Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya?

Wahyudi 27 Mar 2020 1855
Dibaca Normal 3 Menit

Kalau Anda membaca artikel ini, kemungkinan besar Anda sedang tertarik untuk berinvestasi. Good decision! Namun sebagai seorang calon investor, penting untuk mengetahui profil risiko sebelum melakukan investasi.



Kalau Anda membaca artikel ini, kemungkinan besar Anda sedang tertarik untuk berinvestasi. Good decision! Namun sebagai seorang calon investor, penting untuk mengetahui profil risiko sebelum melakukan investasi. Dengan mengetahui profil risiko, Anda bisa lebih mudah memilih dan menentukan produk investasi yang sesuai. Jadi, nantinya produk investasi pilihan Anda bakal disesuaikan berdasarkan tingkat keuntungan dan tingkat risiko yang sanggup ditanggung.

Pada dasarnya, tingkat risiko yang berani Anda ambil berbanding lurus dengan potensi keuntungan investasi. Semakin tinggi risiko yang berani diambil, maka potensi keuntungan yang bisa Anda dapatkan juga bakal lebih besar. Ini dia yang dimaksud dengan istilah high risk, high return. Umumnya, profil risiko di dunia investasi terbagi menjadi tiga, yaitu tipe konservatif, moderat, dan agresif. Berikut ini ulasannya.

Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya ?

 

Tiga Jenis Profil Risiko Investasi Yang Perlu Diketahui

Profil Risiko Investasi Konservatif

Profil risiko konservatif biasanya dimiliki oleh anda yang sedang belajar untuk melakukan investasi. Profil risiko konservatif cenderung menyukai instrumen investasi yang memiliki pola fluktuasi rendah dan resiko yang rendah. Akibat dari pemilihan instrumen dengan fluktuasi rendah ini adalah income dari investasi yang kecil namun resiko yang kecil pula, sehingga kemungkinan untuk terbakarnya modal sangat kecil sekali.

Instrumen bagi anda yang memiliki profil risiko konservatif adalah investasi pasar uang deposito dan reksa dana, di mana kedua instrumen investasi tersebut memiliki pola fluktuasi yang sangat rendah namun masih memberikan keuntungan per tahunnya, meskipun persentasenya sangat sedikit dari modal awal anda. Perlu anda ketahui reksa dana tetap memiliki resiko, dimana track record suatu perusahaan tidak bisa digunakan untuk memprediksi keuntungan di masa depan.

reksadana sebagai investasi risiko konservatif

(Baca Juga: Alasan Reksadana Tepat Jadi Menjadi Dana Darurat)

 

Profil Risiko Investasi Moderat

Investor dengan profil risiko tipe moderat umumnya sudah memiliki pemahaman bahwa investasi bersifat fluktuatif. Kapan saja, investasi bisa bergerak naik maupun turun. Walaupun begitu, mereka tetap tidak mau mengambil risiko uang hilang sama sekali saat berinvestasi. Di sisi lain, investor tipe moderat juga mengharapkan potensi keuangan investasi yang lebih tinggi dari deposito dan inflasi.



Bagi Anda yang merasa cocok dengan profil risiko moderat ini, salah satu produk investasi yang cocok ialah reksadana campuran. Kalau dibandingkan dengan saham atau reksadana saham, reksadana campuran punya risiko yang cenderung lebih rendah. Tetapi , potensi keuntungan yang ditawarkan tidak kalah menggiurkan dari jenis investasi lainnya.

 

Profil Risiko Investasi Agresif

Ini dia profil risiko yang paling siap menghadapi segala risiko dalam berinvestasi. Mereka sadar bahwa investasi bersifat fluktuatif dan mereka siap bila sewaktu-waktu harus kehilangan sebagian besar uang. Di sisi lain, mereka juga sadar bahwa mereka bisa mendapatkan potensi keuntungan yang besar pula. Investor tipe agresif sanggup menoleransi penurunan nilai investasi dalam jumlah besar.

Salah satu produk investasi yang cocok untuk investor tipe agresif ialah saham. contohnya, bila terjadi penurunan nilai saham, mereka justru menganggap ini sebagai peluang baik untuk membeli saham karena harga yang sedang relatif murah. Selain saham, produk investasi lain yang juga sesuai dengan investor profil risiko agresif ialah properti dan reksadana saham.

 

Ada pepatah bijak yang mengungkapkan bahwa dalam investasi itu "it’s not about how much return you will get, but how much money you can take lost" yang artinya dalam berinvestasi tersebut bukan hanya sekedar berapa banyak imbal balik yang bisa Anda dapatkan, tapu seberapa besar uang yang bisa Anda toleransi untuk mengalami kerugian.

Forum

Yovi (18 Jun 2019)

Apasih ciri-ciri dari sinyal palsu itu??

Selengkapnya...

BANK 1 Bulan
BANK MEGA 2.50
BANK MAYBANK INDONESIA 4.25
BANK MAYORA 5.00
BANK ANZ INDONESIA 3.00
DEUTSCHE BANK AG 2.72
BANK DANAMON INDONESIA 3.65
BANK HSBC INDONESIA 4.25
STANDARD CHARTERED BANK 3.25
BANK KB BUKOPIN 4.75
BANK PANIN INDONESIA 3.60

Kirim Komentar/Reply Baru


Pak, mau nanya analisa teknikal apa ya yg bapak pakai?

Siang pak, sy newbie di forex gold, mau nanya pak analisa teknikal apa ya yg bapak pakai untuk menganalisa gerakan gold ini? mohon share yaa pak,, thankyou pak 

Meri 12 Feb 2019

Reply:

M Singgih (14 Feb 2019 04:55)

@ Meri:

Secara teknikal, saya pribadi menggunakan analisa trend dan momentum. Kalau sedang uptrend, antisipasinya buy, kalau sedang downtrend sell. Kapan saat untuk entry (buy atau sell) disesuaikan dengan momentum yang tepat.

Analisa trend menggunakan indikator trend, seperti moving average, MACD, ADX, Bollinger Bands, parabolic SAR. Analisa momentum menggunakan indikator oscillator seperti RSI atau stochastic.
Momentum entry bisa salah kalau misalnya saat harga bergerak uptrend, tetapi indikator oscillator menunjukkan divergensi bearish. Yang seperti ini harus dihindari.

Meski demikian, analisa teknikal hanya sebagai konfirmator dari kondisi pasar yang sedang terjadi, karena hampir semua indikator teknikal bersifat lagging atau terlambat dalam merespon pergerakan harga. Yang bersifat leading atau mendahului pergerakan harga adalah analisa sentimen pasar berdasarkan price action.

Intinya sbb:

1. Tentukan terlebih dahulu level-level resistance dan support. Kalau tidak jelas gunakan Fibonacci, baik retracement atau expansion.
2. Amati price action yang terbentuk, baik single candle maupun beberapa candle (chart pattern).
3. Amati indikator trend, apakah mengkonfirmasi price action yang terjadi.
4. Amati indikator oscillator, terjadi divergensi atat tidak. Kalau tidak, tentukan momentum entry yang tepat.
5. Kalau indikator trend tidak menunjukkan sedang trending, berarti harga sedang bergerak sideways. Ketika sideways, amati area overbought / oversold indikator oscillator, kalau overbought maka sell, dan kalau oversold buy.

Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Nandini   22 Jan 2021   254  
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
Febrian Surya   29 Sep 2020   1070  
Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?
Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?
Febrian Surya   22 Sep 2020   794  
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Febrian Surya   25 Aug 2020   1083  
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Jujun Kurniawan   20 Jul 2020   549  
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Febrian Surya   24 May 2020   1928  
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Febrian Surya   20 May 2020   833  
Cara Menghitung NAB Reksadana
Cara Menghitung NAB Reksadana
Wahyudi   12 May 2020   2236  
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Febrian Surya   29 Apr 2020   600