Price To Earnings Ratio (PER), Parameter Penting Di Pasar Saham

SAM 23 Jul 2014 31154

Saham-saham dengan PER rendah akan lebih menarik karena laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya.

Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah saham tertentu, penting bagi investor dan trader untuk memperhatikan satu parameter penting, yaitu Price to Earning Ratio (P/E Ratio) atau yang populer disebut PER. Meski PER bukan satu-satunya parameter penting yang dipertimbangkan, namun bagi investor dan trader nilai PER mencerminkan prospek sebuah saham.

PER adalah suatu angka perbandingan atau rasio yang menunjukkan tingkat keuntungan tahunan perusahaan terhadap harga sahamnya saat ini. Saham-saham dengan PER rendah akan lebih menarik karena laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya, maka tingkat return-nya akan lebih baik. PER juga kerap menjadi indikator harga wajar (terlalu mahal/murah) suatu harga saham sebuah emiten.

PER dihitung dari: harga saham saat ini / Earnings Per Share (EPS)

Misal: sebuah perusahaan yang harga per lembar sahamnya $ 80.00 dan keuntungan per lembar sahamnya $ 8.00, maka nilai PER-nya adalah $80.00/$8.00 = 10.

Angka di atas menunjukkan bahwa jika kita membeli saham perusahaan tersebut, dengan tingkat inflasi 0%, asumsi periode waktu yang dibutuhkan untuk balik modal adalah sekitar 10 tahun. Hal itu bisa terjadi karena kita membeli saham tersebut dengan 10 kali keuntungan bersih per sahamnya (EPS), dan perusahaan tersebut mempunyai keuntungan tetap sebesar $8.00 per saham.

Ilustrasi PER sebagai parameter sebelum bertransaksi saham

(Baca juga: Cara Memilih Saham Dengan Analisa Fundamental)

Biasanya, untuk mendapatkan gambaran return yang akan kita peroleh, kita cukup menghitungnya dengan 1/PER. Sebagai contoh saham diatas mempunyai return 1/10 atau 10% per tahun. Angka PER bisa digunakan untuk membandingkan kinerja saham tertentu terhadap saham lainnya pada sektor yang sama dalam suatu bursa saham tertentu atau antar sektor dalam skala global. Jika return saham tersebut relatif lebih tinggi, atau PER-nya lebih rendah maka biasanya saham tersebut layak untuk dibeli.

Angka PER yang kecil merupakan salah satu pertimbangan utama bagi investor dan trader. Sementara itu, PER yang terlalu tinggi mencerminkan harga saham yang sudah overvalued atau overpriced. Dalam hal ini, pasar menaruh harapan yang terlalu tinggi pada keuntungan yang akan diperoleh saham tersebut untuk waktu yang akan datang. Alhasil harga saham menjadi lebih mahal dari harga wajarnya. 

Selain karena banyak permintaan dari pasar, PER juga bisa menjadi tinggi bila saham tersebut sedang digoreng (dinaikkan harganya secara cepat dengan cara-cara yang tidak wajar). Saham gorengan seperti ini sering dihindari para investor.

Ilustrasi naik turun harga saham

(Baca Juga: 3 Cara Analisa Saham)

Bagaimana bila PER suatu emiten terlalu kecil? Investor perlu mengecek dulu perkembangan perusahaan, mulai dari kenaikan pendapatan dan rasio utang. Bila pertumbuhannya baik, kemungkinan harga saham emiten itu akan naik tinggi.

 

Berapa Angka PER Yang Wajar?

Tidak ada angka yang pasti. Di bursa saham AS, setiap sektor mempunyai batas-batas angka PER yang dinilai wajar. Misalnya PER = 20 masih dianggap wajar untuk saham-saham sektor teknologi, sedangkan untuk saham pabrik tekstil, PER yang dianggap wajar sekitar 8. Hal ini disebabkan karena harapan pasar pada pertumbuhan dan sekaligus keuntungan saham-saham sektor teknologi jauh lebih tinggi seiring dengan inovasi dan ekspansi sektor tersebut daripada saham pabrik tekstil yang saat ini dinilai lambat berkembang dan cenderung kurang melakukan ekspansi. 

Untuk menentukan suatu PER emiten saham wajar atau tidak, investor perlu membandingkan dengan sektor industri sejenis. Misalnya Anda ingin membeli saham bank, bandingkan dulu PER antara BMRI dengan BBRI. Dengan begitu, Anda akan mendapat gambaran harga saham emiten mana yang lebih murah.

Kirim Komentar/Reply Baru
Ada posisi trading terkunci, saya harus bagaimana?
Slamat sore Pak saya ingin menanyakan posisi saya ada 4 terkunci
1. buy di posisi 1346 4 lot, 
2. Buy di posisi 1344 2 lot
3. Sell di posisi 1315 4 lot
4. Sell di posisi 1311 4 lot
Geman pak mohon bantuannya apakah harga pas di imlek emas akan turun ato semakin naik.... trus posisi mana dulu yang harus saya lepas.. trima kasih

Supri 13 Feb 2018

Reply:

M Singgih (19 Feb 2018 08:26)

@ Supri:

Dari chart daily hari ini hingga jam 8:00 WIB, indikator Bollinger Bands, parabolic SAR, MACD, RSI dan ADX menunjukkan pergerakan yang masih bullish:



Saran kami semua posisi yang locking di-closed saja karena memang sudah loss. Membuka locking sama saja dengan buka posisi baru karena harus bisa memprediksi arah pergerakan harga dengan tepat, kalau meleset pip locking akan tambah lebar yang berarti kerugian bertambah besar.

Jadi posisi 1, 2 dan 4 di-closed saja, dan posisi 3 (sell di 1315 - 4 lot) di-closed 2 lot saja untuk menetralisir posisi 2 yang 2 lot.
Untuk close sebagian, kalau Anda trading dengan platform Metatrader, caranya: klik 2 kali pada kolom order di terminal, kemudian isikan volume dengan 2 (2 lot) pada box order yang muncul, dan klik tab: close sell 2 XAU/USD at 1315.00 (biasanya berwarna kuning).

Dengan demikian yang tersisa adalah sell 2 lot di 1315.00. Segera pasang stop loss pada resistance di sekitar level 1361.89. Posisi 3 yang dipilih untuk di-close sebagian karena posisi sell yang tertinggi.

5 Tips Diversifikasi Portofolio Investasi
Febrian Surya 660
Investasi ETF Vs Reksadana, Mana Yang Terbaik?
Febrian Surya 449
Panduan Memilih Sekuritas Untuk Pemula
Jujun Kurniawan 594
Bill Lipschutz Dan 3 Aturan Trading Darinya
Febrian Surya 1326
Tokoh