Indikator Yang Sering Digunakan Trader

SAM 3 Jun 2020 2609

Penggunaan Indikator teknikal layaknya makanan pendamping untuk main course, seringkali dikesampingkan oleh trader karena bagi mereka justru membingungkan karena ujung-ujungnya malah memberikan false signal. Yah, sebagian besar hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh ketidakterampilan dalam memanfaatkan indikator yang sering digunakan trader.

Sinyal Dari Indikator Trading

Padahal, kesalahan tersebut bisa saja terjadi karena Trader A menggunakan indikator X secara eksklusif (tanpa bantuan indikator lain), misalnya saat indikator tersebut memunculkan sinyal untuk posisi buy atau sell, justru kondisi pasar sudah jenuh (overbought atau oversold) sehingga trend terkoreksi melawan prediksi trader A tadi.

Sampai di sini mungkin Anda akan bertanya, "Jika satu indikator saja tidak cukup maka harus pakai indikator apalagi?"

Berikut adalah beberapa indikator-indikator populer yang sering digunakan oleh trader dan layak Anda pelajari, dengan harapan indikator-indikator ini mampu mempertajam analisa Anda terhadap trend pasar:

 

1. Moving Averages

Bisa dikatakan Moving Averages adalah "cinta pertama" bagi para Trader pemula, begitu mengesankan dan sulit dilupakan. Kesederhanaan dalam penggunaanya adalah alasan utama mengapa Indikator ini menjadi pilihan favorit.

Cukup gunakan beberapa garis MA (Moving Average), di mana satu MA berperiode panjang (100, 200) akan menjadi patokan bagi trader untuk membaca kapan terjadinya uptrend atau downtrend.

Moving Averages

 

Misalnya pada waktu uptrend terjadi, tambahkan beberapa garis MA berperiode pendek (10, 20), awasilah posisi MA berperiode pendek tadi, jika posisinya mulai berpotongan dengan MA berperiode panjang bersiaplah pada posisi buy.

Moving Averages

 

2. MACD (Moving Averages Convergence Divergence):

Turunan dari Moving Averages ini umumnya menggunakan dua EMA (exponential moving averages) berperiode 12 (fast length) dan 26 (slow length). Dua garis EMA dikalkulasikan dengan mengurangi EMA berperiode 26 dari EMA berperiode 12. Selain itu, EMA berperiode 9 ditambahkan untuk mempertegas sinyal buy atau sell.

Sinyal buy dalam indikator MACD biasanya ditangkap saat fast length memotong slow length dan bergerak ke atas, sedangkan sinyal sell saat fast length memotong slow length dan bergerak turun.

Indikator MACD

 

3. RSI (Relative Strength Index)

Indikator RSI digunakan untuk menentukan kondisi overbought atau oversold pada waktu trend sedang terjadi. Skala RSI dimulai dari range 0 sampai 100, di mana saat garis menyentuh skala 70 ke atas maka bisa disimpulkan kondisi pasar sudah overbought. Sebaliknya, saat garis menyentuh skala 30 ke bawah maka pasar dalam kondisi oversold.

Indikator RSI

Katakanlah pasar dalam kondisi uptrend, di mana garis akan berada di sekitar range 70 keatas selama waktu berkelanjutan. Pada saat tersebut, jika garis bergerak turun ke range 50 lalu kembali merangkak naik, bersiaplah pada posisi Buy. Kenapa menunggu sampai ke range 50? Karena pada saat uptrend, garis akan turun di bawah 30 hanya pada saat pasar mengalami reversal.

 

4. OBV (On Balance Volume)

Volume transaksi pasar didasarkan pada asumsi bahwa idealnya volume mengonfirmasi trend pasar. Kenaikan harga pasar akan diikuti oleh naiknya On Balance Volume (OBV), sedangkan penurunan harga pasar akan diikuti oleh turunnya OBV. Tentu saja kondisi pasar tidak selalu ideal, maka dari itu bila garis OBV merangkak naik namun harga pasar masih stagnan, ada kemungkinan besar harga pasar akan mengikuti OBV. Begitu juga saat harga naik tapi OBV menunjukkan penurunan atau stagnasi, bisa jadi harga pasar telah mendekati puncak.

Indikator OBV

Setelah Anda mulai belajar untuk menggunakan indikator-indikator di atas, Anda akan menyadari pentingnya menggunakan lebih dari satu macam indikator untuk membaca situasi pasar. Misalnya saat Anda menggunakan MA, maka MA akan memberikan sinyal trading yang biasanya agak terlambat karena MA memang merupakan lagging indicator. Disitulah dibutuhkan indikator lain seperti RSI untuk menentukan apakah saat Anda pada posisi open, market sudah tersaturasi atau belum.

---------------

Artikel ini pertama kali dipublikasikan 29 September 2012. Diperbarui tanggal 25 April 2016 dengan judul sama, tetapi konten baru yang lebih berisi.

Kirim Komentar/Reply Baru

Reply Pembaca : 9

Teguh Sabar 24 NOV 2013
Mohon tanya bagaimana cara memasang indikator EMA dan kalau pakai parabolic sar dengan pakai waktu apa M5,M15, M30.terima kasih sebelumnya.
reply
Agus Pradana 25 NOV 2013
klo pke metatrader4 tinggal masuk insert, indicators, trend , pilih moving average , ma method nya exponential ... periodenya atur2 sesuka situ..

parabolic juga itu hrs trial error. bisa diterapin di TF manapun tpi utk pemula disarankan TF H4 atau D1 keatas.. lebih terlihat jelas trend nya..
reply
Rifs Musz 12 JUL 2014
Gimana carax trading tanpa indikator? Mungkin maksudx tanpa indikator teknis yang bisa dipasang diplatform kali...

Tiap komponen yang dipake patokan untuk trading kayak candle atau bahkan berita fundamental juga disebut sebagai indikator, jadi trading tanpa indikator ya bisa-bisa sama sekali g liat apa2, cuma langsung order aja begitu buka platform, kalau masih lihat candle atau pola chart ya sama aja boong, itu kan juga indikator.
reply
Tyo Aja 19 AUG 2014
terimakasih sarannya master.
indikator yg dianjurkan tepat sasaran & langsung ada aturan periodenya juga
smoga peluang untungnya bisa bagus dngan cara ini.
reply
Parma 17 5 OCT 2014
Knapa indikator penentu tren sama entria beda? Bukana indikator tren juga punya poin2 untuk dijadikan penentu entri posisi? Klau sendiri2 seperti itu berarti harus pasang 2 indikator tren dong Parabolic SAR sama EMA?
reply
Hari Santoso 8 OCT 2014
Parabolic SAR memang juga salah satu indikator tren, yang bisa dipergunakan untuk menentukan posisi entry dari pembalikan tren yang akan terjadi.

Sementara EMA adalah indikator yang membantu trader untuk melihat arah tren, dengan posisi entry yang bisa ditentukan dari penerusan tren atau saat ada perpotongan garis EMA untuk menandakan tren yang akan berakhir. Kedua indikator bisa sama-sama dipakai baik untuk melihat arah tren ataupun menentukan entry posisi.

Namun jika trader ingin bertrading dengan benar-benar mengikuti tren, EMA bisa dipilih sebagai indikator utama dengan kombinasi dengan oscillator atau indikator support dan resistan.
reply
Tyo Aja 16 OCT 2014
cara yg bagus juga master..
tapi untuk oscillatornya bisa dikasih contoh untk jenis dan periodenya?
juga untuk support dan resistan, apa yag dimaksud itu fibonaci retracement ataukah pivot point?
reply
Alexandersg675@gmail.com 29 APR 2016
EMA pendek ketika crossing upward EMA panjang merupakan signal UPTREND dimulai, tetapi belum menjadi trigger buy, untuk Open position sebaiknya pakai oscillator seperti Stochastic, CCI atau indikator laggard seperti MACD.
reply
Haris Maulana 23 APR 2019
Saya tidak percaya indikator, saya lebih percaya price action.
reply
Fauzi 19 JUN 2020
Indikator hanya cerminan dri pergerakan yg di hasilkan oleh candlestick saja, coba anda perhatikan baik baik. Indikator hanya untuk menterjemahkan hasil dri candlestick saja. Jadi semua itu kembali kpada trader masing masing. 
Kirim Komentar/Reply Baru
Apakah itu filter tren?

apa sebenarnya filter tren itu? dan indikator mana yang tepat untuk digunakan?

Basuki 20 Nov 2014

Reply:

Basir (20 Nov 2014 11:58)

Maksud dari filter trend adalah sebagai penyaring atas trend. Uraian ini bisa anda simak di

filter trend dalam trading.

Thanks

Tia Sitepu (01 Aug 2018 10:03)

Maaf ijin bertanya. Pada artikel yang diberikan sebagai contoh di atas digunakan SMA 200. Itukan trend yang sangat panjang, untuk menunggu perpotongan harga dengan MA saja di h1 sangat lama. Adakah cara yang lebih praktis? untuk melihat trend dalam satu hari ini misalnya. Thx

Admin (02 Aug 2018 10:05)

Betul sekali, SMA 200 memang sering digunakan untuk melihat tren dalam jangkauan luas dan panjang. Mengenai tren harian, Anda bisa menggunakan Moving Average dengan periode yang lebih kecil seperti 20 dan 50. Perhatikan contoh perbedaan pergerakan MA 20 dan 200 di bawah ini:

 

tren ma

 

Garis ungu mewakili MA-200, dan garis biru mewakili MA-20. Anda bisa lihat saat harga dan MA-20 sudah cross dan memperlihatkan bias bearish, namun jika dibandingkan dengan MA-200, harga masih bullish. Pada akhirnya harga memantul di MA-200 dan meneruskan kenaikannya. Jadi meskipun lebih lama MA-200 jauh lebih baik dalam mengasilkan sinyal trading.

Namun, Anda bisa tetap menggunakan keduanya kok. Anda bisa coba membaca artikel Menggunakan Moving Average berikut Sebagai Filter Tren berikut ini.

Ocha (09 Aug 2018 10:13)

bagaimana dengan indikator lain min? apakah ada yang bisa lebih baik dari MA dalam melihat trend-nya? Kalau dengan MA, pas market sedang ga stabil, MA jadi kayak ga guna gitu.

Admin (09 Aug 2018 10:15)

@Ocha:

Hai ocha, saat market sedang tidak stabil apakah yang Anda maksud saat dalam kondisi Sideways atau ranging? Coba perhatikan gambar di bawah ini:

 

market sideway

 

Saat dalam keadaan seperti ini memang MA kurang bisa di andalkan. Tapi bukan karena MA-nya jelek, melainkan karena keadaan seperti ini memang trennya belum jelas. Dalam keadaan seperti ini, sebagai pengganti MA, Anda mungkin bisa menggunakan Bollinger Band, Donchian, maupun indikator channel lainnya.

Joni Harianto S (14 Oct 2019 16:34)

@Tia Sitepu coba ubah periodenya sesuai dengan kebutuhan trading kita. Menurut saya SMA sangat baik untuk tentukan trend, memang menunggunya sangat lama tapi lebih baik menunggu lama daripada salah entry yg berakibat loss bangkrut. Trading forex ini butuh kesabaran, untuk hari ini saya profit semua, kuncinya sabar dan ikuti indikator  SMA untuk mengetahui arah trend.