Perbandingan Reksadana dan Saham: Lebih Untung Mana?

Anna 10 Jan 2019 990
Dibaca Normal 5 Menit

Perbandingan reksadana dan saham menunjukkan bahwa keduanya bisa untung sama besar, tetapi masing-masing cocok bagi karakter investor yang berbeda.



Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas berbagai keunggulan reksadana dan potensi keuntungannya yang luar biasa. Namun, bagaimana perbandingan reksadana dan saham? mana yang lebih menguntungkan diantara kedua wahana investasi keuangan ini? Sebenarnya, keduanya bisa sama-sama untung besar, tetapi cocok bagi karakter investor yang berbeda. Simak ulasannya dalam artikel ini.

 

1. Modal Minimal Investasi Reksadana Lebih Rendah

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi keuangan (Financial Technology) telah sedemikian pesat hingga muncul konsep baru penjualan reksadana via marketplace online. Sejumlah marketplace terkemuka telah ikut andil dalam tren ini, termasuk Bukalapak dan Tokopedia. Sementara itu, bermunculan pula situs yang khusus menjajakan beragam jenis reksadana secara online, seperti Bareksa dan Supermarket Reksadana.

Peningkatan persaingan antar agen penjual reksadana ini membuat spesifikasi produk yang ditawarkan pun makin menguntungkan bagi calon investor. Diantaranya dari segi modal minimal. Dahulu, pembukaan investasi reksadana akan membutuhkan dana mulai dari ratusan ribu hingga beberapa puluh juta. Kini, investasi reksadana bisa dimulai dengan dana hanya Rp10,000.

Di sisi lain, dalam rangka membumikan investasi saham, Bursa Efek Indonesia juga memangkas syarat modal minimal awal menjadi Rp100,000 saja dan volume perdagangan per lot hanya 100 lembar. Namun, standar minimal itu hanya berlaku untuk pembukaan rekening pada kesempatan tertentu saja. Pada umumnya pialang saham masih mengharuskan setoran awal minimal untuk pembukaan rekening efek antara 1-10 Juta Rupiah.

Perbandingan Reksadana dan Saham

 

2. Investasi Reksadana Memungkinkan Diversifikasi Dengan Modal Lebih Rendah

Berdasarkan definisinya, reksadana adalah produk investasi yang menghimpun dana dari masyarakat untuk dialokasikan ke berbagai instrumen investasi, bukan hanya saham. Artinya, saat menanamkan dana pada suatu produk reksadana, di saat yang sama kita bisa punya portofolio yang terdiversifikasi antara saham, obligasi, deposito, dan lain sebagainya.

Memang ada jenis reksadana saham, tetapi dalam produk itu belum tentu semuanya dialokasikan ke instrumen saham karena syarat minimal hanya 80 persen dana yang terhimpun akan diinvestasikan pada saham. Selain itu, dalam satu produk reksadana saham, Manajer Investasi dapat membagi-baginya ke dua atau lebih emiten. Atau dengan kata lain, kita patungan bersama investor reksadana lain untuk membeli banyak saham sekaligus.



Contoh konkritnya: Umpama si A membeli suatu produk reksadana saham senilai Rp1,000,000, maka portofolionya bisa mencakup saham BBCA, BBRI, UNVR, dan lain sebagainya. Namun, jika si A ingin membeli saham sendiri dengan uang Rp1,000,000 tersebut, maka ia takkan bisa melakukannya karena harga saham BBCA saja saat ini sudah Rp26,275 per lembar, sehingga dibutuhkan modal Rp2,627,500 untuk membeli satu lot. Perbedaan reksadana dan saham inilah yang paling mencolok dan penting untuk dipertimbangkan calon investor pemula maupun berpengalaman.

 

3. Investasi Saham Membutuhkan Analisa Lebih Mendalam

Saat akan memilih saham untuk dibeli, seorang investor perlu menganalisa perusahaan penerbit (emiten) terlebih dahulu. Analisa saham bisa mencakup aspek fundamental, teknikal, hingga struktur manajemen perusahaan. Hal ini membuat banyak orang enggan berinvestasi saham karena malas mempelajari dunia baru yang kemungkinan jauh dari latar belakang pendidikannya sendiri.

Di sisi lain, pembelian reksadana cukup dilakukan dengan memeriksa prospektus yang sudah mencakup kebijakan investasi dan histori imbal hasil. Calon investor hanya perlu membandingkan keuntungan dan biaya yang akan diperoleh di masa depan, karena alokasi dana akan ditangani oleh Manajer Investasi. Manajer Investasi-lah yang bakal melakukan analisa hingga dicapai keputusan dana akan dibelikan instrumen apa atau saham apa. 

Perbandingan Reksadana dan Saham

 

3. Keuntungan Saham Diperoleh Dari Dua Sumber

Investasi saham menawarkan dua jenis keuntungan, yakni Capital Gain dan Dividen. Dividen makin tinggi akan diperoleh jika emiten memperoleh laba makin besar di masa depan. Sedangkan Capital Gain didapat jika harga saham meningkat dari waktu ke waktu. Asalkan calon investor dapat melakukan analisa dengan baik, maka mudah sekali untuk untung dari perusahaan yang bagus.

Jadwal Dividen Saham(Simak Juga: Jadwal Dividen Saham Indonesia)

Di sisi lain, profit investasi reksadana hanya akan diperoleh dari peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) atas dana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Apabila Manajer Investasinya canggih, maka NAB bisa mencapai puluhan hingga ratusan persen dalam setahun. Namun, kalau Manajer Investasinya kurang bagus, maka NAB bahkan bisa lebih rendah dari bunga deposito tahunan ataupun kenaikan IHSG. Oleh karenanya, pembeli reksadana harus sangat peka pada reputasi Manajer Investasi dan wajib memeriksa histori imbal hasil.



 

4. Biaya Investasi Saham Lebih Rendah Ketimbang Reksadana

Masalah biaya tak bisa tidak dibahas jika kita membicarakan soal perbandingan reksadana dan saham. Untuk hal ini, saham lebih unggul karena fee jual/beli yang harus dibayarkan ke perusahaan sekuritas jauh lebih rendah dibandingkan berbagai fee yang harus dibayar investor ke Manajer Investasi.

Struktur biaya reksadana mencakup tiga jenis, yaitu Subscription Fee, Redemption Fee, dan Switching Fee yang masing-masing umumnya antara 1-5 persen. Seandainya Switching Fee digratiskan, maka kemungkinan diikuti dengan fee lain yang lebih tinggi. Di sisi lain, fee jual/beli saham untuk broker saham hanya antara 0.1-0.3 persen saja. Hal ini bisa dipahami, karena upaya Manajer Investasi untuk memilih instrumen investasi dan memastikan return yang tinggi itu tidaklah murah.

 

Dari uraian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa perbedaan reksadana dan saham utamanya bukan terletak pada besar kecilnya keuntungan, melainkan dari karakter masing-masing dan kecocokannya bagi calon investor. Lebih jelasnya: Saham bisa lebih menguntungan dibandingkan reksadana, tetapi itu hanya jika kita bisa melakukan analisa dengan baik dan punya dana investasi memadai. Apabila kita masih tergolong pemula dan atau tidak punya waktu untuk mempelajari seluk beluk investasi saham sendiri, maka investasi reksadana akan menghindarkan kita dari kerugian sekaligus tetap profit cukup besar.

Forum

Muhammad Yusuf (29 Apr 2018)

Terimakasih master seputar forex karena tidak henti-hentinya membantu saya belajar trading, saya mengalami kebingungan dengan syarat pin bar yaitu ekor haruslah 2/3 dari panjang total bar atau setidaknya 3/4. Karena saya menemukan beberapa bar yang saya sangka pin bar tapi tidak memenuhi syarat yg saya sebutkan diatas. Namun, dari yg...

Selengkapnya...

BANK 1 Bulan
BNI 46 2.85
BANK MAYORA 5.00
STANDARD CHARTERED BANK 4.25
BANK KB BUKOPIN 4.75
BANK CIMB NIAGA 3.25
BANK ICBC INDONESIA 4.00
BANK COMMONWEALTH 4.50
KESELURUHAN 8.75
BANK PERMATA 4.00
BANK OCBC NISP 3.50

Kirim Komentar/Reply Baru


Kelebihan Scalping Dibanding Trading Lain?
apa kelebihan scalping dibanding trading lain? kenapa banyak trader yang scalping? apakah keuntungannya bsar?

Cl 6 Aug 2015

Reply:

Basir (07 Aug 2015 07:31)

Untuk Cl...

Sekedar Gambaran

Scalping forex merupakan istilah yang sudah populer di kalangan trader. Teknik ini dikenal dengan membuka dan menutup sebuah atau beberapa posisi trading dalam tenggang waktu yang sangat singkat, terkenal juga dengan istilah "terlihat untung langsung sikat".  Ada sebuah anggapan bahwa metode Scalping ini dianggap aman sehingga tekhnik ini sangat familiar bagi pelaku pasar.

Teorinya, para scalper bermain pada time frame rendah dan menahan posisinya hanya dalam waktu yang sangat singkat dibanding trader non-scalper. Dengan demikian maka pengamatan pada kondisi pasar keseluruhan jadi sangat terbatas, dan resiko yang timbul akibat pergerakan harga pasar lebih kecil.Namun demikian, metode scalping tidak selalu menguntungkan, walau juga tidak selalu merugikan. Hal ini kembali kepada karakter dari trader itu sendiri.

Profit yang dihasilkan dari setiap posisi trading biasanya kecil, tetapi bila dijumlahkan untuk seluruh posisi trading yang telah closed, jumlah profitnya bisa cukup besar juga. Para scalper selalu menghindar dari mengambil resiko besar, mereka pantang trading dengan sekali gebrak menghasilkan profit besar melainkan trading dengan frekuensi tinggi dan profit kecil, tetapi aman. Dengan demikian seorang scalper membutuhkan kesabaran, dan harus rajin dalam meniti pergerakan harga pasar agar diperoleh profit sesering mungkin. Bagi mereka yang mempunyai karakter analis yang serius dengan mengharap hasil yang selalu spektakuler dalam tradingnya akan kecewa dan frustasi bila menerapkan cara ini.

Para Scalper sangat dituntut dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi, memonitor harga dan pengambilan keputusan sangat cepat. Juga memerlukan pemahaman yang baik tentang trading dilengkapi dengan kemampuan analisis.

Uraian lebih lanjut bisa disimak di :

Metodologi Scalping

Untung Rugi Scalping

Thanks.

Wage (07 Aug 2015 09:32)

Scalper trading dengan frekuensi tinggi dan profit kecil, tetapi aman.
Apa benar scalping itu aman?
Kenapa di luar sana justru banyak yang mengatakan cara trading scalping justru tidak aman?

Basir (07 Aug 2015 10:10)

Untuk Wage...

Scalping bagian dari trading system, ibarat sebuah univertas maka Scalping merupakan jurusan yang ada/diminati para trader.  Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian Broker yang melarang penggunaan teknik ini. Ada kemungkinan hal ini bisa merugikan broker tersebut.

Ada pula tekhnik m singgihgale, Averiging, dan hedging.  Ada/ diminta oleh trader, disamping itu ada pula sebagian broker yang melarang penggunaakn teknik ini.

Bisa jadi oleh para scalper tehnik ini merupakan cara untuk melipat gandakan keuntungan. Demikianpun dengan tukang martil, m singgihgale merupakan sistem yang cocok baginya untuk meraup keuntungan” dan seterusnya.

Ada waktu-waktu tertentu dimana para "scalper” masuk pasar, dan ada pantangan bagi para scalper untuk tidak masuk pada jam-jam tertentu.

Penggunaan sistem apapun, Money Management menjadi bagian yang tidak bisa di sepelekan. Semua kembali kepada gaya dan style trader itu sendiri. Dalam dunia usaha untung rugi sudah biasa. Dan Trading forex merupakan trading "High Risk". Tidak semua cocok untuk terlibat dalam medan ini.

Thanks

Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Jenis-Jenis Reksadana Berdasarkan Tingkat Risikonya
Nandini   22 Jan 2021   260  
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
Febrian Surya   29 Sep 2020   1088  
Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?
Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?
Febrian Surya   22 Sep 2020   814  
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Pilihan Investasi Menguntungkan Saat New Normal
Febrian Surya   25 Aug 2020   1092  
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Kapan Waktu Terbaik Investasi Reksadana?
Jujun Kurniawan   20 Jul 2020   552  
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Cara Mudah Menghitung Return Reksadana
Febrian Surya   24 May 2020   1975  
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor
Febrian Surya   20 May 2020   843  
Cara Menghitung NAB Reksadana
Cara Menghitung NAB Reksadana
Wahyudi   12 May 2020   2255  
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Panduan Reksadana Syariah, Investasi Online Mulai 100 Ribu
Febrian Surya   29 Apr 2020   603