Pro Kontra Investasi Junk Bond

Aditya Perdana 22 Jun 2020 77

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengulik apa itu junk bond. Kali ini, akan dijelaskan apa saja pro kontra berinvestasi dalam junk bond. Meskipun berstatus sebagai surat utang berating rendah, terdapat sisi menarik dari investasi junk bond yang membuat sebagian investor melirik aset ini.

 

Mengapa Junk Bond Dianggap Prospektif?

Pada awal tahun 1900-an, perusahaan-perusahaan "start-up" seperti GM, IBM, dan JP Morgan mengeluarkan surat utang (obligasi) untuk membiayai bisnis mereka. Seiring berjalannya waktu, performa perusahaan tersebut terus meningkat dan obligasinya pun mendapatkan kenaikan rating dari lembaga pemeringkat aset kala itu; dari yang tadinya junk bond  menjadi grade A.

Di tahun 1977, perusahaan investasi asal Amerika Serikat (AS) Bear Stearns merilis junk bond, begitu pula dengan Drexel Burnham yang menjual tujuh instrumen junk bond. Dalam kurun waktu enam tahun, performa junk bond melebihi tiga kali kinerja obligasi lainnya.

Antara 1979 hingga 1989, kapitalisasi pasar junk bond naik dari "hanya" $10 miliar menjadi $189 miliar. Selama satu dekade tersebut, rata-rata pengembalian investasi junk bond mencapai 14.5 persen dengan gagal bayar hanya mencapai 2.2 persen.

 

Mimpi Indah Tak Selamanya Bersemi

Situasi ekonomi berubah di penghujung tahun 1980-an. Drexel Burnham yang tadinya untung besar lalu berbalik rugi, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut. Hanya dalam waktu singkat, pangsa pasar junk bond menyusut drastis didorong oleh kepanikan investor. Akibatnya, tidak ada penerbitan junk bond dalam beberapa tahun setelahnya.

Jadi, apa intinya? Jika ekonomi membaik dan positif, ada sinyal kuat kinerja perusahaan akan positif, sehingga akan mengurangi risiko gagal bayar si perusahaan terhadap surat utang yang diterbitkan. Namun apabila ekonomi sedang lesu, maka risiko gagal bayar terhadap junk bond akan meningkat tajam dan membuat nilainya anjlok.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa pro kontra investasi junk bond bisa diuraikan dalam infografi berikut:

pro kontra investasi junk bond

 

Memahami Siklus Bisnis Itu Wajib

Kalau masih ada yang bingung mengenai siklus bisnis yang pengaruhnya sangat relevan dengan tingkat risiko junk bond, maka gambar di bawah ini bisa membantu. Dalam siklus bisnis terdapat empat tahap yakni:

Siklus bisnis

Terkadang, fase-fase tersebut tidak terjadi secara berurutan atau berlangsung dengan periode waktu yang sama. Tetapi, masing-masing fase memiliki karakteristik yang bisa dipelajari.

Jika bisnis mulai bergerak ke fase ekspansi, maka angka penjualan ritel di masyarakat mulai naik. Pembelian mobil dan properti mulai menggeliat, hingga pada akhirnya terlihat pada angka Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Ketika ekonomi mulai bergerak dari fase ekspansi ke peak atau puncak tertinggi, saat itu investor sedang dalam tahap greedy (tamak) dan mulai mencerminkan kegembiraan yang irasional (irrational exurberance). Pada fase ini, nilai aset sudah melebihi angka wajarnya dan sangat berisiko untuk koreksi.

Jadi, kalau Anda ingin berinvestasi di junk bond, mulai telaah dulu saat ini ekonomi sedang di fase apa. Saat artikel ini dibuat, penulis berpendapat bahwa ekonomi (di tengah pandemi Corona) sedang berada di fase kontraksi. Hal itu tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi Indonesia dan global yang sudah terkoreksi di kuartal awal tahun 2020.

Setelah mengetahui fase ekonomi terkini, ambil keputusan investasi dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip klasik berikut:

  1. Berinvestasi adalah sebuah komitmen, sama dengan membangun sebuah hubungan. Keduanya membutuhkan kesabaran dalam proses membangun.
  2. Berinventasi-lah bila Anda memiliki cukup tabungan. Setiap orang memiliki tolok ukur berbeda terkait berapa banyak tabungan yang "cukup". Akan tetapi, penting untuk memiliki jumlah tabungan yang dapat mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan ke depan sebelum Anda menginvestasikan uang yang dimilik. Nilai tabungan untuk periode kebutuhan tiga bulan adalah jumlah minimum, sedangkan nilai untuk kebutuhan enam bulan adalah jumlah yang lebih aman.
  3. Perhatikan tingkat inflasi. Inflasi adalah alasan mengapa Anda perlu berinvestasi. Investasi membuat Anda dapat menstabilkan daya beli di masa mendatang.
  4. Ketahui toleransi risiko pribadi Anda. Selalu ingat bahwa semakin tinggi potensi return, semakin tinggi pula risikonya.
  5. Diversifikasi, Diversifikasi, dan Diversifikasi. Semakin terdiversifikasi portofolio Anda, semakin terlindungi pula dana Anda.
  6. Investasikan kembali return Anda. Bila investasi Anda menghasilkan pendapatan, Anda memiliki beberapa pilihan; menarik keuntungannya dan keluar, atau menginvestasikan kembali keuntungan yang diperoleh. Jika Anda menginginkan keuntungan jangka panjang, maka pilihan menginvestasikan kembali return yang didapatkan adalah kiat ideal.

 

Perhatikan Kondisi Perusahaan Dan Ekonomi

Dalam dua edisi yang telah dijabarkan sejauh ini terkait junk bond, Anda mungkin sudah lebih memahami karakteristik investasi junk bond, yakni high risk high return. Peluang return yang ditawarkan memang lebih besar, tapi risikonya pun sebanding atau lebih tinggi. Sebaiknya, pahami dengan bagik bagaimana kondisi finansial dan bisnis dari perusahaan yang merilis junk bond; apakah memiliki peluang bayar yang masih baik atau tidak? Selain itu, waspadai apakah kondisi ekonomi dan bisnis masih mendukung. Jika situasinya kurang mendukung, maka risiko investasi junk bond akan semakin tinggi. Jadi, jangan sampai Anda hanya memberikan "uang gratis" kepada si peminjam.

 

Peluang investasi dengan return tinggi memang menggiurkan, tapi biasanya menuntut manajemen risiko yang lebih ketat agar investor terhindar dari kerugian besar. Hal yang sama juga berlaku dalam trading forex, suatu cara memperoleh keuntungan dari selisih pergerakan harga di pasar valas. Ingin tahu lebih jauh soal peluang trading ini? Simak di Panduan Trading Forex Untuk Pemula.

Kirim Komentar/Reply Baru
hedging dengan jumlah lot yg sama pada posisi buy dan sell

Salam, Mas. Tolong nasehati saya. Trading sy bermasalah sejak pergerakan turun. Sampai sekarang terpaksa saya hedging dengan jumlah lot yg sama pada posisi buy dan sell. Sedih rasanya, Mas. Sampai sekarang saya kesulitan keuangan. Dan sampai kapan pergerakan turun ini terus? Moga nasehat Mas berguna bagi saya. Matur Nuwun.

Akzam 4 Jun 2012

Reply:

Basir (04 Jun 2012 15:17)

Bagi mereka penganut hedging / swing Trading hedging mungkin tak masalah karena mereka bisa mengunci dan bisa  kembali membuka kuncinya saat yang tepat.  kalau saja Jaraknya masih dekat mungkin salah satunya bisa dikorbankan. Kalau jaraknya sangat jauh anda bisa injek dana atau anda masuk dengan lot  lot kecil untuk  TP dan menyelamatkan akun anda minimal sampai BEP.

Thanks

Kiki R (22 Sep 2019 16:30)

@akzam: Dalam keadaan akun yang ter-hedging karena posisi yang salah arah hingga floating loss banyak maka perlu hati-hati dalam membuka hedging. Tidak ada yang benar-benar tahu dengan pasti seberapa jauh suatu harga akan naik begitupula dengan turun. Untuk kasus sekarang, cara terbaik adalah menunggu momentum untuk membuka posisi sell/buy dengan melihat trend di time frame besar seperti Monthly dan Weekly. Pembukaan hedging perlu diperhatikan ketahanan dana sehingga akun tidak margin call (MC). Salah satu alternatif lain juga adalah deposit dana secukupnya untuk menahan floating agar akun tidak MC.

Sebagai contoh, apabila pergerakan trend di Monthly dan Weekly adalah trend turun, maka kita perlu menunggu koreksi naik untuk membuka posisi buy yang floating loss dari atas. Tentu dalam membuka posisi loss buy harus diperhitungkan jumlah lot yang pas.

Kondisi ini bisa dicegah dari awal apabila kita menggunakan stop loss, sehingga ketika arah posisi kita salah maka kerugian segera dibatasi. 

Jujun Kurniawan 46
Kredit