Reksadana Turun? Ini Yang Wajib Dilakukan Investor

Febrian Surya 20 May 2020 911
Dibaca Normal 4 Menit

Apa yang sebaiknya investor lakukan saat nilai reksadana turun? Daripada sekedar ikut arus pasar untuk panic selling, ada 3 kiat alternatif yang bisa dipertimbangkan. Apa sajakah itu?



Seringkali, krisis ekonomi seperti yang disebabkan oleh penyebaran wabah Corona memicu kekhawatiran para investor di berbagai jenis intrumen investasi, tak terkecuali investor reksadana. Apakah panic selling adalah satu-satunya cara yang wajib dilakukan oleh investor saat nilai investasi reksadana sedang mengalami penurunan? Dan apakah masih ada opsi lainnya yang perlu investor ketahui? Pertanyaan-pertanyaan ini sering diutarakan oleh investor saat sedang mengalami penurunan nilai investasi reksadana.

Bagi generasi milenial yang baru terjun pertama kali berinvestasi di produk pasar modal, hal-hal seperti ini tentu saja membingungkan. Untuk itu, artikel ini akan mengulas secara khusus hal apa saja yang wajib diketahui dan dilakukan saat mengetahui nilai reksadana turun:

Menambah Investasi

 

1. Menambah Investasi

Ketika nilai investasi reksadana sedang menurun, hal ini bisa menjadi waktu terbaik bagi kamu untuk menambah investasimu dengan strategi yang disebut "averaging down". Inilah hal yang dilakukan oleh para investor saat mengalami krisis ekonomi 1998 dan 2008 silam. Mereka berhasil keluar dari masa-masa sulit dan memperoleh keuntungan saat kondisi ekonomi mulai membaik. Tak ada besaran pasti berapa dana yang perlu kamu tambahkan ke dalam investasi reksadana milikmu. Namun, kuncinya adalah tetap berinvestasi secara rutin berdasarkan profil risikomu ke dalam jenis reksadana yang sesuai.

 

2. Lakukan Pengalihan Aset ke Jenis Produk Reksadana Lainnya

Melakukan pengalihan aset ke jenis produk reksadana lainnya bisa kamu lakukan saat dana yang kamu investasikan ingin digunakan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Misalnya, bila kamu memiliki aset di reksadana saham dan suatu saat kamu ingin mencairkan hasil investasinya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, kamu bisa mengalihkan investasimu ke jenis reksadana lainnya yang lebih minim risiko, seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang.

Hal itu karena, jenis reksadana yang minim risiko merupakan intrumen investasi yang cocok untuk tujuan finansial jangka pendek. Namun, hal yang perlu kamu perhatikan adalah biaya switching fee yang akan dibebankan oleh kamu saat melakukan pengalihan aset. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, saat ini sudah banyak platform reksadana online yang membebaskan biaya transaksi seperti switching fee.

 

3. Cut Loss

Cut loss adalah tindakan menutup posisi investasi dengan kerugian. Tujuannya adalah agar nilai kerugian tidak bertambah besar, dan biasanya dilatarbelakangi oleh hasil proyeksi yang meyakini jika aset investasi akan terus mengalami penurunan nilai. Misalnya, kamu menanamkan investasi reksadana saham sebesar Rp1,000,000 dan seiring dengan berjalannya waktu, hasil investasimu menurun menjadi Rp900,000. Ini adalah momen ketika kamu perlu mengambil keputusan untuk segera menarik hasil investasi, agar terhindar dari risiko kerugian yang lebih besar. 



Cut loss bisa diterapkan sesuai batas aman dari risiko kerugian yang bisa ditolerir oleh investor. Umumnya, cut loss yang disarankan tidak lebih besar dari 10% penurunan nilai investasi reksadana. Namun batas toleransi risiko kerugian setiap investor bisa ditetapkan berbeda-beda tergantung dari jenis profil risiko investor. Bila kamu memiliki profil risiko agresif, kamu bisa mentolerir tingkat kerugian lebih besar dibanding profil risiko lainnya (konservatif dan moderat).

Cut loss(Baca juga: Seperti Apa Profil Risiko Investasi Saya?)

Penyesuaian tingkat cut loss ke level kerugian ideal penting untuk dilakukan, sebab bisa menjaga angka kerugian di batas yang bisa diterima oleh kondisi investor. Apabila batas cut loss tidak disesuaikan, maka investor berpeluang memanen kerugian yang menurutnya di luar batas wajar. Pada akhirnya, ini bisa mengakibatkan beban psikologis dan finansial yang membuat investor jera.

 

Selain ketiga cara di atas, solusi menyikapi penurunan reksadana bisa dilakukan dengan melakukan diversifikasi risiko melalui investasi di aset lain. Salah satunya adalah investasi di pasar forex karena terdapat beragam opsi pasangan mata uang yang fleksibel di berbagai kondisi. Tertarik mencoba? Silahkan ikuti Panduan Trading Forex Untuk Pemula.

Forum

Sis (15 Mar 2012)

pagi master,apakah benar lebih mudah memprediksi dengan renko chart daripada dengan candle stick.di mana saya bisa mendapatkan free renko chart?trims.

Selengkapnya...

Kalkulator KPR

Kirim Komentar/Reply Baru


Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Tips Investasi Untuk Siapkan Dana Pernikahan
Nandini   11 May 2021   75  
jam berapa saja market EURUSD mengalami sideways
permisi admin, saya ada pertanyaan, apakah pair EUR/USD akan selalu mengalami kondisi sideways pada saat pagi hari waktu WIB atau pada saat market tutup? kalau iya, pada jam berapa saja biasa market mulai mengalami sideways dan sampai jam berapa? kalau tidak, kapan sih tren sideways bisa terjadi? apa yg mempengaruhinya? trimakasih admin.

Dian Natha 27 Oct 2016

Reply:

M Singgih (31 Oct 2016 02:23)

@ Dian Natha:

- …. apakah pair EUR/USD akan selalu mengalami kondisi sideways pada saat pagi hari waktu WIB atau pada saat market tutup?

Jawaban:bukan sideways tetapi choppy atau bergerak tidak beraturan dengan range yang sempit. Biasanya kondisi ini terjadi saat penutupan pasar New York (sekitar jam 4 WIB) hingga pembukaan pasar Eropa (sekitar jam 13:00 WIB). Jadi di sesi Asia (antara jam 5 hingga jam 13 WIB) sering kali EUR/USD bergerak choppy, meskipun tidak selalu. Kadang-kadang memang range-nya bisa tinggi tetapi sangat jarang terjadi.
Berikut ini EUR/USD M15 pada Jum’at lalu (28 Oktober 2016) antara jam 4:30 hingga jam 13 WIB:



Jika Anda perhatikan range-nya hanya 18 pip, dan tentu akan sulit melakukan trading pada kondisi pasar yang demikian.

- …. pada jam berapa saja biasa market mulai mengalami sideways dan sampai jam berapa?
Jawaban: pada keadaan sideways range tradingnya jelas dengan level-level support dan resistance tertentu, jadi Anda bisa trading dengan strategi buy the dip dan sell the rally atau dengan strategi breakout. Biasanya kondisi sideways akan lebih valid jika terjadi pada time frame yang lebih tinggi, seperti pada EUR/USD antara bulan Desember 2015 hingga Pebruari 2016 berikut ini:



Perhatikan range-nya sekitar 180 pip dengan level resistance dan support yang jelas sehingga Anda bisa trading dengan agak leluasa.

- …. kapan sih tren sideways bisa terjadi? apa yg mempengaruhinya?
Jawaban: terjadinya trend sideways tidak bisa dipastikan waktunya, sepenuhnya tergantung dari sentimen pasar dan perilaku para pelaku pasar terutama big boys dalam menggerakkan harga. Biasanya kalau tidak ada stimulan (perangsang) yang membuat pasar bergerak (terutama dari faktor fundamental), maka antara buyer dan seller akan saling menunggu sehingga terjadi pergerakan sideways.

Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Cara Aman Trading Bitcoin Untuk Pemula
Linlindua   5 May 2021   166  
Live Trading NFP Bareng Finex
Live Trading NFP Bareng Finex
Melati   4 May 2021   235  
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Untung Rugi Bisnis Peer to Peer (P2P) Lending
Wahyudi   30 Apr 2021   149  
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Bitcoin Vs Ethereum, Mana Yang Lebih Menguntungkan?
Wahyudi   30 Apr 2021   182  
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
7 P2P Lending Syariah Terbaik di Indonesia
Linlindua   29 Apr 2021   139  
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
3 Cara Trading Bitcoin Untuk Meraup Profit
Linlindua   29 Apr 2021   158  
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
10 Ide Bisnis Online Terbaik Dengan Modal 1 Juta
Linlindua   28 Apr 2021   132