Keuangan Rumah Tangga Ala Wanita Karier
Febrian Surya   27 Nov 2020   726  
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
Febrian Surya   29 Sep 2020   1410  
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Febrian Surya   25 Aug 2020   1350  
Bayar Kost Bulanan Atau Tahunan, Mana Yang Terbaik?
Bayar Kost Bulanan Atau Tahunan, Mana Yang Terbaik?
Jujun Kurniawan   1 Jul 2020   708  
4 Jenis Investasi Jangka Pendek Yang Wajib Kamu Tahu
4 Jenis Investasi Jangka Pendek Yang Wajib Kamu Tahu
Febrian Surya   27 Jun 2020   1112  
Tips Efektif Investasi SBN Agar Untung
Tips Efektif Investasi SBN Agar Untung
Febrian Surya   27 May 2020   684  
Tips Cerdas Atur Gaji Bulanan Dengan Formula 40-30-20-10
Tips Cerdas Atur Gaji Bulanan Dengan Formula 40-30-20-10
Jujun Kurniawan   5 May 2020   1505  
Tips Membuat Catatan Keuangan Untuk Keluarga
Tips Membuat Catatan Keuangan Untuk Keluarga
Jujun Kurniawan   28 Apr 2020   422